Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Insiden Di Lantai Dua


__ADS_3

Hari ini pembagian ijazah. Rey akan bertemu dengan teman-teman sekelasnya lagi. Ia begitu bahagia, tidak bisa membayangkan keseruan itu. Setelah hampir tiga bulan lebih mereka berpisah, kini mereka akan berkumpul lagi di almamater tercinta.


Rey sudah menyiapkan kemeja batik dan rok hitamnya sejak semalam. Bedak dan lotion juga sudah disiapkan dalam tempat khusus karena akan ia butuhkan saat akan berangkat ke sekolah esok hari.


Uang pemberian pak Wibie saat ia membersihkan rumahnya juga ia selipkan dalam tas itu. Barang kali uang itu akan ia butuhkan untuk sekedar makan-makan dengan teman-temannya.


Pagi sekali, Rey sudah sampai di toko. Ia akan membantu Aldy dulu di tokonya sesuai yang diminta oleh laki-laki itu, tengah hari baru berangkat ke sekolah.Ibu juga sudah mengizinkan Rey, anak gadisnya ini akan pulang terlambat karena teman-temannya akan mengajaknya jalan.


Rey terlihat begitu bahagia bisa kembali ke sekolah. Selama libur, tidak ada kegiatan yang membuatnya sesemangat pagi ini. Aktivitas begitu membosankan.


Aldy mengamati Rey yang lebih banyak tersenyum sejak pagi. Memang, Rey bukan saja gadis yang cantik. Senyumnya yang mengembang membuat orang tak mau mengalihkan pandangannya. Sederhana namun mempesona. Oleh karena itu, Aldy terpesona sejak pertama ia melihat anak gadis Bu Laura ini.


Menjelang istirahat siang, Rey izin untuk ke atas mengganti pakaiannya. Rey kaget karena Aldy mengikuti langkahnya dari belakang. Setelah sampai di lantai dua, ia hanya diam karena Aldy berdiri di sampingnya sambil mematung.


"Ganti disini saja," pinta Aldy dengan lembut.


"Saya ke kamar mandi saja. Sekalian membersihkan badan,"


"Kalau begitu aku ikut mandi sekalian," ujar Aldy tak mau kalah.


Seketika Rey menjadi pucat pasi. Serba salah dengan kelakuan Aldy yang semakin genit . Ia sudah memegang seragam sekolah yang di keluarkan dari tasnya, namun ia bingung. Mau melangkah ke kamar mandi atau ganti di sini. Jika ia menanggalkan bajunya di sini, tubuhnya siap ditonton oleh Aldy. Jika ia terus ke kamar mandi, Rey yakin Aldy akan membuktikan ancamannya tadi.


"Duh, bagaimana ini?" Pekik Rey dalam hati.


"Kamu malu,"


"Aku tidak memperkosamu. Aku hanya ingin melihat calon istriku ganti baju," ujar Aldy beralasan.

__ADS_1


Kata-kata yang begitu muak untuk dijadikan alasan. Alasan itu sesali Aldy ulangi jika ingin melaksanakan keinginannya pada Rey.


Rey masih ragu. Ia hanya berdiri di depan Aldy sembari memegang baju gantinya.


"Ah kau ini. Rupanya tubuhnya saja yang besar.


Tapi ingin diperlakukan seperti anak bayi.


Aldy maju selangkah. Ia meraih bahu Rey dan mendekapnya dalam pelukan.


"Sini, Biar aku yang melucuti pakaianmu," seketika ia membuka kancing baju Rey meski belum mendapat reaksi dan persetujuan dari gadis itu.


Rey menahan tangan Aldy. Ia tak mau hal itu terjadi.Namun tangan Aldy lebih kuat. Ia bisa menepis Rey dengan gampangnya.


"Mau teriak. Mau kabur. Silahkan! Aku tidak akan marah padamu. Aku tinggal telpon ibumu. Dia yang akan menyelesaikan semuanya," ancam Aldy dengan penuh kesombongan.


Aldy terbelalak. Kulit Rey yang begitu mulus dan gundukan bukit yang terbalut beha berwarna abu itu membuatnya terkesima. Sungguh suatu pemandangan yang indah. Ia memeluk erat Ray dan mencuim lembut bibir gadis itu.


