Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Maaf


__ADS_3

Rey sudah lebih dulu duduk di sofa, di ruang tamu tempat mereka menerima kedatangan pak Eko tadi.


Raut wajahnya sudah berlipat 1000. Kedua tangannya sudah bersedakep di dadanya. Ngeri!


Ia melihat Wibie yang sudah mulai mendekatinya dengan langkah yang pelan. Menatap nya dengan pandangan yang begitu tajam.


"Ada apa sayang, masa suami sudah babak belur begini masih juga mau diomelin. Kok tega sekali sih?," ujar Wibie sembari duduk di samping Rey, mengelus lembut bahu istrinya itu untuk meredakan amarahnya.


Rey tidak bergeming, ia masih duduk mematung, raut wajah yang garang itu justru sudah berubah 180 derajat. Kini suaranya sudah mulai terisak.


"Kamu bohong, kan? Sebetulnya tidak jatuh dari pohon?" todongnya seketika itu juga.


Wibie menarik nafasnya begitu panjang, kemudian melepaskan dengan pelan. Pandangannya masih pada istrinya yang sedang ngambek


"Aku tidak apa-apa. Kau bisa lihat sendiri. Apapun penyebabnya itu tidak penting. Sekarang toh aku sudah bisa mengelus perut buncitmu lagi,"


"Mas, berhentilah bercanda. Ini tidak lucu. Aku benar-benar ingin kau jujur padaku. Apa sebenarnya yang terjadi?"


"Sebetulnya aku juga tidak mau berbohong, tapi aku tidak mau kau jadi kepikiran jika aku cerita yang sebenarnya. Aku ingin kau sehat lahir batin hingga anak kita lahir," Wibie mencoba menjelaskan dengan hati-hati.


"Apa kau pikir aku selemah itu. Ada masalah jadi pikiran yang berkepanjangan?"


"Tidak sayang. Aku kagum padamu karena kau wanita yang kuat. Sekarang kondisinya kan beda, biasanya ibu hamil lebih perasa. Contohnya... Ini...yang seperti ini, belum diceritain sudah mewek duluan," ujar Wibie sembari memonyongkan bibirnya ke arah Rey.


Rey tersenyum geli. Kini ia balik memandang suaminya dengan tatapan yang tidak bisa dielakkan.


"Mas diserang Aldy kan?" tanyanya serius.


"Kok kamu tahu? Dapet info dari mana?" Wibie bertanya balik pada istrinya.


"Sejak kau susah dihubungi dan bilang sedang ada di lokasi yang jauh dari satelit aku sudah curiga. Namun aku tidak tau harus bertanya pada siapa. Untuk itu aku hanya bisa pasrah, menunggu hingga engkau menghubungi ku lagi,"


"Barusan teman SMA-ku kirim link berita ini, coba kau baca," jelas Rey kemudian sembari menyerahkan ponselnya pada Wibie.

__ADS_1


Dalam berita yang di share oleh temannya, disebutkan bahwa bos perusahaan tambang melaporkan warga dusun yang telah melakukan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap karyawannya. Disebutkan juga bahwa polisi berhasil mengamankan seseorang yang berinisial AF selaku dalang kerusuhan itu. Hingga berita itu diterbitkan, status AF sudah ditetapkan sebagai tersangka.


Wibie menarik nafas panjang, kini ia tidak bisa mengelak lagi karena fotonya juga dipampang di media dan disebutkan sebagai korban.


Tidak ada alasan baginya untuk menghindar kecuali harus menceritakan hal sebenarnya pada Rey.


"Maaf, aku sudah berbohong padamu. Apa yang diberitakan dalam media itu memang benar," Wibie mengakui kebenaran itu.


Rey memeluk suaminya. Kini ia yang berbalik minta maaf atas semua yang menimpa pria yang begitu ia cintai.


