
Usai mengantarkan konsumen yang mengambil pesanannya, Rey masih berdiri di depan toko. Menatap ke arah jalanan yang mulai padat hingga mobil pickup yang baru saja meninggalkan toko ini hilang berbaur dengan kendaraan lainnya di jalan raya penggilingan.
Dari arah yang berlawanan, suara klakson mengagetkan Rey. Ternyata mobil pak Wibie hendak masuk ke rumah. Rey tersenyum dan bergegas masuk agar bisa membuka pintu gerbang rumahnya.
Tak lama, pintu mobil terbuka. Devara turun dari pintu depan . Gadis kecil itu terlihat begitu senang, terbukti dari celotehannya yang tak berhenti dan senyumnya yang terus mengembang.
Ia menghampiri Rey yang sedang menutup kembali pintu gerbang.
"Kak, Devara udah dapet baju sekolah. Banyak!" pamernya dengan bangga. Devara dan Wibie baru pulang dari sekolah untuk mengambil seragam.
"Oh, ya! Ada berapa?" puji Rey dengan nada sedikit suprise.
"Banyak. Bagus-bagus lagi," pamer anak itu lagi.
"Oh, ya. Pasti Devara makin cantik kalo pake baju seragam," puji Rey lagi. Terlihat Devara semakin senang dengan ucapannya tadi.
"Ayo, Kak. Ayo, ikut aku," ajak Devara sembari memegang tangan Rey dengan kencang
"Deva mau nunjukin baju sekolah Deva. Ayuk kita ke kamar," Gadis kecil itu menarik tangan Rey dan menuntunnya ke arah kamarnya. Keriangannya membuat Rey tidak bisa menolak permintaan itu.
Ia terpaksa mengikuti Devara meski khawatir meninggalkan toko yang tetap terbuka dan tidak ada yang menjaga. Rey menangkap sinyal mengiyakan dari pandangan pak Wibie yang sudah memarkirkan mobilnya di garasi. Pria itu juga memberi kode untuk membawa satu bungkusan dalam ukuran yang cukup besar agar dibawa ke dalam. Bungkusan yang berisi segaram sekolah Devara. Setelah itu, ia langsung mengikuti langkah Devara yang sudah tidak sabar menunggunya menuju ke arah kamarnya.
Dengan antusiasnya, Devara membongkar bungkusan yang baru diletakkan Rey di atas tempat tidurnya. Lima stel seragam Playgroup Devara yang warna warni itu ia coba satu persatu.
Aku hanya bisa memandangi gadis yang lucu dan montok itu dengan terkekeh-kekeh. Melihat aksi pamernya dengan duduk di kasur mungilnya. Bagaimana tidak? Satu persatu seragam sekolah itu ia kenakan dengan rapi, kemudian bergaya ala modeling di atas catwalk.
"Minggu depan Defa mau sekolah, Kak. Baju-baju ini buat ke sekolah semuanya," jelasnya lagi dengan begitu riang.
Setelah aksi pamernya selesai, aku beranjak dari tempat dudukku dan membenahi kembali seragam-seragam yang dilemparnya ke sembarang tempat.
"Waduh, kalau bajunya lecek ga bisa dipake ke sekolah. Kita rapiin dulu, yuk. Biar hari Senin nanti Devara ke sekolah dengan seragam baru dan rapi. Kakak ga bisa ngebayangin, pasti Defara punya banyak teman baru dan mereka sayang sama Deva karena Deva anak yang baik dan rapi," Rey berusaha mengajak anak itu agar mau membereskan baju-baju seragam itu bersamanya. Membiasakan Devara bisa bertanggung jawab karena sudah membuat berantakan seragam sekolahnya dan melemparnya ke sembarang tempat.
Anak itu tidak protes. Justru ia melakukannya dengan senang hati. Ia memungut seragam itu satu persatu dan meletakkannya di atas tempat tidur. Rey merapikan kembali semua pakaian Devara dan menumpuknya dengan rapi.
Ketika mereka melakukan pekerjaan itu bersama, kamar Devara jadi ramai dengan celoteh dan sesekali suara Devara yang tertawa dengan girangnya, Pak Wibie muncul dari arah pintu. Sepertinya ia hendak ke masjid untuk melaksanakan sholat Jumat.
__ADS_1
"Rajin banget nih anak Papa yang cantik," puji pria itu. Seketika Rey dan Devara memalingkan pandangannya ke arah sumber suara.
Setelan Koko putih dan sarung tenun hitam yang ia kenakan begitu pas dengan tubuhnya yang tegap. Wajahnya yang masih tampak basah membuat Rey ingin berlama-lama menikmati wajah yang begitu teduh itu. Rey segera memalingkan wajahnya saat tersadar telah beradu pandang dengan pria beranak satu itu.
Ia tersenyum. Melangkah mendekati anaknya dan tersenyum kecil mengusap-usap rambut anak itu.
"Anak pinter. Sudah bisa beresin bajunya sendiri," puji pak Wibie yang melihat bagaimana anak itu dengan rela memungut kembali pakaian sekolahnya yang terlempar ke sembarang arah.
