
Devara terlelap sepanjang perjalanan menuju ke rumah. Tubuhnya terkulai tak berdaya di jok belakang. Di atas pangkuan Rey.
Mungkin karena ia begitu kelelahan setelah menghabiskan waktu untuk berbelanja dan bermain sepuasnya di arena anak-anak. Diitambah lagi perutnya sudah kenyang.
Soto Madura yang dipesannya ludes, disapu olehnya tanpa tersisa sedikitpun, berikut sepiring nasi putih yang ditaburi bawang goreng.
Anak itu terlihat begitu lapar namun tampak enggan untuk menyuap. Untuk itu Rey menyuapi Devara hingga tidak ada sedikitpun makanan yang tersisa di piringnya.
Devara yang tertidur begitu pulasnya membuat Wibie dan Rey tidak tega untuk membangunkannya. Dengan sigap Pak Wibie menggendong Devara menuju kamarnya, usai memarkirkan mobil di garasi dan mematikan mesin mobilnya.
Rey begitu terkesima melihat Pak Wibie yang begitu sayang pada putrinya.
"So sweet banget,"
"Andai aku bisa mendapatkan suami yang seperti ini, ah.... bahagianya," Rey mulai berandai-andai.
Ia mengikuti langkah Wibie yang membopong anaknya. Tidak lupa, Rey membawa kantong belanjaan milik Devara yang berisi sepatu dan tas sekolah.
Rey hanya ingin memastikan tas dan sepatu baru anak itu ada di kamarnya agar ketika ia terjaga tidak mencari-cari barang yang baru dibelinya itu. Ia pasti sangat ingin segera mencobanya kembali. Prilaku anak kecil pada umumnya.
Rey meletakkan tas belanjaan itu di sisi tempat tidur Devara dan ketika ia hendak meninggalkan kamar itu, Wibie menawarkan sesuatu padanya.
"Mau menemaniku minum kopi?" tanya pak Wibie setelah ia membaringkan Devara di kasurnya yang empuk dan melepas sepatu gadis itu.
Tidak lupa ia juga menyalakan AC di ruangan itu agar anaknya bisa tidur dengan nyaman. Wibie juga membenahi baju anaknya yang sudah tersingkap kemana-mana.
Rey mengangguk. Kemudian mereka berdua duduk di teras samping yang berada di pinggir taman belakang. Meja kecil dan dua kursi yang ada di sana menambah asri ruang terbuka yang tidak begitu luas itu.
Beberapa tanaman hias tumbuh indah dipinggir kolam kecil. Warna- warni ikan hias yang berlarian di kolam membuat air mata seakan ingin mengikuti pergerakannya.
Air mengucur dari gundukan tebing buatan dan suara gemericik air yang mengalir, membuat kolam kecil itu semakin asri dan cantik.
Pandangan mata menjadi segar oleh hijaunya tanaman serta udara yang begitu sejuk karena hembusan angin dari luar membuat orang betah berlama-lama di sini.
Bu Fat datang, membawa satu nampan kecil di tangannya. Berisi satu teko yang terlihat mengeluarkan kepulan asap dan dua cangkir keramik bermotif batik.
__ADS_1
"Ini kopinya," ujar wanita itu.
Nampan itu ia letakkan di meja kecil, diantara Wibie dan Rey yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Kopi Lahat. Yang dibawa Mas Wibie kemarin," jelasnya.
Setelah meletakkan kopi itu, ia segera pamit dan meninggalkan mereka berdua.
"Ibu permisi dulu ya. Masih ada yang mau diberesin di dapur," pamitnya dengan alasan yang normatif
"Terimakasih, Bu," ucap Pak Wibie. Ia tersenyum kemudian menuang kopi yang masih panas itu ke dalam cangkir hingga mencapai setengah bagian cangkir dan menyerahkannya pada Rey.
"Makasih, Pak," ucap gadis itu dan meneguk kopi itu dengan tenang.
"Kamu suka suasana di sini?" Tanya Wibie lagi. Pandangannya lurus ke arah air yang mengucur.
Secangkir kopi hangat ada ditangan kanannya.
"Sruupp," terdengar suara Pak Wibie menyeruput kopinya dengan pelan.
