
Wibie melajukan kendaraannya dengan pelan. Jalan begitu padat, mau tidak mau harus merayap hingga sampai ke rumahnya yang masih berjarak 21KM lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 11.45 wib. Ia baru saja mengantarkan keluarga mertuanya ke Bandara untuk kembali lagi ke kampungnya.
Setelah memastikan mereka naik pesawat yang akan ditumpangi dan Wibie juga membantu ayah mertuanya yang sudah merasa nyaman dengan tongkat penyanggahnya. Mereka pamit undur diri.
Mereka juga sudah ditunggu oleh sopir perusahaan yang diminta Wibie untuk menjemput mereka di bandara Silampari dan memastikan mereka selamat hingga sampai di rumah.
Rey lebih banyak diam sepanjang perjalanan. Pandangannya tertuju pada pemandangan yang ia lihat dari balik kaca. Barisan gedung-gedung pencakar langit yang megah. Sisi kiri dan kanan ruas tol yang dipadati barisan mobil karena padatnya jalanan yang mulai gelap tertutup pekatnya awan.
Sementara Wibie konsentrasi dibalik kemudinya dengan kecepatan sedang. Sesekali diliriknya Rey yang mulai menguap pelan. Tak butuh waktu lama, Rey sudah memejamkan mata.
"Hem... mulai, deh. Jalan sebentar udah mau molor aja. Dasar ***** (nempel langsung molor)," bisik Wibie dalam hati.
Wibie tersenyum melihat wajah polos yang begitu terlelap di sampingnya. Dalam hati ia bergumam sendiri,
"Meski terhitung masih belia, kadangkala pemikiran melebihi batas logika gadis seusianya,"
Wibie kembali memandang lurusnya jalanan. Untuk menghilangkan jenuh, sesekali ia mengikuti lantunan lagu dari radio kesayangannya.
Genggam erat tanganku
Jangan lepaskan cintaku
Ku ingin slalu bersamamu
Ku terima, kamu berhak bahagia
Kamu berhak bahagia
"Sekarang waktunya menikmati indahnya bersama pengantinku," bisiknya dalam hati.
Ia begitu girang. Toleransi ibunya yang begitu tinggi dengan membawa Devara untuk sementara waktu ke Duren Sawit hingga keadaan rumah yang menjadi sepi setelah kembali keluarga Rey, membuat hatinya teriak.
"Legaaa......,"
"Ah egois sekali diriku," Umpatnya lagi dalam hati. Merasa bebas dari kehadiran orang-orang yang ia cintai.
****
Siang ini matahari enggan menampakkan senyumnya. Awan bergulung-guling menutup langit-langit di sepanjang jalan menuju ke Jakarta Timur. Namun belum ada tetes hujan yang turun ke bumi.
Memasuki pintu gerbang rumahnya, Rey menggeliat kecil. Matanya pelan-pelan terbuka. Ia tersenyum ketika mendapati dirinya yang sudah sampai ke rumah.
Rey melihat Wibie yang berlari kecil menembus hujan mendorong pintu pagar agar Lexus hitamnya bisa segera istirahat di garasi.
Diluar hujan begitu lebat, aroma tanah yang menyengat pertanda bahwa hujan belum lama memuntahkan amarahnya.
Rey membunyikan klakson. Memberi kode pada suaminya bahwa ia yang akan membawa masuk mobilnya.
Wibie tersenyum dan mengacungkan satu jempol ke arah istrinya yang sudah berada di belakang kemudi.
"Sebentar, aku ambilkan handuk dulu,"
Wibie hanya mengangguk. Ia masih berdiri di muka garasi karena bajunya yang basah tersiram hujan.
Rey melangkah ke kamar Devara karena jaraknya yang terdekat dengan garasi rumah itu. Tak lama ia kembali dengan handuk hello Kitty warna pink dan memberikannya pada Wibie.
Rey berjalan lebih dulu ke arah dapur dan ingin membuat minuman hangat untuk suaminya.
"Kamu lagi ngapain?"
Suara Wibie mengejutkan Rey. Membuat Rey terlonjak dan kaget.
__ADS_1
"Ih, bikin kaget aja,"
"Lagian kenapa belum naik, ayo!," ajak Wibie pada istrinya.
"Sebentar. Aku buatkan kopi agar tubuhmu hangat,"
"Ga mau. Aku mau kamu yang ngangetin aku langsung," sahut Wibie tersenyum nakal.
Tanpa mau menunggu lagi, Wibie meraih tangan Rey dan ingin segera mengandeng istrinya itu menuju ke kamarnya.
"Sebentar ih. Tanggung. Tinggal diaduk," elak Rey.
Tak ingin mengecewakan sang Raja, Rey segera melangkah menuju kamar atas dengan secangkir kopi yang masih mengebul di tangannya. Wibie mengintil dari belakang.
Rey meletakkan kopi yang dibuatnya di atas meja kecil yang menghadap ke jendela.
Ia melihat Wibie menanggalkan pakaiannya yang basah di depan ruang ganti.
"Bukannya di jok belakang ada payung," Rey mencoba mengingatkan Wibie karena ia nekat menembus hujan.
