Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 63 Wisuda


__ADS_3

[ Lima bulan kemudian ]


Rey tengah berkumpul dengan keluarganya di ruang tengah, mereka baru saja sampai setelah menempuh perjalanan hampir 20 jam dengan mobil pribadi pemberian Wibie. Ayah, ibu, kak Nay dan satu sopir yang di sewa selama perjalanan Lahat Jakarta hingga pulang kembali.


Doni tidak ikut karena ia sedang mengikuti tes kesehatan, tahapan dari tes yang harus ia lakukan untuk mencapai tujuannya. Menjadi ABRI, sesuai dengan cita-citanya sejak kecil.


Teh hangat sudah terhidang untuk menyambut kedatangan mereka, juga ada kue kering yang disiapkan Bu Fat. Sembari istirahat, Ibu membongkar oleh-oleh yang dibawanya untuk keluarga Rey. Ada pempek, kerupuk ikan, tekwan kering, serta kue basah kesukaan mantu kesayangan, maksuba dan engkak ketan.


"Waw, mas Wibie seneng banget, nih," seru Rey melihat oleh-oleh yang dibawa ibu.


"Semua pesanan dia. Eh, mana suamimu?" tanya ibu karena sejak datang belum melihat menantunya itu.


"Belum pulang, biasanya abis magrib sampe rumah,"


"Oh, kirain dia sudah izin kerja,"


"Belum Bu, cuma izin sehari untuk besok," sahut Rey.


"Biar kakek istirahat dulu sayang, masih capek," Rey mengingatkan Nathan yang sudah bergelayutan di pundak Kakeknya minta main. Begitu juga dengan Devara.


"Udah biarin, dia kangen sama kakeknya," Ayah membela cucu kesayangannya itu.


Rey hanya tersenyum kalau Ayah sudah membela cucunya.


"Mang, kamarnya di depan. Ada kamar mandi juga. Bisa istirahat dulu," ujar Rey pada sopir yang mengantar keluarganya dengan selamat hingga sampai di Jakarta.


"Iya, Rey. Rumahmu gede banget. Bagus dan megah," Mang Budi menyapukan pandangannya ke sekeliling ruang. Ia kagum dengan kehidupan Rey yang sudah di kenalnya sejak kecil.


"Alhamdulillah, rumah suami saya Mang," sahut Rey merendahkan diri.


"Rumah suami juga rumah kamu, kalau jadi suami istri begitu," ibu ikut menimpali. Ia tidak terima dengan ucapan putrinya itu.


"Betul itu, Mbak. Rey masih saja rendah diri meski sudah sukses," kata Mang Budi lagi.


"Iya, dia memang selalu begitu," sahut ibu lagi.


"Ayuk Mang, saya antar. Biar bisa istirahat," ujar Rey berusaha mengalihkan pembicaraan. Rey mengantarkan Mang Budi ke kamar depan, kamar yang pernah ia tempati sebelum menikah dengan Wibie.


"Rey, besok ibu dandan ga?" tanya ibu ketika putrinya itu sudah masuk kembali ke rumah.


"Dandan seperti apa, Bu? Kita cuma menghadiri wisuda Rey saja kok," sela Ayah.


"Ini kan momen penting, Yah. Kita juga mau foto keluarga biar bisa diabadikan,"


"Besok ada teman yang bisa makeup kita, sudah disiapkan kok,"


"Iya, harus gitu. Sesekali kita harus tampil maksimal apalagi saat momen yang berharga dalam hidupmu,"


"Iya, Bu. Tenang saja. Ibu tinggal duduk cantik saja,"


Sore itu mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga. Ayah dan ibu menolak untuk istirahat karena sudah sore. Mereka ngobrol santai hingga Wibie datang. Temu kangen itu berlanjut hingga magrib.


*******

__ADS_1


[ Keesokan harinya ]


Peserta wisuda diarahkan menempati kursi yang disusun pada bagian depan gedung nan megah itu, sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Wisudawan untuk jenjang D3, S1, Pasca sarjana, hingga program doktor yang sudah dipersiapkan untuk mereka. Ada sekitar 530 mahasiswa yang diwisuda hari itu dan sekitar 1.200 undangan menempati tempat duduk sesuai dengan nomor urut yang telah diberikan pada pada saat gladi bersih.


Butuh sekitar 30 menit bagi panitia memastikan kesiapan semua peserta dan memastikan undangan duduk sesuai tempat yang ditentukan. Meski melelahkan, namun peserta wisuda dan undangan harus mengikuti prosesi ini sebagai akhir dari perjalanan sebagai mahasiswa.


