
Hari masih belum terlalu sore ketika tamu undangan undur diri. Selain keluarga inti yang masih tertinggal di rumah Wibie, terlihat juga Dhiza yang sedang terlibat obrolan serius dengan Bu Fat.
"Pak, siapa gadis itu? Dia yang menjemputku untuk turun ke bawah saat usai di rias tadi," tanya Rey pada Wibie. Pandangan tertuju pada perempuan yang sedang menikmati es cream.
"Saat memberikan selamat padamu, dia juga terlihat begitu sedih," tambah Rey lagi.
Wibie dan Rey sedang mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Mereka begitu lapar. Sudah jam dua mereka belum terisi nasi.
"Hemm. Kok masih panggil Pak saja! Aku kan sudah jadi suamimu. Apa tidak ada panggilan yang lebih romantis dari itu?" Lirik Wibie pada Rey yang sedang mengisi piringnya dengan satu centong nasi putih.
Wibie belum menjawab pertanyaan Rey, justru ia masih mempersoalkan Rey yang tetap memanggilnya "Pak" padanya.
Rey hanya tersenyum simpul. Sebentar kemudia ia mengangkat kedua bahunya.
"Akan aku pikirkan panggilan yang mesra untukmu," sahutnya.
"Gitu, dong. Masa sama suami sendiri formal banget," protes Wibie.
"Iya,"
"Terus!" Rey menatap tajam pada suaminya itu.
"Apa?" tanya Wibie lagi.
"Itu siapa?" tunjuknya ulang. Arah matanya masih tertuju pada perempuan yang tadi.
"Oh," Wibie tidak melanjutkan kata-katanya. Ia memilih untuk menikmati makanan yang sudah tertumpuk dipiring nasi yang baru saja ia ambil.
"Makan dulu, ah. Keburu kena maag kalo menunda makan disaat perut sudah menjerit-jerit minta diisi," ujar Wibie memberi alasan.
Rey tahu Wibie tidak ingin membahasnya sekarang. Untuk itu ia lebih memilih menyuap nasi ke dalam mulutnya. Mereka menikmati makanannya di ruang tamu.
Rey melihat perempuan itu sedang berbincang-bincang dengan Bu Fat dan sesekali mereka tertawa bersama. Rey jadi begitu penasaran.
"Siapa wanita itu? Apa dia mamanya Devara?" tanya Rey pada dirinya sendiri. Ia masih berusaha memecahkan misteri itu dengan caranya sendiri.
Tak lama, perempuan itu juga menyapa Oma yang melintas di dekatnya. Mereka terlihat seperti orang yang sudah kenal begitu lama.
Rey lebih dulu menghabiskan makanannya. Namun ia punya sopan santun yang cukup tinggi. Ia memilih untuk tetap duduk di samping Wibie hingga ia selesai makan.
Dari arah luar, terdengar ada tamu yang baru datang. Karena seluruh keluarga tidak ada yang mengenalnya, Tante Rohmah yang sedang ngobrol dengan Ayah dan Ibu mengantarkan pada pengantin.
"Maaf, aku telat. Kamu sih ngundang orang kagak niat. Cuma kasih hari dan tanggal saja," protes Pras ketika mendapati Rey.
"Masa iya, sih?" Rey mencoba mengingat sesuatu.
"Selamat ya. Semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakina dan mawadah," ucap Pras memberi selamat pada pengantin.
Wibie meletakkan piring nasinya dan segera menjabat tangan pria yang baru tiba.
"Saya Prasetyo. Teman kuliah Rey," ujar pria itu.
Wibie tersenyum ramah dan mempersilahkan tamunya duduk bersama mereka.
"Maaf, Mas. Saya telat banget," ujar Pras lagi. Ia menjadi merasa tidak enak karena saat ia datang justru acaranya sudah usai.
"Iya. Anda datang kami berdua sudah sangat senang," ujar Wibie.
"Rey ini teman pertama saya di kampus. Ke sininya kami jadi sahabat baik," jelasnya pada Wibie
__ADS_1
"Syukurlah jika Rey sudah punya teman baik di kampus,"
"Dia anaknya supel. Hampir semua mahasiswa mengenanya meskipun baru dua munggu kuliah, Mas," puji Prasetyo.
Wibie hanya tersenyum. Namun Rey yang merasa keberatan dengan pernyataan Prasetyo.
"Sembarang aja, mana mungkin semua mahasiswa mengenalku? Emang aku siapa?" Protes Rey sembari mencibir.
Mereka bertiga tertawa seketika. Hanya butuh beberapa detik saja bagi Pras untuk bisa menarik simpati orang. Inilah keahliannya yang belum tentu dimiliki setiap orang.
Ada perasaan cemburu yang tiba-tiba menyelimuti hati Wibie. Kenapa dari sekian puluh teman satu jurusan istrinya hanya satu orang yang hadir. Seorang laki-laki muda, seorang diri lagi?
Wibie memainkan ujung-ujung rambut Rey yang dibiarkan jatuh di sisi telinganya. Ia ingin membuat Pras berpikir bahwa ia begitu mencintai istrinya.
"He...he....," tawa Wibie dalam hati. Ia tau tindakan ini begitu norak dan kekanak-kanakan.
"Biarin aja. Biar dia mikir ulang kalo mau pdkt sama istri orang," gerutunya kesal.
Rey merasa tidak nyaman dengan tindakan Wibie yang mendadak sok mesra. Otaknya yang cerdas bisa membaca apa yang ada di pikiran suaminya itu.
"Ayo makan dulu. Aku temani ambil makanan di depan," Rey langsung beranjak dari tempat duduknya. Dikuti oleh Pras.
