Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
H-1


__ADS_3

Sarapan pagi sudah siap. Seusai subuh Rey sudah membantu Bu Fat menyiapkan sarapan di dapur. Ayam goreng, cah kangkung dan tahu tempe goreng.


Ayah dan ibu belum ada yang keluar dari kamarnya. Begitu juga dengan Doni dan Kak Nay yang tidur di ruko. Sepertinya mereka kelelahan karena perjalanan kemarin.


"Sarapannya da siap, Bu. Yang mau makan belum ada yang bangun," gumam Rey pada Bu Fat.


"Iya, biarkan saja. Mungkin mereka masih lelah," Bu Fat menimpali.


"Kamu mandi dulu, Ray. Biar ibu yang membereskan meja makan," ujar Bu Fat lagi.


"Baiklah. Tapi sepertinya kita harus buat sambel, Bu. Keluargaku pada suka pedes," pinta Rey.


"Iya. Tinggal saja. Biar ibu yang buat sambelnya,"


"Baik. Terimakasih,"


Rey segera meninggalkan dapur. Ia melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya yang di tempati Kak Nay dan Doni untuk mengambil baju ganti. Semalam ia lupa menyiapkan, padahal sudah direncanakan jika ia akan tidur di kamar Devara.


"Don....Doni. Buka pintu!" teriak Rey sambil mengetuk pintu. Ia mengeraskan suaranya agar terdengar ke atas.


"Don," teriak Rey lagi.


Rey mundur dua langkah dan mendongakkan kepalanya sebentar. Ternyata lampunya masih padam. Berarti mereka berdua belum ada yang bangun.


"Kenapa teriak-teriak," suara Wibie yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Aku mau mandi, pakaian ganti ada di atas," jawab Rey.


"Tunggu saja. Biarkan mereka istirahat. Memang kau belum memindahkan barang-barangmu ke kamar kita?" tanya Wibie heran.


"Belum lah. Emang seberapa banyak barangku hingga sudah aku pindahkan terlalu cepat," sahut Rey sewot.


"Hemm gitu aja ngambek. Coba di cek dikamarku, barangkali kau meninggalkan bajumu di sana,"


"Mana mungkin. Aku tidak pernah melalukan apapun di kamar itu jika tidak ada kamu. Sembarang aja,"


"Coba di cek lagi. Tadi aku lihat di ruang ganti ada blus tergantung dan celana jeans," jelas Wibie.


"Masa?" Rey mulai khawatir. Ia berpikir keras, apa mungkin ia lupa pernah berganti pakaian di kamar Wibie.


Rey yang belum mampu mengingat apakah ada pakaiannya tertinggal di kamar Wibie, tanpa komando lagi segera melangkah menuju ke kamar atas. Wibie yang merasa sukses membuat Rey bingung, mengikuti langkah gadis itu dari belakang.


Ternyata, Ibu sudah muncul di meja makan. Melihat kedatangan Rey yang masih mengenakan celana pendek dan kaos oblongnya membuat perempuan itu berkomentar.


"Calon pengantin kok pemalas sekali. Jadi, Wibie yang membangunkanmu setiap pagi?


Ibu berpikir karena Wibie sudah rapi, jadi ia yang ke kamar Rey dan membangunkan nya.


"Tidak, Bu. Justru saya keluar karena mendengar suara Rey membangunkan Doni. Rey biasa bangun subuh, kok," Wibie membela calon istrinya.


Wibie melirik Rey yang ada disebelahnya dan melihat gadisnya itu menampakkan wajah yang tidak bersahabat pada ibunya.


"Jadi kenapa kau repot-repot membangunkan Doni?


Kau tahu sendiri, jika libur sekolah anak itu selalu bangun jam 10. Buang-buang energi saja jika membangunkan dia sepagi ini" jelas Ibu dengan nada ketus


"Saya mau ambil baju ganti, Bu,"


"Oh, jadi semua barang-barang mu masih di sana?" tanya ibu menyelidiki.


Wibie diam saja. Ia bingung mau menimpali dengan kalimat yang seperti apa. Salah-salah ia malah memancing amarah ibu mertuanya.

