Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Terbang Bersamamu


__ADS_3

Minggu pagi, tepatnya pukul 05.10 wib Wibie dan Rey sudah cek out dari hotel, pergi menuju ke bandara Silampari. Melanjutkan pelarian mereka ke Jakarta.


"Yakin tidak ada yang tertinggal?" tanya Wibie pada Rey saat masih di depan resepsionis. Ia menengok ke arah Rey dan mengedarkan pandangannya dari atas hingga bagian bawah tubuh Rey.


"Iya. Sudah semua kok,"


Rey memutar tas ranselnya. Membuka kembali tas itu untuk mengecek barang-barang yang ia miliki. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, ia menarik resleting tas itu dan menyandannya kembali di punggung.


"Lengkap," bisiknya ke arah Pak Wibie


Sejak meninggalkan hotel, Rey begitu deg-degan. Jujur saja, seumur hidupnya baru kali ini ia akan bepergian jauh tanpa kedua orang tuanya. Ini juga kali pertama ia naik pesawat.


"Baru kali ini aku naik pesawat. Ya Allah, mudah-mudahan ga mabok. Ga bikin malu juga," bisik Rey yang semakin cemas.


Rey menutup rapat mulutnya selama mereka berada di taxi. Kegugupannya membuat ia tak mampu berkata-kata. Tidak ada yang bisa dilakukannya kecuali mengikuti apa yang di lakukan oleh Wibie.


Rey berjalan mengiringi langkah Wibie yang berjalan dengan tegapnya menuju security check. Dengan tas ransel dipunggungnya, topi navy dan kacamata hitam yang ia kenakan semakin membuat pria yang berkulit coklat ini semakin gagah.


"Kamu kenapa?" Tanya Wibie heran. Sejak mereka turun dari taxi tak ada suara yang keluar dari bibir gadis di sampingnya itu.


"Aku takut" jawab Rey singkat


Wibie menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum simpul padanya.


"Tenanglah. Ada aku" Balas Wibie berusaha menenangkan


Di dalam pesawat, Rey hanya diam. Mengunci rapat mulutnya. Tubuhnya terpaku di tempat duduknya. Mukanya terlihat pucat.


Melihat kondisi Rey yang cukup membuatnya khawarir, Wibie memegang tangan gadis itu. Ia merasakan tangan Rey begitu dingin. Sepertinya dia memang begitu ketakutan.


"Jangan takut,"


"Tenanglah. Pikirkan saja, sebentar lagi kau akan tiba di rumah tantemu. Dengan begitu, apa yang kau inginkan segera tercapai" Ia tepuk-tepuk lengan gadis itu agar ia lebih tenang.


Rey tidak menjawab. Ia mengatupkan kedua bibirnya. Rey mengingat sesuatu , apa yang harus dilakukan oleh seseorang ketika berada dalam situasi yang begitu menegangkan. Yang pertama, merapatkan jari-jari kaki dan melakukan gerakan mencengkeram secara berulang-ulang.


Yang kedua, istighfar. Dengan begitu ia bisa menguasai diri dengan segera. Apa yang dikatakan oleh guru olahraganya itu sudah ia lakukan, namun tidak mampun mengalahkan rasa takutnya.

__ADS_1


Ketika pesawat take-off, tiba-tiba Rey memeluk lengan Wibie dengan eratnya. Kepalanya ia sembunyikan di dada Wibie. Ia begitu gugup dan menjadi sangat ketakutan.


Wibie meraih tubuh Rey dan mengelus-elus bahu kiri gadis itu agar mengurangi ketakutannya. Ia faham, Rey baru kali ini naik pesawat. Ia tidak mengganggap reaksi Rey ini sesuatu yang berlebihan.


"Ga apa-apa,"


"Pejamkan saja matamu,"


Sejak semalam meman, Rey memang tidak bisa tidur. Ia membayangkan akan segera tiba di Jakarta. Sebentar lagi ia akan mendapatkan pekerjaan dan bisa meneruskan kuliah.


Untuk itu ia tiba-tiba menjadi ngantuk. Hingga akhirnya Wibie juga tidak tau, sejak kapan Rey tertidur dengan lelapnya di dada Wibie.


