Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Party Tipis-Tipis


__ADS_3

Sepekan ini Rey fokus pada ujian Nasional. Ibu juga cukup bersahabat dengan keadaan ini, ia mengurangi tugas Rey yang rutin dilaksanakan setiap hari.


Namun sebagai anak yang baik, Rey tetap membantu ibunya untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari meski ibu tidak memintanya. Rey tetap mengantar jemput cucian meski tidak sebanyak hari biasanya.


Karena Rey pulang lebih awal dari jadwal sekolah biasanya, ia masih punya waktu untuk sekedar mengulang soal-soal yang sudah dibahas oleh guru-guru PM-nya.


Sore hari ia tetap wara-wiri antar jemput cucian. Hingga hari keempat Rey bisa menjalankan semuanya dengan baik. Bisa menyelesaikan ujian dan tetap membantu pekerjaan orang tuanya.


Jumat adalah hari terakhir ujian, Rey sudah minta izin pada ibu untuk pulang agak terlambat karena akan kumpul dengan teman-temannya di kafe untuk refreshing. Ia berjanji akan sampai di rumah sebelum Azar.


"Bu, selesai ujian teman-teman ngajakin kumpul. Aku pulang agak telat, ya?" ijin Rey pada ibunya pagi tadi. Sebelum ia berangkat ke sekolah.


"Iya, tapi jangan sampai larut. sebelum Azhar kau harus sudah di rumah," jawab ibunya


"Baik,Bu. Terimakasih," sahut Rey dengan girang.


Tidak ada kesulitan bagi Rey untuk menjawab soal-soal yang tersaji di layar monitor di depannya. Ia bisa menjawab semua soal sesuai dengan waktu yang ditetapkan.


Ia bisa tersenyum lega. Tugasnya sebagai siswa SMA sudah ia jalani dengan baik. Setelah ini ia tinggal menunggu keajaiban.


"Alhamdulillah, lancar," teriaknya begitu lega.


"Apapun hasilnya, yang penting aku sudah berusaha semaksimal mungkin,"


Rey segera membereskan alat tulisnya dan memasukkannya dalam tas. setelah tidak ada yang tertinggal ia tetap duduk dengan tenang. Belum waktunya meninggalkan ruang ujian.


"Masih ada 10 menit lagi," bisik Rey dalam hati.

__ADS_1


Ia melihat sisi kanan kirinya, beberapa temannya masih ada yang belum menyelesaikan ujian. Ada juga yang sudah duduk termenung berangan- angan.


Begitu juga dengan Rey. Sembari menunggu bel tanda ujian selesai berbunyi, ia memilih untuk diam dan merenung.


Ia berharap ibu akan berubah pikiran. Ibu dan ayahnya bisa memberikan izin kepadanya untuk melanjutkan kuliah di Jakarta. Ia ingin sekali mewujudkan cita-cita nya sebagai wanita yang mandiri.


"Mudah-mudahan Ibu mengizinkanku ke Jakarta," bisik Rey dalam hati.


Hingga saat ini, izin itu belum ia dapat. Ibu masih tetap pada pendiriannya. Ia sudah punya rencana lain terhadap hidupnya.


Setelah tamat SMA, Aldy berencana akan menikahinya. Meski ayah kurang setuju, namun ayah tidak bisa menolok keinginan ibu. Bagi ibu ini adalah sesempatan yang mungkin tidak akan pernah datang lagi padanya.


Aldy yang bisa dikatakan sudah mapan secara materi dan bisnis keluarga yang dikelolanya sudah terbukti cukup berkembang dari waktu ke waktu akan mampu memberikan kehidupan yang lebih baik pada Rey dan keluarga.


Aldy juga tidak keberatan jika Rey akan meneruskan kuliah. Namun ia menginginkan mereka menikah dulu secara gereja kemudian Rey bisa melanjutkan kuliah di kota itu dan seluruh biasa akan ditanggung oleh Aldy sebagai suaminya.