Sekilas Rey bisa menangkap mimik ketidaksukaan Wibie atas tindakannya itu. Ia tersenyum.
"Satu sama," bisik Rey dalam hati.
Rey masih sedikit kesal karena suaminya tidak mau menjawab siapa wanita yang sedang ngobrol dengan Bu Fat dan ibunya yang makin terlihat akrab. Apalagi Devara juga sudah bergabung dengan mereka dan terlihat sudah mengenal lama perempuan itu.
"Oma kenalin, ini teman satu jurusan Rey,"
Rey memperkenalkan Pras pada Oma.
"Dhiza,"
Wanita itu menyebutkan namanya ketika Pras mengulurkan tangan ke arahnya.
"Oh, Dhiza," seru Rey dalam hati.
Setelah sedikit berbasa-basi dengan Oma, Pras mengambil makanan yang masih terhidang di garasi mobile.
"Aku lapar nih. Sudah lewat jam makan siang," seloroh Pras untuk menghilangkan rasa malunya karena ia mengambil makanan cukup banyak.
"Faham. Bujangan mah ga ada yang masakin," sahut Rey
"Tau banget,"
"Iyalah, paling juga hari - harinya ngandelin warteg," tambah Rey lagi.
Kali ini Pras tertawa lepas.
"Betul banget," sambil mengacungkan jempol pada Rey
Hari itu Rey berhasil berhasil membuat Wibie naik darah.
"Berani-beraninya dia. Baru berapa jam jadi istriku sudah sukses bikin aku cemburu. Awas!"
Wibie begitu kesal dan ingin sekali meraih tangan Rey dan membawanya ke kamar. Namun keinginan itu segera dibuang karena situasi rumah yang masih ramai dengan keluarga besarnya
Akhirnya Wibie hanya bisa melihat Rey yang bercengkrama dengan temannya itu. Meski Rey membawa kembali Pras duduk bareng dengan Wibie di ruang tamu, tetap saja Wibie tidak bisa membuang api cemburu yang sudah dinyalakan oleh istrinya.
__ADS_1
***
Di teras samping, keluarga Rey sedang melepas kangen dengan om dan tantenya.
Sudah belasan tahun Ayah tidak bertemu adik perempuannya ini.
"Saat main ke Kemayoran, waktu itu Rey masih berusia 8 tahun. Cukup lama juga, ya!," kata Ayah
"Iya, Mas. Sekarang kita bisa menjalin silaturahmi lagi. Alhamdulillah, semua berkat Rey," sahut Tante Rohmah.
"Anak itu memang mujur, bisa ketemu jodoh yang mapan dan baik hati," lanjut Tante lagi.
"Iya, Alhamdulillah," sahut Ayah.
"Jika ke Jakarta, jangan lupa berkabar Mas. Biar tidak putus persaudaraan. Anak-anak kita juga bisa lebih kenal satu sama lain," kata Tante.
"Oh, iya. Anak-anakmu sekarang dimana? Kok ga ada yang ikut?," tanya Ayah.
"Bagas mondok, Mas. Sedangkan Rian lagi ada kegiatan Pramuka di Cibubur. Dia ga mau meninggalkan acaranya. Ya, begitulah anak-anak kalau sudah ketemu hobynya,"
"Iya, tak apa. Insya Allah lain waktu bisa ketemu," sahut ayah.
Cukup lama kakak adik itu melepas rindu. Hingga menjelang senja Om dan tente undur diri.
Nayla dan Doni tidak terlihat lagi batang hidungnya. Mungkin setelah acara selesai mereka kembali lagi ke kamar mereka.
"Rey, Tante pulang dulu ya. Sering-sering main ke rumah," Tante pamit pada Rey dan Wibie yang masih ada di ruang tamu bersama Pras.
Rey bangkit dari tempat duduknya, Wibie juga melakukan hal yang sama.
"Terimakasih, Tan. Sudah menyempatkan diri datang ke sini," ucap Wibie.
"Bukan menyempatkan. Harus lah, masa keponakannya menikah ga didatengin,"
Rey tersenyum dan membalas uluran tangan Tante dengan pelukan yang hangat
"Terimakasih Tante," ucap Rey pada wanita itu,
"Selamat, ya. Semoga langgeng sampai maut memisahkan dan juga lekas dapet momongan,"
"Aamiin," sahut Wibie dengan keras.
Om dan tente pulang setelah berpamitan dengan keluarga Wibie. Oma merasa senang mendapati menantunya punya keluarga di Jakarta
Bersamaan itu Pras juga pamit. Ia turut bangkit dari tempat duduknya karena sudah cukup lama juga ia bercengkrama dengan pengantin baru itu.
"Sekalian, aku juga pamit. Sudah hampir dua jam aku di sini," kata Pras dengan senyum yang menahan malu.
"Senang bisa bertemu. Anda memang orang yang menyenangkan, wajar Rey begitu dekat denganmu. Dia juga sering cerita tentang kamu," sahut Wibie.
"Masa?"
Wibie hanya tersenyum dan menjabat erat tangan Pras ketika laki-laki itu mengulurkan tangan ke arahnya.
"Terimakasih sudah hadir," kata Wibie lagi.
"Cuti berapa hari, nih," tanya Pras ketika ia menjabat tangan Rey.
"Belum tau. Sampai diizinkan tuan besar untuk ke kampus, mungkin?," jawab Rey sambil melirik ke arah Wibie.
__ADS_1
Tak ada Jawaban. Semuanya malah tertawa. Rey dan Wibie melepaskan Pras hingga pintu pagar. Ternyata ia memarkirkan kendaraan tepat di depan rumah Wibie, di pinggir jalan raya.