
Kinan, wanita yang aku nikahi lima tahun yang lalu memilih pergi. Ia meninggalkan aku dan putrinya, buah pernikahan kami. Devara.....
Aku tidak bisa menyalahkan Kinan sepenuhnya atas semua yang terjadi. Kinan perempuan yang cerdas, lulusan fakultas teknik pertambangan UGM dengan tingkat pencapaian cumlaude. Wajar saja jika ia punya impian mempunyai karier sesuai dengan disiplin ilmu yang didapat semasa kuliah.
Setelah ujian skripsi, aku mendapat undangan dari perusahaan tambang milik pemerintah. Diterima bekerja tanpa tes karena prestasi akademikku. Tawaran itu langsung kutangkap karena ini suatu kesempatan yang tidak dimiliki oleh teman-temanku di jurusan teknik pertambangan.
Dirasa sudah mempunyai pekerjaan tetap aku dan Kinan memutuskan untuk menikah. Kami tinggal di ujung sumatera sesuai dengan tempat tugasku.
Selang dua bulan, Kinan dinyatakan positif. Ia mengandung anak pertama kami. Statusnya sebagai istri dan calon ibu dari janin yang dikandungnya, cukup membuatnya panik.
Sejak awal memang sudah disepakati untuk menunda kehamilan, untuk itu aku mengizinkannya menggunakan alat kontrasepsi. Rupanya, takdir berkehendak lain. Ia dinyatakan hamil juga.
Akibatnya, beberapa panggilan wawancara yang ia lakukan, hanya berakhir pada jawaban yang mengecewakan. Ekspetasinya untuk dapat bekerja di perusahaan tambang yang bonafid terkendala oleh kondisinya.
Kehamilan itu semakin menambah beban baginya. Ia semakin putus asa. Hari-harinya selalu murung.
"Aku belum siap. Aku berharap bisa bekerja dan punya karier dulu. Kenapa jadi seperti ini? Semua terjadi diluar rencana!" keluhnya suatu malam. Ia menangis sesugukan sebelum tertidur lelap di pelukanku.
Aku begitu mencintai wanita ini. Sebisa mungkin aku memberi pengertian padanya, bahwa apa yang terjadi sudah menjadi kehendak-Nya. Mungkin Allah SWT punya rencana yang indah untuk dirinya.
Hadirnya anak di tengah keluarga, tidak berarti menutup kemungkinan bagi dirinya untuk bekerja. Ia bisa memulai kariernya setelah kelahiran anak kami. Usianya masih muda dan masih banyak perusahaan yang mau menerima pegawai meskipun berstatus menikah.
Apapun yang aku lakukan untuk menghiburnya tidak membuahkan hasil. Badannya semakin kurus, bahkan ketika cek up kehamilan dokter menganjurkan agar dia mengkonsumsi makanan bergizi agar janinnya tidak kurang gizi.
__ADS_1
Perhatian, kesabaran, dan kasih sayangku tidak bisa merubah keadaannya. Kondisinya semakin parah ketika putri pertama kami lahir. Hadirnya malaikat kecil yang begitu cantik dan lucu tidak membuat naluri keibuannya tersentuh.
Kinan sering histeris, menangis tanpa sebab dan suka berhalusinasi. Aku sering mendapati Kinan yang berbicara dengan dirinya sendiri. Kinan tidak ingin melihat atau menyentuh anaknya. Suara tangis anaknya pun tak mau ia dengar.
Aku memutuskan untuk membicarakan ini dengan psikiater terbaik yang ada di kota itu. Menurutnya, Kinan harus mendapatkan penanganan khusus karena kondisi psikosis (gangguan psikologis pasca melahirkan). Kondisi ini tidak hanya membahayakan dirinya sendiri tapi bisa membahayakan anaknya. Beberapa kasus yang terjadi, si ibu bisa bunuh diri bahkan menghilangkan nyawa anaknya dari muka bumi.
Menurut psikiater, kondisi psikosis pasca melahirkan yang dialami Kinan
tergolong cukup berat. Meski hal ini kerap dialami oleh ibu muda, namun jika dilihat dari catatan kesehatan Kinan yang sejak awal memang belum siap untuk mempunyai anak, maka butuh penanganan serius.
Keputusanku untuk melakukan terapi khusus pada Kinan setelah lebih dari tiga bulan tidak ada perubahan justru mengundang murka keluarganya.
Mendengar kata psikolog, psikiater, membuat mereka marah. Mereka protes padaku karena sudah menganggap Kinan, putri kesayangannya mengalami gangguan jiwa.
