
Belum juga sepuluh menit mobil yang di kendarai Rey melaju dan mereka juga masih melintasi wilayah Rawamangun, telpon Rey yang sudah ia sematkan di depan dasboard berbunyi. Dari layar terlihat, panggilan dari Pak Gun.
Dengan cekatan, Rey memasang earphone di telinganya dan menjawab panggilan itu.
"Hallo, Pak. Assalamualaikum,"
"Waalaikum, Rey," jawab pak Gun dari seberang.
"Maaf Pak, tadi saya ga denger panggilan telpon dari bapak. Lagi di kamar mandi," Rey memberi alasan kenapa panggil telpon dari dosennya sebanyak 6 kali ini terabaikan.
"Iya, Rey. Ga apa kok. Saya khawatir kamu tidak ngesave nama saya di daftar kontak. Bisa jadi karena panggilan ga dikenal makanya ga kamu angkat,"
"Oh, ga begitu Pak. Saya sudah save kok, makanya begitu tau bapak menghubungi saya, saya telpon balik tapi nadanya sibuk,"
"Maaf, Pak. Ada sesuatu yang mau di sampaikan," Rey segera mengalihkan pembicaraan ke tujuannya karena terlalu memakan waktu jika harus melayani basa-basi dosennya itu. Rey tahu, sang dosen paling suka ngobrol apalagi untuk hal-hal yang kurang penting. Ia sudah membuktikan siang tadi.
"To the point amat. Kamu sibuk, Rey?" tanya pria itu dengan nada serius.
Rey mengalihkan pandangannya ke spion dan melihat ekpresi suaminya. Wibie dengan serius ikut menyimak pembicaraan mereka. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sulit untuk di artikan.
"Hallo, Rey," panggil Pak Gun lagi. Mungkin ia ingin meyakinkan bahwa sambungan mereka tetap terhubung karena cukup lama tidak ada sahutan dari Rey.
"Iya, pak. Saya lagi di jalan. Barusan ada motor yang menyalip," ujarnya terpaksa berbohong. Setelah itu Rey tersenyum geli, ia lihat dari spion suaminya hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya itu.
"Oh, kamu mau ke mana cantik. Kok malem-malem masih di jalan?"
"Anak-anak minta diajak jalan, Pak. Pengen liat Monas di malam hari,"
"Wah, selain cantik kamu ternyata juga ibu yang baik. Benar-benar istri idaman mah yang seperti ini,"
Rey hampir tersedak mendengar jawaban dosennya ini. Bagaimana bisa ia bicara seperti itu pada mahasiswa, wanita bersuami lagi.
"Untung....untung....aku pakai earphone jadi suara dari seberang tidak terdengar oleh anak-anak," Rey bisa menghela nafas sedikit sembari memikirkan harus menjawab apa.
"Rey!" panggil Pak Gun lagi.
"Siap, Pak,"
"Jika kamu sibuk, aku putus dulu ya. Nanti malem aku hubungi lagi,"
"Oh, tidak Pak. Jika ada sesuatu yang mau di sampaikan silahkan saja. Ga apa-apa kok," Rey terpaksa menahan pria itu agar jangan memutuskan telponnya karena ia belum menyampaikan maksud.
__ADS_1
"Siapa tau Mas Wibie benar. Dia mau membahas masalah orderan?"
"Nanti malam saja, Rey. Biar lebih santai. Yang penting kamu fokus nyetir dulu, keselamatanmu lebih penting dari apapun,"
Uhuy... lagi-lagi Rey berasa tersedak biji salak mendengar ucapan pria itu. Kenapa malam-malam begini ia bicara se-ngawur ini.
"Mungkin mabok?" pikir Rey. Karena yang ia tahu tidak biasanya Pak Gun bicara seperti ini. Ketika memberikan kuliah, ia begitu tegas dan disiplin. Wibawanya sebagai dosen amat di jaganya sehingga seluruh mahasiswa angkatannya senantiasa mematuhi segala aturan yang ditetapkan agar bisa mengikuti kuliahnya.
Sebagai dosen inti akutansi, ada tiga mata kuliah yang diampu beliau. Semuanya mata kuliah wajib. Rey sudah menyelesaikan semuanya, untuk itu ia hafal betul karakter dosen yang satu ini.
Selain sebagai dosen, ia juga menjabat sebagai kepala program studi. Membimbing skripsi dan bahkan sering menjadi tim penguji. Pak Gun termasuk orang penting di kampus Rey terutama untuk jurusan akuntansi kelas karyawan.
