
Karena harus membawa beberapa sample baju safety produk konversinya, Rey pagi ini membawa mobil ke kampus. Usai ujian ia sudah mengatur janji pada salah satu dosennya untuk memberikan contoh-contoh baju tersebut.
Dosennya merasa tertarik dengan usaha yang dikembangkan Rey, begitu ia tahu ada salah satu mahasiswa yang menekuni usaha konveksi. Setelah beberapa diadakan pembicaraan, sang dosen yang mempunyai usaha rekanan pengembangan jaringan listrik sangat berminat untuk membuat seragam para karyawannya pada Rey. Bahkan ia memesan tiga model sekaligus yang akan digunakan sebagai PDH (Pakaian Dinas Harian) karyawannya yang menyebar di berbagai daerah.
Ada 16 model hasil produksi yang di bawa Rey dalam bagasinya. Baik yang setelan maupun hanya atasannya saja.
"Bismillah, semoga berjodoh. Dapet pelanggan baru," doa Rey begitu selesai memasukkan barang-barang itu.
"Stok kita yang warna biru masih banyak, kan? Sepertinya mereka berminat sama yang model itu setelah melihat-lihat foto yang aku kirim. Tapi tetep aku bawain semua, biar ada bahan pembanding," tanya Rey pada karyawannya itu.
"Masih mbak, di toko ada sekitar 150 pcs. Di pabrik yang sudah siap di jahit juga banyak karena ada tambahan permintaan dari Cipulir,"
"Ok, berarti aman jika mereka minta dalam waktu dekat, kan?"
"Insya Allah aman,"
"Sip. Tolong keluarin dulu mobilnya. Aku mau pamit sama anak-anak dulu," Rey menyerahkan kunci mobilnya pada Fauzan agar pria itu mengeluarkan mobil yang akan di bawanya dari garasi.
"Parkirin depan depan toko biar ga ganggu pengguna jalan!" teriak Rey sembari melangkah ke ruang keluarga, mendapati kedua anaknya yang sedang sarapan.
"Iya, Mbak,"
"Aamiin," Fauzan menimpali.
Rey menghampiri Nathan yang begitu lahap menikmati sarapan paginya, di suapi suster Nisha. Sedangkan Devara yang sudah mengenakan seragam sekolahnya makan sendiri. Duduk manis di samping adiknya.
"Kakak beragkat dianter Om Fauzan, Ya. Pulangnya ikut mobil jemputan. Mama ada ujian pagi ini," Rey minta pengertian dari anaknya.
"Iya, tapi aku mau ikut Bu Dhiza aja pulangnya. Mau ke rumah Oma,"
"Ga Sabtu aja, bareng kita semua,"
"Enggak. Kakak udah janjian sama Oma mau shoping,"
"Oh...," Seru Rey pura-pura kaget.
"Emang mau belanja apa sama Oma?" tanya Rey menyelidik.
"Ada deh, pokoknya rahasia kita," sahutnya dengan ekpresi lucu.
__ADS_1
"Ya, kita mau ditinggal kakak nih. Adek sedih ga?" tanya Rey pada Nathan.
"Enggak ya, dek. Nanti sore kakak pulang, sama Oma,"
"Ok, selamat bersenang-senang anak gadisku. Mama mau berangkat sekarang, takut telat,"
Rey mencium keduanya secara bergantian. Devara segera menghindar ketika Rey ingin mengusap rambutnya.
"Jangan, nanti berantakan lagi," elaknya. Ia paling tidak suka di sentuh rambutnya ketika sudah dikepang rapi oleh Rey. Takut merubah tatanannya, begitu alasannya.
******
Tiba di kampus, Rey mendapati ruang ujian yang sudah begitu ramai. Masing-masing mahasiswa sudah memilih tempat duduk yang paling nyaman agar bisa menyelesaikan ujiannya.
Bangku belakang semuanya sudah terisi, rupanya mereka cukup jeli memilih posisi. Dosen tidak akan berkeliling selama proses ujian, jadi posisi paling belakang adalah tempat yang paling diminati oleh mahasiswa terutama mereka yang belum mempersiapkan diri untuk ujian.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Rey mengisi bangku kosong yang ada di bagian depan,sekitar dua langkah ke depan dari meja pengawas.