"Maafkan aku, Mas. Semua karena aku,"


"Sudah, tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua sudah lewat. Mungkin dengan cara seperti ini, Aldy bisa membayar semua perlakuannya padamu,"


"Jangan sedih, semua orang pasti mengalami cobaan. Kita harus iklas dan bersabar melewati agar semua bisa diselesaikan dengan baik. Jangan merasa bersalah seperti itu. Justru aku akan marah padamu!" ancam Wibie balik.


Rey melepaskan pelukannya, kini ia memandang suaminya kembali. Kali ini dengan sedikit menahan senyum


"Aku serasa memeluk manakin," ujarnya lucu.


"Iya, maaf," seru Rey buru-buru.


"Aku punya kabar baik untukmu, sayang"


"Apa?" tanya Rey penasaran.


"Mulai hari ini aku tidak akan pernah jauh darimu,"


"Ya, iyalah. Kan disuruh Istirahat dulu hingga pulih. Emang dapet cuti berapa hari?"


"Cuti sih bisa diperpanjang jika belum pulih. Ini soal yang lain,"


"Oh, ya. Apa itu? Bikin penasaran ih!"

__ADS_1


"Kasih tau ga ya?" ujar Wibie sambil senyum-senyum dan menggerak-gerakan alisnya.


"Eh, iya...iya. Stop jangan main cubit-cubit gitu," Wibie segera menarik ucapannya ketika melihat Rey sudah pasang kuda-kuda ingin mendaratkan cubitan ke perut suaminya.


"Sekitar 4 bulan yang lalu aku mengajukan mutasi ke Bogor namun belum di acc karena belum ada pengganti untuk posisi yang sama," Wibie berhenti sebentar, sekilas ia melihat reaksi Rey kemudian mengambil gelas kopi dan meneguk sisa minumannya yang masih tersisa setengah gelas.


"Kok ga pernah cerita kalau ada rencana ingin mutasi. Alasannya pengajuan mutasi apa?" selidik Rey.


"Maksudnya sih ingin kasih kejutan. Aku hanya ingin lebih banyak waktu menemanimu dalam kondisi perutmu yang makin membesar. Itu saja,"


"Bukan karena ibu, kan?"


"Enggaklah. Ibu dan semua keluargmu kan sudah jadi keluargaku juga. Aku tidak merasa terganggu tentang apapun yang berkaitan dengan mereka,"


"Maafkan ibu yang sering minta ini itu padamu ya, Mas!"


"Tidak apa-apa. Selagi ada tidak masalah kok. Kamu ga ingin tau kenapa mutasi itu segera disetujui?"


"Kenapa? Ada kaitannya dengan luka-luka ini?"


"Iya, pihak perusahaan takut penduduk setempat dendam jadi untuk sementara aku sebaiknya tidak muncul lagi di sekitar situ,"


"Berarti ga kembali lagi ke Lahat?"


"Kembali, paling sebentar, urus surat-surat dan pamitan. Nanti itu, setelah benar-benar sehat,"


"Yang penting, aku bisa ada di dekat istri dan anak-anak kita," senyum Wibie begitu bahagia.


"Syukurlah. Allah senantiasa baik pada kita," Rey menimpali.


Sore itu mereka saling memaafkan. Rey kini menjadi yakin, alasan suaminya tidak mau berterus terang tentang kejadian itu semata-mata hanya ingin ia tetap tenang, menjaga perasaannya agar tetap bahagia.


Rey begitu bahagia, cinta yang diberikan oleh suaminya melebihi dari yang ia harapkan. Untuk itu ia akan menjaga apa yang sudah ia punya dengan begitu hati-hati.

__ADS_1


Meski ia sedih melihat kondisi Wibie yang seperti itu, namun ia sedapat mungkin menutupi perasaannya. Ia berusaha menata perasaan agar senantiasa bahagia, sesuai yang diinginkan oleh suaminya dan yang lebih penting agar anak yang ada dalam kandungan juga tidak merasakan hal yang sama dengan ibunya.


__ADS_2