
[ Pukul sepuluh malam ]
Rey baru saja naik ke tempat tidur. Hari ini kuliah full dari pukul empat sore hingga pukul sembilan malam. Semua dosen hadir tepat waktu ditambah lagi banyak tugas yang harus diselesaikan.
Rey memilih untuk tidur, tugas-tugas itu akan dikerjakan esok hari sembari menunggu toko.
Devara sudah lebih dulu terlelap. Gadis kecil itu sudah tidur ketika Rey datang. Sejak Wibie kembali ke lapangan, baru hari ini ia ingin tidur di sini. Ia datang bersama Bu Fat sore tadi.
Ketika hendak menarik selimutnya, HP-nya berdering. Rey meraih hp yang sudah ia letakkan di atas nakas, di samping tempat tidurnya.
Rey segera menjawab vcall dari suaminya
"Sudah mau tidurnya?"
"Iya, ini baru aja naik ke kasur,"
"Udah ngantuk banget?" tanya Wibie.
"Masih bisa tahan kalau untukmu, Beib,"
"Ais..." timpal Wibie sembari tertawa geli.
"Devara pulang?"
"Iya, sore tadi sama Bu Fat. Katanya kangen sama aku. Sempet main bareng sebelum berangkat kuliah. Besok biar aku yang anter jemput dia ke sekolah"
Rey mengarahkan hp ke Devara agar Wibie bisa melihat anaknya yang begitu lelap. Wibie tersenyum melihat anaknya yang begitu polos itu mulai kangen lagi tidur sama Rey, ibu sambungnya.
"Tadi aku sudah beli motor untuk ibu?"
Rey kaget. Seketika itu juga ia langsung terduduk.
"Eh, kenapa kalau ada aku dirumah kau tidak pernah pakai baju seperti itu," Wibie segera protes ketika ia melihat Rey hanya mengenakan tangtop tipis dengan tali sejari tanpa bra.
Rey mencibir dan tersenyum menggemaskan ke arah suaminya.
"Aku pake baju utuh saja sudah babak belur, Mas apalagi kalo pake kostum begini,"
"Curang...pokonya kalau tidur denganku kau juga harus begitu. Ini perintah. Pasti bawahan juga lebih hot itu," seru Wibie makin gemes
Rey kembali menarik selimutnya hingga bagian dadanya tertutup.
"Kembali ke laptop. Kenapa beli motor untuk ibu? Apa dia minta?" tanya Rey mulai serius.
"Turunkan selimutmu, aku ingin melihat yang seperti tadi," perintah Wibie.
Rey mengikuti kemauan suaminya itu. Ia buang selimutnya hingga tampak tubuhnya yang mulus hanya terbalut tangtop dan celana diatas paha berbahan katun.
"Waw....kamu seksi sekali sayang," puji Wibie.
"Jawab pertanyaanku. Kenapa beli motor untuk ibu?"
"Ibu ga minta kok. Cuma aku kasihan saja. Kemaren pas mampir ke sana cuaca sudah begitu gelap, sementara laundry yang mau dianter masih banyak. Ibu harus nunggu Doni yang membawa motor mengantarkan laundry ke tempat yang lain,"
Rey diam sesaat. Mimik mukanya menunjukkan bahwa suaminya itu sedang tidak berbicara jujur padanya.
"Bener kok. Ibu ga minta ke aku. Lagian aku juga beliin motor metic biasa. Cuma 23jt," Wibie mencoba menjelaskan pada Rey.
__ADS_1
"Bukan itu, Mas. Mas kan baru keluar duit banyak. Aku takut akan menjadi bebanmu. Maaf ya. Keluargaku memang sangat memprihatinkan,"
"Sudahlah. Selagi ada, ga ada salahnya kita membatu orang tua. Dengan membelikan ibu motor baru, berati pekerjaannya akan lebih cepat tertangani. Tugas yang dulu menjadi tanggung jawabmu sudah beralih ke Doni, kasian dia. Dengan adanya motor lagi, ibu jadi bisa membantu Doni,"
"Ya sudahlah kalau itu memang kemauanmu. Aku khawatir saja,"
"Tidak sayang. Aku sudah menikah dengan putrinya yang seksi, berati aku juga harus berbagi rezeki pada ibu mertuaku yang sudah melahirkan dan merawat putrinya hingga bisa seperti ini," ujar Wibie mulai ngegombal.
