
Hasil mancing pagi ini cukup lumayan, tiga cowok ganteng itu bisa membawa pulang sekitar 2kg ikan.
"Ha...ha.....ikan di sini genit-genit juga, ya? Tau aja ada penduduk pendatang yang tampan-tampan. Meski cuma menggunakan cacing tanah mereka antri menghampiri kita," ujar Dion bangga.
"Ha....ha....bisa jadi. Ikan itu sudah bosen dengan aroma penduduk desa, ia pengen variasi," sahut Pandu menanggapi candaan temannya itu.
"Sore kita mancing lagi. Kalo perolehan begini, semangat 45 aku. Ga peduli badan digigiti nyamuk," ajak Pandu.
"Sip, kalau urusan selesai, kita mancing lagi,"
Ketiga pria itu tidak langsung pulang, mereka yang sudah membawa perlengkapan mandi langsung menceburkan diri ke sungai.
Tanpa ragu-ragu, Alex, Pandu, dan Dion yang sudah mengenakan celana boxer dari rumah langsung
Menceburkan diri ke sungai. Mereka mengambil jarak yang cukup jauh dari kerumunan perempuan desa yang tengah mencuci pakaian dan membersihkan diri.
"Ternyata pemandangan pagi lebih sehat," Dion mengarahkan pandangannya pada beberapa ibu-ibu dan para gadis yang mengenakan kemben saja. Bahu mereka yang dibiarkan terbuka cukup mengundang perhatian Dion.
"Heemmmm.....jaga mata. Jangan sampai pandanganmu membuat mereka tersinggung," Alex mencoba mengingatkan temannya itu.
"Amazing Broo... putih-putih dan montok," Dion tidak menghiraukan teguran Alex.
"Dasar," seru Alex merasa kesal karena Dion dan Pandu tetap saja menikmati pemandangan yang hanya beberapa meter dari tempat mereka mandi.
"Tar sore ajak Risya mandi. Tubuhnya tak kalah seksi dengan mereka-mereka itu. Kakinya yang jenjang pasti lebih memikat jika mengenakan kemben seperti itu," Dion terus saja bicara sembari memejamkan kedua matanya, ia sedang membayangkan sesuatu.
"Wah..... wah.... sudah ga bener kalo seperti ini. Jadi diem-diem kau menyukai calon dokter itu?" tanya Pandu menyelidik.
"Lebih tepatnya memikat hatiku. Tubuhnya proporsional sekali. Dadanya montok,"
"Sainganmu berat, sepertinya dia lebih suka sama Alex," Pandu keceplosan.
"Iya, aku juga melihatnya seperti itu," dengan nada putus asa, Dion mengakui apa yang diucapkan Pandu.
"Dari mana kalian bisa bikin kesimpulan. Jangan ngaco," elak Alex yang cukup kaget mengetahui kedua temannya itu ternyata memperhatikan Risya juga.
"Dia suka curi-curi pandang padamu. Aku bisa melihatnya kemarin sore waktu di balai desa. Ha...ha...," tawa Dion begitu getir.
"Aku ga begitu memperhatikannya. Aku cuma menganggap dia teman satu kelompok aja, kok. Tidak lebih. Dia memang smart, tapi bukan tipe aku,"
"Wow.....masa? Cewek yang seperti apa seleramu. Masa Risya secantik itu kamu ga tertarik,"
"Ah, sudahlah. Tak ada gunanya berandai-andai. Kita seperti sudah ditunggu oleh bidadari-bidadari kita. Ha...ha ....," Alex mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Ayo buruan, jangan sampai mereka ngamuk nungguin kita," seru Alex lagi.
"Ah, palingan mereka juga belum siap. Tau sendiri lah, mandinya antri. Belum lagi dandannya,"
"Terserah saja, kalau kalian punya pendapat begitu. Aku ga mau diomelin pastinya. Satu orang aja kalo udah ngoceh kita kewalahan apalagi tujuh," seru Alex sembari mengangkat tubuhnya dari kedalaman air dan menepi. Setelah mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan mengganti boxernya dengan kain sarung, ia melangkah meninggalkan temannya.
"Tunggu," teriak Dion dan Pandu berbarengan. Alex yang sudah beberapa langkah meninggalkan temannya itu, kini mebalikkan tubuhnya dan berdiri terpaku menunggu Dion dan Pandu yang mengeringkan tubuhnya.
