
Rey sudah sampai di kampus sebelum jam 08.00 WIB. Ia ditemani Wibie yang sengaja mengambil cuti untuk menemani istri tercinta ujian skripsi.
Ada 5 orang teman satu angkatan Rey yang ikut ujian hari ini, Rafa, Pras, Pandu, Melly dan Rey. Empat orang lainnya adalah kakak tingkat mereka, yang saat ini sudah masuk semester 10.
"Aku masuk dulu, ya!" Rey ijin pada suaminya yang duduk di salah satu bangku, di sana juga ada Dhiza dan teman-teman yang sengaja datang untuk memberikan semangat pada peserta ujian.
"Jangan tegang. Kamu pasti bisa," Wibie berusaha untuk meyakinkan istrinya.
"Iya, Mas. Terimakasih,"
Selain peserta ujian, hanya boleh menunggu di aula. Sementara Rey dan teman-temannya sudah siap di ruangan. Segala persiapan untuk ujian sudah beres. Dari snack untuk dosen, makan siang untuk tim penguji dan tidak lupa oleh-oleh untuk penguji semua sudah disiapkan. Karena ada 9 orang yang sidang pada hari ini, jadi mereka berbagi tugas menyiapkan semuanya.Acara akan dimulai dengan pembukaan yang diikuti oleh seluruh peserta sidang.
Salama mengikuti acara pembukaan yang berlangsung sekitar setengah jam itu, Rey terlihat makin cemas. Rasa mules, puyeng, pengen muncul saat itu juga.
"Rasanya pengen banget bisa nyekip hari ini, agar ketegangan itu cepat berlalu," bisik dalam hati.
Karena di kampus ini sidang dilakukan dengan sistem sidang tertutup, jadi setelah pembukaan Rey dan delapan teman yang lainnya menunggu giliran masuk ke dalam ruangan sidang atau ruang majelis.
Rey mendapat nomor urutan ke- 3 dari 9 peserta majelis sidang skripsi. Masing-masing peserta ujian mendapat waktu 1 jam. Jadi lumayan lama Rey harus menunggu sambil deg-degan.
Maklum saja, tim penguji skripsinya adalah orang penting di kampusnya. Ada ketua jurusan dari salah satu program pascasarjana, ada juga mantan kepala prodi yang terkenal saklek dan dikebal sebagai penguji yang kerap memberikan pertanyaan-pertanyaan menjebak. Belum lagi Rey banyak mendapatkan cerita mengenai bagaimana pengalaman teman yang sudah sidang.
Meskipun Wibie sudah menjelaskan, setiap orang punya cerita sendiri mengenai pengalaman sidang, namun tetap tidak bisa mengurangi rasa khawatirnya.
Perasaan makin campur aduk, antara seneng dan tegang, bahkan di sepanjang perjalanan menuju kampus, ia mual mual terus. Wibie dengan sabar tetap berusaha untuk menenangkannya, namun tetap saja perasaan itu muncul lagi ketika melihat temannya yang mendapat giliran pertama keluar dalam kondisi bersimbah keringat.
"Minum!" Wibie menyodorkan teh hangat yang sudah ia siapkan dalam tumbler ke arah Rey.
"Terimakasih," Rey segera meneguk minuman itu dan perutnya yang mules menjadi sedikit berkurang.
Sambil menunggu temen keduanya selesai sidang, Rey mencoba menenangkan diri. Padahal jam udah menunjukan pukul sebelas lebih, namun Rafa belum juga keluar dari ruang.
"Sepertinya ujiannya bakalan molor, keburu Ishoma. Duh...makin parno aja nih," gumam Rey.
"Sabar," ucap Wibie untuk yang kesekian kali.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa, sayang. Yakin itu," Wibie yang sejak tadi memegang tas istrinya mengelus lembut bahu istrinya untuk memberikan semangat.
"Insyaallah,"
"Baca Alfatihah plus ayat kursi, insyaallah di permudah," bisiknya lembut.
