Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 30 Tiba Di Lokasi


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan 4 jam lebih, 1 jam jalur udara dan 3 jam jalur darat, tepat pukul 11.00 WIB, 20 peserta KKN yang dampingi oleh satu dosen pembimbing diterima oleh Pak Camat dalam upacara sambutan ala kadarnya di ruang rapat. Upacara serah terima itu juga di hadiri oleh dua kepala desa yang akan di kunjungi. Kepala desa Layang dan Sindang Bungo


Rey dan teman-temannya masih terlihat segar dan penuh semangat. Mereka banyak berbagi hal baik menyangkut program kerja yang akan di laksanakan maupun pengalaman pribadi masing-masing.


Hanya Teta yang tetap memasang muka cemberutnya mulai dari pelepasan yang di lakukan oleh pembatu rektor 1 saat di kampus tadi pagi hingga sampai di lokasi tujuan.


Teta begitu kesal dengan Alex, upayanya agar bisa satu kelompok dengan ketua senat itu tidak membuahkan hasil. Ia sudah melakukan pendekatan dengan Pak Hendra agar bisa bertukar posisi dengan Rey, namun keinginannya itu tidak segera dikabulkan. Teta harus ijin dulu dengan Rey secara pribadi dan anggota kelompok yang lainnya.


Jelas saja solusi itu dianggap sebagai bentuk penolakan yang halus, meskipun Rey dengan senang hati mau berpindah kelompok namun Alex tidak menyetujuinya dengan alasan pembagian kelompok sudah ditentukan oleh pihak kampus.


"Modus aja, masa iya kampus mau ngurus sampe pembagian kelompok segala. Kalaupun iya, kan masih bisa digeser posisinya. Alasan," Teta masih tetap menggerutu sepanjang jalan.


"Apa juga alasan Alex tidak mau melepas Rey dari kelompoknya, coba? Apa dia sudah turun selera, menyukai cewek dari kelas reguler? Ih...enggak banget, deh!" Ocehnya lagi.


"Geser dikit, mbak. Ini bangkunya ga bisa bapak ke ubin," Rafa yang belum dapat tempat duduk mohon ijin pada Teta untuk merapatkan kursinya agar bisa bisa membuka satu kursi lipat lagi sebagai tempat duduknya.


"Di belakang aja kenapa, sudah mepet banget ini,"


"Bisa, geser dikit aja. Rapi depan aja patokannya," ujar Rafa masih bisa bersabar.


Teta tidak bergeming sedikitpun, ia malah asik dengan gedgetnya dan tanpa mengindahkan Rafa dan yang lainnya.


"Rafa, duduk dulu. Bentar lagi pak Camat masuk. Kursinya ada, kan?" Alex mengingatkan Rafa yang masih berdiri dengan tas ransel yang masih ada dipunggung nya.


"Kursinya ga muat bro, kalo aku di belakang juga sama"


Alex beranjak dari tempat duduknya, ia melihat susunan kursi yang seharusnya sudah cukup untuk mereka semua, yang sudah disiapkan oleh pihak kecamatan.


"Bisa ini, tinggal geser dikit. Liat susunan yang di depan juga begitu,"

__ADS_1


"Nah, itu masalah. Bos besar ga mau geser," Rafa memberikan alasan pada Alex sembari matanya melirik ke arah Teta.


"Please, dong. Jangan kekanak-kanakkan begini. Masa perkara tempat duduk saja kita harus merepotan orang sini," Alex menegur Teta dengan nada yang halus.


"Oh, aku yang dibilang kekanak-kanakkan. Lantas apa sebutan buat ketua yang tidak mengindahkan aspirasi kelompoknya,"


"Sttt..... Jangan di bahas lagi. Urusan kelompok sudah fix. Kita sudah ada di TKP, kalau kamu bersih keras pindah kelompok ya sudah, tinggal dituker aja. Kelompok satu jadi kelompok 2, atau sebaliknya,"


Teta makin kesal mendengar jawaban Alex, " sama aja boong," gerutunya dalam hati.


Dengan berat hati, Teta akhirnya mengalah lagi. Ia menggeser tempat duduknya agar kursi Rafa bisa masuk barisan menyesuaikan dengan yang ada di depan.


"Terimakasih," Alex mengucapkan kalimat itu tanpa memandang ke arah Teta sedikitpun. Ia kembali ke tempat duduknya masih dengan wajah yang kesal.


"Udah, dibawa santai aja. Teta masih ngambek perkara kelompok," Risya mengingat Alex yang sudah duduk di sampingnya lagi.


"Iya, kok kenanak-kanakkan banget,"


"Hemmmm....,"


Obrolan mereka tidak berlanjut karena Pak Camat dan stafnya sudah masuk ke ruang rapat terbatas.


"Maaf saya terlambat, tadi abis meninjau lokasi tambak yang akan menerima bantuan dari pemerintah,"


Pria yang berusia sekitar 50 tahun itu segera menghampiri pak Hendra dan satu staf perwakilan menjabat erat tangannya.


"Tidak apa-apa, Pak. Kami maklum dengan jadwal bapak yang begitu padat. Kami juga baru sampai kok," Buru-buru Pak Hendra menyambut keramahan pejabat daerah tersebut.


Seremonial serah terima mahasiswa KKN pun berlangsung lancar,tidak sampai satu jam acara sudah selesai. Sebagai bentuk penghormatan, Pak Camat menyajikan jamuan makan siang yang dipesan dari rumah makan khas daerah.

__ADS_1


"Daerah kita ini penghasil ikan, jadi menu andalan di sini menggunakan bahan dasar ikan," jelas Pak Camat sembari mengambil nasi dan menyerahkannya pada Pak Hendra.


"Silahkan, Pak. Yang ini namanya lempah kuning atau lempah nanas. Ikan yang dimasak ini adalah ikan kakap merah. Tapi ada juga yang menggunakan ikan tenggiri,"


"Lempah?" tanya Pak Hendra penasaran.


"Iya, ini disebut lempah kuning karena kuah kuningnya berasal dari kunyit dan nanas. Aroma terasi (belacan) membuat masakan ini semakin segar untuk dinikmati siang-siang begini,"


"Sekilas mirip sayur asem," ujar Pak Hendra yang masih penasaran.


"Betul, di sini ada dua jenis lempah. Lempah yg beisi ikan atau daging sapi dan yang berisi sayuran. Nah para pendatang banyak yang susah membedakan mana lempah mana sayur asem kalau isinya sayuran," sahut Pak Camat sembari tertawa.


"Cara membedakannya, ya dengan mencicipi," ujar pria itu lagi sambil menyeruput kuah lempah yang ada di mangkuknya.


"Betul....betul.....ide yang bagus itu," Pak Hendra yang sudah mengisi mangkuk kecil dengan satu potong ikan dan 2 potong potongan nanas itu juga mengikuti cara yang dicontohkan oleh Pak Camat. Menyeruput kuah lempah yang masih hangat dengan aroma yang menggugah selera makan.


"Ayo, adik-adik semua. Silahkan dinikmati. Jangan malu-malu, ya. Kalau kurang kita pesan lagi," Pak Camat menawarkan peserta KKN untuk segera menyerbu hidangan yang digelar ala prasmanan itu.


Pak Camat dan Pak Hendra beserta staf yang lainnya menikmati makan siangnya dengan suasana yang sangat santai. Sesekali terdengar canda tawa diantara mereka. Meskipun baru bertemu beberapa menit yang lalu, gaya pak camat yang supel nan ramah ini bisa membuat suasana layaknya keluarga besar yang sedang berkumpul.


*****


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏

__ADS_1


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊


__ADS_2