__ADS_1


"Iya, Bu. Saya kan memang tinggal di sana. Di situ juga ada kamar mandinya. Jadi jarang mandi di sini," sahut Rey.


Ibu diam saja. Dia tidak menjawab apapun terkait jawaban Rey itu. Bu Fat yang tengah menyiapkan sarapan dan mendengar percakapan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Papa, aku pake baju apa?" tanya Devara yang berdiri di ujung tangga dengan tubuh yang hanya terbalut handuk. Suaranya yang begitu keras membuat orang yang ada di bawah mengalihkan pandangannya ke arah nya.


"Iya, Nak. Sebentar ya. Papa lupa kalau tadi mau ngambilin baju ganti,"


Wibie buru-buru ke kamar Devira untuk mengambilkan baju ganti anaknya.


"Buruan, Pa. Nanti pesawat Oma keburu dateng," ocehnya lagi.


"Iya, iya," sahut Wibie sekali lagi.


Menangkap pembicaraan Devara dan papanya, ibu mencuim gelagat yang tidak beres. Untuk memastikan dugaannya, ibu menarik tangan Rey menuju ke kamarnya. Bu Fat yang melihat kejadian ini hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Apa kalian akan pergi lagi?"


Dengan kasarnya ia mendudukkan Rey di pinggir tempat tidur dan memegang keras kedua pundak gadis itu. Matanya menatap tajam, bak singa yang siap menerkam mangsanya.


"Tidak, Bu. Hanya Devara dan Pak Wibie yang akan menjemput ibu dan adiknya," jawab Rey.


"Apa kalian ini kurang faham dengan apa yang ibu sampaikan semalam. Besok kalian akan menikah, kenapa masih disibukkan dengan urusan ***** bengek lainnya?" bentak ibu lagi.


"Apa sukit menghormati kami, orang tuamu ini. Kami tidak minta apa-apa. Cuma ingin kalian selamat dari tumpa bala. Tolonglah. Untuk hari ini kalian akan ibu pigit. Jangan ada yang keluar rumah satupun," tegasnya lagi.


Rey tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia fahsm, jika sudah seperti ini tidak ada yang bisa membantah keinginan ibunya.


Ayah yang sejak tadi hanya diam karena belum tahu duduk perkaranya jadi angkat bicara.


"Bu,..."


"Stttt,"


"Pak Wibie mau menjemput keluarganya, Bu. Apa pantas jika Rey melarangnya?" tanya Rey dengan nada yang begitu pelan. Ia begitu menggarap pengertian dari ibunya.


"Memang mereka tidak bisa naik tadi?" sahut Ibu dengan ketus


"Tolonglah, Bu. Kali ini saja. Ibu mau Rey berbuat apa?"


Rey tak kuasa menahan air matanya. Sungguh ia bingung dengan sikap ibunya yang selalu membuat keributan dengannya. Dimana pun. Tak kenal tempat dan situasi.


"Bilang sama Wibie. Sampaikan apa yang ibu katakan tadi!" Bentak ibu dengan tegas.


"Kenapa kau tiba-tiba jadi begitu dungu. Ayo lakukan!" perintah ibu lagi. Ia menjadi semakin kesal karena Rey tidak bergeming sedikitpun.


"Rey malu, Bu. Belum juga jadi istrinya tapi sudah terlalu banyak permintaan,"


"Ya, sudah! Berati ibu yang akan bicara!" ancam ibu.


Rey menjatuhkan pandangannya semakin ke dalam. Kali ini ibunya telah memberikan pilihan yang sulit. Sebisa mungkin tangisnya tidak menjadi. Apalagi yang bisa dilakukannya, kecuali duduk mematung.


Merasa diabaikan, ibu langsung mengambil tindakan.


"Ok, berarti memang ibu yang harus bertindak," selesai bicara ia langsung melangkah menuju ke pintu.


Ayah merasa begitu sakit melihat perilaku istrinya terhadap Rey. Ia lupa jika kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk berdiri tanpa bantuan.


Pria itu replek. Ia bangkit dari kursi rodanya, berusaha mencegah istrinya meninggalkan kamar.


BRAAAK!

__ADS_1


Ayah jatuh dari kursi. Tak ayal lagi, tubuhnya mencium lantai kamar yang begitu licin.


