
Akhirnya segala urusan yang berkenaan dengan pernikahan selesai satu persatu. Surat menyurat sudah beres, pelangkah tinggal menunggu Bu Fat menemani Rey ke toko mas. Dengan begitu apa yang menjadi keresahan Rey sudah terjawab semua.
Meskipun keluarga Wibie keberatan jika hanya mengundang keluarga terdekat, itu bukan suatu masalah yang serius. Rey juga tidak keberatan jika ibu mertuanya itu akan mengundang karyawan yang bekerja di konvensi mereka, tetangga terdekat. Jika dihitung-hitung jumlahnya tidak lebih dari 70 undangan.
"Gimana pak? apakah akan tetap akan melangsungkan pernikahan kita setelah ketemu ayah dan ibuku?" tanya Rey.
Sepulang dari kampus ia tidak langsung tidur. Devara yang terbaring di sisinya sudah terlelap beberapa menit yang lalu.
"Aku takut mereka tidak sesuai harapanmu" lanjut Rey. Disertai emoticon sedih.
"Iya, aku menyesal," jawab Wibie singkat.
Pesan di terima.
Rey terdiam, ia ingin menganggap itu suatu candaan dari Wibie. Tapi bagaimana jika iya berkata jujur?
Wibie sedang mengetik......
Pesan diterima
"Menyesal kenapa tidak dari dulu mengenalmu."
Kali ini disertai oleh emoticon tertawa.
"Keluargmu baik kok. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Aku ingin kau menjalani harimu sebagaimana biasanya. Urusan ini sudah bereskan?"
Jawaban itu membuat Rey sedikit tenang.
"Terimakasih,ya,"
"Cuma itu?" todong Wibie.
"Maunya apa?" tanya Rey balik
"Kiss,"
"Ih...belum halal," Rey segera menjawab disertai emoticon lidah yang menjulur. Ngeledek
"Bagaimana kuliahmu?" Wibie mengalihkan pembicaraan.
"Lancar. Semua dosen hadir,"
"Istirahatlah. Sudah malam. Aku juga baru pulang, mau membersihkan diri dulu?" Ujar Wibie lagi.
"Kok sampe malem banget. Ini kan sudah mau jam 11,"
"Lembur. Aku harus mencari uang yang banyak. Selain untuk biaya nikah, aku juga harus memikirkan biaya sekolah kedua gadisku," jawab Wibie sekenanya.
Rey terkekeh membaca pesan itu. Ia segera menjawab pesan itu dengan love- love yang banyak.
Tak ada balasan lagi. Mungkin Wibie segera mandi begitu pesan yang terakhir tadi dikirimya.
Rey meletakkan HP-nya. Ia beranjak ke dapur karena ia merasa haus.
__ADS_1
****
Rey mendapati Bu Fat yang sedang duduk menyendiri di meja makan. Lampu juga tetap dibiarkan menyala olehnya. Tidak biasanya Bu Fat belum terpejam pada jam segini. Biasanya ia akan menuju ke pembaringan jika sudah jam 10 malam.
"Kok belum tidur, Bu? tanya Rey.
"Iya, tadi siang ibu tidur cukup lama. Kebablasan karena ngeloni Devara," Jawab Bu Fat.
"Iya, ya. Kalian tidur begitu nyenyaknya siang tadi. Aku tidak berani pamit ketika akan berangkat kuliah," ujar Rey.
Rey membawa gelas yang telah ia isi dengan air putih dan duduk di samping wanita itu.
"Bu, apa menurut ibu aku sangat keterlaluan. Ingin menikah di sini tanpa ada pesta yang meriah. Kok aku tiba-tiba merasa begitu egois pada orang tuaku," Rey coba mengeluarkan unek-uneknya pada wanita yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Tidak juga. Tergantung alasan apa engkau punya keputusan seperti itu. Sejauh orang tuamu merestui pernikahan kalian, jangan pernah berpikir seperti itu lagi," Bu Fat menjawab dengan bijak.
"Iya, sih. Mungkin aku saja yang begitu perasa, kali ya?" Rey tersenyum hambar. Ia kembali meneguk air putih yang masih ada setengah lebih di gelasnya.
"Kamu anak yang baik, wajar jika punya pemikiran seperti itu. Namun kau perlu menyisihkan rasa "tidak enakmu itu" jika sesuatu itu justru menjadi beban pikiranmu," ujar Bu Fat lagi.
"Keluarga mu akan datang ke mari kan?" tanya wanita itu.
"Iya Bu. Semuanya akan datang. Bareng Pak Wibie,"
"Syukurlah. Itu artinya sudah tidak ada masalah dengan orang tua dan keluargamu, Nak," Bu Fat menegaskan kembali.
"Bu, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Rey. Kali ini dengan nada yang sedikit ragu.
"Tentang apa?" timpal Bu Fat datar.
"Ibunya Devira?" Rey menatap serius Bu Fat. Tidak ada perubahan apapun dari milik mukanya.
"Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya. Ketika ia baru menikah dengan Nak Wibie dan ketika libur idul Fitri," ungkap Bu Fat.
"Itu tidak sempat bicara banyak. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar. Dengan mertuanya juga begitu. Mama Devara begitu tertutup dan pendiam," lanjut Bu Fat lagi.