Hening....
Rey mengumpulkan segenap keberanian, mungkin ini saat yang tepat untuk membicarakannya. Lebih cepat lebih baik agar tidak terlalu membuang-buang waktu
"Pak!" panggilnya pelan.
Pak Wibie memandang ke arah Rey seketika itu juga setelah meneguk kopi yang baru diseruput dari cangkirnya.
"Hemmm,"
"Aku mau menyampaikan sesuatu. Mungkin aku orang yang tidak tau diri. Selalu saja membuat Pak Wibie susah. Tapi aku harus membicarakannya. Agar ada kejelasan di antara kita," tutur Rey sambil menghela nafas.
"Semoga saja aku tak salah bicara," bisiknya dalam hati.
"Tentang apa. Sampaikan saja jika menurutmu akan membuat semuanya menjadi jelas. Ceritalah, ga usah sungkan-sungkan," katanya seraya tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Dari dulu aku penasaran. Berapa jumlah hutang yang harus aku lunasi? Aku akan mencicilnya mulai bulan ini," ungkap Rey seraya mengingat betapa waktu itu ia sungguh tidak tau diri. Minta dilarikan oleh orang yang belum begitu dikenal.
Rey metatap wajah tampan yang duduk begitu tenang di sampingnya. Mukanya masih terlihat begitu tenang. Tak ada tanda-tanda ia terkejut oleh apa yang sampaikannya. Justru ia tersenyum menyeringai.
Mungkinkah Pak Wibie sudah bisa menebak, aku akan menanyakannya juga?
"Berapa hutangmu?" tanyanya datar. Senyum mengembang dari bibirnya, namun sulit untuk di tebak maknanya.
"Ya, hutang sampai kapanpun tetaplah hutang. Aku harus melunasinyw sebelum ajal menjemput badan," jelas Rey lagi.
Wibie terkekeh. Sebentar kemudian ia menyeruput kembali kopinya.
"Sekarang jawab dengan jujur. Apa kau sedang menginginkan sesuatu dariku?" tanyanya dengan mata yang menatap tajam ke arah Rey.
Rey diam. Begitu juga pak Wibie. Suasana menjadi hening untuk sesaat
"Ya," jawab Rey dengan jujur.
"Kalau begitu kenapa kau tanya berapa jumlah hutangmu. Pikirkan saja bagaimana kau bisa kuliah dan mengirim sedikit uang yang kau punya pada orang tuamu. Aku rasa mereka sudah harus tahu, kau baik-baik saja di sini," jelasnya begitu tegas.
Apa yang baru saja di dengar, membuat bulir hangat di kelopak mata Rey luruh seketika. Ya " Allah, setulus itukah pria ini padaku?" Bisik Rey dalam hati. Begitu lirih. Tak ingin terdengar olehnya.
Rey menundukkan wajahnya. Ia tak ingin Pak Wibie melihat wajahnya yang tiba-tiba menjadi sendu karena terharu oleh sikapnya.
"Aku juga punya hutang kepadamu. Hari ini kau sudah membuat anakku begitu bahagia. Itu tidak akan terbayar oleh apapun. Aku sangat berterimakasih padamu," ungkapnya. Terlihat begitu jujur.
Rey memberanikan diri mengangkat wajahnya kembali. Ia pandangi wajah yang kini menatap ke arahnya. Mata mereka saling mengunci.
Betapa ingin Rey menghambur ke arahnya dan memeluk tubuh tubuh itu. Sungguh, ia begitu terharu oleh prilaku pria itu.
"Besok aku akan mengantarmu. Pilihlah kampus yang kau suka dan jurusan yang kau minati. Tak usah berpikir apapun. Aku akan mengurus semuanya," matanya terus menatap Rey. Binar indah itu bisa bisa terlihat begitu jelas pada kedua bola matanya.
"Apakah aku juga terlihat begitu bahagia. Hingga dia tak ingin memalingkan tatapannya dari mataku?" Bisik Rey seketika itu. Lirih sekali. Cukup di dalam hati.
Rey begitu bahagia. Bahkan teramat bahagia. Pak Wibie begitu pandai membuat Rey tak ingin jauh darinya.
__ADS_1