
"Bagaimana kabar Devara?"
Chat masuk dari ibu. Tidak seperti biasanya. Jika ada sesuatu atau sekedar bertanya kabar ibu selalu menelponku.
"Cucu Oma baik-baik saja. Dia begitu senang dengan kehadiran Rey di rumah ini. Kian hari hubungan mereka kian dekat" Wibie menjawab dengan yang sebenarnya.
"Senin kamu akan kembali?" tanya ibu lagi
"Iya. Setelah mengantar Devara ke sekolah tentunya. Aku ingin dia merasakan kehadiran orang tua di hari pertamanya sekolahnya,"
"Maafkan ibu, Nak. Adikmu juga perlu di dampingi. Ini kelahiran anak pertamanya. Ibu harus memastikan kondisinya baik-baik saja,"
"Iya, Bu. Wibie faham,"
Cukup lama ibu terlihat sedang mengetik, namun tak kunjung selesai.
"Bie,"
Sebuah panggilan singkat. Padahal cukup lama aku melihat ibu sedang mengetik sesuatu.
"Pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan?" tanyaku dalam hati.
"Iya,Bu," balasku dengan singkat.
Cukup lama aku menunggu balasan. Ibu masih online, lagi-lagi ia sedang mengetik.
"Rey anak yang baik. Ibu rasa ia cocok denganmu, Nak,"
Sebuah balasan yang aku tunggu terkirim. Seketika aku cukup kaget membaca apa yang ibu katakan itu.
"Iya, Bu. Tapi Rey masih ingin kuliah. Lagi pula aku belum yakin dengan perasaanku,"
"Bicarakanlan dengannya. Ibu yakin anak itu lebih dewasa dari usianya,"
"Iya,Bu" balas Wibie lagi
"Pikirkan Devara, sayang. Ibu tidak mungkin bersama kalian selamanya,"
Jujur saja, kata-kata ibu yang terakhir sangat membuat aku teriris. Memang benar apa yang diucapkannya.
Selain aku dan Devara, ibu juga harus berbagi perhatian dengan adikku dan calon bayinya. Mengingat kami tinggal di kota yang berbeda, itu semakin menyulitkan ibu.
Selama ini aku juga sudah merepotkan ibu. Dimasa tuanya, ia harus direpotkan dengan urusan cucu.
"Iya,Bu. Akan Wibie pikirkan,"
"Secepatnya ya, sayang,"
"Maaf, ibu tidak menelponmu. Khawatir Witha mendengar percakapan kita. Ibu tidak mau dia merasa bersalah. Sejak ibu datang yang dipikirkan hanya Devara. Ia begitu mengkhawatirkan keponakannya itu. Takut Devara tidak ada yang mengurus," jelas ibu lagi, sebelum ia mengakhiri percakapannya
"Iya,Bu,"
Jawabanku masih terbaca oleh ibu. Namun ia tidak membalasnya.
Wibie menghela nafas panjang. Ia meletakkan HP-nya di atas nakas, di sisi tempat tidurnya.
Dipandanginya Devara yang sudah terlelap di sampingnya. Mukanya yang begitu polos semakin membuat Wibie begitu sedih.
__ADS_1
"Memang benar apa yang dibilang ibu. Mungkin sudah waktunya aku menikah lagi. Devara butuh sosok ibu yang bisa memberinya perhatian dan kasih sayang," bisiknya pelan.
Wibie melihat jam dinding yang menggantung di atas pintu kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Meski sudah selarut ini, matanya belum bisa terpejam. Apa yang dibicarakan ibu benar-benar mengusik pikirannya.
*Ilustrasi Tokoh Wibi*e
*******
"Saat ini ibu harus berbagi waktu antara Devara dan adikku Witha. Ia akan melahirkan minggu-minggu ini. Jadi ibu harus siaga di Surabaya," Wibie diam sejenak. Ia meraih cangkir kopinya dan meneguk sisa minumannya dengan tenang.
"Yang paling aku khawatirkan di dunia ini hanya anakku, Devara. Sejak lahir ia tidak mengenal ibunya. Ia tumbuh dan besar bersamaku terutama ibu. Dia yang merawatnya,"
"Sekarang ibu tidak disini. Aku begitu khawatir meninggalkan dia untuk waktu yang lama," Muka Wibie tiba-tiba menjadi murung.
"Memang bapak mau kemana?" tanya Rey dengan polosnya
"Aku kan harus kembali ke lapangan. Dua Minggu bukan waktu yang singkat, loh,"
"Eh, iya. Maaf,Pak. Aku lupa," Rey buru-buru minta maaf karena ia melihat muka Wibie yang mulai kesal
"Bapak jangan khawatir, aku akan menjaga Devara selama bapak pergi. Kan ada Bu,Fat juga," Rey berusaha menghibur dengan menawarkan solusi
"Tentu saja aku belum tenang. Devara yang masih kecil, ditinggal cukup lama oleh keluarga dekat dengannya. Siapa yang tidak khawatir?"
"Rey, apa kau mau menikah denganku. Menjadi ibu sambung untuk Devara?" Wibie menangkap penuh pandangan Rey yang ada di depannya.
Seketika Rey tergagap. Ia tidak menduga jika arah pembicaraan pak Wibie akan bermuara ke sini.
Sejenak Rey menegang daun telinga, menekannya dengan telunjuk kemudian melepasnya kbali. Rey ingin memastikan pendengaran tidak sedang terganggu, mungkin tertutup oleh kotoran di telinganya.
