
Sejak pagi, ibu sudah berpikir keras. Bagaimana ia akan menghadapi Aldy. Ia tidak mungkin menceritakan hal yang sebenarnya. Bisa-bisa Aldy akan marah besar. Ibu sudah tau karakter Aldy yang begitu posesif terhadap Rey.
"Haduh, bagaimana, Ya?"
"Jika aku cerita yang sebenarnya, sudah pasti Aldy akan memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahan itu," pikir ibu lagi.
Ibu terlihat mondar mandir di ruang laudry untuk mencari alasan yang tepat. Bagaimana ia bisa meyakinkan Aldy bahwa Rey masih ada kesempatan untuk kembali padanya?
Jika ia diam, cepat atau lambat Aldy akan menghubunginya. Ia akan mencari tau, kenapa Rey tidak datang ke tokonya pagi ini? Padahal mereka sudah membuat kesepakatan, agar hubungan mereka semakin dekat Rey akan membantu Aldy di toko sembari menunggu hari pernikahan itu tiba.
"Duh bagaimana ini?" pikir ibu sembari memijit-mijit kepalanya yang tidak berasa sakit.
"Aku harus punya alasan yang tepat agar tidak ada keributan. Aldy tidak boleh tau jika Reyna kabur dari rumah," bisik ibu dalam hati.
Setelah mempertimbangkan segala sesuatunya, akhirnya ibu mengambil suatu keputusan yang menurut sudah menjadi solusi terbaik.
Ibu memutuskan untuk menelpon Aldy. Ia tidak punya keberanian menampakkan mukanya di depan Aldy karena khawatir Aldy bisa membaca kobohongannya. Untuk itu, lebih aman jika ia berkabar lewat telpon saya.
"Tut...Tut..." nada panggilan ke nomer Aldy berbunyi.
Telpon itu tidak diangkat hingga panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Ibu mengulangi panggilannya lagi.
Setelah beberapa kali panggilan ibu tidak di jawab, akhirnya ibu bisa tersambung dengan calon mantunya itu.
"Ada apa, Bu?" tanya Aldy singkat.
"Maaf, Koh. Ibu tadi pagi sudah ke toko tapi kamu lagi sibuk sekali. Ibu tidak mau mengganggu," Ibu mencoba memberi penjelasan sebelum ia mengungkapkan apa yang ingin ia sampaikan, dengan harapan Aldy bisa menerima alasannya.
"Iya, Bu. Ada apa ya?" tanya Aldy masih dengan suara yang terdengar begitu datar.
"Maaf ya. Ibu baru berkabar sekarang. Rey semalam dijemput oleh tantenya," Ibu memberi alasan.
Tidak ada tanggapan dari Aldy. Ibu melanjutkan penjelasannya kembali.
" Adik ayahnya Rey yang menjeputnya. Kakeknya sakit keras. Karena adik Ayah Rey satu-satunya itu kerja jadi tidak ada yang menjaga kakeknya di rumah sakit. Ia minta Rey untuk menjaga kakeknya sementara waktu," jelas ibu memberikan alasan dengan kalimat yang kurang tertata karena bingung.
__ADS_1
Aldy hanya diam. Cukup lama tidak ada sahutan dari sebrang. Ibu jadi bingung atas reaksi Aldy.
"Apa dia tau kalau aku berbohong?" pikir ibu.
"Halo," panggil ibu.
"Sampai berapa lama Rey di sana?" tanya Aldy begitu ibu memanggilnya lagi.
"Secepatnya jika kakeknya sudah sembuh," jawab ibu.
"Apa Rey membawa ponselnya?" tanya Aldy lagi.
"Haduh! Mati aku," teriak ibu dalam hati.
"Tidak. Ibu lupa memberikannya. Semalam tantenya terburu-buru. Rey hanya punya waktu untuk menyiapkan beberapa baju ganti saja," jelas ibu berusaha tenang.
"Baiklah Bu. Saya harap Rey cepat kembali,"
Setelah ibu mendengar kalimat itu, tidak terdengar suara apapun. Aldy sudah menutup telponnya.
"Tidak ada sopannya sama sekali,"
"Aku sudah berkeringat dingin membuat alasan, responnya cuma segitu doang. Dasar sundel," gerutu ibu begitu kesal.
