
"Mas aku mau bebek cabe ijo," Rey segera menulis pesanan ketika mereka sudah ada di rumah makan bebek Madura yang tidak jauh dari kampus.
"Kamu laper, belum juga cuci tangan udah bikin pesenan aja," sindir Wibie sembari meletakkan pantatnya di samping istrinya.
"Iya, aku lupa," sahut Rey malu-malu, ia langsung beranjak menuju ke tempat pencucian tangan.
"Pesan apa, nih?" tanya Wibie pada Dhiza dan Pras yang sudah mengisi tempat duduk di depan Wibie.
"Samain aja. Kayaknya bebek cabe ijonya enak nih,"sahut Pras.
"Iya,aku juga mau," Dhiza menimpali.
"Minumannya?" tanya Wibie lagi.
"Es teh," sahut Pras.
"Aku jus jambu," Dhiza menimpali.
"Ada tambahan lagi?" tanya Wibie layaknya pelayan profesional.
"Itu aja," sahut Pras dan Dhiza nyaris bersamaan.
Wibie menambah es jeruk untuknya dan jus jambu untuk istrinya.
Setelah mencatat makanan dan minuman, Wibie memanggil pelayan ke arah meja mereka.
"Sebentar, ada yang ketinggalan," buru-buru Rey mengambil catatan dan menuliskan sesuatu.
"Kamu laper atau kesurupan," canda Wibie karena istrinya menambahkan bebek rendang dan pepes ati ampela pada daftar pesanan.
"Aku mau makan yang banyak," sahut Rey dengan entengnya.
"Ha...ha....sudah pecah bisul dia. Jadi bisa tenang," ledek Pras.
"Tenang, kamu juga pasti bisa, kok," hibur Dhiza untuk suaminya.
"Rasanya lega banget, otak jadi plong, gitu!" celetuk Rey.
Wibie hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya yang begitu senang lepas dari beban yang begitu mengganggu pikirannya dalam sepekan ini.
"Iya, makan sepuasnya. Yang penting kamu senang," sahut Wibie.
"Abis ini kita jalan-jalan sembari menunggu yudisium," ajak Rey.
"Kamu mau ke mana?" tanya Wibie dengan sabar.
"Beli es dawet durian di Pramuka," jawabnya singkat.
"Hah, ga kejauhan. Macet juga kalo jam segini. Kita kan pake mobil!" ujar Wibie sedikit keberatan.
"Jadi ga mau nemenin aku. Gitu ya? Mentang-mentang udah selesai," Pras mulai merajuk.
"Tuh," seru Wibie sambil menyodorkan bibirnya ke arah Pras. Berharap Rey bisa berubah pikiran karena sindiran Pras.
"Ah, kamu kan udah biasa presentasi di depan pejabat, beda sama aku. Ga masalah ga ditunggui juga," Rey mencoba berdalih.
"Bukan masalah itu, tapi mana setia kawannya?" Sindir Pras lagi.
"Iya, deh. Abis makan langsung balik ke kampus?" akhirnya Rey mengalah karena melihat ekpresi Pras yang begitu memelas.
"Gitu, dong. Itu namanya teman," sahut Pras mendadak jadi sumringah.
__ADS_1
"Dah, yuk kita makan! Biar bisa segera baik ke kampus," ajak Wibie ketika makanan yang mereka pesan sudah terhidang di hadapan mereka.
Rey memang benar-benar lapar karena hampir seharian otaknya tegang. Semua makanan yang ia pesan bersih, tidak bersisa sedikitpun. Bahkan ia minta tambahan nasi setengah porsi untuk menghabiskan bebek yang di pesannya itu.
"Kamu ga sakit perut?" tanya Wibie khawatir. Apalagi jus jambu yang dipesannya juga disedot hingga tetes yang terakhir.
"Gak. Alhamdulillah kenyang," sah jikaut Rey puas.
"Kenyang, lah. Makanan segitu banyak ga bikin kenyang mah kelewatan banget," oceh Pras.
"Sttt.... Laper" sahut Rey sembari memasang telunjuknya di depan bibir.
"Hemm.....," Guman Pras yang tidak mau menimpali lagi pembicaraan Rey.
Sekitar 20 menit mereka menghabiskan makan siangnya, setelah Wibie menyelesaikan pembayaran di kasir, mereka kembali ke kampus.
******
"Alhamdulillah," teriak Pras ketika keluar dari ruang sidang dan mengaburkan diri ke aula menemui Istrinya dan yang lainnya.
"Lancar?" tanya Dhiza penasaran
"Iya, Alhamdulillah banget. Mungkin karena dosennya sudah penat jadi mereka tidak semuanya memberikan pertanyaan," jelas Pras.
"Alhamdulillah, selamat ya sayang," ucap Dhiza pada sang suami.
"Selamat," Rey dan Wibie memberikan ucapan yang sama.
"Masih ada 3 peserta lagi sebelum yudisium. Gimana kalo kita sholat dulu," ajak Wibie.
"Ok, sekalian ngopi di bawah," sahut Pras.
"Iya, sini biar aku yang bawa," Wibie segera mengambil tas laptop dan godybac yang berisi buku dan skripsi istrinya. Ia menenteng kedua benda dan menyusul langkah istrinya yang lebih dulu meninggalkan aula.
