Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 4 ( Dhiza & Pras)


__ADS_3

Usai menghabiskan satu mangkok bakso iga dan jus alpukat, Dhiza merasakan kontraksi lagi, makin sakit dan intens.


Dengan sabar Rey mengelus-elus halus punggung Dhiza, memijit bagian pinggang hingga tulang ekornya untuk mengurangi rasa sakit. Sementara Pras mempersiapkan segala perlengkapan yang akan dibawanya ke rumah sakit, untung saja Wibie mengingatkan Pras akan hal ini. Jika tidak, begitu istrinya mau berangkat, barang yang akan di bawa belum siap.


"Buruan disiapkan, baju si ibu yang pakai kancing depan," Wibie mengingatkan Pras.


"Iya, kenapa ga begitu kepikiran hal- hal yang penting begini?"


"Kan sudah ku bilang. Kau terlalu panik hingga tidak bisa berpikir realistis,"


"Iya, akhir-akhir ini Dhiza makin rewel. Ada saja keluhan. Jadi ga kepikiran urus yang lain,"


"Bawaan bayi beda-beda. Yang sabar aja. Kesiapan anda sebagai calon bapak sedang di uji, bro," canda Wibie.


"He..he... sepertinya begitu,"


Atas petunjuk Wibie, Pras memasukkan satu persatu benda yang disebut oleh bapak beranak dua itu. Pras yakin Wibie lebih berpengalaman akan hal ini, jadi ia mempersiapkan semuanya tanpa minta pendapat istrinya lagi. Sambil tetap ngobrol sana- sini keduanya sudah bisa menyiapkan keperluan yang akan di bawa ke rumah sakit dalam sekejap saja.


"Mas, sakitnya makin sering. Gimana ini?"


"Apa kita berangkat sekarang?" tanya Pras pada istrinya.


"Terserah, aku ikut aja,"


Akhirnya Pras memutuskan untuk ke rumah sakit pagi itu juga karena keluhan istrinya semakin berasa.


Masih ditemani Wibie dan Rey. Mereka berempat menuju rumah sakit tempat Dhiza biasanya berkonsultasi setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah.


Sampai di RS, dokter Kinan menyarankan Dhiza melakukan CTG. Singkat cerita, dari hasil pemeriksaan diketahui jika detak jantung bayinya melemah, jadi perlu disiram dengan cairan elektrolit. Terpaksa Dhiza harus istirahat di rumah sakit karena diinfus cairan elektrolit sebayak dua kantong.


Wibie dan Rey memutuskan untuk pulang dulu, mereka harus melihat Devara dan Nathan. Mengurus sarapan mereka dulu dan berjanji akan datang kembali.


"Kita pamit dulu, sudah jam 06.30 WIB. Jam segini waktunya si kecil makan. Sabar ya, nanti siang kita ke sini lagi," hibur Rey pada Pras.


"Terimakasih, ya. Maaf banget sudah ngerepotin kalian. Salam buat Oma dan ponakan,"

__ADS_1


"Iya, Devara pasti seneng nih kalo denger adek bayi Om Pras udah mau lahir,"


"He..he...titip peluk buat gadis cantikku, ya," ujar Pras lagi.


"Siap. Ok. Kita jalan dulu. Jangan panik, Dhiza baik-baik saja kok," hibur Wibie lagi.


Pras tidak bisa mengantar mereka karena ia begitu khawatir meninggalkan Dhiza. Bisa dimaklumi, ini pengalaman pertama mereka. Dengan sabar ia menemani sang istri.


Pras juga segera menghubungi seluruh keluarganya dan memberitahukan kabar gembira ini pada mereka.


Saat kunjungan, dokter memberikan saran agar Dhiza diobservasi lagi karena hasil CTG kontraksinya sudah bagus dan teratur. Namun ketika dicek pembukaan, believe me it's so uncomfortable. ternyata belum ada pembukaan, meskipun kontraksi sudah semakin kuat dan teratur. Jadi untuk malam ini, terpaksa mereka harus menginap di rumah sakit.


Keesokan hari, tepatnya subuh di hari pertama Dhiza di rawat dokter melakukan cek lagi, ada perkembangan. Ternyata sudah pembukaan 2, baik Dhiza maupun Pras sangat senang sekali. akhirnya ada kemajuan juga.