"Papa, Kak Rey sudah liat semua baju Deva. Katanya Deva makin cantik dengan baju-baju ini,"
"Oh, ya? Sekarang Deva makin cantik, liat saja! Anak papa sudah pinter sekarang. Sudah bisa merapikan baju-baju itu," puji pak Wibie seraya mengangkat tubuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengecup pipi montok Devara.
Setelah beberapa saat, pak Wibie menurun tubuh anaknya dan mengelus-elus kembali rambutnya yang panjang dan tebal.
"Papa ke masjid dulu, yah" Pamitnya pada Devara. Kemudian ia pergi meninggalkan kamar tanpa menunggu jawaban dari Devara. Tak lupa ia juga tersenyum manis pada Rey yang sejak tadi begitu menikmati drama dirinya dan Devara .
"Titip Devara sebentar, yah," ujarnya. Rey hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
"Mau nitip sesuatu?" tanya Wibie dengan lembut ke arah Rey yang masih duduk di kasur anaknya itu.
"Kali aja kamu mau nitip doa, gitu? Supaya cepat dihalalkan. Agar kau bisa sepuas mungkin memandangku" Sahutnya Wibie dengan nada yang ngeledek.
" Apaan sih, Pak," sahut Rey dengan muka tersipu. Ia malu karena sering ketangkap Wibie sedang memperhatikan bukan karena karena candaan itu. Kemudian ia bergegas mengangkat tumpukan baju seragam Devara dan menyusunnya kembali ke dalam lemari anak itu
*****
"Nah, sekarang semuanya sudah rapi. Kita balik ke toko yuk. Nanti ada yang mau belanja kasian. Ga ada yang melayani," ajak Rey berusaha membujuk gadis itu agar mau ikut bersamanya ke toko.
"Tapi aku boleh liat YouTube lagi ya. Mau liat tutorial bikin slime," rengek anak itu.
"Boleh. Pake HP kakak juga boleh," sahut Rey menyetujui.
"Hore. Kakak baik deh," puji Devara tak kalah senangnya karena ia diizinkan oleh Rey untuk melihat YouTube dari HP-nya.
*****
__ADS_1
Sampai di toko. Rey dan Devara segera mengambil posisi duduk yang nyaman. Mereka berdua duduk dilantai. Kemudian Rey mengeluarkan hp dari saku celananya.
"Ayuk kita berpetualang. Searching tutorial bikin slime yang praktis," seru Rey dengan gembira. Ajakan itu di sambut Devara dengan senang hingga ia menjatuhkan tubuhnya yang montok ke ubin, duduk di samping Rey.
"Eh, ini ada tutorial mengepang rambut. Dih cantik sekali. Gimana kalo kita belajar yang ini dulu," bujuk Rey.
"Lucu-lucu,tau," tegasnya lagi.
Devara melihat tutorial itu sekilas. Ia tidak protes ketika Rey tetap menonton tayangan itu hingga selesai
"Ok, sekarang kita praktekan. Anak cantik ini akan kakak kepang sebagus mungkin agar terlihat bak bidadari. Bagaimana, tuan putri?" Rey menawarkan pada Devara agar mau jadi bahan percobaannya
"Mau..mau. Aku mau dikepang," sahut Devara dengan gembira.
"Ok, tuan putri mau di kepang seperti apa?" Tanya Rey lagi sembari menunjukkan beberapa model kepang rambut yang bagus dan keren.
"Aku mau yang ini. Yang ini juga," Devara menunjuk beberapa model kepangan yang sangat cantik.
"Siap. Kita eksekusi. Tunggu sebentar ya. Kakak ambil sisir dulu ke atas,". Rey segera naik ke atas untuk mengambil sisir rambutnya.
Tak lama ia sudah kembali. Devara masih dengan posisinya semula, mengamati tutorial. Tubuhnya rebahan di ubin tanpa alas.
Suasana toko menang sepi. Karena hanya menjual pakaian safety jadi tidak terlalu sering orang mampir ke toko ini. Kecuali pelanggan tetap yang mengambil barang dalam jumlah yang besar, hanya satu dua orang yang mampir. Biasanya mereka calon pelanggan baru yang sedang survei bahan dan harga.
Rey duduk di ubin, ia memukul pelan pantat Devara agar segera duduk mengambil posisi di depannya.
"Ok. Kita mulai model pertama. Buka caranya dari awal,ya!" Rey mengarahkan jempol tangannya ke layar HP dan menekan tombol bulat dari Chanel yotubu yang dilihat Devara untuk mengembalikan nya ke posisi semula.
Rey menata rambut Devara sesuai dengan contoh yang ada di YouTube. Mengikuti tahap demi tahap hingga selesai.
Hasilnya sangat mirip sekali. Devara sangat senang mendapati rambutnya kini sudah dikepang dengan begitu cantiknya. Untuk memastikan hasilnya, ia segera mengambil hp dan mencari tombol kamera.
"Difoto kak, ayo kita foto. Nanti kasih tau ke papa sama Oma," ujarnya begitu girang
Sukses dengan model pertama, kini beralih ke model berikutnya. Hasil yang dicapai membuat Devara begitu terpesona. Rambutnya yang panjang dan lebat seketika bisa berubah menjadi aneka bentuk kepangan yang kekinian.
__ADS_1