"Pandu, aku aku ke bawah dulu ya?" pamit Rey pada temannya yang mendapat giliran terakhir itu.
"Ok," sahut Pandu sembari mengacungkan kedua jempolnya ke arah Rey dan Pras.
"Istrinya lagi hamil muda, jadi ga ada yang nemenin tuh orang," bisik Pras pada Rey.
"Iya, Rara juga sudah WA ke aku. Dia nitip suaminya. Minta aku kasih suport biar dia semangat,"
"Dari tadi ga keliatan, kemana tuh orang?" tanya Rey.
"Habis pembukaan dia nemuin klien," sahut Pras.
"Pantes," gumam Rey.
"Ga apa kita tinggal sebentar. Ada Melly juga. Dia tadi pamit ke bawah sebentar,"
"Iya, mudah-mudahan mereka juga ga terlalu lama di dalam. Sudah sore. Dosen pengujinya juga sudah capek dari pagi pindah-pindah tempat,"
"Iya, soalnya pada mau ujian secepatnya biar bisa wisuda akhir tahun ini,"
"Aamiin, mudah-mudahan kita juga bisa ikut wisuda ya?" sahut Pras.
"Aamiin,"
Setelah sampai di bawah, Wibie menuju ke parkiran terlebih dahulu untuk menyimpan peralatan istrinya di mobil. Begitu juga Pras. Sementara Dhiza dan Rey langsung ke mushola, mereka akan sholat ashar berjamaah.
*****
__ADS_1
Yudisium atau pengumuman kelulusan dilaksanakan setelah magrib karena sidang berlangsung hingga pukul 17.30 WIB. Dan finally kabar baik, semua peserta ujian hari ini dinyatakan lulus.
Yudisium dilaksanakan sebelum acara penutupan di ruang aula yang dihadiri oleh seluruh peserta ujian dan pendamping. Yang membuat haru dari dari serangkaian kegiatan mereka hari ini adalah ketika mereka dipanggil satu persatu oleh Ketua Prodi dengan nama dan berikut gelar. Mungkin bagi sebagian orang norak, tapi bagi Rey dan teman-temannya saat itu, momen ini sangat mengharukan.
"Alhamdulillah LULUSSSSS," teriak mereka nyaris bersamaan.
Akhirnya penantian selama 4 tahun terbayar sudah. Rey dan keempat temannya sangat senang karena bisa menjadi mahasiswa yang sidang skripsi pertama di angkatannya dan bisa lulus dengan nilai yang maksimal.
"Selamat ya, sayang. Sekarang kamu sudah menjadi sarjana. Impian terbesar dalam hidupmu sudah tercapai," ucap Wibie penuh haru.
"Terimakasih, Mas. Semua berkat bantuanmu," sahut Rey yang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Air bening tiba-tiba menetes dari matanya.
"Aku senang bisa menjadi bagian terpenting dalam tujuan hidupmu," ucap Wibie lagi. Begitu lirih, kali ini ia menggenggam tangan istrinya begitu erat.
"Kalian sudah melakukan yang terbaik, sudah menyelesaikan skripsi dengan hebat. Karena skripsi yang hebat dan itu adalah skripsi yang selesai dan lulus uji,"
"Iya, terimakasih. Mas juga sudah membantu menyiapkan semuanya,"
"Berarti selamat buat aku juga," canda Wibie lagi.
"Jangan lupa telpon ayah, sampaikan kabar gembira ini. Minta mereka mendampingimu saat wisuda nanti," Wibie mengingatkan istrinya.
"Iya, Mas. Sepulang dari sini aku akan telpon ayah,"
"Jangan lupa juga, persiapan dirimu. Aku mau bonus yang lebih istimewa dari tadi pagi,"
"Ah.....kok gitu sih?"
"Iyalah, kau bilang sendiri tadi. Aku jadi bagian terpenting dalam kesuksesanmu. Masa ga dapet yang istimewa?"
"Hemm.....pamrih lagi, dia!" Rey mencubit perut suaminya.
"Nanti malam, ya. Besok aku kan harus ke lapangan lagi," pinta Wibie setengah memelas.
"Kita ga jemput anak-anak?" tanya Rey mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oma yang akan antar mereka besok pagi. Karena sudah malam kita ga usah ke sana," dengan bangga Wibie mengungkapkan alasan yang membuat Rey tidak bisa mengelak lagi.
"Hemm......,"
"Aku ambil kesimpulan sendiri aja. Ibarat anak perawan, nih. Kalo sudah diem dan bergumam seperti itu berarti ia setuju,"
Rey hanya tersenyum geli. Suaminya memang paling bisa membuat alasan apalagi jika sudah yang menyangkut yang satu itu.
"Mas, acaranya belum selesai. Udah ga sabaran aja,"
"Abis, aku jadi ikut semangat ngeliat kamu uang begitu ceria hari ini,"
"Iya, terimakasih. Pokoknya full servis untukmu. Stttt.....," Bisiknya lagi. Sengaja Rey bilang begitu agar Wibie tidak membahas soal itu lagi. Malu jika sampai terdengar oleh teman-temannya.
"Asik..... thanks ya hanny," bisik Wibie lenut di telinga Rey.
******
Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Untuk kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.
Mohon maaf, ya!
Ojo lali!
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.
__ADS_1