
Wibie kembali ke kamar, ia membuka hp istrinya lagi. Sama seperti yang lakukan sebelumnya. Kali ini ia membutuhkan nomer Alex.
Wibie jadi ingat, tidak lama setelah Pak Gun meninggalkan hotel Alex datang. Mungkin pria ini yang bisa menjawab, siapa yang sudah menjadi malaikat penolong bagi istrinya.
Buru-Buru Wibie mengirimkan nomer hp Alex ke ponselnya. Setelah itu ia juga menghapus histori pengiriman.
Berkali-kali Wibie menghubungi nomer itu, namun tidak di respon. Nada panggilan terputus dengan sendirinya.
"Apa karena nomer ini tidak dikenal hingga ia tidak mau mengangkat telpon?" tanya Wibie pada dirinya sendiri.
Karena no ponsel itu juga menggunakan WA, Wibie mengirim pesan pada Alex, agar ia segera menjawab panggilan telponnya.
"Assalamualaikum, Lex. Saya suami Reyna. Apa bisa bicara sebentar," pesan terkirim namun hanya centang satu. Beberapa saat Wibie menunggu tetap tidak ada perubahan.
Dari informasi pengguna, no itu terakhir online kemarin.
"Apa dia punya nomer yang lain?"
"Mungkin dia lagi sibuk," pikir Wibie lagi.
Merasa tidak ada hasil, kembali ke kamar. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, di sebelah hp istrinya. Ia sempat melihat hp Rey terus bergetar. Karena mode silent, jadi suaranya tidak terdengar oleh pemiliknya. Sepertinya pemberitahuan dari grup KKN. Wibie tidak tertarik untuk mengetahui aktivitas grup mereka.
Sebelum melangkah ke kamar mandi, ia melihat istrinya masih tertidur pulas.
"Sepertinya ia lelah sekali," bisik Wibie.
Ia tidak tega untuk membangunkan istrinya untuk sholat. Bergegas ia ke kamar mandi, ia harus mandi junub agar bisa sholat.
******
"Dari siang grup KKN rame, ada apa?" tanya Wibie.
Niat utama ia bertanya seperti itu agar ada jalan untuk mengetahui keberadaan Alex.
Ia sengaja tidak bertanya langsung agar Rey tidak curiga padanya, kenapa mendadak ingin tahu keberadaan ketua kelompoknya itu.
"Ia, pada upload oleh-oleh mereka yang sudah sampe. Kita kemaren kan sepakat beli oleh -oleh dari dagangan online warga binaan kita," jelas Rey yang terus berjalan menelusuri pantai. Sesekali ia berhenti, membuat lubang di pasir dengan tumit yang ia biarkan telanjang.
"Oh, iya sampe lupa. Paketannya udah sampe di Oma. Pempeknya langsung di eksekusi. Tadi Kakak VC," sahut Wibie.
"Kok aku ga tau?"
"Kamu lagi tidur. Devara cuma senyum aja pas aku liatin kamu lagi ngorok,"
"Dih, emang aku ngorok kalo tidur?"
"Iya, tapi ga kenceng-kenceng banget,"
"Masa?"
"Selalu begitu. Ga percayaan. Besok-besok aku vidioin ya buat bukti," tantang Wibie.
Rey mencubit perut suaminya karena gemes diledek seperti itu.
"Kamu ga upload kita lagi liburan?"
"Apaan, pamer? Ga la....ngaco aja,"
"Ya biar temen-temenmu cepet nyusul,"
"Sepertinya masih pada jomblo semua. Hanya Rara dan terlihat deket sama Pandu. Sepertinya berlanjut. Yang lain biasa-biasa aja. Ada yang mepet-mepet Alex, tapi anak itu kurang respon,"
"Nah, kebetulan. Dia menyinggung nama Alex," pikir Wibie.
"Sepertinya Alex orang yang fokus pada satu hal. Jika ia punya keinginan, ia akan total di sana," Wibie mencoba menganalisa.
"Kok mas tau?"
"Melihat cara dia bicara dan sikap dia menghadapi orang lain bisa terbaca,"
__ADS_1
"Iya, sepertinya memang begitu," sahut Rey singkat.