Acara wisuda pun dimulai, diawali dengan prosesi iring-iringan Senat yang terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, masing-masing Ketua Jurusan dan wisudawan/wisudawati menuju tempat acara dengan tertib dan hikmat.


Iring-iringan ini dipandu dengan petugas pembawa pedel dan diiringi dengan lagu Tanah Airku Indonesia dan Rayuan Pulau Kelapa oleh paduan suara dari unit kegiatan mahasiwa.


Yang tidak kalah penting dari semua, turut hadir sebagai tamu undangan mantan Presiden RI ke - 6 Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam sambutannya beliau menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan/wisudawati dan menghimbau mereka untuk terus mengupayakan percepatan penyerapan ke dunia kerja. Beliau juga menghimbau kampus/perguruan tinggi untuk selalu meningkatkan kualitasnya dan terus mengupayakan pendidikan yang lebih baik serta mampu mengarahkan, mengantarkan lulusannya untuk trampil dan mahir di dalam dunia kerja, baik yang di sektor swasta, pemerintahan, maupun wirausaha mandiri.


Sebelum acara puncak, juga diserahkan penghargaan kepada lulusan dengan predikat terbaik dari masing-masing jurusan dan jenjang pendidikan. Rey mendapat penghargaan sebagai lulusan terbaik dari jurusan akuntansi kelas karyawan dengan IPK 3,96. Kepada para lulusan terbaik ini diberikan penghargaan berupa sertifikat lulusan terbaik dan cinderamata.


"Selamat ya, Rey," Pras dan Pandu memberikan selamat pada teman sekelasnya karena berhasil mendapatkan predikat sebagai lulusan terbaik begitu Rey sudah kembali ke tempat duduknya.


"Selamat untuk kalian juga," balas Rey yang masih mengembangkan senyum bahagia.


"Kamu menang banyak, bisa foto dengan mantan presiden," gumam Pras Lirih.


"Iya, rezeki banget itu," sahut Pandu.


Rey hanya tersenyum, mereka tidak melanjutkan pembicaraannya lagi karena masih harus mengikuti prosesi wisuda hingga selesai.


Keseluruhan proses acara berlangsung dengan lancar dan aman serta ditutup dengan pembacaan do’a kemudian dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan berfoto bersama baik para wisudawan/wisudawati maupun panitia.


Acara yang dimulai pukul 09.00 itu baru selesai pukul 12.10. Kini tinggal sesi foto teman-teman dan keluarga yang datang untuk mendampingi.


Setelah ber-selfie ria dengan teman-teman satu angkatannya, Rey menemui keluarganya yang duduk di barisan undangan. Wibie dan kedua orang tuanya menyambut Rey yang datang menghampiri mereka dengan senyum bahagia dan penuh kebanggaan.


"Terimakasih, Mas," Rey membalas pelukan suaminya. Ia tidak bisa berkata apa-apa, air mata tiba-tiba mengalir begitu saja.


"Selamat ya, Nak. Kami bangga padamu," ucap Ayah dan ibu nyaris bersamaan. Keduanya menepuk pundak Rey yang masih ada di pelukan suaminya.


Rey melepas pelukan nya, kini ia memandang orang tuanya. Rey memeluk kedua orang yang begitu dicintai itu. Ia sangat bahagia, keluarga besarnya bisa hadir pada prosesi wisudanya.


"Terimakasih, ayah... ibu," ucap Rey dengan suaranya yang nyaris terisak.


Tidak lama, mereka keluar dari gedung, menemui anak-anak dan Kak Nay yang menunggu di ruang sebelah. Mereka tidak bisa masuk karena undangan di batasi, masing-masing wisudawan hanya bisa membawa pendamping maksimal 3 orang.


Saat mereka sedang foto keluarga di stan fotografer dadakan yang ada di sekitar gedung, Rey dikagetkan dengan suara seseorang yang begitu ia kenal.


"Rey, selamat ya," ujar pria yang sudah lebih dulu ngobrol dengan suaminya.


"Alex," sahut Rey dengan senyum bahagia. Sejak mereka berpisah di bandara, ia tidak pernah ketemu dengan sahabatnya ini.


"Kamu kemana aja, aku ga pernah liat kamu di kampus?" tanya Rey penasaran.


"Ada, kok. Kamu aja yang ga pernah nyamperin di BEM. Kan markas aku di sana," canda pria tampak lebih gagah dari biasanya karena toga yang di kenakannya.