"Apa mereka bercerai?" Selidik Rey
Kali ini Bu Fat yang menatap serius wajah gadis yang ada di depannya.
"Apa Wibie tidak pernah cerita tetang ini?"
Rey tidak menjawab. Ia hanya menggeleng kan kepala berkali-kali.
"Ya, mungkin Wibie punya alasan sendiri. Tapi yang perlu kau ingat, mereka sudah tidak terikat apapun?"
"Apa dia masih hidup?" Selidik Rey lagi. Ia belum mendapatkan ketegasan dari jawaban Bu Fat tadi.
"Masih. Cuma ibu tidak tahu persis, dimana dia sekarang?" Jelasnya lagi.
"Apa ia juga tinggal di rumah ini? Aku tidak mendapatkan fotonya terpajang di rumah ini,"
__ADS_1
"Tidak. Mereka menikah selang beberapa hari setelah wisuda. Dulu mereka satu fakultas. Namun Nak Wibie lebih dulu mendapatkan pekerjaan. Setelah resmi menikah, mereka pindah ke pekan baru,"
"Rumah ini baru dibangun Wibie setelah ia pindah tugas ke Sumatra, sekitar 2 tahun, lah. Ibu tidak ingat persis" ujar Bu Fat meneruskan penjelasannya.
"Aku sedikit ragu, kenapa pak Wibie tiba-tiba melamarku. Jika alasan utamanya karena Devara, itu artinya dia tidak mempunyai perasaan apapun padaku," keluh Rey.
Bu Fat meraih tangan Rey. Ia menggenggam kedua tangan itu dengan erat dan menatap anak itu dengan tajam.
"Jika engkau ragu, kenapa kau terima lamarannya?"
"Aku tidak punya pilihan. Aku sudah merasa nyaman dengan pekerjaanku dan aku juga mulai ada harapan untuk meneruskan kuliah. Jika aku menolaknya, berarti masa depanku menjadi samar lagi,"
"Jika karena alasan itu, berarti kamu yang egois. Kamu memilih menikah karena tidak ingin kehilangan apa yang sudah kau miliki sekarang. Lantas, kenapa engkau jadi peduli dengan perasaan Wibie?" Wanita itu bicara dengan sedikit ketus. Rey merasa begitu tertusuk oleh ucapannya tadi.
Wanita itu melepaskan genggaman dan meraih cangkir minumannya. Meneguk isi cangkir itu dengan tenang.
"Jangan egois, Nak. Jika kau sendiri tidak punya perasaan cinta pada Wibie kenapa engkau menuntut itu darinya?"
"Tidak, Bu. Bukan seperti itu maksudku. Aku juga bingung dengan perasaanku sendiri akhir-akhir ini," Rey mulai
"Entahlah, aku hanya khawatir dengan perasaanku saja. Aku sempat berpikir jika pak Wibie menikahi karena keinginan orang tuanya, bukan karena dia yang menginginkannya,"
"Perasaan seperti itu sudah umum dialami oleh pasangan yang sudah mendekati pernikahan. Jangan terbawa perasaan. Itu akan merusak suasana hatimu," nasehat Bu Fat.
"Apa kau menyukai Wibie?" tanyanya lagi
"Aku sendiri kurang yakin. Yang jelas aku merasa begitu nyaman jika ada di sisinya. Dia orang yang baik. Sikapnya padanku begitu sopan sekali," jawab Rey.
"Itu sudah cukup. Jaga perasaan itu dengan baik. Kedepannya ia akan bersemi dengan sendirinya," kali ini Bu Fat tersenyum cerah. Ada kebahagiaan yang terpancar dari tatapan.
"Sudah malam, Nak. Besok kita tidak boleh telat bangun pagi. Ada jadwal menu sehat di sekolah Devara," Bu Fat mengingat
"Iya, Bu. Besok biar saya yang menyiapkan bekalnya," sahut Rey dengan semangat.
"Ya sudah. Jangan berpikir yang tidak-tidak, ya. Lekas tidur. Jaga kesehatan,"
"Baik,Bu. Terimakasih atas nasehatnya,"
"Ah kau bisa aja. Kalian sudah ibu anggap keluarga sendiri. Aku sudah kenal Wibie sejak ia masih bayi,"
Wanita itu melangkah menuju kamarnya. Rey hanya bisa memandangi tubuhnya yang kemudian hilang dibalik tembok kamarnya.
Rey menghabiskan air putih yang ada di gelasnya, tak lama ia juga mematikan lampu ruangan itu sebelum melangkah pergi.
Rey kembali ke kamar Devara, gadis itu begitu terlelap. Bahkan posisi tidurnya tidak berubah sama sekali.
Rey merebahkan tubuhnya di sisi gadis kecil itu. Ia tatap lekat-lekat wajah yang begitu mirip dengan Wibie, pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Wajahmu mirip sekali dengan papamu, Nak," bisik Rey di telingan gadis itu.
Dibelainya rambut Devara yang dibiarkan terurai itu dengan lembut kemudia ia mengecup pipi Devara yang gembil dan mengemaskan.
"Selamat makam,s sayang. Tidurnya dengan nyenyak,"
__ADS_1