Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Online


__ADS_3

Usai sarapan, Wibie memilih nonton TV di ruang keluarga. Setengah bersandar, bermalas-malasan di sofa yang empuk itu menyaksikan tayangan berita pagi.


Sesekali Ia melihat Rey yang masih sibuk di dapur. Membereskan meja makan dan mencuci piring sisa


"Rajin sekali dia, mandiri lagi," gumam Wibie dalam hati.


Rey sudah meninggalkan Wibie yang masih bermalas-malasan setelah sholat subuh. Ia mau membuatkan sarapan, bosen dengan makanan delivery yang dipesan oleh suaminya.


Hasilnya, pagi ini mereka bisa sarapan enak. Rey menyajikan pecel lele dan lalapan segar untuk suami tercintanya.


"Sini," ajak Wibie ketika Rey sudah membereskan dapur dan berjalan menuju ke arahnya. Ia menggeser tubuhnya dan memberi tempat untuk Rey agar duduk di sebelahnya.


Rey mengikuti ajakan Wibie, ia duduk di sofa itu, di samping Wibie.


"Capek?"


Rey tidak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya.


"Geseran. Selonjorkan kakimu, biar aku pijitin," kali ini Wibie sudah duduk bersila dan memberikan pangkuannya sebagai tumpuan kaki Rey.


"Asik, dimanja banget," seru Rey girang dan segera memutar tubuhnya ke samping. Menggeser tubuhnya hingga ke ujung sofa. Kakinya yang panjang ia selonjorkan ke arah Wibie, bertumpu pada kedua paha suaminya.


Wibie mulai meraih kaki istrinya dan memijit lembut jari-jari kaki Rey yang panjang itu dengan lembut


"Enak," seru Rey sembari memejamkan matanya menikmati pijitan itu.


"Rey," panggil Wibie.


"Hem...,"


"Costumer dari Mangga Dua mau dateng jam berapa?"


"Dia bilang jam 10. Barangnya udah aku siapin kok. Ada 500pcs. Masih kurang 150 lagi ukuran L, sore baru siap kalau mau lengkap,"


"Entah mau diambil pagi atau sore? Orangnya belum konfirmasi lagi," tambah Rey.


"Oh, masih ada waktu," ujar Wibie setengah berbisik.


"Ah, jangan bilang kalau mau membunuh Yahudi lagi, ya? Masih capek," rengeknya seketika itu juga. Matanya yang nyaris terpejam menikmati lembutnya pijitan tiba-tiba menjadi terang.


Wibie tertawa nakal. Kedua tangannya menahan kaki Rey yang hendak ditariknya.


"Udah sini, belum selesai mau ditarik aja," protes Wibie.


"Habis, kodenya udah bikin aku lelah duluan,"


"Ga iklas? Mumpung aku masih libur, Sayang. Kalau jauh kan susah disalurkan,"


Rey kembali menyodorkan kakinya ke paha suaminya. Wibie memijit jari-jari kaki memakai jempol dan jari telunjuk, dengan gerakan melingkar. Setelah itu, pegang semua jari-jari kaki dalam satu genggaman, lalu tekuk ke arah telapak kaki dan punggung kaki secara bergantian untuk membuatnya lentur dan rileks.


Ia melakukan dengan begitu sabar dan penuh kasih sayang.


Setelah itu, wibie menekan seluruh permukaan telapak kaki Rey, lalu goyang-goyangkan dan diakhiri dengan memutar pergelangan kaki beberapa kali.


"Gimana, enak?"


"Iya. Kayaknya bagian yang lain juga mau," ujar Rey dengan manja.


" Huh...keenakan! Sini, aku pijit bahumu,"

__ADS_1


Rey merubah posisi duduknya, kali ini ia rapatkan tubuhnya ke arah Wibie dan duduk membelakangi suaminya.


Berbeda saat memijit kaki, Wibie membuat gerakan yang berbeda pada bahu istrinya.


Wibie menjalin kedua tangan di belakang leher Rey dan menekan kedua sisi leher menggunakan bagian bawah telapak tangan dengan lembut.


"Aduh...enak banget, Mas," desis Rey begitu menikmati pijitan yang membuat tubuhnya lebih rilex.


"Mas," panggil Rey.


"Hem...,"


"Sepertinya kita harus nambah asisten untuk di toko,"


"Kamu capek?" Wibie memalingkan wajahnya ke arah Rey begitu serius.


