Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Mana Senyumnya?


__ADS_3

Pertama, sikap ibu yang seolah bermuka dua, disatu sisi ia memanfaatkan Wibie sebagai tambang keuangan namun di sisi yang lain ia menyusun skenario seolah-olah Wibie yang menjadi penyebab Rey tidak bisa menikah dengan Aldy.


Dengan pandainya ibu memainkan perannya di depan Bu Har. Ibu ingin menciptakan image bahwa Wibie yang menghendaki pernikahan ini.


Kedua, sejak awal melihat Dhiza, kehadiran perempuan ini cukup mengundang misteri. Senyumnya begitu berat pada Rey dan tatapan matanya pada saat acara pernikahan itu sungguh tidak nyaman untuk dipandang.


Dipertegas dengan sikap dan kata-kata Dhiza yang cukup pedas mengarah padanya, Rey semakin yakin bahwa antara Dhiza dan Wibie pernah terjadi sesuatu yang menyangkut perasaan.


"Ketus sekali dia. Apa salahnya jika aku memang ibu Tiri Devara, istri sah Wibie. Kenapa harus dipertegas seperti itu di depan orang lain yang sama-sama mereka kenal?" Pikir Rey dalam hati.


Kedua masalah itu cukup membuat Rey sadar, bahwa apa yang telah terjadi padanya belakangan ini memang terlalu cepat. Bisa jadi orang -orang di sekeliling mereka cukup kaget atas pernikahan mereka.


Mereka kaget, Rey juga belum siap atas reaksi mereka. Untuk menjaga perasaannya, Rey berusaha menutupi statusnya dari orang-orang yang di kenalnya. Ia tidak pernah tahu bagaimana perasaan Wibie akan hal ini.


Memang Wibie seolah menganggap angin lalu terhadap apa yang diucapkan Bu Har beberapa hari yang lalu, tanpa Rey tahu itu semata-mata ia lakukan agar Rey tetap bahagia. Tidak ada beban yang harus menjadi pikirannya setelah keputusan besar yang mereka sepakati.


Rey lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Dia lebih memilih mendengar celotehan Devara yang duduk ditengah. Sesekali ia hanya menyahut singkat jika dimintai jawaban oleh anaknya itu. Rey lebih memilih berkomunikasi dengan pikirannya sendiri agar tidak salah bertindak.


Motor yang mereka tumpangi tiba di rumah Oma. Siang ini Oma meminta seluruh keluarganya berkumpul karena akan ada acara aqiqah cucu keduanya, putri dari Witha tepat di hari ke 14 anak itu lahir.


Dari depan, rumah masih telihat begitu sepi. Hanya terdengar suara motor dan teriakan Devara yang memanggil adiknya.


"Thia, kakak pulang nih," seru Devara dengan riang. Ia segera menghamburkan diri menuju kamar Muthia.


Mendengar suara teriakan yang berulang-ulang, Oma muncul dari ruang tamu dan menyambut kedatangan Wibie dan Rey.


"Adeknya masih bobok sayang, jangan kenceng-kenceng suaranya. Nanti kaget dan bangun adeknya," ujar Oma mengingat Devara.


"Cuci tangan dan kakina dulu. Terus ganti baju. Nah, baru bisa temenin adek bayi bobok di kamar," ujar Oma lagi.


Devara yang sudah mendekati kamar bayi segera berbalik arah. Ia membuka seragam sekolahnya dan melemparnya ke tempat cucian kotor.


Dengan masih mengenakan celana dalam dan kaos kutang, gadis kecil itu segera beranjak ke kamar mandi dan melaksanakan apa yang dibilang Omanya.


Rey memberi salam dan mencium tangan Oma, tak lupa ia juga memeluk tubuh ibu mertua itu sebentar.


"Kok sepi, Bu?" tanya Rey.


"Iya, semua masakan kita pesen kok. Paling siang ini ada temen Witha yang datang,"


"Oh,..."


Wibie juga melakukan hal yang serupa begitu ia masuk ruangan. Memeluk dan mencium hangat ibunya.


Dari arah dapur keluar Witha yang masih mengenakan daster. Wibie tersenyum pada adik kesayangannya itu.


