Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP.47 Risya


__ADS_3

[ Tok....Tok...Tok....] Alex mengulangnya lagi. Entah sudah berapa kali kegiatan itu diulangi nya lagi. Ia tetap sabar menunggu di depan pintu hingga pintu itu terbuka.


[ Tok....Tok....Tok...]


"Rey, kamu di dalam kan? Buka pintunya. Ini Alex," akhirnya ia bersuara karena sudah lelah menunggu. Alex berharap setelah ia memanggil namanya, perempuan itu segera membuka pintu untuknya.


Tanpa terdengar suara apapun, tiba-tiba pintu itu terbuka, Rey uang masih terisak menghamburkan diri ke arah Alex.


"Bruk....,"


"Pak Gun, Lex," ujarnya masih dengan suara Isak yang menyayat.


Alex yang tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti itu, hanya berdiri terpaku di depan pintu. Sementara Rey sudah memeluknya sejak beberapa saat yang lalu.


"Iya, aku ke sini karena itu. Sudahlah, dia sudah pergi," akhirnya Alex memberanikan diri mengelus-elus punggung Rey agar ia bisa lebih tenang.


Beberapa saat kemudian, Alex melepaskan pelukan Rey. Membimbing wanita itu menuju ke sisi tempat tidur. Ia sendiri duduk di sofa, persis di depan Rey yang bersimbah air mata.


"Kurang ajar sekali. Dia hampir memperkosa aku," tangis Rey pecah kembali.


"Udah, jangan sedih. Aku liat dia sudah kabur. untung petugas hotel mau kasih tau kalau kau ada di kamar ini," hibur Alex.


"Dia ditelpon seseorang, kemudian mendadak pergi,"


"Itu cara Allah memberikan pertolongan padamu. Sekarang sudah aman. Jangan pikirkan dia lagi," pinta Alex yang tidak tahan melihat kesedihan di wajah Rey.


Alex bingung, bagaimana caranya menghibur perempuan ini, apalagi yang ada di depannya sekarang adalah istri orang. Meski hatinya ingin sekali meraih Rey ke dalam dekapannya, namun ia harus tahu batas. Alex hanya bisa memandang Rey penuh haru.


Rey terus terisak, meskipun ini bukan peristiwa pertama yang dialaminya,tetap saja ia begitu takut. Bayangan ketika Aldy ketika melakukan hal serupa padanya empat tahun lalu terbuka kembali.


"Kenapa harus selalu seperti ini?" Isak Rey makin menjadi.


"Semua ada hikmahnya, kenapa harus seperti ini, aku juga tidak tahu. Sabar, ya!"


Alex melangkah ke arah meja yang ada di dekat jendela, ia mengambil botol air mineral yang masih tersegel dan memberikan pada Rey.


"Minumlah,"


Rey menerima botol itu namun membiarkannya dalam genggaman. Menyadari kebodohannya, Alex mengambil lagi botol itu, membuka tutupnya dan kemudian menyerahkan kembali pada Rey.


"Minumlah," ucapnya sekali lagi.


Rey segera meneguk air itu hingga tersisa setengahnya. Botol plastik itu tetap dipegangnya walaupun ia sudah tidak ingin meneguk lagi isinya.


"Aku ikut prihatin," seru Alex. Ia kembali duduk di sofa tadi.


"Bagaimana kau bisa ke sini?" tanya Rey dengan suara seraknya.


"Ceritanya panjang, yang penting kau tidak apa-apa,"


"Aku akan cerita jika kau sudah tenang. Tidurlah. Sepertinya kau begitu kelelahan,"


Tiba-tiba Rey ingat sesuatu, ia melihat jam tangannya. ternyata sudah cukup lama ia di kamar ini sejak Pak Gun kabur begitu saja.

__ADS_1


"Dimana Risya?" tanya Rey.


"Aku tidak melihatnya sejak tadi," sahut Alex berbohong.


"Tadi Pak Gun menyuruhnya ke toko depan membeli flashdisk dan kopi. Tapi ini sudah lebih 30 menit, kenapa dia belum kembali?"


"Oh..... , Tidurlah Rey, rebahkan dirimu sebentar. Aku akan turun, cari Risya,"


"Lex," panggil Rey sebelum Alex melangkah meninggalkan kamar itu.


"Terimakasih, aku tidak tahu dengan apa membalas kebaikanmu," lanjut Rey begitu Alex berdiri di depannya.


"Aku tidak melakukan apapun. Semua hanya kebetulan," Alex menepuk pundak Rey dengan pelan.