"Biasanya lagi, orang seperti itu "pacaran" net sekian,"
"Entahlah, aku ga tau kalo yang itu. Dia ga pernah cerita masalah pribadi,"
"Tertutup?"
"Ga juga. Kalo ngumpul fokus bicara program,"
"Oh. Syukurlah kau bisa satu kelompok dan mengenal calon orang-orang hebat,"
"Sepertinya begitu,"
"Kalo ketua lebih diperhatikan warga, banyak dapet oleh-oleh dong?" selidik Wibie lagi.
"Ga juga, semua pemberian warga kita kumpulkan, bagi rata. Alex juga belanja banyak buat keluarga. Tapi dia ga komen apapun di grup, sementara yang lain sibuk pamer keluarganya makan pempek dll,"
"Berarti dia belum tau kalau WA Alex ga aktif dari kemaren," pikir Wibie.
"Jangan-jangan tuh anak belum sampe Jakarta. Belok dulu kemana, kayak kita?"
"Ga tau juga. Ada yang manggil- manggil di grup juga ga di Sahuri,"
"Nah, kalian ga peka. Bisa jadi nomernya ga aktif atau gimana, ga ada yang coba menghubungi dia?"
Rey mengeluarkan HP dari sakunya, ia membuka WA, notifnya banyak sekali. Tak lama kemudian ia mencari membuka WA Alex, ternyata benar. Terakhir dilihat kemaren pagi. Berarti dugaan suaminya benar,"
"Iya, Mas. Dia ga buka WA dari kemaren,"
"Cari tau, mungkin hpnya hilang atau apa? Kalian juga masih harus koordinasi untuk bikin laporan, kan?"
"Iya. Nanti aku sampein ke yang lain,"
Wibie manarik nafas panjang,
"Eh, ada WA nih. Dari Agus,"
"Temen Alex, IT yang bantu kita bikin website. Dia anak semester lima,"
"Dia ijin mau telpon," ujar Rey lagi.
"Hubungi aja. Siapa tau penting," Wibie memberi usul.
Rey segera menghubungi Agus, tak berapa lama sambungan itu segera di jawab.
"Ada apa,Gus?" tanya Rey langsung. Tanpa basa-basi.
"Maaf Kak, malam-malam ganggu," sahutnya dengan nada begitu sopan.
"Ga, apa. Lagi santai kok. Ada apa, nih?" selidik Rey makin tidak sabar.
"Saya mau minta maaf, Kak," suaranya makin pelan.
"Maaf? Untuk apa?" tanya Rey makin penasaran. Ia tidak tahu kenapa Agus tiba-tiba menghubungi dan minta maaf.
Wibie yang ada di samping Rey memasang telinganya dengan tajam. Meskipun panggilan itu sudah speaker phone namun ia tetap saja mempertajam pendengaran.
"Iya, Kak. Saya minta maaf. Saya harus melakukan ini karena dihantui rasa bersalah,"
Rey hanya diam, ia menunggu Agus melanjutkan ceritanya.
"Waktu itu saya diminta Pak Gun untuk mengacaukan toko online kakak. Pak Gun bilang mau memberi pelajaran pada kakak karena sudah menjebaknya dengan membuat rekaman asusila dengannya dan melakukan pemerasan padanya,"
"Astagfirullah," pekik Rey
"Maaf ya, Kak. Saya baru tau jika kakak satu kampus dengan saya ketika kita zoom meeting beberapa waktu yang lalu. Saya langsung tanya sama Kak Alex tentang kakak. Dari situ saya baru sadar kalau ada yang tidak beres antara cerira Pak Gun dengan fakta,"
"Kak," panggil Agus. Karena kini Rey yang diam. Ia masih tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Pak Gun padanya.
__ADS_1
"Iya," sahut Rey.
"Saya minta maaf, sungguh saya tidak tahu jika Pak Gun berbohong tentang itu. Biar saya hanya ingin bantu dosen kita yang lagi kesusahan. Apalagi dia bilang kakak buka toko online hanya untuk rameng, menutupi status sebagai ayam kampus,"
"Ya Allah. Tega banget sih dia," Rey makin tidak tidak percaya jika dosennya itu sudah mengarang cerita sekeji itu.