"Bu dokter jam segini belum mandi. Mentang-mentang libur,"


"Sudah, Mas. Ini kostum bunsui tau. Payah ih. Baju model begini paling digandrungi ibu-ibu yang baru lahiran," pamernya sembari menunjuk ke arah deretan kancing yang ada di bagian dada.


"Sebentar lagi Kak Rey pasti cari daster yang beginian," lanjut Witha.


Wibie tertawa dan melihat ke arah istrinya yang masih berada di ruang itu. Rey tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis menanggapi candaan itu.


"Sudah-sudah, tadi ibu pesen pempek online ternyata recommended banget. Ayo dicobain," ajak Oma.


"Ibu beli pempek, tumben?" tanya Wibie.

__ADS_1


"Kan sekarang punya anak mantu orang Palembang, harus familiar sama makanan sana" sahut ibu sembari menuju meja makan.


"Ayo Rey, kalau menurut ibu sih enak. Ga tau kalau lidah orang yang asli dari sana," ibu membuka tudung saji. Di meja tersaji berbagai pempek yang sudah siap di santap.


"Tadi Witha juga lepas kendali. Kuahnya sedikit pedes, ibu takut banyinya mencret. Ah, anak itu selera makannya jadi berlipat-lipat sejak menyusui," ujar ibu sembari tersenyum dan gelang-geleng kepala.


Wibie segera mengambil mangkuk kecil yang sudah ada di meja dan menuangkan kuah pempek ke dalam mangkuk itu.


"Kalau aku suka adaan," ujarnya.


"Oh, yang bulet warnanya sedikit kuning itu adaan ya?" tanya ibu


"Iya Bu. Tekturnya lebih lembut dari jenis yang lain," sahut Rey.


"Iya, ini enak Bu. Boleh juga nih lain kali pesen lagi," kata Wibie, kali ini juga ia mengambil pempek kulit.


Saat Wibie dan Rey sedang menikmati pempek, Devara keluar dari kamar mandi. Tubuh montoknya hanya berbalut pakaian dalam. Ia segera menghampiri Rey yang ada di meja makan.


"Mama makan apa?" tanya anak kecil itu.


"Pempek, kakak mau?" tanya Rey menawarkan pempek pada Devara.


"Enggak, mau mau sama adek aja,"


"Pake baju dulu ya. Baru ke kamar adek," seru Rey sembari mengusap punggung anak itu dengan tangan kirinya.


Devara tidak menjawab, ia segera beranjak ke kamarnya untuk mengenakan baju dan segera ingin ke kamar adik bayi.


Tak lama dari itu, Devara sudah berbaring di sisi adek bayi Witha, sementara Rey mencuci mencuci piring bekas makan pempek. Wibie memilih ke kamarnya, entah apa yang dikerjakannya.


"Ga apa, cuma 2 biji ini,"


Bu Fat yang sedang bereskan buah-buahan itu kembali meneruskan pekerjaannya.


"Semua masakan catering ya, Bu?" tanya Rey.


"Iya, ibu cuma beli buah-buahan dan mimuman saja. Semua sudah beres. Tinggal nunggu cateringnya Dateng,"


Rey yang telah mencuci piring dan membersihkannya tangannya ijin pamit ke depan dengan Bu Fat karena sudah tidak ada pekerjaan yang harus di selesaikan di dapur.


Rey tidak menemui Oma di ruang makan, maka ia memilih menyusul Wibie ke kamarnya. Sejak menikah, baru sekali ia masuk ke kamar masa kecil suaminya. Itu juga sudah malam, dan ia langsung tidur.


Wibie terlihat sedang mengeluarkan meja lipat dari kolong tempat tidurnya ketika Rey sudah berdiri di ambang pintu. Mengamati suaminya yang berjongkok dan menarik meja itu ke luar.


"Meja buat prasmanan," ujar Wibie ketika ia sudah merdiri dan menggotong meja itu keluar dari kamarnya.


"Berat?"


"Enggak. Bahannya enteng kok,"


Rey menggeser tubuhnya ke dalam agar Wibie bisa melintasi pintu.


Rey mengamati kamar itu dengan seksama. Kamar yang begitu tertata rapi dan bersih. Tampak dari sisi ruang itu yang terbebas dari debu.


Rey melihat meja tang ada di sisi kanan spring bad ukuran 2x1,5 itu. Di atas meja itu terlihat tumpukan beberapa buku dan satu unit komputer.


