
Wibie berulang-ulang mengucapkan terima kasih pada atasannya yang sudah mempermudah segala urusan hari ini. Pria yang terpaut usia sepuluh tahun dengannya itu menjabat erat tangan Wibie sebelum mereka meninggalkan ruangannya.
"Terimakasih sudah bergabung bersama kami selama 18 bulan terakhir. Meskipun berat, kami terpaksa melepaskan Pak Wibie . Semoga di tempat yang baru makin sukses," ujar pria itu kemudian merangkul erat Wibie.
"Saya juga sangat berterimakasih pada bapak, selama di sini bapak sudah banyak membimbing saya," balas Wibie.
"Ah, anda selalu saja merendah. Jika bukan karena masa bakti dan usia, bisa jadi pak Wibie yang menduduki posisi saya sekarang ini,"
"Jarang sekali ada SDM yang seprofesional anda," puji atasannya lagi.
"Terimakasih, Pak. Saya hanya menerapkan ilmu yang saya dapat selama kuliah dan pengalaman saya selama dilapangkan,"
"Ya, ya...anda tipe orang tidak pernah berhenti belajar. Somoga di lain waktu kita bisa satu team lagi,"
"Terimakasih, suatu kehormatan bagi saya jika bapak berharap seperti itu,"
Keduanya melepas rangkulan, kini Wibie beranjak dari ruang itu setelah menundukkan badannya beberapa kali dan membawa map berwarna biru yang diberikan atasannya itu.
Keluar dari ruang bosnya, Wibie juga pamit pada rekan sejawat yang ada diruang itu. Ia mengalami satu persatu orang-orang yang sudah menjadi team work nya selama 1,5 tahun ini.
"Main-main kesini ya, Pak kalau pulang kampung,"
"Saya senang bapak sudah pulih lagi. Semoga makin sukses di tempat yang baru,"
"Jangan lupa, kalau main ke rumah mertua kabari kita, ya"
Demikian komentar-komentar yang dilontarkan temannya satu persatu.
Setelah semuanya beres, Wibie meninggalkan kantor itu dengan mengendarai ojek online menuju ke rumah mertuanya.
Mobil dan motor dinasnya ia kembalikan pada kantor hari itu juga agar bisa serah terima pada karyawan yang menggantikan posisinya.
Sekitar 30 menit perjalanan, ojek yang di naiki Wibie sudah tiba di depan rumah Rey.
Wibie mendapati Nay sedang berjaga di toko sementara, ayah dan ibunya sedang makan siang.
"Ayo makan sekalian, ibu bikin pepes ikan mas, nih," Ibu segera menarik kursi yang ada disampingnya agar Wibie bisa duduk dan makan bersama mereka.
"Pas banget ya, Bu. Saya dateng pas jam makan siang," seru Wibie.
"Ada tetangga yang lagi panen, jadi ia keliling kampung menawarkan ikan hasil tambaknya. Jadi masih segar," lanjut ibu.
Ibu juga menyiapkan piring dan kobokan untuk menantunya itu. Ketika akan menyendok nasi ke piring Wibie, buru-buru Wibie mencegah tangan ibu.
"Saya ambil sendiri. Ga usah dilayani seperti itu. Ini kan rumah saya juga,"
Semua tertawa, ayah yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut bicara.
__ADS_1
"Sejak kapan pulang, katanya lagi tugas luar kota?"
Wibie yang sempat bingung dengan pertanyaan Ayah segera sadar, waktu itu ia yang meminta ibu agar tidak menceritakan kejadian naas itu pada Ayah.
"Baru tadi pagi sampe sini. Saya langsung ke kantor, Yah. Ada surat menyurat yang harus saya urus dengan segera,"
"Oh begitu. Ngineplah di sini. Sesekali tidak ada salahnya kau bermalam di rumah yang pernah ditinggali istrimu,"
Wibie hanya mampu menyerigai. Ajakan Ayah memang ada benarnya juga. Selama ini ia memang belum pernah nginep di sini.
"Iya, Ayah. Tapi tidak sekarang. Sore ini saya harus balik lagi ke Jakarta. Besok saya harus lapor diri di tempat tugas yang baru,"
Wibie menceritakan kedatangan hari ini hanya singgah sebentar, tujuannya hanya untuk mengurus surat-surat mutasinya.
"Mendadak dimutasi ada apa? Apa ada masalah?" tanya Ayah.
"Tidak, untuk penyegaran saja. Tapi Wibie beruntung juga bisa dapet di Bogor. Lebih Deket dari rumah,"
"Iya, sering-seringlah pulang jika kau sudah di sana" pinta Ayah.
