Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Malam Pengantin


__ADS_3

"Pengatinnya istirahat dulu. Ayah juga mau rebahan. Seharian duduk membuat punggungku pegal-pegal," ujar Ayah ketika Oma dan yang lainnya sudah berangkat ke Duren sawit.


"Biar saya bantu, Yah. Kita jalan pelan-pelan," sahut Wibie sembari memasang tubuhnya yang tegap agar Ayah bisa berpegangan ketika mengangkat tubuhnya.


Sejak kejadian kemarin, Ayah lebih suka berjalan meski harus rambatan daripada menggunakan kursi rodanya.


"Biar otot kakiku makin kuat, aku harus rajin berlatih," pikir Ayah.


Dengan sabar Wibie membantu Ayah menuju kamarnya. Ibu sudah lebih dulu masuk karena Ayah dibantu oleh mantunya.


Rey melangkah pelan menaiki anak tangga. Rasanya begitu gerah sekali setelah seharian penuh ia mengenakan kebaya. Badannya juga sudah begitu ingin tersapu segarnya air.


Sebenarnya sudah sejak tadi ia ingin mengganti kostumnya ini dengan pakaian biasa. Namun butuh keberanian ekstra bagi Rey untuk memenuhi keinginannya itu. Selain ia malu jika ada yang beranggapan sudah tidak sabar ingin segera masuk kamar, Rey juga harus menjaga sikap.


Semua keluarganya juga belum ada yang menukar pakaiannya, kecuali Kak Nay dan Doni. Mungkin mereka sudah melanjutkan tidurnya, hingga sore juga belum turun dari ruko.


Rey tersenyum tipis, mulai sekarang ia satu kamar dengan Wibie. Sebagai seorang istri ia juga harus menjalankan tugasnya. Melayani suami.


*****


Ketika berada di ambang pintu kamarnya, Wibie mendapati dua keindahan sekaligus di ruang itu. Kamar yang sudah di dekor sedemikian cantiknya dengan motif serba putih dan taburan melati segar di atas peraduannya.


Yang tak kalah penting dari itu semua, ia menemukan Rey yang sedang duduk menghadap meja rias. Rey yang sedang membersihkan sisa makeup segera tersenyum begitu suaminya berdiri terpaku di tengah pintu


"Kata Mbah saya, jangan suka berdiri di tengah pintu. Nanti sulit ketemu jodohnya," kata Rey berusaha membuka percakapan untuk mencairkan suasana.


Wibie tersenyum. Ia melangkah mendekati Rey. Berdiri di belakang istrinya yang masih menghadap ke arah kaca.


"Lihatlah ke cermin," ujar Wibie


Rey mengikuti perkataan suaminya. Dari pantulan cermin ia melihat sepasang mahluk Tuhan yang terlihat begitu bahagia saat ini.


"Apa yang kau lihat," tanya Wibie pelan. Tangannya yang kekar mengelus lembut bahu isterinya


"Mengingatkanku akan tokoh Beauty and the Beast," sahut Rey menahan tawa.


Seketika itu juga Wibie mencubit pipi Rey karena gemes. Kemudian mengacak-acak rambut istrinya yang masih tertata rapi.


"Aku turun dulu ya, tenda lagi diberesin. Masa mereka berkemas kau sudah ngajakin kelonan,"


"Eh, ngapain juga kelonan jam segini. Sebentar lagi mau magrib, tau," teriak Rey ke suaminya yang sudah beranjak ke ruang ganti.


Tak lama Rey sudah melihat Wibie mengenakan celana pendek dan kaos oblongnya. Ia keluar kamar sambil menahan tawa karena melihat muka Rey yang masih merah merona.


Setelah membersihkan sisa makeup dan melepaskan tatanan rambutnya, Rey buru-buru ke kamar mandi. Ia ingin sekali merasakan segarnya tubuh di bawah shower.


Tubuhnya yang gerah, berasa lengket oleh sisa-sisa keringat hilang seketika setelah Rey berdiri mematung di bawah guyuran air.


Saat ingin meraih sabun yang ada di rak, Rey cukup kaget juga. Apakah perlengkapan mandi suaminya sebanyak ini. Ada beberapa sabun cair dan shampo yang sudah terpakai. Namun kenapa ia juga membeli sabun dengan aroma khas perempuan.