Meski itu cukup memberi angin yang segar di telinga Ray, namun hati kecilnya berkata lain. Rey tidak ingin menikah muda apalagi dengan pria yang berbeda keyakinan. Ia lebih memilih untuk membiayai kuliah nya sendiri dan meninggalkan kota ini untuk meraih mimpi.


"Aldy sudah menunggumu 2 tahun. Ibu akan segera menikah kalian,"


"Rey tidak keberatan, Bu. tapi bagaimana dengan keyakinan mereka yang beda dengan kita?" tanya Rey saat itu.


"Aldy sudah menyetujui. ia akan menguji semuanya,"


Aldy sudah menunggu dengan setia gadisnya itu selama dua tahun ini hingga selesai SMA, kenapa ia harus emosi jika harus menunggu beberapa saat lagi. Bukankah Rey juga selalu bersikap manis padanya.


Pikiran itu menjadi prioritas yang memenuhi otak Rey usai ujian. Bagaimana ia bisa menghindari Aldy.

__ADS_1


Ketika teman-teman di kelasnya teriak bebas usai menyelesaikan ujian terakhir, Rey malah sesak nafas selama ia masih dalam pusaran perdebatan dengan ibu dan bagaimana ia bisa melepaskan diri dari Aldy tanpa harus merusak hubungannya dengan ibu yang teramat baik selama ini.


******


Saat merayakan pesta usai ujian bersama teman-temannya di kelas IPA, Rey merasa ada yang mengawasi.


Dari ruang VIP kafe, ia menangkap sesosok pria yang ia kenal melihat ke arahnya. Untuk meyakinkan penglihatannya itu, Rey melihat orang itu dari jarak yang lebih dekat. Benar saja, ternyata orang yang ada di ruang dalam itu, yang dipisahkan oleh dinding kaca dari tempatnya berdiri adalah pria yang menghuni mes 105.


"Bukankan dia bilang akan di Jakarta hingga Minggu ini. Kenapa hari Jumat sudah nongkrong di kafe ini. "Ih....pembual sekali bapak-bapak itu,"


Tak ambil pusing dengan keberadaan pria itu. Rey kembali berbaur dengan teman-temannya. Ia tertawa-tawa, ngobrol seru-seruan dan ikut karaoke di ballrom kafe.


Hingga ia tidak menyadari saat pria yang ada di ruang VIP itu sudah berada di sisinya. Tentu saja hal ini mengundang lirikan dan senyum-senyum menggoda dari teman-temannya yang ada di situ.


"Rey, cowok kamu ya?"


Seloroh salah satu temannya. Pria itu hanya senyum simpul dan menangkap senyum dengan mimik terpaksa dari wajah Rey yang penuh kebingungan.


"Sudah sejak Rabu lalu aku di sini. Tapi aku tinggal di hotel. Jika kamu mau menyelesaikan janjimu secepatnya, aku bisa segera pulang ke mess lagi," bisik pria itu yang samar-samar terdengar oleh teman yang ada di samping Rey.


"Rey, kamu janji apa dengan om ini," canda temannya itu dengan melempar muka sedikit ke arah pria itu.


Pria itu tersenyum manis. Ia segera pergi dari tempat itu dan meninggalkan tanda tanya dari teman-teman Rey yang ada di situ. Langkahnya dikuti oleh dua orang pria yang mengenakan seragam yang serupa dengan pria itu.


"Bukan siapa-siapa. Dia itu pelanggan ibu saya. Minggu ini saya sudah janji akan membantu merapikan rumahnya. Cuma itu saja kok. Aku juga tidak kenal siapa namanya," jelas Rey berusaha menjawab rasa penasaran dari teman-temanya.


"Meski sudah dewasa, dia tampan sekali Rey. Apa dia pria beristri?"

__ADS_1


"Mana kutahu. Aku cuma diberi tugas mengambil dan mengantar cucian di karena menggunakan jasa laundry ibu," teriak Rey sedikit kesal.


Tinggkah lucu itu mengundang tawa teman-temanya. Mereka sudah hafal dengan sifat Rey. Meski ia terkesan tomboy dan cuek, namun ia kerap malu-malu jika diusik terkait urusannnya dengan lawan jenis.


__ADS_2