
Acara yang seharusnya selesai sebelum magrib, ternyata berlanjut hingga pukul 20.30 WIB. Karena antusias pemuda yang segera ingin memulai usaha membuat Alex dan teman-temannya tidak bisa mengehentikan acara itu begitu saja. Mereka benar-benar memberikan layanan terbaik pada generasi muda yang ingin mengubah masa depannya.
"Sepertinya kita butuh kendaraan, moda transportasi di sini sangat terbatas. Angkot tidak bisa menjangkau lokasi pelosok sedangkan ojek tidak efektif. Selain boros, mereka punya pangkalan khusus untuk menunggu penumpang. Sudah kita!" Ujar Alex ketika mereka menuju ke rumah dengan jalan kaki menebus malam.
"Sewa motor aja, kali. Lebih hemat dan praktis," usul Pandu.
"Bisa juga, ide bagus, itu! Kira-kira siapa yang mau menyewakan motornya pada kita?" tanya Alex.
"Baiknya kita konsultasi ke Pak Haji dia pasti lebih tahu soal ini,"
"Iya, boleh itu,"
"Kira-kira kita butuh berapa motor?" tanya Dion.
"Paling banyak 5. Kita bonceng-boncengan aja kalo pergi,"
"Ok. Sip,"
"Lumayan juga kalo harus jalan kaki begini. Untung jarak dari rumah ke balai desa deket, nih. Kalau besok gimana coba? Kita kan ada kunjungan ke tambak," Risya yang mulai pegel berjalan akhirnya angkat bicara.
"Ya, sampe kamar saling pijit memijit aja. Ha...ha...," Seloroh Dion.
"Berdoa saja, moga kita besok sudah dapet motor sewaan," Rey menimpali.
"Aamiin,"
Mereka terus menelusuri jalan yang yang belum banyak penerangan itu. Untung langit mulai bertabur bintang hingga jalan langkah mereka bisa lancar menebus jalan yang belum di aspal.
"Ga kebayang nih kalo ujan Dedes. Gimana kondisi jalan ini?"
"Iya, pasti berlumpur dan susah dilewati pejalan kaki,"
"Hemmmm.....apa dana desa yang digulirkan pemerintah belum sampai ke sini?"
"Bertahap, aku liat jalan yang ke arah pasar sudah mulai di aspal meskipun masih kasar,"
"Iya, juga sih,"
Obrolan itu terus berlanjut hingga mereka sampai di rumah dan disambut dengan ramah oleh pemiliknya. Rupanya mereka menunggu tamunya yang tak kunjung pulang itu untuk makan malam.
*****
(Pukul 23.30 WIB)
Rey tidak bisa tidur karena udaranya begitu panas. Kamar yang mereka tempati berempat itu hanya dilengkapi satu kipas angin kecil. Ketiga temannya bisa tidur nyenyak karena mereka menanggalkan semua pakaian, tidur hanya mengenakan CD dan pelindung dada. Rey tidak bisa melakukan itu, karena ia biasa tidur dengan pakaian lengkap meskipun minim bahan.
Belum lagi suara dengkuran dari kamar sebelah, semakin membuat matanya tidak bisa terpejam.
__ADS_1
"Sepertinya kaum Adam sudah pada terlelap, siapa yang mendengkur sekeras itu," pikir Rey dalam hati.
"Mungkin karena lelah," pikirannya lagi.
Setelah mereka melakukan perjalanan dari Jakarta dan ditambah kegiatan sore tadi, membuat teman-temannya langsung menuju ke kamar masing-masing begitu selesai makan malam. Hanya Alex dan Pandu yang masih menemani Pak Haji nonton TV dan mereka juga punya tujuan untuk membicarakan masalah motor.
Rey akhirnya keluar kamar. Dilihat ruang tengah yang merangkap sebagai ruang tamu dan tempat berkumpul mereka begitu sepi. Lampu sudah dimatikan, hanya sorotan dari dapur yang menerangi ruangan itu.
Rey memilih merebahkan diri di kursi malas yang terbuat dari bambu. Ia menyalakan HP dan mengecek beberapa pesan yang masuk.
"Sudah tidur belum?" Satu pesan WA dari Wibie yang dikirim sekitar setengah jam yang lalu.
"Belum," jawab Rey dan segera mengirimkannya.
Tak lama, terlihat Wibie online dan sedang mengetik sesuatu.
"Kenapa?"
"Gerah,"
"Oh, aku kira ga bisa bobok karena belum mengucapkan selamat malam pada suamimu,"
Emoticon love-love sebagai penyerta.