"Tidak, hanya saja toko onlineku sudah jalan. Pesanan sudah mulai rutin setiap hari,"


" Oh, ya! Sejak kapan kamu buka online? Kok aku ga tau?" tanya Wibie penasaran.


"Sudah lama. Awalnya iseng aja karena kebanyakan bengong di toko. Tapi lama-lama kok berkembang,"


"Oh, aku inget. Pantesan waktu itu kamu sudah mulai kirim-kirim penawaran via email. Biasanya pembeli kita semua pesan by phone,"


"Iya. Aku cuma jual baju-baju dari konveksi kita saja, kok. Pembelinya rata-rata dari luar daerah. Masih partai kecil sih, yang minta dalam jumlah besar belum deal harganya,"


"Eh, kok kamu bisaan aja," puji Wibie sembari mengecup lembut pipi kanan Rey.


"Boleh kan?" tanya Rey lagi.


"Apanya?"


"Oh, boleh aja jika kamu memang membutuhkannya,"


Jawab Wibie dengan datar.


Dengan kedua tangan yang masih terjalin, Wibie mengurut leher Rey secara perlahan dari atas ke bawah.


"Haduh, enak banget Mas,"


"Kapan maunya?"


"Secepatnya,lah,"


"Yang membayar gajinya siapa?"


"Ih, peritungan banget. Aku juga bisa!" Rey mulai kesel.


"Oh,...maunya laki-laki atau perempuan?" tanya Wibie lagi.


"Sepertinya laki-laki lebih efektif. Biar dia yang mengantar barang dan mengurus operasional di luar, aku yang jagain toko dan ngurus administrasi,"


"Boleh, nanti aku minta bantuan Bu Har. Biar dia yang cari. Biasanya banyak lulusan SMA sederajat di sekitar sana yang cari kerjaan,"


"Terimakasih, ya Mas,"


"Cuma itu doang?"


Rey memutar kepalanya ke belakang, menangkap bibir Wibie sekenanya.

__ADS_1


"Cup," sebuah kecupan mendarat di bibir tukang urut nyonya besar itu.


"Hi...hi...," Wibie tertawa geli.


"Miringkan kepalamu ke kiri," pinta Wibie


Rey mengikuti arahan Wibie, lalu Wibie menekan otot di sepanjang sisi kanan leher hingga ke bahu. Setelah itu bergantian dengan sisi lainnya.


"Enak banget, kamu sudah cocok buka praktek nih," ledek Rey.


"Iya, pasiennya aku batasi. Khusus ibu-ibu muda saja,"


"Iya, udah ketebak," sahut Rey.


"Apa?"


"Musel,"


"Apa itu?"


"Muka ************," Rey terkekeh seketika itu juga.


"Sialan," Wibie bergumam.


Tangannya yang usil mencomot dada istrinya yang masih merem melek menikmati pijitan di bahunya.


"Tuh, kan!" bentak Rey sembari membuang tangan suaminya dari area sensitifnya.


"Wk....wk....," tawa Wibie lepas juga.


"Regangkan kepalamu ke belakang," perintah Wibie sembari memukul pundak Rey sedikit keras.


"Tahan selama 20 detik, ya," ujarnya lagi.


Rey mengikuti arahan Wibie, ternyata badan ya menjadi begitu enak sekali.


"Kamu hebat, Mas. Enak sekali pijitannya. Tubuhku jadi rilex kembali.


"Hemm...,"


"Gantian ya?" Rey menawarkan jasa.


"Emang bisa?" tanya Wibie dengan ekpresi tidak yakin.


"Bisa dong, bisa bikin rilek si Buyung. Aku merasakan dia sudah kejang-kejang sejak tadi," ujarnya Rey dengan senyum-senyum tertahan.


Rey langsung menindih tubuh suaminya. Kini tubuh Wibie yang kekar itu sudah terkunci, bersandar di ujung sofa ruang tamu.


Jari lentik Rey mulai mengurut kaos yang dikenakan Wibie hingga tanggal dari tubuhnya.


"Sudah berani, ya?" Wibie memandang Rey dengan tatapan yang menguliti Rey dan memencet hidung istrinya itu.


"Cuma mau balas budi, sayang," ujar Rey singkat.


Wibie sudah tidak mampu berkata-kata lagi, kini tubuhnya tertahan oleh Rey yang berada di atas tubuhnya.


Mulutnya juga terkatup oleh bibir tipis istrinya yang sudah menangkup dan siap beraksi.


"Ah... sepagi ini aku sudah mau diperkosa oleh bidadariku," pekik Wibie pasrah.

__ADS_1


__ADS_2