"Lex, dadamu kekar juga. Perutnya juga mulai sixpack. Latihan di mana?" tanya Dion
"Ha..ha.....cuma nge-Gim deket kampus. Itu juga ga rutin. Sering-sering sit-up aja," Alex mengulurkan handuknya hingga menutup bagian dada dan perutnya.
"Dih, gitu aja malu. Pake ditutup segala. Gua masih normal," protes Dion yang merasa tersinggung karena Alex buru-buru menutup dadanya.
"Bukan itu, noh liat. Ada yang dateng," Alex memberi tahu Dion dengan mengarahkan matanya pada Rey dan Rara yang datang menghampiri mereka.
"Bener, kan! Mereka sudah pada siap," gumam Alex lagi.
Rara yang lebih dulu berada di tepi sungai segera ngoceh-ngoceh begitu mendapati teman satu kelompoknya itu malah asik ngobrol meskipun sudah selesai mandi.
"Ditungguin juga. Kemaren ngomel gara-gara kaum cewek mandinya lama. Balas dendam?" Ujarnya sambil berkacak pinggang.
"Atau jangan-jangan kalian pada debgaja, ya? Menikmati pemandangan pagi," Rara mengedarkan pandangannya ke sepanjang aliran sungai yang ramai. Banyak penduduk yang sedang MCK.
"Alex itu. Bukan gua," tuduh Dion sembarang.
"Sudah jam 8 lewat. Motornya udah siap," Rey menimpali. Rey yang berdiri tidak jauh dari bibir sungai juga mengatakan pandangannya di sepanjang sungai.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Pandu yang melihat Rey mengembangkan bibirnya.
"Di ujung sana ada yang jongkok, seperti sedang BAB. Kotoran pasti ngalair ke sini dong?" Ujarnya setengah bergidik.
"Airnya deres, ga bakal nyangkut," sahut Alex.
"Ih.....tetep aja jijik," Rara yang mengikuti arah pandang Rey dan melihat orang yang sedang jongkok jadi ikut bergidik. Ia membayangkan jika apa yang dikatakan Rey itu terjadi.
"Udah-udah.. buruan. Udah siang ini, ga enak jika telat sampai ke tambak," Alex mengingatkan Dion dan Pandu yang belum juga mengganti basahannya.
"Udah selesai, kok. Tinggal ganti celana nih," seru Dion.
"Buruan," teriak Rara tidak sabar.
"Udah sono. Ga usah ditunggui. Apa mau liat gua copot celana, nih,"
__ADS_1
"Apaan, ga jelas banget sih Lo," Rara segera memutar tubuhnya begitu Dion sudah menurunkan celananya.
"Ha...ha.... pura-pura malu. Padahal mah udah pengalaman meloroti celana, kan!
"Banyak omong, gua lempar sendal nih," ancam Rara.
"Hem.....ketauan kan mukanya merah,"
"Dapet banyak nih ikannya?" tanya Rey pada Alex. Ia tidak menggubris keributan Rara dan Dion.
"Lumayan banyak. Bisa buat makan sore ini," sahut Alex sembari membawa ember yang berisi hasil pancingan.
"Biar aku yang bawa," buru-buru Alex merebut ember berisi ikan dan air yang ingin diambil oleh Rey.
"Berat," ujarnya lagi.
Saat ia merampas ember itu, handuk yang dikalungkan dilehernya jatuh. Kini Alex hanya mengenakan sarung yang menutupi bagian pinggang hingga atas lututnya. Dadanya yang bidang terbentang lebar di depan Rey.
Rara yang melihat itu langsung terperangah, tanpa bisa di tahan ia langsung berkomentar "wow....,"
Namun Rey tidak menampakkan reksi apapun. Padahal ia berada begitu dekat dengan Alex.
"Pamer, tuh. Sama gua aja ditutupi, begitu ada cewek sok drama segala,"
"Sialan, lo. Dikira gua sengaja,"
"Halah....Lo pamer sama Rey atau Rara?" serbu Dion lagi.
"Udah ga usah diributin. Tuh yang di sana malah lebih seksi dari ini," Rey menunjuk ke arah pria tua yang bertelanjang dada mendekati arah sungai.
"Ha..ha...itu mah bukan roti sobek lagi, Rey," seru Rara yang tidak bisa menahan tawanya.
"Apa dong," tanya Rey dengan mimik yang lucu.
"Iga bakar. Ha.....ha.....," Sahut Rara sekenanya. Kini ia dan Rey membalikkan tubuhnya, melangkah menuju rumah yang mereka tempati. Alex dkk mengikuti di belakangnya.
******
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
__ADS_1
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