Sekarang ini yang ia pikirkan, bagaimana ia menemukan Rey dan membawanya kembali ke pelukan Aldy. Impiannya untuk mendapatkan menantu yang kaya sudah di depan mata. Ia tidak mau usahanya selama ini menjadi sia-sia.
"Ya sudahlah. Memang sifatnya sombong mau diapakan lagi. Yang penting untuk sementara waktu, aman," pikir ibu lagi. Ia mencoba menghibur diri dari sikap sombongnya Aldy.
*******
Hari ini tenaga dan pikiran ibu benar-benar terkuras karena hilangnya Rey yang kabur tanpa pesan.
Ibu juga sudah mendatangi rumah Rina yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Ibu datang untuk mencari tau keberadaan Rey karena Rina cukup dekat dengan putrinya. Setiap pulang sekolah Rey sering nebeng pulang bareng. Sesekali Rey juga suka menginap di rumah Rina untuk mengerjakan tugas.
"Semua teman dekat dekatnya tidak ada yang tahu dimana Rey. Kemana anak itu? Apa ia sudah kabur meninggalkan kota ini?"
__ADS_1
Untuk memastikan itu, Ibu menelpon Rina kembali. Ia ingin memastikan apakah Rey sempat menceritakan sesuatu padanya.
Namun ibu terpaksa menelan kekecewaan. Dari penjelasan Rina, Rey justru buru-buru hendak pulang ke rumah dengan alasan harus membantu ibunya.
Banyak laundry yang harus ia antar ke pelanggan. Untuk itu Rey menolak ketika Rina dan teman-teman sekelasnya mengajak Rey hangout ke kafe pinggir Lematang.
"Sudah bisa berbohong rupsnya, ya!" Ibu semakin geram pada Rey ketika mendengar penjelasan dari Rina.
Ibu tidak menyerah begitu saja. Masih ada satu teman Rey yang akan ia temui. Meski Ibu tidak ingat siapa nama anak itu, namun ibu tau orang tuanya membuka usaha kedai makan di pinggir sungai, lokasi wisata di kota ini. Cukup jauh juga untuk bisa mencapai lokasi itu.
Akhirnya, ibu ingat sesuatu. Ibu mencari tau no telpon kedai itu dengan cara browsing di internet. Barang kali keday ini juga mendaftar usahanya di pusat kuliner khas daerah Sumatera Selatan. Benar saja, dengan mudah ibu bisa menemukan no telepon yang dimaksud.
Tidak menunggu lama ibu dapat terhubung dengan orang tua si anak. Ibu segera menanyakan apakah putrinya sedang main ke rumah mereka? Tentu saja ia tidak cerita jika anaknya menghilang sejak semalam.
Lagi-lagi ibu harus kecewa. Menurut keterangan ibu tersebut, anaknya justru sedang tidak ada di Lahat. Sudah sejak seminggu yang lalu pergi ke Jogya ikut bimbel untuk mempersiapkan diri masuk ke perguruan tinggi. Ijazahnya saja belum diambil kemarin.
"Ya Allah, Rey benar-benar kabur dari rumah. Kenapa ia merencanakan hal ini?"
"Sebelum berangkat sekolah, ia terlihat baik-baik saja. Bahkan ia mohon pamit mau ke toko harapan untuk membantu Aldy,"
"Apa mungkin Aldy berbuat sesuatu yang membuat anak itu begitu ketakutan dan kabur dari kota ini?"
Ibu jadi putus asa. Dimana ia bisa menemukan putrinya itu. Ibu mondar-mandir sembari memijit-mijit lagi keningnya. Entah ia pusing atau sedang berpikir keras.
Bisa jadi keduanya sedang menghinggapi ibu saat ini hingga ia lupa jika sejak pagi ia belum makan sama sekali.
Satu-satunya jalan, ibu akan ke sekolah Rey. Ia akan memastikan apakah anak itu mengambil ijazahnya kemarin siang.
"Besok aku akan ke sekolahmu, Rey?"
Sudah tidak ada yang bisa membantuku menemukanmu.
"Terlalu, kau begitu tega pada ibumu,"
Air bening itu mengalir dari sudut mata ibu. Ia begitu sakit atas perlakuan Rey padanya.
__ADS_1