Secepatnya kilat Rey memeluk ayahnya. Ia berusaha memapah pria itu agar bisa berdiri dan kembali ke kursi rodanya.


Ibu yang sudah memegang handle pintu juga terkejut. Ia langsung menghambur ke arah suaminya.


"Biarkan aku. Teruskan saja perdebatan kalian," suara ayah cukup keras.


"Sungguh kalian sudah mempermalukanku. Kita ini sedang bertamu. Kenapa sejak kemarin selalu bersi tegang!" Ujarnya lagi dengan nada yang sedikit pelo.


"Ibu mengajarkan tata krama, kepatuhan terhadap adat tapi di mana sopan santunmu sebagai tamu?" tanya ayah.


[24/2 14.17] Sugianti: Tak sepatah katapun keluar dari mulut ibu. Ia merasa terterhujani ribuan anak panah atas kata-kata suaminya itu.


"Jika ibu tidak setuju Rey menikah , batalkan sekarang. Jangan bikin ulah yang mencoreng nama keluarga," bentak ayah dengan terbata-bata.


Hening!!


Ayah terlihat begitu sakit namun tidak mau ditolong oleh siapapun. Dalam posisi yang terjerembab, ia masih berusa bicara sekuat hati. Ternyata ucapan itu membawa hasil.


Ibu menundukkan kepalanya dan mematung di belakang pintu.


"Ayo, Yah. Rey bantu,"


"Tidak usah, Nak. Bebanmu sudah cukup berat. Jangan ditambah lagi oleh sakitnya orang tua yang tidak ada harganya lagi,"


"Ayah jangan begitu. Rey sangat sayang sama Ayah,"


Kali ini Rey menjatuhkan tubuhnya dan memeluk ayahnya dari belakang.


"Tok...tok...," suara ketukan disusul dengan ucapan salam.


Ibu yang masih mematung di belakang pintu segera membukakan pintu.


Wibie begitu terkejut mendapati Rey yang terisak memeluk ayahnya. Sekilas ia melihat, ibunya juga bercucuran air mata.


"Ayah! Ada apa?" teriaknya. Ia menghampiri pria yang masih tergeletak di lantai itu.


"Jangan, Nak. Jangan dibantu," ayah mengibaskan tangan Wibie yang telah meraih pundaknya.


Wibie mengambil ponsel dari saku bajunya. Beberapa saat kemudian sudah terdengar sambungan telpon itu di jawab oleh seseorang.


"Maaf, Bu. Wibie tidak bisa ke bandara. Ayah jatuh dari kursi rodanya. Wibie akan urus ini dulu,"


Wibie terdiam. Sepertinya ia sedang mendengar pembicaraan dari seberang. Sesekali dia hanya bilang


"Ya,"


Dan berakhir dengan ucapan


"Terimakasih,"


Ayah mulai bergerak, membalikkan badannya dengan hati-hati. Rey mengamati setiap gerakan yang dilakukan oleh ayahnya. Meski ia dan Wibie ingin membantu, ayah tetap mengibaskan tangan mereka.


Keinginan yang begitu kuat untuk bisa melindungi putrinya menjadi tekad ayah untuk berdiri seketika itu juga ketika istrinya akan melakukan tindakan yang konyol.


Kini, dengan segenap tenaga ia berlatih menggerakkan sedikit demi sedikit tubuhnya yang mulai dirasa tidak kaku lagi.


Sungguh ajaib. Allah SWT tidak pernah menyia-nyiakan usaha dan harapan seseorang untuk bisa pulih dari penyakitnya. Ayah bisa menarik kakinya hingga dengkulnya menekuk dan mengangkat badannya hingga ia bisa berada di posisi duduk di lantai.


Suatu gerakan yang hampir lima tahun ini tidak bisa ia lakukan. Kini kakinya yang begitu kaku sudah mulai bisa digerakkan sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Semua yang ada diruang itu menyadari perubahan ayah yang begitu tiba-tiba. Rey kembali memeluk ayahnya. Kali ini ia membantu pria itu berdiri dan duduk di sisi kasur.


"Alhamdulillah, Ayah sudah bisa menggerakkan kakinya," ujar Rey dengan girang.


__ADS_2