"Kurang ajar sekali, Kau. Memang anakku Ndak waras apa, pake dibawa-bawa ke psikiater," bentak ayah Kinan waktu itu.
Aku dihujani cacian dan kemarahan karena mereka berpendapat, setelah mendapat restu menikahi putri satu-satuya itu namun aku tidak bisa menjaganya dengan baik.
Meski sudah aku beri pandangan bahwa tidak semua yang datang dan butuh jasa psikiater itu adalah orang yang tidak waras alias gila, namun tidak mengurangi kemungkaran bapak dan ibu mertuaku. Ia malah menuduhku sebagai penyebab semua ini. Kinan kesepian karena aku sibuk bekerja dan alasan-alasan lain yang memojokkanku.
Akhirnya mereka membawa paksa putrinya kembali ke Jogjakarta. Devara yang berusia 4 bulan kala itu, masih butuh kasih sayang ibunya, mereka tinggal begitu saja.
Kasian Devara, buah cintaku dan Kinan tidak pernah mendapatkan belaian kasih sayang dan air susu dari ibunya. Kini ia
__ADS_1
sudah berusia 3 tahun sepuluh bulan, ia tumbuh sehat layaknya anak-anak seusianya. Aku sangat bersyukur sekali untuk itu.
Kejadian pilu lima tahun yang lalu, masih membuat hatiku perih jika mengingatnya kembali. Selama itu pula, ibu dan keluarga besarnya tak ingin mengetahui keberadaan kami.
Aku sudah berulangkali berusaha untuk mempertemukan mereka, semua nomer kontak Kinan dan Orangnya sudah tidak bisa dihubungi.
Aku juga pernah berkunjung ke Jogjakarta, waktu itu usia Devara sudah dua tahun. Foto-fotonya yang lucu ia berikan pada keluarga Kinan. Namun mereka dengan amat sangat memohon kepadaku agar jangan pernah membuka kisah kelam yang membuat luka hati putrinya menganga lagi.
Kinan sudah sehat, ia juga sudah bekerja dan mendapatkan posisi yang bagus di perusahaan pertambangan PMA (Penanaman Modal Asing).
"Aku mohon, jangan ingatkan Kinan pada masa kelamnya. Dia sudah mendapatkan apa yang dia cita-citakan. Biarkan dia bahagia. Bukankah Devara tumbuh sehat dan bahagia tanpa Kinan? Aku mohon, berbuatlah adil padaku. Biarkan putriku bahagia," Aku mendapati ibu mertuaku yang memohon padaku dengan beruraian air mata.
Sejak itu aku memutuskan untuk tidak kembali lagi ke sana. Beberapa bulan kemudian, aku menerima surat yang dikirim oleh bapak mertuaku. Surat cerai. Mereka sudah memisahkan aku dan putrinya secara sepihak.
Mungkin karena mendapatkan perhatian penuh dariku serta kasih sayang Oma dan tantenya, Devara jarang sekali menayangkan keberadaan ibunya. Bisa dibilang hampir tidak pernah*.
"Papa......Papa.....," teriak bidadari kecilku diiringi bunyi sendal yang menapapi anak tangga. Terdengar suara Rey yang meminta agar Devara tidak berlarian.
Seketika lamunan itu tersapu oleh wajah Devara yang menggemaskan. Senyumku langsung mengembang. Aku segera bangkit dari tempat tidurku, membukkan pintu untuknya.
"Papa, ayahnya Soo An jadi zombie, Pa. Trus mati. Soo An sama tente yang lagi hamil," seru anak itu dengan sedihnya ketika Wibie membuka pintu kamar dan menyambut tubuhnya yang montok itu. Wibie mengangkat tubuh Devara dan mengecup pipinya yang gembil.
"Papa, kita ga usah cari mama lagi,deh. Aku takut kita ketemu zombie.....trus papa mati...Defa sama siapa? Defa mau di sini aja, trus Kak Rey aja yang jadi mama Defa. Bolehkan?" ucap anak itu dengan polosnya. Mukanya masih terlihat sedih, mebahas nasib yang menimpa Soo An pada film Train to Busan yang baru selesai ditontonnya.
__ADS_1
Seketika itu juga Wibie menatap Ray yang masih berdiri di pintu kamarnya. Rey terlihat kikuk dan wajahnya bersemu merah. Wibie sempat menangkap tatapannya yang begitu teduh sebelum ia tertunduk malu.
Ada debar yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya. Debar dan aliran darah yang terasa saat ini bukan yang utama, namun kedekatannya dengan Devara yang membuatku berucap doa. Berharap apa yang diucapkan Devara itu benar-benar disetujuinya. Rey mau menjadi ibu sambung Devara.