"Permisi, kosong kan?" tanya Rey pada mahasiswa yang telah lebih dulu menempati kursi di sampingnya.
"Silahkan, belum ada yang menempati kok," sahut pria itu dengan ramah.
"Terimakasih. Rey segera melepas tas punggungnya, kemudian ia mengeluarkan buku kewirausahaan dari dalam tasnya. Sementara menunggu dosennya, ia bisa membaca kembali buku pencangan mata kuliah itu.
"Bukan, saya ngulang mata kuliah ini," sahut Rey malu. Bagaimana tidak, demi mendapatkan perbaikan nilai ia harus ikut kuliah bareng dengan anak semester satu, bahkan kini ia harus ujian bareng dengan anak reguler karena untuk kelas karyawan akan dilaksanakan hari Minggu, Rey tidak bisa mengatur jadwal karena akan mendampingi Devara Outbond bersama teman-teman sekelasnya.
"Semester berapa?" tanya pria itu lagi. Mukanya masih tertuju pada buku yang ada di depannya.
"Lima,"
"Kok sama," seru pria itu kaget. Kali ini ia memandang Rey dengan seksama.
"Jurusan?" tanyanya lagi.
"Akutansi,"
"Aku tidak pernah melihatmu," Pria ini cukup heran. Jika memang dia semester lima ..... Kenapa tidak mengenal dirinya. Jangankan anak satu angkat, seluruh penghuni kampus mengenalinya sebagai ketua senat.
"Keterlaluan sekali orang ini," pikir Pria itu dalam hati.
__ADS_1
"Aku di kelas karyawan,"
"Oh," pria itu mengangguk-anggukan kepala sembari tetap mengamati Rey.
Obrolan keduanya berlanjut hingga dosen masuk ruangan. Rey tidak menemukan kesulitan saat mengerjakan soal ujian tersebut begitupun saat semester satu dulu, tapi entah kenapa nilai yang tertera di KHS-nya hanya CUKUP. Untuk itu ia lebih hati-hati meskipun sudah menyelesaikan semua soal dengan baik, ia tidak ingin segera menyerahkan lembar jawabannya.
Berkali-kali soal dan jawaban itu ia baca. Ia ingin memastikan agar nilai yang diperolehnya lebih baik dari yang dulu.
"Meskipun kita jawab dengan benar, belum tentu nilainya bagus," seru pria yang ada di sampingnya lagi. Ia bicara seolah-olah bisa menebak apa yang dipikirkan Rey saat ini.
"Kok bisa?" tanya Rey dengan suara berbisik. Takut jika terdengar oleh dosen yang dimaksud.
"Dia sudah dikenal, memberi nilai asal tembak. Paling juga lembar jawaban ini ga diperiksa," sahut pria itu dengan suara berbisik pula.
"Masa sih? Keterlaluan sekali. Aku sudah belajar beberapa hari sebelum agar bisa jawab soal. Kalau ga di koreksi kok menyedihkan sekali," keluh Rey putus asa.
"Banyak-banyak dia aja. Siapa tau nasibmu kali ini mujur," gumamnya. Setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya dan menyerahkan lembar soal itu pada sang dosen.
Waktu tersisa lima menit lagi, tapi sudah ada beberapa yang meninggalkan ruangan.
Setelah mengambil tas yang ada di bawah bangkunya, pria itu tersenyum ramah pada Rey.
"Aku duluan, ya,"
"Ok," sahut Rey singkat.
Rey sepertinya terpengaruh dengan omongan pria tadi karena sejak sejak masuk hingga selesai ujian, pak dosen tetap membaca buku yang ia keluarkan dari tasnya. Ia tidak peduli dengan proses ujian meskipun di bagian belakang cukup gaduh saling bertukar jawaban.
"Ada benarnya juga apa yang dikatakan pria itu. Jika ia peduli akan hasil, pasti akan mengawasi prosesnya dengan serius,"
"Bismillah, kumpulin ajalah," bisik Rey lagi.
Rey bergegas membereskan perlengkapan tulisnya dan memasukkannya dalam tas. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, ia mengumpulkan lembar jawaban tersebut sekaligus meninggalkan ruang itu.
Happy reading all, tetep saja Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
__ADS_1
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