"Menikah?" ulang Rey lagi
Rey memasang pendengarannya baik-baik. Wibie menatap tajam ke arahnya. Mengamati tingkah gadis itu dengan pandangan yang tajam.
"Iya!" jawab Wibie dengan tegas
Rey menggigit bibirnya. Menundukkan wajahnya dalam-dalam.
"Apa pria ini benar-benar serius dengan ucapannya?" Bisik Rey dalam hati
"Kenapa bapak memilih saya," tanya Rey. Kali ini ia ingin sekali mendapat jawaban yang jujur kenapa Wibie tiba-tiba memintanya untuk menjadi istrinya.
"Kau berhutang banyak padaku. Aku sudah cukup baik tidak menagih semuanya dalam waktu dekat. Dan yang paling penting dari semua itu, aku sudah membantumu lepas dari Aldy, apa kau tidak mau membalas Budi padaku?" Kini nadanya mulai tinggi.
"Hanya itu?" tanya Rey sekali lagi. Ia ingin memastikan hati pria yang ada di depannya itu.
"Karena Devara sudah nyaman denganmu," tambahnya lagi
"Hanya itu?" Desak Rey lagi.
__ADS_1
"Aku harus jawab apa lagi. Kau sudah membuatku kesal,"
"Kenapa bapak tiba-tiba menjadi marah. Aku kan hanya ingin memastikan, alasan bapak ingin menikah denganku,"
"Kau selalu mendesakku. Aku sudah memberikan alasannya. Apa itu masih kurang?" Tanyanya lagi dengan nada yang begitu ketus
"Kita sedang membicarakan pernikahan, Pak. Hal yang akan membuat kita terikat seumur hidup. Apa cukup dengan alasan itu saja," Kali ini Rey bicara dengan nada yang tegas.
"Untuk apa kita menikah jika kita berdua tidak benar-benar menginginkan," tambahnya lagi.
"Aku tidak tau apa yang kau maksud dengan ucapanmu?"
"Berapa usia bapak sekarang?" Tanya Rey sedikit kesal
"27" jawabnya singkat
"Ah, ternyata usia tidak menjamin seseorang bisa berpikir rasional," Rey berseloroh sekenanya
"Apa kau bilang? Aku minta kau jadi istriku itu tidak rasional?" Tanya Wibie lagi. Kali ini dengan tatapan yang lebih tajam
"Ah....bukan itu maksudku. Kau mau menikahiku karena kau menuntut balas budi dan karena anakmu sudah nyaman denganku. Apa itu alasan yang rasional buat pria dewasa dalam memilih istri?" tanya Rey lagi. Kali ini dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Aku rasa, ini bukan suatu pernikahan. Lebih tepatnya bisa dikatakan sebagai kesepakatan bisnis,"
Wibie terdiam. Rey memang benar. Sangat egois sekali jika ia menikahi gadis ini hanya untuk alasan itu.
"Maafkan aku. Aku bukan orang yang pandai berkata-kata. Termasuk dalam hal ini. Terus terang aku gugup, aku juga belum siap untuk itu. Ibu memintaku. Dia pikir kau begitu menyayangi Devara. Untuk itu ia mendesakku agar aku secepatnya membicarakan hal ini,"
"Ya, Allah...bukan itu maksudku. Alasan itu bisa aku fahami dan itu tidak memberatkanku. Aku hanya ingin kau bilang, kau menikahi ku karena memang menginginkanku," pekik Rey dalam hati. Kali ini dia begitu kesal.
"Bagaimana dengan Pak Wibie sendiri, apa bapak juga menginginkan aku untuk menjadi istrimu?"
"Kenapa jadi muter-muter begini. Kan sudah kubilang. Aku ingin menikahimu. Kau tinggal jawab saja. Mau apa tidak?"
Rey semakin kesal. Rupanya Wibie tidak lekas tanggap dengan apa yang ada di kepalanya.
Rey berpikir keras. Jika ia menolak lamaran ini bagaimana dengan pekerjaan yang baru saja ia nikmati dan juga kuliahnya.
Wibie pria yang baik. Selama ini dia memperlakukannya dengan baik. Jika ia harus membalas kebaikan itu dengan menerima lamarannya, tidak masalah.
"Jika kita menikah, apa bapak masih mempekerjakan saya dan masih mengizinkan saya kuliah," tanya Rey. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.
"Aku akan membiayai kuliahmu hingga S5 sekalipun, jika kau menginginkannya,"
Seketika Rey terkekeh. Wajah Wibie yang sejak tadi begitu tegang menjadi kendur. Seketika itu juga ia tersenyum kecut.
"Apa itu lucu," sergahnya lagi
"Tidak. Aku hanya ingin menyelesaikan S1 saja, yang penting dengan ilmuku itu, suatu saat aku bisa hidup mandiri. Aku ga mau sampai ke S5, meskipun harga barunya sangat tinggi kalau sudah dipakai harganya turun drastis," ujar Rey dengan nada bercanda. Wibie jadi ikut tertawa karena ulahnya itu
"Jadi gimana, kau mau menikah denganku?"
"Ya, sudah. Kalau bapak maunya begitu. Apa salahnya aku terima,"
"Kenapa nada bicaramu seperti terpaksa begitu. Kalau tidak iklas ga usah dipaksa,"
"Kau sendiri bagaimana. Melamar orang juga setengah-setengah," sanggah Rey lagi.
__ADS_1
Wibie semakin serba salah. Belum lagi ia angkat bicara, Rey sudah mengurungkan niatnya.
"Sudah. Ga usah naik pintam. Habiskan dulu kopimu, sayang," Kali ini Rey memandang Wibie dengan tatapan menggoda.