"Dan ini. Benda apa ini. Kenapa ia juga membeli sabun khusus organ vital perempuan?" tanya Rey yang seketika itu jadi merinding.


"Apa mungkin suaminya itu transgender?" pekiknya dalam hati


Rey buru-buru menyelesaikan mandinya. Ia meraih handuk yang tertata rapi di rak.


"Kenapa ada warna pink," teriak Rey lagi.


Rey yang begitu panik mengambil handuk sekenanya saja. Yang ada di bagian atas dan melilitkannya di tubuhnya yang putih dan mulus itu.


Ketika keluar dari kamar mandi, Rey baru sadar. Ia tidak punya pakaian untuk ganti. Ia belum memindahkan baju-baju yang ada di ruko ke sini.


"Waduh kenapa aku ceroboh sekali. Aku belum membawa baju-baju ke sini," Rey memukul keningnya sedikit keras.


Tiba-tiba dia ingat, tadi pagi ia mengenakan PDH (pakaian dinas harian : celana pendek dan kaos) sebelum di rias.

__ADS_1


Rey berlari kecil ke meja rias, ia tidak menemukan pakaiannya disitu.


"Tadi aku meletakkannya disini," bisik Rey sambil mengingat-ingat sesuatu.


"Di mana ya? Apa mungkin sudah diberesin oleh Tante Rara?" tanya Rey lagi.


Rey menyapu seluruh sisi kamar, namun hasilnya sama saja.


****


Wibie baru saja menutup pintu gerbang setelah mengantar petugas tenda dan catering yang membereskan pekerjaan. Kini rumah ini kembali seperti sedia kala. Sepi!


"Nak, bisa ibu bicara sebentar," suara ibu mengagetkan Wibie. Ibu sudah duduk di meja makan dan memang sedang menunggu Wibie.


"Bisa, Bu. Ada apa?" Wibie segera mengambil tempat duduk di samping wanita itu.


"Nay dan Doni mungkin merasa bosan di sini. Dari kemarin dia mendekam di kamar saja," kata ibu.


"Iya, Bu. Lalu gimana maunya?" tanya Wibie.


"Ajaklah mereka keluar. Mereka sejak dulu ingin sekali ke Mall. Kamu tau sendiri kan? Sejak Ayah sakit mana bisa kami jalan-jalan," ujar ibu.


"Besok kami pulang. Ajaklah mereka main, Nak. Biar mereka ada kenang-kenangan pernah menginjakkan kaki di Jakarta," lanjut ibu lagi


"Oh. Iya Bu. Baik. Kita berangkat setelah magrib," kata Wibie dengan senang.


"Kalian saja. Ibu di rumah saja nemenin Ayah,"


"Oh. Baik, Bu,"


"Nak, tolong jangan bilang ke Ayah jika ibu yang punya ide ini ya," pinta ibu lagi.


"Iya, Bu,"


"Ibu tidak mengganggu, kan? Ibu tau ini malam pengantin kalian. Tapi ibu juga kasian sama Nay dan Doni,"


"Bener kata ibu, mumpung di sini!" lanjut Wibie lagi


Mengingat waktu sudah mendekati magrib, Wibie mohon izin untuk bersiap-siap pada ibu mertuanya. Ia segera menapaki anak tangga menuju ke kamarnya.


"Eh, kamu mau ke mana?" tanya Wibie bingung ketika berpapasan dengan istrinya di pintu kamarnya dalam kondisi tubuh terbalut handuk.


Rey tidak menjawab, namun ia segera berlari menuruni anak tangga menuju ke kamarnya.


Wibie hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


"Ga tau apa, kalau di lemari sudah tersedia baju untuknya," dalam hati.


****


[ Di Mall ]


Wibie membawa kakak dan adik iparnya ke mall yang terdekat dari rumahnya. Mengingat mereka berangkat usai magrib jika harus ke mall sesuai permintaan Doni khawatir mereka tidak akan punya waktu untuk belanjaan.


Meskipun akhir pekan, Jakarta juga masih macet. Apalagi pengunjung mall dan pusat hiburan.


"Kita ke sini aja dulu. Supaya lebih puas memilih barang yang dicari," kata Wibie sembari mencari parkir tempat untuk parkir.