Rey mengikuti apa yang dikatakan suaminya,
setengah jam kemudian, Rafa ke luar, ia sudah selesai ujian. Sedikit berbeda dari peserta yang pertama, wajah Rafa justru terlihat lebih tenang meskipun masih terlihat sisa ketegangan di wajahnya.
"Sekarang giliranku yang masuk ke ruang sidang," Rey masih bisa memberi selamat pada teman satu kelasnya itu, sebelum namaya dipanggil untuk masuk ruangan.
"Rey, semangat ya!" seru Pras yang sejak tadi duduk di pojokan dan begitu serius mempelajari skripsinya.
"Iya, terimakasih,"
"Semangat, ya sayang," Wibie juga ikut bangkit dari tempat duduknya untuk memberikan semangat. Pandangannyamengikuti langkah istrinya hingga hilang di balik ruang sidang.
Segala amunisi ujian susah dipersiapkan oleh Rey. Dari Laptop, snack untuk dosen, makalah skripsi pun udah beres. Tinggal menunggu para pengujinya datang.
Tidak berapa lama, pembimbing sekaligus penguji datang skripsi Rey masuk ruangan.
So finally, ujian di mulai.
"Bismillah," doa Rey dalam hati.
Lcd disambung ke laptop, slide skripsi sudah terpampang di depan para penguji. Rey megambil mic dan mulai memutar slide sambil terus menjelaskan point- point penting dari skripsi yang sudah di selesaikan nya.
Hanya 15 menit waktu yang diberikan padanya untuk melakukan paparan, selebihnya adalah sesi ujian. Rey bisa memanfaatkan waktu itu dengan baik, ia bisa menyampaikan apa yang sudah dibuaty dalam tayangan slideshow dengan tegas dan jelas.
Kini giliran tim penguji yang bicara, masing-masing dosen penguji dan pembimbing hanya punya waktu 10 menit untuk memberikan pertanyaan, sanggahan, maupun masukkan pada peserta ujian.
Dari keempat dosen yang ada, hanya dua saja yang memberikan pertanyaan. Yaitu penguji satu dan pembimbing dua. Selebihnya hanya minta penjelasan dan memberikan catatan saja.
Rey bisa menjawab dua pertanyaan dari dosennya itu dengan baik. Ia bisa mengungkapkan argumennya sehingga apa yang sudah ditulisnya itu bisa dipertahankan dan dipertanggungjawabkan dengan logis.
__ADS_1
Setelah puas memberikan pertanyaan, arahan dan sedikit catatan, akhirnya ujian skripsi kelar. Rey menutup pembicaraan dengan tidak henti-hentinya mengucapkan terimakasih dan menghampiri dosen lenguji itu satu persatu untuk mengucapkan terimakasih sebelum meninggalkan ruangan.
Saat ia keluar, wajahnya justru terlihat lebih segar, seperti orang yang baru saja selesai membuang hajat di kamar mandi.
"Alhamdulillah," ucap Rey begitu lega.
Wibie yang sudah tidak sabar menunggu istrinya, segera menghampiri Rey yang masih berdiri di depan ruang sidang.
"Bagaimana?" tanyanya penasaran.
"Alhamdulillah, Mas. Lancar!" sahut Rey begitu senang.
"Alhamdulillah, selamat ya, sayang,"
Tak lama, Pras dan Dhiza juga menghampiri Rey dan memberikan selamat.
"Mudah-mudahan dosen penguji ku juga baik. Bisa keluar ruangan secerah wajahmu, Rey," seru Pras.
"Aamiin," sahut Wibie, Rey dan Dhiza nyaris bersamaan.
"Waktunya Ishoma, ujian di break dulu. Bagaimana kalau kita cari makan," ajak Wibie pada ketiga orang itu.
"Iya, Mas. Aku mau makan yang banyak," sahut Rey atusias.
"Boleh, aku giliran ke-6. Masih lama. Kita ada waktu buat makan dulu," sahut Pras.
"Yuk, biar bisa kembali secepatnya," ajak Wibie lagi.
******
Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Buat kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.
Mohon maaf, ya!
Ojo lali!
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.