
Teng....tong....
Bel yang ada diluar pintu pagar berbunyi.
Teng....tong.....
Teng...tong......
Suara panggilan itu belum juga berhenti sebelum ada suara pengghuni rumah yang terdengar.
Rey segera bangkit, ia ingin membukakan pintu untuk tamunya.
"Eitt.....stop," teriak Wibie.
"Tetap di tempatmu. Biar aku yang turun," ujarnya.
Wibie meraih celana pendek yang tergeletak di lantai dan mengenakannya terburu-buru. Setelah itu ia menghamburkan dirinya menuju ke lantai bawah.
Di luar pagar, sudah menunggu pengemudi ojek online yang membawakan pesanannya.
Setelah serah terima selesai, Wibie mengunci kembali pintu gerbang itu.
Ia mampir sejenak ke dapur untuk mengambil nampan besar, dua gelas kosong, dan satu Tumbler yang sudah terisi air mineral.
Setelah siap semuanya, ia kembali menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Tuan putri, kita makan di sini saja ya,"
Wibie meletakkan nampan besar itu di atas meja kecil, tempat di mana Rey meletakkan kopi buatannya.
Menggeser meja kayu jati itu dengan pelan ke arah tempat tidur, tempat di sisi Rey yang masih terkulai lemas.
Rey tersenyum melihat perlakuan Wibie padanya.
"Seperti pasien rumah sakit saja," gumamnya halus.
"Pengecualian. Untuk hari ini saja," sahut Wibie sembari melirik istrinya dengan mesra.
Ia membuka bungkusan yang makanan yang masih panas itu. Satu porsi sop kambing untuk istrinya dan ikan bakar sambel penyet untuk dirinya sendiri.
"Ayo, makan," ajak Wibie.
Rey menggeliat malas. Sebelum akhirnya ia menggeser tubuhnya dan duduk di sisi tempat tidur.
"Sakit?" tanya Wibie khawatir.
Rey menggeleng, kemudian meringis pelan mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
"Sakit diawal, selanjutnya begitu sulit untuk diungkapkan," bathin dalam hati.
Wibie merapatkan kedua kaki Rey, memegang dan menurunkan dengan pelan. Kini posisi Rey sudah duduk menghadap meja.
"Disuapi?" tanya Wibie lembut
Rey menggeleng keras. Buru-buru ia mengambil sendoknya dan menyuap makanan itu ke dalam mulutnya.
Wibie juga melakukan hal yang sama. Siang itu, mereka menikmati makan siangnya dengan lahap.
Mereka ternyata begitu lapar. Selain waktu makannya yang sudah sedikit tekat, mereka berdua usai menempuh pendakian yang menguras seluruh tenaga.
Tidak butuh waktu yang lama. Hidangan itu habis tidak bersisa.
Rey memandang ke arah Wibie, ia malu karena melahap tanpa sisa satu porsi sop kambing yang ada di mangkok itu.
"Sepertinya aku harus kerja keras lagi malam ini," goda Wibie.
Rey mengernyitkan keningnya, tidak faham dengan ucapan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Menurut kepercayaan, kambing muda dipercaya dapat meningkatkan libido seseorang,"
"Jadi aku harus istirahat yang cukup agar mampu mendaki lagi malam ini," menyeringai kecil.
Rey mengendikan bahu, menggeser sedikit meja yang ada di depannya lalu bangkit dari tempat tidurnya.
"Aku mau mandi. Ada sesuatu yang membuat tubuhku begitu lengket,"
"Itu cairan kehidupan," seloroh Wibie.
"Kau akan terbiasa nanti. Kita akan menjadikan pendakian sebagai kegiatan rutin," jelas Wibie lagi.
"Jangan lupa niat dan urutannya," teriak Wibie.
Rey yang sudah menghilang dibalik tembok kamar ganti menyembulkan kepalanya kembali.
"Niat apa?" tanyanya dengan muka lugu.
Sebenarnya Rey faham akan ucapan suaminya. Setelah mengetahui ia akan menikah, Rey banyak mempelajari tentang kehidupan suami istri dari internet termasuk tata aturan mandi junub.
"Mandi," sahut Wibie yang masih membereskan meja dan mengembalikan tempatnya.
"Aku ga tau. Ayo ajari," pinta Rey dengan nada yang sedikit manja.
Takut Rey akan menarik ucapannya, Wibie segera meluncur ke arah kamar mandi. Menutup pintu dengan kerasnya. Tak lama terdengar suara kran dan tertawa kecil dua mahluk yang sedang menikmati indahnya menjadi pengantin baru.
****
"Rey, bangun. Waktu Azhar sudah mau abis,"
Diguncangnya tubuh Rey dengan pelan. Rey tidak segera bangun namun tubuhnya kian mengerut di bawah selimut.