Rey juga mengirimkan stiker yang tak kalah romantis. Pasangan yang sedang berciuman.
"Sama suami sendiri," emoticon love lagi.
"VC, ya?" pinta Wibie.
"Brisik. Yang lain sudah pada tidur,"
"Ga usah ngomong. Cukup liat wajah kamu aja aku udah seneng," gombal Wibie.
"Hemmm...," Belum juga selesai mengetik, Wibie sudah melakukan panggilan video.
Rey segera menjawab. Mereka hanya saling melempar senyum, melambaikan tangga dan saling memberikan ciuman jarak jauh.
"Muachhh," Rey membalas suaminya dengan suara juga akhirnya. Ia tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi suaminya yang begitu lucu.
Cukup lama keduanya hanya bicara dengan isyarat, mulai dari posisi telentang dengan menarik kaki kanannya hingga 45 derajat, posisi miring ke kiri dan ke kanan juga belum selesai.
Saat membalikkan tubuhnya ke arah jam 2, tidak sengaja ia menangkap sepasang kaki yang tengah berdiri di tengah pintu menghadap ke luar.
Rey bisa memastikan jika itu kaki manusia karena selain menapak pada ubin, kain sarung yang dikenakannya orang itu juga terlihat sedikit. Hordeng pintu yang tergantung hanya menutupi sekitar 80% ke bawah saja.
"Kaki siapa itu? Pandu, Alex, atau Doni?" tanya Rey dalam hati. Ia pura-pura tidak melihat keberadaan orang yang sedang mengintipnya. Terus saja Rey bercanda dengan suaminya meski hanya menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh keduanya.
__ADS_1
"Kenapa dia ga mau keluar?" Rey melirik dari ujung matanya, ternyata orang itu masih saja berdiri di situ.
Setelah hampir setengah jam ia bicara dengan Wibie, akhirnya mereka menghentikan VC ala-ala orang ga jelas itu. Wibie yang sudah tidak bisa menahan kantuk, minta Rey agar segera tidur supaya bisa melanjutkan program kerjanya besok pagi dengan baik.
Sambungan itu diputus setelah beberapa kali Rey memberikan ciuman jarak jauhnya dan melambaikan tangannya.
Rey segera mematikan Hp karena waktu memang sudah begitu larut . Namun ia belum juga beranjak dari kursi itu meskipun tidak ada yang dikerjakannya lagi selain memandang langit-langit ruang dan sesekali melirik ke arah kamar cowok.
"Dia masih berdiri di situ?" gumam Rey lagi.
Akhirnya Rey memilih menyalakan TV agar tidak jenuh sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh pengintai itu.
"Apa aku panggil aja?" tanya Rey pada dirinya sendiri.
"Kalau sejak tadi ia tidak mau memperlihatkan mukanya, berarti keberadaannya tidak ingin diketahui oleh orang lain,"pikirannya lagi.
"Ya sudahlah, terserah dia aja. Sampai kapan bisa bertahan berdiri di depan pintu seperti itu,"
Rey memilih-milih saluran televisi namun beberapa diantaranya hanya menampilkan layar yang dikerubungi semut. Satu-satunya TV yang masih ada menayangkan film box office yang sudah puluhan kali di tontonannya.
"Lumayan daripada bengong,"
Akhirnya Rey nonton sendirian ditemani suara jangkrik dan keberadaan penggemar misteriusnya itu. Rey tidak sadar, akhirnya matanya terpejam namun tv yang ada didepannya itu tetap menyala.
Ia tidak sadar ketika dengkuran halus mulai terdengar, ada seseorang yang menghampiri dirinya. Remot tv yang ada dipelukan Rey diambil dengan hati-hat dan mematikan tv. Cukup lama orang itu berdiri di hadapan Rey. Ia ingin memandangi dengan puas wajah gadis yang begitu polos itu sedang tertidur pulas.
******
Rey terjaga begitu terdengar suara adzan dan nyamuk yang mulai menyerangnya.
"Efek lotionnya udah abis nih," Rey menepuk keras nyamuk yang mengigit keningnya.
"Kok TV-nya mati?" Rey bertanya pada dirinya sendiri. Seingat dia, ia tertidur begitu saja dengan remote yang masih dipegangnya.
"Hemmmm....apa dia yang mematikan TV semalam. Berati dia pegang tangan aku, kok aku ga berasa. Wkkkkkk," Rey tertawa sendiri karena ia bisa tertidur dengan pulas di kursi itu seorang diri.
******
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊
__ADS_1