
Ibu-ibu pengajian dari majelis taklim sudah berkumpul, syukuran aqiqah cucu kedua dari keluarga Abdul Malik pun berjalan sesuai rencana.
Suami Witha juga menyempatkan diri untuk pulang karena ini syukuran aqiqah anaknya. Meski terlambat karena pagi ada jadwal operasi, tapi ia bisa berangkat sesuai dengan jadwal penerbangan yang sudah di pesan dua hari sebelumnya.
Semua tamu memuji Rey yang tampil cantik siang itu dengan busana muslim warna putihnya. Ia membantu Oma menjaga meja makan.
"Istrinya Wibie cantik sekali," ujar Bu RT yang sedang mengisi mangkuk kecil yang ia letakkan di atas piring dengan gule kambing yang masih hangat.
"Terimakasih, ibu bisa aja," sahut Rey sedikit malu karena karena hampir semua orang mengatakan hal itu padanya
Dhiza yang ada di samping Rey hanya diam. Sejak ia menemani Rey menunggu meja makan, tak satupun kata keluar dari mulutnya. Ia hanya tersenyum dan sesekali menjawab pertanyaan para ibu yang bertanya kabarnya.
"Dhiza, kamu sudah la sekali ga kelihatan. Apa kabarnya? Kenapa rumah eyang kok tidak ditempati sendiri?" tanya Bu RT pada Dhiza ketika perempuan separu baya itu berdiri di depan Dhiza.
"Alhamdulillah baik, Bu RT. Rumah eyang sudah di kontrak untuk lima tahun. Masih sisa setengah tahun lagi. Kebetulan saya juga baru beberapa bulan ini balik ke Jakarta,"
"Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Bu RT lagi.
"Di dekat kantor Bu. Saya ngekos di sana. Insyaallah saya mau menempati rumah eyang lagi jika abis kontraknya,"
"Iya. Lebih baik begitu. Ngomong-ngomong udah punya momongan belum?"
Rey yang mendengar pembicaraan mereka memasang telinganya, ia tidak ingin terlewat satu katapun dari obrolan mereka. Karena Bu RT yang terakhir mengambil nasi, jadi ia memilih menikmati makanan itu di ruang makan. Ia tidak kembali ke ruang tamu namun lebih memilih ngobrol dengan Dhiza.
"Saya belum menikah, Bu?" sahut Dhiza sedikit pelan.
"Jangan terlalu milih-milih, wanita cantik dan sukses sepertmu rasanya mustahil jika tidak ada yang mendekati,"
"Ibu bisa aja, memang jodohnya belum dateng bu. Mau gimana lagi,"
"Ibu doakan semoga kamu cepet dapet suami dan segera punya momongan seperti Witha. Jika almarhum eyangmu masih hidup, ia pasti sudah bingung mencarikan kamu jodoh. Kau tidak berubah, selalu tertutup pada orang lain,"
Dhiza hanya tersenyum tipis. Apa yang diucapkan oleh Bu RT memang benar, sejak kecil Dhiza memang selalu membatasi diri dalam berteman. Hari-hari hanya di rumah Wibie dan teman bermainnya hanya Witha dan Wibie.
Rey menarik nafas panjang. Ia menjadi sedikit lebih faham kenapa Dhiza berlaku ketus dan begitu kaku padanya. Selain karena sifat aslinya, mungkin saja ia juga punya hati dengan teman kecilnya itu. Satu pertanyaan misteri yang harus Rey cari kebenaran atas asumsinya itu.
Wibie muncul dari kamar dan menggendong Devara yang terlihat baru bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Eh, anak cantik. Sini Salim sama Nenek,"
Devara turun dari gendongan papanya, menghampiri Bu RT, ia meraih tangan wanita itu yang telah diulurkan ke arahnya.
Wibie juga melakukan hal yang sama dengan anaknya.
"Wibie, coba cariin jodoh buat Dhiza. Biar dia punya teman. Kasian, sekarang ini dia sebatang kara di Jakarta,"
Wibie tersenyum pada Bu RT yang dikenal cukup bawel namun ia sangat care dengan keluarga ini. Setelah itu ia melirik ke arah Dhiza, sesaat pandangan mereka bertemu. Dhiza segera menundukkan kepalanya.
Rey yang sejak tadi memperhatikan segala gerak gerik Dhiza dengan mencuri-curi pandang menangkap dengan jelas ketika panda pandangan wanita itu sempat terpaku pada suaminya sebelum akhirnya tertunduk karena Wibie perpaling ke arahnya.
"Mungkin Dhiza sudah punya calon, Bu. Setelah sekian tahun kita juga baru ketemu. Itu juga karena Devara sekolah di tempat yayasan yang dipimpin oleh Dhiza. Suatu kebetulan, akhirnya silaturahmi yang terputus begitu lama kini nyambung kembali," jelas Wibie.
"Lah, kenapa begitu. Jadi sejak Dhiza lulus kuliah dan pulang ke rumah ibunya ga pernah kasih kabar lagi,"
Wibie mengangkat kedua bahunya dan melihat ke arah Dhiza yang masih menjatuhkan pandangannya ke arah lantai.