"Aku turun dulu, ya. Sambil menunggu kau bisa istirahat. Jangan pikirkan kejadian tadi,"


********


[ POV Risya ]


Risya menuju ke toko yang direkomendasikan oleh Pak Gun, ternyata di situ tidak menjual flashdisk. Berdasarkan info dari petugas keamanan, toko yang menjual barang tersebut justru ada di sebrang jalan, sekitar 300 meter dari hotel.


Karena terlanjur jalan, Risya menuju ke tempat yang dimaksud. Namanya juga di daerah, begitu sampai di toko yang kedua Risya juga harus kecewa, flashdisk habis.


Terpaksalah dia muter-muter pertokoan dan baru bisa menemukan barang yang dicari pada toko yang ke empat.


Buru-buru Risya kembali ke hotel khawatir sudah ditunggu oleh Pak Gun. Ketika ia masuk ke area parkir, ada suara orang yang memanggilnya. Suara yang begitu dikenalnya.


"Risya," pria itu menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.


"Buruan, antar saya ke bandara,"


"Bandara? Pake motor? tanya Risya meyakinkan.


"Saya yang bawa biar cepet," Pak Gun segera mengambil alih stir dan minta Risya untuk bergeser ke belakang.


Dengan wajah yang penuh kebingungan, Risya hanya bisa mengikuti apa yang dimaui oleh dosennya itu.


"Tolong pesankan tiket ke Jakarta? Pesawat terakhir jam 17. 00. Jangan sampai telat,"


"Iya, Pak"


"Sedapatnya aja, ya!" Pak Gun terus saja merancau sembari mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


"Jangan ngebut-ngebut, Pak. Saya takut,"


"Kau tidak usah takut. Jalanan ga sepadat di Jakarta,"


"Iya, Pak. Tapi kurangi dikit ya. Saya ga bisa browsing nih. Terlalu ngebut,"


Pak Gun mengurangi kecepatannya sedikit saja sehingga penumpang tidak terlalu goyang.


" Gimana?"

__ADS_1


"Ada pak, masih ada 5 lagi kok,"


"Buruan pesan,tiba di sana bisa langsung bayar,"


"Baik, Pak,"


"Hah.....ni orang bikin aku pusing aja. Mendadak minta dicariin flashdisk, mendadak minta diantar ke bandara. Bentar minta apa lagi, nih?" Risya yang masih duduk di jok belakang tidak henti-hentinya ngedumel.


Selang beberapa menit kemudian mereka tiba di bandara, Pak Gun langsung turun dari motor dan menyerahkan kemudi pada Risya.


"Saya langsung masuk. Terimakasih, ya," Pria itu pergi begitu saja setelah sampai di tujuan. Meninggalkan Risya yang masih bengong di depan pintu masuk. Pak Gun terlihat berlari memasuki pintu gerbang menuju ke arah resepsionis.


"Hah ...," Risya membuang nafas sembarang.


"Terus aku kemana, nih? Balik ke hotel atau langsung ke rumah?"


Risya membuka WA, ternyata ada pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Alex.


"Kamu di mana, Sya?"


Bunyi pesan yang ditulis ketua kelompoknya itu.


"Hallo, aku ada di bandara, nih. Abis nganterin Pak Gun. Aku ga tau nih, mau langsung balik atau jemput Rey dulu di hotel?" Ujar Risya setelah Alex mengangkat telponnya.


"Aku ada di hotel sekarang,tadi mendadak dihubungi Pak Gun. Kalau mau pulang ga apa, biar Rey sama aku," jawab Alex sedikit berbohong.


"Hah ... ada-ada aja tuh orang. Gua ditodong suruh anter ke bandara," keluhnya.


"Dia di telpon keluarga. Mungkin ada sesuatu yang penting," Alex memberi alasan itu agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Oh, jadi aku langsung pulang aja, nih?" Risya meyakinkan lagi.


"Iya, aku juga mau pulang. Lagi nungguin Rey nyelesain tugas Pak Gun," Alex berbohong lagi.


"Ok,"


Risya menutup telponnya. Kini ia bingung mau ambil jalur ke mana jika mau pulang ke rumah. Sebelum salah mengambil arah, ia bertanya pada tukang ojek pengkolan yang mangkal tidak jauh dari situ.


*****


Alhamdulillah bisa nambah update lagi Happy reading all! Jangan lupa tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih.


Kunjungi juga novelku yang lainnya ya, yang berjudul :


I am Feeling Blue

__ADS_1


Bukan Yang Pertama


Barangkali kalian berkenan. Terimakasih!!!


__ADS_2