"Sudah lulus SMA, kelakuan masih begitu polos. Kau bisa tertidur dengan nyenyak ya. Kini malah jantungku yang berdengup tidak beraturan," Batin Wibie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum tipis.


Wibie membiarkan lengan dipeluk erat oleh Rey, bahkan mukanya tetap saya disembunyikannya di bawah lengan Wibie. Cukup lama...


Namun Wibie tak ingin menyingkirkan tubuh gadis itu yang sudah begitu terlelap di sisinya. Akibatnya, ia sendiri terjaga selama di udara.


Ketika pesawat akan mendarat, Wibie membangunkan Rey dengan hati-hati.


"Rey,"


Wibie menggoyangkan lengannya dengan pelan, namun Rey tidak juga beraksi.


"Rey, Bagun,"


Kali ini ia pencet hidung gadis itu dengan sebelah tangannya yang lain.


Rey terjaga. Ia bereaksi dengan menggerakkan kepalanya pelan.


"Sudah sampai ya, Pak?" Tanya Rey begitu ia membuka matanya dan mendongakkan kepalanya ke arah Wibie.


"Sebentar lagi,"


"Bangunlah. Aku membangunkanmu lebih awal agar kau tidak pusing," jawab Wibie.


Rey segera mengangkat kepalanya begitu ia sadar masih tersandar di dada pria itu. Buru-buru ia membenahi duduknya dan mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

__ADS_1


Wibie segera merenggangkan lengan ototnya yang tiba-tiba menjadi keram karena menjadi tempat bersandar dalam waktu yang cukup lama.


"Pegel, ya?" tanya Rey tanpa berdosa.


Wibie tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


Keduanya tersenyum. Lagi-lagi Rey menampakkan mukanya yang bersemu merah sebelum akhirnya membuang muka ke arah jendela.


Dari jendela yang ada di sampingnya, ia dapat melihat sayap pesawat yang begitu besar menembus awan yang begitu cerah. Beberapa burung terlihat beterbangan dengan kelompoknya. Rey begitu takjub dengan pemandangan angkasa yang baru kali ini ia jumpai.


Wibie mengamati gadis itu dan tersenyum sendiri. Ada perasaan yang begitu bahagia mengalir dalam lubuk hatinya saat ini. Ia begitu bahagia, bisa membawa wanita yang ada disampingnya ini menuju apa yang dia ingini.


"Pusing?" tanya Wibie pelan.


"Tidak,"


Wibie kembali menepuk-nepuk tangan Rey dan memegang tangannya dengan erat.


"Sebentar lagi kita sampai,"


Pukul 06.50 Wib pesawat Batik Air yang mereka tumpangi tiba di bandara Soeta. Tujuan selanjutnya adalah Kemayoran. Tempat dimana adik perempuan ayah gadis ini bermukim. Sesuai alamat yang diberikan padanya.


Mereka berjalan beriringan dan sesekali bertukar senyum. Wajah Rey terlihat begitu bahagia dan Wibie merasa senang mendapati senyum itu kian sering mengembang dari bibir Rey.


Perjalanan dari Soeta ke Kemayoran hanya butuh waktu sekitar 30 menit. Banyak akses transportasi yang bisa mengantarkan mereka ke sana, namun Wibie lebih memilih menggunakan taxi bandara agar lebih nyaman mengingat ia belum pernah ke lokasi yang akan dituju.


"Kita naik taxi saja"


Rey hanya mengangguk. Ia mengamati Wibie yang melambaikan tangannya ke arah sekelompok mobil sedan berwarna biru yang parkir tidak jauh dari pintu keluar.


"Berapa lama kita sampai, Pak?" tanya Rey ketika taxi berwarna biru yang mereka tumpangi sudah keluar dari bandara.


"Sebentar,"


"Kalau jalanan legang begini, 30 menit sampe," jawab Wibie. Pandangannya lurus ke jalanan. Ia melihat situasi jalanan tidak begitu ramai.


"Oh," Rey mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


Wibie akan mengantarkan gadis yang sejak dua hari ini selalu menjadi prioritas pikirannya ini aman hingga ke tujuan. Dengan begitu tugas dan tanggung jawab Wibie yang dipercaya oleh gadis itu untuk melarikan dirinya sudah selesai.


__ADS_2