
" Lenganmu adalah bantal terbaik yang pernah aku temukan, Mas," ujar Rey yang kini sudah terbaring lemas di sisi Wibie, usai pertarungan hebat yang baru mereka selesaikan. Ia menjadikan lengan suaminya sebagai sandaran kepala.
"Hemmm.....kalau udah puas, mendadak jadi penyair, deh," Wibie mencubit pipi kiri istrinya. Kemudian mengelus halus pipinya yang putih bersih.
"Beneran," Rey berusaha meyakinkan. Rey berbalik ke kanan. Kini ia bisa menatap wajah suaminya yang masih berusaha mengatur nafasnya. Butir-butir peluh masih tersisa di pelipis Wibie, begitu juga tubuhnya yang menjadi lembab oleh keringat.
"AC nya dingin, kok. Kenapa berkeringat begini," goda Rey.
"Kau ini, setelah menguras seluruh tenagaku, bisanya bicara seperti itu," Wibie pura-pura merajuk.
Meskipun AC di kamar itu begitu dingin, tetap saja keringat itu keluar dari tubuh keduanya tak berhenti menetes. Sisa-sisa perjuangan mereka yang begitu panjang, menyusahkan kelelahan dan nikmat yang sulit untuk dilukiskan.
"Istriku benar-benar hebat. Makin berpengalaman, makin sulit untuk ditaklukkan," bisik Wibie dalam hati.
Mendapati istrinya sedang memandangi dirinya, Wibie juga melakukan hal yang sama. Ia membalikkan tubuhnya ke kiri. Kini mereka saling berhadapan, saling tersenyum.
Rey merapatkan tubuhnya, dengan manja ia menggelung tubuhnya di pelukan Wibie. Tidak ada batas diantara mereka, keduanya masih sama-sama polos, hanya selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Gak ada yang lebih baik dari apapun, selain bisa berpelukan denganmu, seperti ini," bisik Wibie begitu lembut di telinga Rey.
"Ah...kamu juga ikut-ikutan romantis begini. Jadi selama diem tadi, mikirin mau ngomong apaan, gitu?" canda Rey.
"Cup," satu kecupan mendarat di pucuk kepala wanita itu.
"Tidurlah, sayang. Sepertinya kau lelah sekali,"
"Tapi aku mau mandi," sahut Rey manja.
"Ehh..... jangan beranjak dulu. Aku ingin tetap seperti ini. Kebiasaan banget, kalo maunya sudah tertuju buru-buru ninggalin," Wibie semakin mempererat pelukannya.
"Dih, kok maunya aku sih. Bukannya sama-sama saling menikmati?" Protes Rey.
"Cup...," Satu kecupan mendarat lagi diujung kepalanya.
"Jangan bergerak, biarkan aku memelukmu," tegur Wibie ketika Rey ingin menggeser tubuhnya.
"Mas,"
"Hemm,"
" Aku mau cerita"
"Apa? Cerita aja!" sahut Wibie penasaran.
"Tapi, Mas Wibie harus janji dulu,"
"Janji? Emang ada apa? Kenapa cerita aja kok harus pakek ikrar segala," Wibie menghujani Rey dengan pertanyaan singkatnya.
"Jangan dulu," rengek Rey lagi.
__ADS_1
Wibie meraih dagu istrinya. Ia ingin melihat wajah istrinya dengan seksama. Tidak biasanya dia berlaku seperti itu. Jika ada sesuatu, ia tidak minta izin dulu untuk bercerita.
"Ada apa?" tanya Wibie serius.
Rey kembali menggelung tubuhnya di pelukan Wibie. Kali ini ia menyembunyikan wajahnya makin dalam. Dengan sabar, Wibie mengelus-elus rambut istrinya untuk memberikan penguatan.
Ia tidak tahu juga mata Rey mulai berkaca-kaca. Dadanya begitu sesak harus menyampaikan ini semua pada suaminya.
"Kau boleh mempercayaiku. Ceritakan saja," ujarnya lagi. Sebagai bentuk jika Wibie cukup serius dengan ucapannya, ia mempererat pelukannya dan mengelus lembut rambut istrinya.
Dengan sangat hati-hati, Rey menceritakan apa yang dilakukan Pak Gun padanya di hotel itu, semuanya. Tidak ada yang ia tutupi sedikitpun, termasuk ketika Alex datang di luar rencana.
"Apa?"
Wibie kaget. Seketika itu juga ia terduduk di tempat tidur. Membiarkan Rey yang masih menggelung tubuhnya. Antara sedih dan malu, kini Rey mulai sesugukan. Ia menangis. Hatinya begitu lega setelah bisa menceritakan kejadian itu pada suaminya.
"Kurang ajar sekali orang itu,"pekik Wibie. Giginya gemretak menahan amarah.