"Tubuhmu indah sekali sayang. Aku semakin tidak sabar menunggu hari itu," tatapannya sulit sekali untuk diartikan. Hanya nafasnya yang semakin tersengal-segal dan pandangan yang begitu nakal bisa di rasakan Rey sebagai suatu petaka yang segera menimpanya.


Aldy tidak hanya ******* bibir gadis itu. Tubuhnya yang setengah telanjang juga digerayanginya. Terakhir dia berlabuh pada dua gunung yang indah dan belum pernah terjamah itu. Rey menarik tubuhnya ketika Aldy ingin melepaskan tali penutup dadanya. Ia segera beranjak dan bergeser menjauhi Aldy.


"Tidak. Kau begitu keterlaluan," Rey berusaha protes dengan nada suara yang menahan ketakutan.


Dengan nafas yang masih tidak teratur dan mata yang memerah, Aldy memandang Rey dengan nada tidak suka.


"Baiklah. Mungkin tidak sekarang. Tapi cepat tangalkan jeans-mu. Aku ingin melihatnya saja. Bagaimana wujud setengah bugilmu. Cepat! Ini perintah. Jangan menolaknya," ucapnya dengan tegas dan sedikit kasar.

__ADS_1


Rey tidak menjawab. Ia hanya mampu mengikuti perintah Aldy dengan perasaan takut. Buru- buru ia melepas Jeans yang dikenakannya hingga kini ia hanya mengenakan pakaian dalamnya di hadapan Aldy.


Sungguh suatu hal yang memalukan sekali. Matanya mulai berair. Rey berusaha menahan isaknya. Ia tidak mau menangisi kekonyolan ini dengan tatapan angkuh pria yang kini menjadi orang yang paling ia benci di dunia ini.


Aldy tersenyum menyeringai. Saat Rey ingin mengenakan kemeja batiknya, Aldy menahan tangannya.


"Diamlah sebentar. Aku masih ingin melihat lekuk tubuhmu,"


Cengkramannya begitu kuat hingga Rey tidak bisa menggerakkan tangannya apalagi melawan.


Ia melangkah lagi ke arah Rey. Kali ini, dengan sigap ia menangkap Rey dengan kedua tangannya. Mereka terjatuh di ubin dan Rey menindihnya tanpa sengaja. Rey segera berdiri, namun Aldy menahan nya.


"Jangan jual mahal. Aku ini calon suamimu. Sekarang atau nanti tidak ada bedanya," ujarnya sinis.


Ia semakin mendekap tubuh Rey yang ada diatas tubuhnya.


"Peluk aku. Jadilah cewek yang agresif hari ini. Aku bosan dengan sikapmu yang malu-malu. Apa kau belum sadar juga. Ibumu sudah menawarkan tubuhmu padaku,"


Nada suaranya begitu meremehkan. Siapapun yang mendapatkan perlakuan itu pasti merasa diremehkan sekali. Begitu juga dengan Rey


Rey memeluk Aldy. Ia juga pasrah ketika Aldy meraih kepala gadis itu dan mendekatkan bibir gadis itu ke arahnya. Kini ia ******* dengan nafsunya dan minta Rey membalas ciuman. Cukup lama mereka saling memangut hingga tubuh Rey mandi keringat. Aldy menarik bibirnya. Menggulingkan tubuh Rey ke samping dan kini posisinya yang berada di atas Rey.


Tak kuasa atas perlakuan Aldy, Rey hanya bisa menutup mata. Namun tanpa diduga ia punya kekuatan untuk melawan Aldy. Ia dorong tubuh Aldy yang begitu berat hingga terlempar ke samping. Ia segera mengambil seragam yang terlempar di samping dan mengenakan sekenanya saja. Setelah membereskan tas dan merapikan rambut ya ia segera beranjak dari tempat itu


"Maaf Koh. Aku buru-buru. Aku takut terlambat. Bukankah kita masih banyak waktu untuk mengulanginya?"


Aldy hanya bisa melihat gadisnya yang tiba-tiba menjadi aneh. Namun ia diam saja. Dorongan Rey yang cukup kuat membuat tubuhnya terbentur ubin. Punggungnya terasa sakit sekali.

__ADS_1


Ketika Rey menurunin anak tangga, ia masih terlentang di situ dan tersenyum tipis pada Rey yang melambaikan tangan ke arahnya.


__ADS_2