"Aku tidak tau kalau kau juga ikut wisuda hari ini," ujar Rey kecewa.


"Nah kalo yang ini daftarnya dadakan. Aku baru lulus ujian 2 Minggu lalu. Untung nasih keburu," Alex memberi alasan.

__ADS_1


"Kamu sendirian?" tanya Rey lagi.


"Ada ibu, tuh lagi nemui sahabatnya," Alex menunjuk pada seorang perempuan yang tengah berkumpul dengan keluarga lainnya.


Cukup lama mereka basa-basi, bertanya tentang kabar teman-teman yang pernah satu kelompok saat KKN di Belitung. Rey juga memperkenalkan Alex pada orang tua dan anak-anaknya sebelum mereka berpisah.


"Ada rahasia, ya? Kok pake bisik-bisik segala," tanya Rey pada Wibie. Ia sempat melihat mereka bicara empat mata dan sengaja menjaga jarak dari Rey dan keluarganya.


"Enggak, biasa urusan laki-laki," sahut Alex yang menepuk bahu Wibie dengan pelan.


"Ya.... Kok gitu?" sahut Rey dengan mimik kecewa.


"Saya tanya mana pasangan kok dia bilang belum lahir?" Wibie menimpali. Ia terpaksa berbohong pada istrinya atas permintaan Alex.


"Ha...ha.....bisa aja," sahut Rey. Meski ia tahu alasan itu terkesan mengada-ada, namun ia tidak bisa mengali informasi lebih jauh. Alex segera pamit karena sudah di panggil oleh keluarganya.


Ya.... Wibie dan Alex memang sempat bertemu empat mata. Dulu, beberapa saat ketika urusannya dengan Pak Gun sudah diselesaikan secara damai di kantor polisi. Wibie mencari waktu untuk bertemu Alex karena ia perlu mengucapkan terima pada teman Istrinya itu.


Berterima kasih karena Alex sudah membantu istrinya saat di hotel juga campur tangannya pada Pak Gun hingga dosen bejat itu hengkang dari kampus ini.


Alex minta dengan sangat agar Wibie merahasiakan semua ini dari Rey. Karena itulah, Wibie tidak pernah menceritakan pertemuannya dengan Alex pada waktu itu.


"Sekarang kita pulang?" tanya Wibie pada Rey karena acara foto sudah selesai. Hasilnya akan dikirim ke alamat Rey lusa nanti.


"Iya, seperahitiannya kita makan dulu deh. Udah laper," usul Rey.


"Boleh, apa kamu ga gerah dengan kostum begitu?" tanya Wibie karena Rey masih mengenakan toga.


"Kita pulang aja, makannya di rumah. Ibu juga sudah pengen ganti baju. Gerah!" usul ibu.


"Terserah kalian gimana maunya?"


"Ya, udah. Kita langsung pulang aja," Rey menimpali.


Setelah diputuskan, akhirnya mereka langsung pulang ke rumah. Meninggalkan TMII yang menjadi lokasi wisuda Rey dan teman-temannya.


*****


Manusia tidak pernah tahu pilihan atau keputusan yang mereka ambil akan menuntun mereka pada masa depan yang seperti apa?


Pilihan yang paling bijak untuk saat ini adalah menjalani apa yang sudah kita diputuskan dan tidak menyesalinya berlarut-larut!


*****


Hay.... para reader semuanya, terimakasih atas kesetiaannya mengikuti cerita ini hingga saat ini. EP, 63 ini sebagai episode terakhir dari novel pertama saya di Noveltoon. Terimakasih atas kunjungannya, berkat like dan komentar kalian semua saya bisa up hingga 155 episode. Saya sangat bersyukur dan menjadi begitu bersemangat karena apresiasi dari kalian semua.


Saya sadar saya masih harus banyak belajar, novel ini masih banyak kekurangan dan perlu perbaikan baik dari segi peubi maupun konflik yang di sajikan. Masukan dari kalian melalui kolom komentar sudah saya save dan akan saya jadikan bahan evaluasi bagi tulisan saya berikutnya.


Bagaimana dengan Kak Nay dan ambisi sang Ibu untuk mendapatkan menantu yang tajir melintir, tunggu kisahnyq dalam novel saya yang insya Allah akan saya terbitkan pertengahan Juli ini. Saya mau menyelesaikan "Temani Aku, Ken" lebih dulu disela-sela urusan pekerjaan di dunia nyata.


 


***Terimakasih, salam literasi***.

__ADS_1


 


__ADS_2