"Tentu Ayah. Nunggu Rey lahiran dan bayinya agak gedean. Ayah sekarang sudah lebih sehat, ayah juga bisa sering-sering nengokin cucunya nanti,"
"Iya, Rey lahiran kita ke sana. Seminggu lagi ya?"
"Iya, insya Allah estimasinya 6 hari lagi. Ayah dan ibu bisa berangkat sama saya sekarang kalau mau,"
Mereka menghabiskan makanannya masing-masing, tak ada yang bersuara hingga nasi yang ada dipiring mereka bersih tak bersisa.
"Enak, Bu. Bener nih ikannya manis," seru Wibie begitu puas sembari mencuci tangannya di kobokan yang sudah disediakan ibu.
"Itu masih ada tiga, bisa dibawa untuk Rey. Dia suka sekali pepes ikan mas," ibu menawarkan.
"Oh, ya. Saya baru tau dia suka ikan mas. Selama ini saya belum liat ia masak pepes begini,"
"Mungkin dia sibuk, bawa aja. Pasti dia suka,"
"Iya, Bu. Akhir-akhir ini ia makin cepat laper. Mungkin karena bayinya laki-laki kalinya?"
"Biasanya kalo hamil anak laki-laki mamang lebih doyan makan dan cenderung males merawat tubuh," ujar ibu sembari tersenyum tipis
"Iya, bener banget itu. Rey males banget kalo disuruh mandi," sahut Wibie membenarkan ucapan ibu mertuanya itu.
"Ga apa, cuma sementara kok. Yang penting ibu dan kehamilan sehat,"
"Iya, Bu," sahut Wibie menyetujui pernyataan itu.
Wibie senang, sejak kejadian waktu itu ibunya begitu berubah. Sikapnya berbalik 180%. Kini ia makin sering bertanya kabar Rey dan Rey juga kerap tertawa riang ketika sedang ngobrol dengan ibunya via sambungan telepon.
__ADS_1
Obrolan di ruang makan itu masih berlanjut. Wibie dan Ayah memilih duduk di ruang tamu sembari nonton TV sementara ibu membereskan cucian piring di dapur.
*****
Sebelum berangkat ke bandara, Wibie lebih dulu mampir ke mess untuk mengambil koper pakaiannya.
Karena Doni sudah pulang sekolah, ia diantar oleh adik iparnya menuju ke mess dengan motor yang saat itu ia beli untuk ibu mertuanya.
"Tidak semua pakaian
Mas Wibie bawa, sebagian dibawa ke rumah saja ya. Sewaktu-waktu Mas, ke Lahat ada pakaian yang tertinggal di rumah," kata Wibie saat sudah masuk ke kamarnya.
Satu koper dengan ukuran sedang akan ia bawa ke Jakarta sementara satu tas lainnya yang akan di bawa pulang oleh Doni ke rumahnya.
"Mulai hari ini, Mas Wibie mutasi ke Bogor. Jadi sudah tidak bekerja di sini lagi. Mas titip Ayah sama ibu ya. Jaga mereka, sebagai anak laki-laki kamu harus bisa menjadi kebanggaan mereka," pesan Wibie pada adik iparnya itu.
"Iya, Mas. Sekarang Doni juga sudah bantuin ibu anter jemput cucian,"
"Bagus itu. Kamu sudah besar, sudah waktunya membantu pekerjaan orang tua. Jangan lupa belajar yang rajin,"
"Iya, Mas,"
"Nanti kalau liburan sekolah main ke Jakarta. Kasih kabar, biar dikirim tiket pesawat,"
"Beneran, Mas?"
"Beneran lah. Kalau mau meneruskan sekolah di Jakarta juga boleh. Selesaikan dulu SMP-nya di sini," ujar Wibie lagi.
"Iya, Mas. Doni mau sekolah di Jakarta,"
"Denga catatan belajar yang rajin, ya! Nanti kita urus SMA-nya di Jakarta," ujar Wibie sembari menepuk-nepuk bahu Doni.
Doni merasa senang mendengar tawaran itu. Berkali-kali ia mencium tangan Wibie saking bahagianya.
Sebelum adiknya kembali, Wibie juga mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu dan memberikanya pada Doni.
"Buat beli pulsa, jangan buat traktir pacarnya," goda Wibie.
"Engga, Doni belum punya pacar kok,"
"Bagus, belajar yang rajin dan bantuin ibu dulu," Wibie mengingatkan lagi.
"Iya, Mas. Terimakasih,"
Doni menerima uang itu dan cepat-cepat menyimpannya dalam saku celananya.
Sebelum menyalakan motornya, ia kembali mencium tangan Wibie dan pamit pulang.
__ADS_1