"Rey, aku tutup dulu ya. Jangan tidur dulu sebelum aku telpon," Tak ada suara apapun terdengar dari seberang. Berarti pak Gun benar- benar menutup telponnya setelah ucapan terakhir itu.
"Aku?" Rey berusaha mengeja kata-kata sang dosen.
"Kenapa mendadak dia menyebut dirinya dengan kata "aku"?"
Rey semakin bergidik mengingat itu. Ia segera melepas earphone dari telinganya. Suara pak gun yang cukup mengganggu Rey masih terngiang-ngiang di telinga.
"Ngomong apa, dia" tanya Wibie begitu Rey melepas penutup telinganya.
"Ga jelas. Cuma basa-basi,"
"He..eh,"
"Nanti dia akan menghubungi lagi," lanjut Rey. Pandangannya masih fokus ke arah jalanan.
"Apa dia tipikal dosen yang genit?" tanya Wibie menyelidik.
"Entahlah," Rey menceritakan sikap dosennya itu selama ia memberikan kuliah. Tidak ada hal-hal yang mengarah ke sana, baik sikap mau ucapannya. Ia begitu berwibawa di hadapan mahasiswa.
Wibie hanya mengangkat kedua bahunya dan melihat ke arah Rey sekilas. Mengetahui istrinya begitu fokus mengemudi karena jalanan yang sangat padat di sekitar pasar Senen, akhirnya ia memilih untuk menunda membahas masalah itu.
Wibie yang sedang menikmati kebab hangat sesekali mengikuti arah yang ditunjuk oleh Nathan dan Devara. Kedua anak itu begitu asik membahas objek yang mereka lihat sepanjang perjalanan.
Sebagai kakak, Devara begitu sabar menjawab semua pertanyaan adiknya. Tak henti-hentinya bocah kecil itu bertanya
"Itu apa, itu apa?" pada kakaknya.
*******
__ADS_1
Setelah mengelilingi area Monas lanjut ke Ancol, tidak terdengar suara ocehan Devara dan Nathan lagi. Keduanya tertidur begitu sudah dalam perjalanan pulang.
Rey mengambil arah ke terminal Tanjung Priok menuju Yos Sudarso kemudian putar ke kiri setelah mereka ada di perempatan ITC Cempaka Mas.
"Capek?" tanya Wibie.
"Ga, udah mulai legang kok. Bisa santai,"
"Ya, ntar dipijitin. Biar Mamang angkotnya ga bosen ngajakin kita jalan-jalan," ledek Wibie.
"Hem...kalo aku nyetir angkot, penuh terus penumpangnya,"
"Percaya, tadi aku liat sendiri kok buktinya,"
"Wk..wk...wk.......," suara mereka pecah bersamaan.
"Lucu juga, ya! Aku ketemu Pak Gun di luar jam kuliah baru tadi siang. Sikapnya juga ramah, memang sedikit beda di banding ketika ia di kelas. Baru tadi aku tau kalo dia ramah dan sering tetawa pecah padahal apa yang kami bahas tidak negitu lucu"
"Mungkin dia belum tau kalau kamu sudah bersuami?"
"Tau kok. Dia tanya, ya aku jawab dengan jujur. Justru dia mengacungkan dua jempolnya,"
"Hemm," Wibie tampak berpikir. Memang ada sesuatu yang sempat terlintas dipikirannya, namun ia tidak mengungkapkan pada istrinya. Sejauh sikap Pak Gun masih bisa di tolerir, Wibie tetap akan menahan diri.
"Alhamdulillah sudah sampai," seru Rey lega ketika mobil yang dikendarainya sudah tiba di depan pintu gerbang rumahnya.
"Ntar, Mas. Masukin sekalian baru anak-anak kita pindahkan,"
Bu Fat yang mendengar suara klakson berlari ke arah pintu dan membukakannya untuk mereka. Begitu mobil sudah masuk, Bu Fat mengambil Nathan dari pangkuan Wibie, sementara Wibie membopong Devara yang tetap terlelap.
"Di kamar mana, Mas?" yang Bu Fat yang berjalan mendahului Wibie
"Kamar atas, Bu,"
Mereka menaiki anak tangga dengan menggendong bocah-bocah yang begitu terlelap. Mengembang senyum dari wajah mereka setelah orang tuanya memenuhi permintaannya.
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
__ADS_1
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