Rey duduk di kursi yang menghadap ke meja, ia membuka tumpukan buku-buku itu.

__ADS_1


"Rapi sekali. Ini buku-buku kuliah Mas Wibie sepertinya." bisik Rey dalam hati


Ia juga melihat satu foto yang di pasang pada bingkai kecil. Foto 3 anak sekitar usia SMP sedang ada di pinggir danau. Dua perempuan dan satu laki-laki. Rey mengenali anak laki-laki itu sebagai suaminya karena garis mukanya yang tidak banyak berubah. Namun untuk mengenali 2 perempuan yang ada di foto itu, Rey harus berpikir keras.


"Siapa, ya" Rey mengernyitkan keningnya.


"Yang ini lebih mirip Witha. Cuma tubuhnya sedikit gemuk dari yang sekarang. Namun yang di samping kanan Wibie ini siapa?" pikirnya lagi.


Sementara Rey sedang berusaha untuk mengenali satu orang yang belum ditebaknya, dari arah pintu gerbang terdengar ada suara mobil yang masuk. Tak lama setelah mesin di matikan, ada suara perempuan memberi salam


Rey mendengar suara Wibie menjawab salam dan menyebut nama tamunya itu untuk masuk.


"Ah, kenapa wanita itu juga datang ke sini? Apa kepentingan dia di rumah ini?" Rey mulai kesal dan kejadian beberapa jam yang lalu melintas kembali di kelalanya.


"Eh, sepertinya wanita yang ini mirip sekali dengan dia" Rey tiba-tiba mengingat sesuatu.


"Apa sudah sedekat itu hubungan mereka. Jika tidak ada apa-apa diantara mereka, Dhiza pasti tidak akan bersikap seperti itu padaku," Rey menarik nafasnya dengan pelan. Ia berusaha agar tidak terpancing emosi.


Rey tak ingin keluar dan menemui yang baru datang, ia membuka laci meja yang tidak terkunci dan mengambil album kecil yang ada ditumpukkan paling atas.


Rey mengeluarkan album itu dan membuka satu persatu foto yang tersusun di album tua itu. Selain foto keluarga, foto yang tersimpan lebih di dominasi oleh foto 3 remaja tadi. Foto yang ada dibingkai perak di atas meja itu


Rey begitu asik mengamati foto-foto itu hingga ia tidak sadar Wibie sudah berdiri mematung di belakangnya.


"Ada Dhiza di depan,"


Rey memalingkan tubuhnya dan bertanya sesuatu pada suaminya sembari memperlihatkan bingkai foto di tangannya.


"Yang ini Dhiza ya?" tanya Rey menyelidiki.


"Iya. Dia itu sudah seperti keluarga kita sendiri,'


"Dia juga pimpinan yayasan di sekolah Devara, kan?"


"Iya, aku juga baru tau pas hari pertama Devara sekolah. Sudah lama sekali aku putus Kontak denganya, ga tau kalau dia bekerja di situ" jelas Wibie.


"Oh," seru Rey sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


Rey seolah mengingat sesuatu, suaminya memang benar. Rey juga melihat Wibie dan Dhiza yang saling kaget ketika bertemu di ruang rapat wali murid kala itu.


Untuk kali ini, Rey masih bisa percaya pada suaminya dalam hal sikap Dhiza yang dianggapnya aneh.


"Ayo, kita keluar!" ajak Wibie


"Duluan aja, Mas. Aku masih mau liat foto-foto ini dulu. Kamu waktu masih kecil lucu banget,"


"Lucu apa ganteng?"


"Hemmm ..." Rey tidak berkomentar lagi. Kali ini ia melanjutkan membuka album itu.


Wibie meninggalkan Rey setelah menepuk kedua bahu istrinya itu dengan lembut.


"Nanti aku nyusul," ujar Rey meyakinkan suaminya.


Sepeninggal suaminya, otak Rey kembali berpikir. Ia sudah mendapatkan jawaban siap perempuan diantara Wibie dan Witha yang ada di foto itu.


"Sepertinya aku akan berhadapan dengan orang yang cukup kuat di rumah ini. Aku harus berlaku yang lebih elegan agar Dhiza tidak lagi bersikap ketus padanya,"

__ADS_1


__ADS_2