"Iya, baik saya maupun Witha tidak ada yang bisa menghubunginya lagi," jelas Wibie lagi.
******
"Memang kalian ngobrol apa dengan Bu RT, kok Dhiza jadi terlihat aneh seperti itu?" tanya Oma pada Wibie dan Rey yang sedang beres-beres ruang tamu.
"Tadi Bu RT sempet nyinging kenapa kenapa dia belum nikah dan minta saya untuk mencarikan jodoh untuk Dhiza," jawab Wibie.
"Aduh, masalah seperti itu mah jangan di bicarakan di depan umum. Dhiza pasti punya alasan sendiri kenapa hingga kini dia memilih sendiri. Kasian anak itu, pasti ia sedih sekali?"
"Wibie juga berpikir begitu Bu, makanya aku cuma senyum aja. Bu RT-nya aja yang ga peka,"
"Sudahlah, nanti ibu telpon Dhiza. Dia sebatang kara di Jakarta, kasian,"
Wibie tidak menanggapi ucapan ibu, begitu juga dengan Rey. Mereka berdua melanjutkan pekerjaannya, membersihkan karpet merah yang terbentang di ruangan itu dari rontokan makanan. Oma meninggalkan keduanya menuju ke dapur.
*****
Dhiza menghentikan mobilnya, menepi pada sebuah taman kota yang tidak begitu ramai lalu lalang kendaraan.
__ADS_1
Tangisnya tumpah seketika itu juga. Ia tidak bisa membendung kesedihan yang menggelayut di hatinya.
Tergiang kembali ucapan Bu RT tadi, juga tatapan Wibie yang penuh dengan rasa iba padanya.
"Ternyata hukum karma itu memang nyata adanya. Apa yang aku lakukan pada Rey di sekolah tadi sudah dibayar tunai hari ini juga," ujar Dhiza dalam hati sembari menarik nafas agar isaknya tidak menjadi-jadi.
"Salah apa Kiran dan Rey padaku. Mereka bisa mendapatkan cinta Wibie mungkin sudah menjadi ketentuan ditakdir mereka. Kenapa aku tidak bisa moove on dari perasaan cinta yang tidak berbalas ini,"
Hp yang ia letakkan di jok samping bergetar. Dhiza melihat sesaat ke arah benda yang sedang menyala itu.
Panggilan telpon dari Witha. Dhiza membiarkan Panggilan telpon itu hingga mati dengan sendirinya.
Dhiza menyandarkan tubuhnya pada jok yang ia duduki. Hari ini ia benar-benar merasa sendiri.
Dhiza sadar, kebersamaan mereka yang sekian lama hanya dimaknai sebagai persahabatan yang sejati oleh Wibie dan rasa kekeluargaan oleh ibunya.
"Aku saja yang bucin, hingga menghukum diri sendiri dengan begitu kejam," desahnya lagi.
"Aku memilih pergi, menghilangkan dari kehidupan Wibie setelah pria yang ia cintai sejak SMP itu lebih memilih Kiran yang baru dikenalnya semasa kuliah,"
"Meski pernikahan mereka hanya sesaat, apakah Wibie akan memiliku menjadi istri pengganti seandainya aku tidak menghilangkan diri dari kehidupannya?"
"Kemungkinan itu ada, meskipun sangat kecil sekali. Terus kenapa kecemburuanku kini begitu membuncah ketika gadis ingusan itu berhasil merebut hati Wibie,"
"Ya Allah. Kenapa aku menjadi begitu bodoh. Kenapa setiap keputusan yang aku ambil selalu menjadi jarak antara aku dan dia?"
"Aku begitu mencintainya. Aku ingin hidup bersamanya. Apa mungkin? Jika aku datang lebih awal, apa mungkin Wibie akan memintaku menjadi istrinya?" Teriak Dhiza dalam hati.
Kini pikirannya begitu kacau. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Tangisnya sudah mereda, namun isaknya masih menyiratkan luka yang begitu menganga di hatinya.
Cukup lama ia berdiam diri, menenangkan hati dari kekalutan hatinya. Kini tatapan memandang lurus ke depan. Buah bintaro yang bergelantungan di depannya itu cukup menarik perhatiannya.
Buah pada pohon bintaro ini mengandung racun yang bernama ceberin, racun ini sangat berbahaya karena dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung sehingga dapat mempengaruhi denyut jantung pada mahluk hidup termasuk manusia. Karena itu sangat berbahaya dan harus dijauhkan dari jangkauan anak- anak apalagi kalau sampai dimakan bisa menyebabkan kematian.
"Apa mungkin hidupku akan bernasib seperti itu? Kehadiranku hanya akan menjadi racun bagi rumah tangga orang yang aku sayangi,"
"Menyedihkan,"
__ADS_1
Dhiza memukul stir mobilnya dengan sepenuh tenaga. Ia ingin sekali melepaskan kekesalannya.