Singkat cerita sampai malam Senin, malam kedua Dhiza menjalani perawatan masih terus stay di pembukaan 2, tidak ada perubahan.


"Kenapa bisa begini, dok?" tanya Pras heran ketika dokter Kinan melakukan kunjungan ke ruang perawatan.


Dokter juga bingung karena kontraksinya sudah bagus. Menurut sang dokter, kemungkinan panggul Dhiza terlalu kecil dan kepala bayi cukup besar sehingga jalan keluar si bayi menjadi sempit. Bayi sulit keluar.


Dhiza dan Pras mencoba untuk berbesar hati, keinginan mereka untuk bisa melahirkan secara normal gagal.


Tanpa berpikir lagi, akhirnya Pras menyetujui tindakan operasi sesar demi bayi kami.


"Lakukan yang terbaik, Dok. Yang penting ibu dan bayinya sehat dan selamat,"


"Itu sudah pasti, Pak. Sudah menjadi tugas saya untuk memberikan pelayanan maksimal terhadap semua pasien,"


"Terimakasih, dok. Saya berharap tidak akan terjadi apa-apa,"


"Bapak tenang saja, hal seperti ini sudah sering terjadi. Operasi Caesar akan lebih baik untuk ibu dan calon bayinya. Mereka akan baik-baik saja. Jangan khawatir," hibur sang dokter.


"Terimakasih,dok,"


"Sama-sama. Temani ibu, buat dia gembira. Suasana hati sang ibu sangat membantu proses kelahiran,"

__ADS_1


"Baik, dok. Terimakasih atas sarannya,"


Pras meninggalkan ruang dokter dan segera kembali ke kamar Dhiza. Ia melihat istrinya itu masih terlelap.


Selasa pagi, tepatnya pukul 07.00 dilakukan cek pembukaan terakhir dan stay di pembukaan 2. Pagi itu juga dokter menjadwalkan operasi untuk Dhiza.


"Normal atau Caesar tidak mengubah makna perjuangan ibu melahirkan anaknya. Yang penting keselamatan bagi keduanya," Wibie coba menghibur sepasang calon orang tua itu.


"Iya, Dhiza sudah mengikuti semua prosedur agar bisa melahirkan normal, hanya saja karena kondisi pinggulnya yang terlalu kecil tidak memungkinkan bagi dia untuk mewujudkan keinginannya," sahut Pras.


"Tidak apa, Mbak. Mau normal atau Caesar tidak akan mengubah perasaan ibu pada anaknya atau sebaliknya. Semangat," Rey menimpali.


Selama Dhiza di rawat, keduanya menyempatkan diri untuk menjenguk sahabatnya itu setiap pagi dan sore. Mereka membawakan makanan dan perlengkapan yang dibutuhkan oleh Pras maupun Dhiza.


"Maaf ya, kami sudah begitu merepotkan. Sampai-sampai bos kita ini ijin kerja pagi ini,"


"Ga ijin, kebetulan lagi ada tugas di Jakarta. Jadi santai kok,"


Akhirnya pukul 09.30 pagi dijadwalkan operasi C- section dan pukul 10.25 lahirlah little angel. Putri cantik pasangan Dhiza dan Pras sudah bisa merasakan sentuhan kasih sayang dari kedua orang tuannya.


Dari sini akhirnya Dhiza menyadari, saat menjalani proses melahirkan itu poin terakhirnya adalah pasrah. Semuanya kita kembali lagi pada Allah SWT, pada ketentuan yang sudah ditetapkan pada setiap hambanya.


Dhiza sudah bisa berbesar hati, Pasrah dengan ketentuannya atas bayinya. Meskipun keinginannya untuk melahirkan normal ini gagal, membuatnya berpikir kembali bahwa mungkin jalan yang diinginkan si bayi adalah jalan yang lain.


Saat seluruh keluarga datang, Dhiza dan bayinya sudah berada di ruang inap. Ibu muda itu terlihat dengan penuh kesabaran sedang menyusui putri kecilnya. Buah cintanya dengan Pras.


Happy reading all, tetep saja Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2