"Kalian turun duluan. Nanti aku nyusul," ujarnya lagi.


Rey, Nay, dan Doni diturunkan di pintu masuk selatan, sedangkan Wibie harus mencari parkir di lantai atas.


"Mau belanja, apa?" tanya Rey pada kedua saudaranya itu.


"Aku mau cari baju," jawab Nay

__ADS_1


"Aku mau HP dong. Hp aku memorinya cuma 2gb. Ruang penyimpanannya sedikit," kata Doni.


Rey sedikit terkejut. Jika baju yang diinginkan kakaknya, mungkin Rey masih bisa membayar belanjaannya. Namun bagaimana dengan HP?


"Kamu ada uang berapa?" tanya Rey pada Doni.


"Ga ada. Kata ibu minta sama Kak Wibie aja. Ibu sudah bilang, kok!"


Rey makin tercekat.


"Ada apa lagi ini? Kenapa ibu kok minta sesuatu pada suaminya tanpa konfirmasi lebih dulu padanya,"


"Bukan pelit. Tapi mengingat sudah banyak uang yang dikeluarkan oleh Wibie untuk keluarganya, membuat Rey tidak enak hati. Uang lamaran 50jt, pelangkah 10jt, ongkos pesawat pulang pergi 10jt, belum untuk mas kawin, cincin kawin, dan biaya nikahan mereka," Rey mulai merinci nominal yang dikeluarkan Wibie untuk biaya pernikahannya.


Rey hanya bisa mengikuti kakaknya yang sedang memilih blus, sesekali kakaknya itu minta pendapat tentang barang yang akan dibelinya.


"Ini bagus, ga?" tanya Nay pada adeknya.


"Boleh. Cocok tuh buat kakak," ujar Rey.


"Kalau yang ini?" tanyanya lagi.


"Bagus juga,"


Nay memilih keduanya, kemudian selaku adik yang baik, Rey yang menyelesaikan transaksinya di kasir.


Wibie belum juga muncul, sementara Doni sudah tidak sabar ingin ke lantai atas agar bisa mempunyai HP baru.


Rey mengambil HP dari sakunya dan mengirim pesan pada suaminya


"Blok G lantai 5,"


Pesan terkirim.


"Cari siapa?" tanya Wibie yang melihat Rey sedang menyapu seluruh sudut di lantai 5 itu.


"Eh, sudah di sini!" seru Rey girang


"Oh, nyariin aku toh. Baru juga berapa menit tidak keliatan udah kangen aja," goda Wibie.


"Bukan gitu. Doni udah ngambek aja tuh, sudah ga sabar mau ke lantai 7,"


"Beneran kamu ga nyariin aku karena kangen?" Ujar Wibie lagi. Kali ini ia tersenyum dengan ekspresi genitnya.


"Apaan sih," Rey pura-pura bergidik melihatnya.


Wibie menghampiri Doni yang duduk di bangku pandang di samping tangga eksalator. Mereka segera menuju ke lantai 7.


"Nanti kita nyusul," Rey sedikit berteriak ke arah Wibie.


Wibie tidak menjawab, ia hanya mengacungkan jempol ke arah Rey yang sedang menunggu Nay memilih celana jeans dan kulot panjang.


Usai membeli pakaian, Rey dan Nay naik ke atas. Menyusul Wibie dan Doni yang sudah lebih dulu di sana.


Selang beberapa saat mall mau tutup, mereka sudah menyelesaikan misinya. Doni berhasil membawa pulang HP baru dengan speac yang paling lengkap dan kapasitas memori yang besar sementara Nay, selain sudah membeli dua stel pakai, Wibie juga membelikan HP baru.


"Maaf, ya. Lagi-lagi merepotkanmu. Apa tidak terlalu berlebihan memberi kak Nay HP baru?," Ujar Rey ketika mereka menuju ke parkiran mobil.


"Udah ga usah dipikirin. Selagi ada gak ada salahnya membahagiakan keluarga," sahut Wibie.


"Terimakasih, ya,"


"Itu tidak gratis. Kau yang akan membayar semuanya. Faham ga?" Wibie menatap tajam pada istrinya.


Rey tidak menanggapi. Ia melangkah menuju mobil dan mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


Lagi-lagi Wibie hanya tersenyum melihatnya.


__ADS_2