"Tadi udah janji, kan?" Rey mulai takut mendapati reaksi Wibie yang diluar dugaannya.
"Janji apa?" tanya Wibie.
"Ga marah setelah aku cerita,"
"Aku kaget, sayang. Ternyata ia masih saja mengganggumu. Rupanya ia benar-benar ingin menantangku,"
"Mas, aku ga mau Mas emosi dan tidak mengontrol diri," Rey mulai terisak.
Wibie hanya diam. Nafasnya masih tersengal-sengal karena emosi. Ia mengelus punggung Rey dan merasa iba atas apa yang terjadi pada istrinya.
"Kenapa kau tidak cerita padaku waktu itu?"
"Aku tidak mau Mas Wibie emosi,"
"Jika tau lebih awal, aku bisa lebih cepat untuk bertindak,"
"Sudahlah, Mas. Ga usah diperpanjang. Aku juga ga apa-apa, kok. Lagian sejak kejadian itu, Pak Gun tidak pernah muncul lagi. Baik di lapangan ataupun di grup KKN. Biasanya dia rajin memberikan arahan,"
"Iya, maaf. Aku kira dengan memberikan kesempatan kau KKN di sini, kau bisa refreshing dari rutinitas sehari-hari. Aku tidak mengira akan terjadi seperti ini. Pria itu benar-benar mengincarmu, sayang. Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus lapor polisi,"
"Jangan, Mas,"
"Kenapa?"
"Kita tidak ada bukti, saksinya juga tidak ada. Meskipun ada Risya, tapi dia tidak ada di tempat saat kejadian," Sahut Rey pasrah.
Wibie manggut-manggut, namun terlihat ia sedang berpikir keras. Ia masih memikirkan cara, bagaimana agar pria tua itu bisa jera.
"Sudahlah, lupakan dulu manusia sontoloyo itu. Jangan rusak hari ini dengan mengingat kelakuan bejatnya," berusaha menenangkan istrinya walaupun hatinya masih begitu emosi. Ia meraih dagu istrinya dan menghapus air mata yang mulai rembes dan membasahi bulu mata Rey yang panjang dan lentik.
__ADS_1
"Iya, Mas. Maaf, aku tidak bisa menjaga diri!"
"Kamu ga salah,sayang. Sudah jangan sedih seperti itu. Jangan dipikirkan dia lagi. Yang penting kau bisa selamat dari cengkraman mautnya," bujuk Wibie dengan lembut.
Ia tahu Rey begitu terpukul namun berusaha untuk tegar agar tidak menimbulkan kemarahan baginya. Wibie bisa membaca kesedihan itu karena Rey tidak mau membalas tatapannya.
"Mas," panggil Rey lirih.
"Apa?" sahut Wibie yang masih duduk di sisinya. Sementara tangan kirinya tak henti-hentinya mengelus pundak istrinya.
"Tutupi, kasian si Buyung," Rey menunjuk bagian paling sensitif dari tubuh suaminya yang mulai menciut. Wibie tidak sadar jika selimut yang menutupi tubuhnya sudah tanggal ketika ia terhentak penuh amarah.
Wibie menepiskan tangan Rey yang mulai jahil, menyentil-nyentil benda itu karena dianggap lucu.
"Kau ini, bikin aku makin naik darah,"
"Naik darah atau naik....," sengaja Rey tidak meneruskan ucapannya dengan maksud bercanda agar mencairkan suasana.
"Eh, mancing nih?"
"Maaf, tapi ini benar-benar lucu. Mirip siput yang mengendap-endap, mau bersembunyi di balik rumahnya,"
"Ah ...," Wibie segera membungkam mulut istri dengan menangkupkan bibirnya. Mendapat serangan seperti itu, Rey menjadi takut.
"Iya.. iya," ujarnya menarik diri dari rengkuhan suaminya.
"Bagaimana kalau kita spa, sayang. Biar kamu bisa rileks,"
"Aku ga mau meninggalkan kamar ini. Nyaman banget," Rey mulai menguap.
"Spa di sini. Tinggal telpon aja, kok,"
"Ga,lah" sahut Rey bersemangat.
"Kenapa?" selidik Wibie
"Aku mau tidur aja," suara itu makin melemah. Tak lama kemudian, Rey sudah memejamkan matanya. Sepertinya ia memang butuh istirahat setelah melakukan permainan yang begitu menantang dan menangis sedih karena harus mengingat kejadian di hotel XX itu.
"Maafkan aku, sayang," Wibie mengecup lembut ujung kepala istrinya. Membenahi selimut Rey yang sudah mulai berantakan kemudian ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
******
Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.
Mohon maaf, ya!
Ojo lali!
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.
__ADS_1