Rey terkekeh mendengar ucapan itu. Bukan stile suaminya perayu hingga ekpresinya ketika mengucapkan itu menjadi sangat lucu dan kaku.
"Mas,"
"Apa,"
"Tadi bu Har juga sudah mengantarkan saudaranya yang akan membantuku ke toko,"
"Oh, Alfian?" tanya Wibie.
"Iya,"
"Gimana kerjanya,"
"Sepertinya dia sudah berpengalaman. Dengan cepat semua pekerjaanku dihandlenya. Orangnya cekatan,"
"Syukurlah kalau kau cocok dengannya,"
"Kok cocok sih. Emang situ ngijinin aku selingkuh?"
"Cocok jadi rekan kerja," teriak sedikit kesal.
"Emang ganteng ya orangnya,"
"Standar. Usianya sekitar 24 tahun,masih single,"
"Hemm...,"
"Apa?" ledek Rey
"Jangan minta dia untuk membawa kabur dirimu ya!"
Kali ini Rey yang naik darah. Ia teriak sekeras-kerasnya karena sadar Wibie sedang meledeknya. Mengingatkan bagaimana ia dulu minta dibawa kabur oleh Wibie
"He...he..... Kamu yang mulai duluan. Dibales ga mau terima. Udah mulai jadi emak-emak sekarang ya?" Ledek Wibie.
Rey tertawa, begitu juga dengan Wibie.
"Mas,"
"Iya,"
"Ada orderan dari pemkot, partai besar loh. Tapi salah satu syaratnya harus berbadan hukum?"
"Maksudnya?"
"Pelanggan onlineku mengajukan kerja sama untuk menjadi rekanan pengadaan seragam di wilayah nya. Lumayan loh. Ribuan,"
"Hem.. menarik,"
__ADS_1
"Syaratnya itu tadi. Usaha kita harus berbadan hukum,"
"Iya, ya. Sekian tahun usaha itu berjalan tidak pernah kepikiran sampe ke sana. Terus apa rencanamu?"
"Bagaimana jika kita daftarkan dan membuka PT,"
"Ide bagus itu. Tapi aku tidak tahu prosedurnya sayang. Kau tau sendiri, yang aku liat setiap hari cuma batubara,"
"Aku yang urus. Pras yang akan membantuku. Kakaknya seorang notaris, ia bisa mengurus perizinannya sampai beres,"
"Pras lagi,"
"Eit....inget. Pras tidak suka dengan lawan jenis," kali ini Rey terpaksa berbohong lagi agar suaminya tidak cemburu lagi.
"Hemm...,"
"Iya," Rey berusaha meyakinkan dengan mengeryitkan alisnya berulang-ulang.
"Berapa lama perizinan selesai,"
"Lebih kurang dua Minggu. Mereka juga harus ngecek pabrik dan toko sebagai tempat usaha. Jika layak bisa selesai lebih cepat,"
"Kamu yakin akan meneruskan usaha ini?" tanya Wibie.
"Justru aku yang harusnya tanya, apa Oma dan Witha memberikan izin?"
"Witha sudah menyerahkan usaha ini padaku. Usaha ini diharapkan bisa menopang ekonomi ibu sepeninggal Ayah, dan aku sendiri juga tidak bisa menjalankan sepenuh hati karena aku lebih mencintai karierku. Jadi seperti yang kau lihat, yang penting usaha itu jalan bisa menghidupi pekerja dan ada keuntungan untuk ibu,"
"Jadi, Oma ga keberatan,"
"Ga lah. Kau sudah jadi anaknya. Masa ia tidak percaya padamu,"
"Terimakasih, aku akan meneruskan usaha ini. Aku akan total mengelolanya," sahut Rey dengan gembira.
"Atur saja. Aku percaya padamu,"
"Terimakasih, Mas"
"Terus,"
"Apa?" tanya Rey bingung.
"Kiss dong. Ucapan selamat malam,"
"Ais...," Ujar Rey. Sejurus kemudian ia memberikan ciuman jarak jauh pada suaminya
"Istirahatlah, jaga kesehatanmu," ujar Wibie lagi.
"Iya, Mas. Terimakasih,"
"Berhentilah mengucapkan terimakasih. Memang aku sudah memberi apa padamu?"
"Iya, i love you suami tampanku,"
Sebelum Wibie membalas Rey segera menghentikan sambungan telponnya dan mematikan ponsel itu agar tidak ada panggilan lagi
"He..he...." Rey tertawa sendiri. Kali ini ia menang lagi
__ADS_1