"Bangun, sayang. Kamu kan belum sholat,"
"Bangun, gak?" Wibie memeluk erat tubuh istrinya. Tangannya menangkup pada gunung kembar milik Rey yang tidak mengenakan sarung pengaman.
"Ih...Rey segera terduduk. Ia membuka matanya dan menguap disertai gerakan tangan yang terangkat maksimal.
"Jam berapa sekarang?"
Matanya tertuju pada jam dinding yang tergantung di kamar itu. Seketika itu Rey langsung melompat dari tempat tidurnya.
"Kenapa tidak membangunkanku?" Ujarnya panik.
"Aku juga baru bangun," jawab Wibie sekenanya.
"Tapi aku harus kuliah!" Teriaknya lagi.
"Hei...kita ini baru nikah kemarin. Liburkan satu atau dua hari ini. Kita nikmati masa kebersamaan ini hanya berdua saja,"
Wibie melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rey. Kepalanya ia sandarkan lada punggung perempuan itu.
"Jangan tinggalkan kamar ini. Aku masih ingin berdua saja menghabiskan waktu bersamamu," pintanya dengan manja.
Rey memalingkan wajah ke belakang. Dikecupnya kening Wibie dengan pelan.
"Baiklah,"
"Aku akan memikirkannya," sahutnya lagi sembari beringsut dari kasur dan menuju ke kamar mandi.
Hari memang sudah sore, ia harus segera menunaikan ibadah sholat Azhar sebelum ketinggalan.
Wibie mengamati Rey dari pembaringan. Sejak siang, mereka nyaris tidak bergeser dari kamar ini. Mulai dari pendakian pertama, petualangan di kamar mandi, hingga terdampar di peraduan untuk memulihkan tenaga.
Drettt......drett......
__ADS_1
Hp Wibie bergetar. Wibie meraih HP-nya di atas nakas.
Satu pesan diterima dari sopir proyek.
"Tugas sudah selesai, Pak. Pak Rohman dan keluarga sudah sampai di rumah dengan selamat,"
" Terimakasih, Ted. Mohon maaf sudah merepotkan," balas Wibie.
"Sudah menjadi tugas saya, Pak. Selama berbulan madu," ucap sopirnya itu lagi.
"Terimakasih,"
Wibie merasa sedikit lega. Satu kabar baik telah diterimanya. Ayah yang begitu ia khawatirkan karena kondisi kesehatan, kini sudah berada di rumahnya kembali.
Sebagai rasa hormat pada mereka, Wibie melakukan panggilan telpon untuk sekedar memastikan keadaan mereka.
"Assalamualaikum,Yah" sapa Wibie ketika panggilan telpon itu tersambung dan diterima oleh Ayah Rey.
"Waalaikum salam,Nak,"
"Sudah dirumah?"
"Alhamdulillah, sekitar 10 menit yang lalu,"
.
.
.
"Syukurlah. Selamat istirahat, Yah. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu,"
"Ayah sudah sampe, Mas?" tanya Rey sembari melipat mukenanya.
"Hemm....online aja kamu. Sholatnya ga khusyuk itu," canda Wibie.
"Ih, aku kan denger kamu ngapain aja,"
"Lah itu, yang kubilang online tadi," ujar Wibie menahan tawanya.
"Syukurlah kalau Ayah sudah sampai," guman Rey. Ada perasaan tenang yang menyelimuti hatinya.
"Mas," panggil Rey. Mendekat pada Wibie dan berbaring di sisi suaminya.
"Hemm," sahut Wibie. Pandangannya masih tertuju pada hp yang ada di tangannya.
"Kapan kita jemput Devara?"
"Baru juga kemaren di sana, udah mau dijemput aja,"
"Aku ga enak sama ibu, Mas. Masa kita disini berduaan saja. Ibu kan juga repot,"
"Udah, ga usah dipikirin. Kita nikmati saja dulu. Ibu juga faham kok. Dia kan pernah jadi manten anyar,"
Rey hanya diam. Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Oma memberikan kesempatan pada mereka agar lebih leluasa.
"Kau lihat sendiri, kan. Betapa bahagianya Devara melihat anaknya Witha. Dia tak mau jauh dari adik banyinya itu,"
"Iya," sahut Rey singkat.
"Sampai-sampai dia ga inget nelpon papanya seharian ini," ujar Wibie sedikit sedih.
Tidak biasanya Devara begitu. Jika Wibie libur kerja, biasanya ia tak mau jauh sedikitpun darinya.
Wibie menarik nafas pelan. Tak lama senyumnya mengembang seketika.
"Bisa jadi ibu melarang Devara mengganggunya,"
__ADS_1