"Iya, Gus. Kamu tidak salah. Terimakasih kamu sudah menceritakan semua ini,"
"Iya, Kak. Kakak ga usah takut, sekarang Pak Gun sudah tidak di Kampus lagi. Rumor yang saya dengar, dia dipecat karena sudah melakukan pelecehan seksual pada mahasiswanya di hotel dan di laporkan oleh pihak keluarga korban,"
"Apa? Kamu tau siapa korbannya?" tanya Rey makin khawatir. Ia takut jika seisi kampus mendengar kejadian yang menimpannya.
"Saya ga tahu. Bisik-bisik hanya seperti itu, tidak menyebutkan siapa korbannya,"
"Kak, saya minta maaf. Saya sudah berbuat jahat sama orang sebaik kakak. Maaf, ya," ucap Agus lagi. Dengan nada yang penuh penyesalan.
"Iya, Gus. Saya faham. Ga usah merasa bersalah seperi itu. Sekarang kita sudah tau duduk permasalahannya,"
"Iya, Kak,"
Agus selalu mengulangi permintaan maafnya yang membuat Rey makin merasa tidak enak hati. Rey berusaha menjelaskan agar Agus tidak punya perasaan bersalah padanya.
"Jadi siapa yang melapor ke kampus. Apa yang disebut Agus tadi kejadian di hotel XX?" tanya Rey pada suaminya begitu sambungan telepon itu di tutup.
Wibie mengelus--elus pundak istrinya sembari terus berjalan di pinggiran pantai. Ia masih bingung memecahkan misteri yang memenuhi otaknya sejak siang tadi.
"Sepertinya Alex yang melakukan semua ini?" pikir Wibie dalam hati namun ia tidak mengungkapkannya pada Rey sebelum mengetahui kebenarannya.
"Bisa jadi Pak Gun melakukan hal yang sama pada mahasiswanya yang lain dan dipergoki keluarganya," Wibie mencoba memberikan alasan agar istrinya bisa sedikit tenang.
"Bagaimana jika yang dimaksud itu aku, Mas?"
"Siapa yang lapor, aku juga baru tau kejadian itu, kan? Sedangkan Pak Gun sudah di pecat lebih dulu,"
"Iya, juga sih,"
"Jangan pikirkan itu lagi. Yang penting untuk sementara ini, Pak Gun sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya selama ini. Jika perasaanmu tidak enak, kau bisa ambil cuti untuk sementara waktu?" usul Wibie.
"Sebenarnya aku malu mau ke kampus, aku takut jika yang dimaksud itu memang aku. Tapi aku ga niat cuti. Sayang, tinggal sebentar lagi,"
"Lakukan yang membuatmu senang. Atau kau ijin dulu untuk beberapa hari,"
"Iya, Mas. Aku akan ijin aja sambil melihat situasi,"
"Anginnya seger babger, Ya?" Wibie mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Mas. Bagaimana jika lain waktu kita ke sini lagi sama anak-anak," usul Rey.
"Boleh. Kita ajak Oma dan keluarga Lahat sekalian ya?"
"Serius?"
"Iya, akhir tahun ini, Ya? Kita bisa hunting tempat dari sekarang. Ada kamar khusus untuk keluarga besar," jelas Wibie lagi.
"Beneran, Mas?" tanya Rey makin tidak percaya.
"Serius.... beneran. Kita pesan sama-sama kalo ga percaya,"
"Terimakasih, Mas" Rey merapatkan tubuhnya. Ia meraih pinggang suaminya. Kini mereka berjalan sambil memeluk erat pinggang pasangannya.
"Iya, sesekali. Biiar keluarga besar kita makin akrab satu sama lain," sahut Wibie sambil mengecup kening istrinya dengan lembut.
*****
Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.
(Dibela-belain nulis lagi nih, biar bisa update tepat waktu. He...he.....maaf jika ada typo atau bahasanya kurang dipahami. Ga sempet baca ulang!)
Mohon maaf, ya!
__ADS_1
Ojo lali!
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.