"Tanggung. Lagian aku suka hujan, untuk apa ada payung?"
Rey mendekat ke arah Wibie. Ia memandang lekat pada laki-laki yang kini mulai membuka kancing bajunya. Rey ingin membatu suaminya agar segera membersihkan badannya agar tidak masuk angin.
"Suka hujan? Kenapa?"
"Karena aku menemukan gadisku di waktu hujan," sahutnya lirih. Kali ini ia membalas tatapan Rey yang sudah berada tepat di depannya.
"Ehhhh......stop," teriak Rey seketika itu juga.
Ia melihat Wibie yang ingin melepas celana dalamnya di ruang itu juga
"Yang itu buka di kamar mandi," teriaknya lagi. Kali ini ia menutup muka dengan kedua telapak tangannya.
Wibie tak mengindahkan teriaki itu. Ia tetap menanggalkan baju si Buyung. Dengan langkahnya yang santai ia melenggang menuju kamar mandi.
"Hemm.....," Rey melihat dirinya di depan kaca. Terlalu pendek untuk ukuran tubuhnya.
"Bisa jadi memang sengaja memilih yang begini. Ya, sudahlah, tinggal pake ini," seru Rey lagi.
Rey kembali ke kamar dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sembari menunggu suaminya, ia menyalakan TV.
"Seger," ujarnya.
Dari penampilan terlihat jika ia juga membasuh kepalanya.
"Laper, ga?" tanyanya pada Rey yang tengah bersandar di tempat tidur.
"Iya. Aku masak dulu kalo gitu,"
Rey beranjak dari tempat tidur dan segera ingin ke dapur.
"Ga usah masak. Delivery aja," ujar Wibie seketika itu juga .
Rey mengangkat kedua bahunya dan kembali ke posisi suka. Bersandar dan menyaksikan tayangan tv.
Wibie meraih HP yang ia letakkan di atas nakas kemudian melemparkannya tubuhnya di samping Rey.
"Mau makan apa sayang?" tanyanya sembari melihat-lihat menu yang ada di layanan Ok food.
"Aku pengen yang berkuah dan hangat," sahut Rey yang langsung bergelayut di bahu suaminya.
Ia mendengus sebentar, mencium aroma tubuh Wibie yang segar dan wangi.
__ADS_1
Diperlakukan seperti itu oleh istrinya, Wibie menundukkan mukanya sedikit. Secepat kilat menangkap pipi istrinya.
Cup....
Kemudian mengulus bahu wanita itu dengan lembut.
"Sip kambing mau?" Wibie memastikan menu untuk istrinya.
"Boleh,"
"Ok. Sop kambing muda dan ikan bakar sambel penyet,"
Wibie segera mengisi aplikasi tersebut dengan menu yang akan dipesan kemudian mengirimkannnya. Setelah ada konfirmasi dari pihak delivery, ia meletakkan kembali HP-nya di atas nakas, disamping tempat tidur.
"Kopinya keburu dingin," Rey mengingat kan Wibie pada secangkir kopi yang sudah ia buat dan diletakan di atas meja.
"Aku lebih menginginkan yang sipembuat kopi untuk menghangatkan tubuhku,"
Seketika itu juga Wibie membalikkan tubuhnya ke samping. Meraih pinggang Rey dan membawanya merapat pada tubuhnya.
Rey mencubit pelan tangan Wibie yang mulai menekan erat tubuhnya hingga nyaris tidak bisa bernafas.
"Apaan sih," sungut Wibie tanpa mau melepaskan pelukan itu.
"Makanannya Dateng,"
"Satu jam lagi,"
Kali ini ia tidak membiarkan Rey untuk berkata-kata lagi. Ia meraih dagu istrinya dengan lembut dan membisikkan sesuatu dengan lembut ke telinga Rey.
"Aku menginginkanmu, sayang,"
Wibie mencium dengan sangat lembut membuat Rey terbuai dengan sentuhan bibir basahnya. Terhanyut dalam setiap sentuhan tangan Wibie yang sudah menjelajahi setiap lekuk tubuhnya.
Angin berkelebat dari kaca jendela yang memang dibiarkan terbuka. Tirai putih yang tergerai beterbangan, menghadirkan hawa dingin yang luar biasa. Menelusup dalam setiap lekuk tubuh sepasang suami istri yang tengah memadu kasih.
"Aaaa...," Rey menjerit . Tangannya mencengkram erat tubuh tubuh suaminya.
"Teriakkan sekencang-kencangnya. Tak ada yang mendengar suaramu," ujar Wibie dengan nafas memburu.
"Ih...." Rey mencubit kembali pinggang itu. Kali ini dengan sedikit gemas.
Wibie menangkup mulut Rey dengan sebuah kecupan lembut.
"Jangan berisik," serunya kemudian.
.
.
.
Di ujung pendakiannya, Wibie terkulai lemas di atas tubuh Rey.
Ia mendekap erat tubuh suaminya dan mengecup lembut kening pria yang mulai detik ini akan menjadi miliknya sepenuh hati.
Wibie segera menjatuhkan tubuhnya disamping Rey yang juga masih lemah tanpa daya.
Wibie menarik tubuh Rey ke dalam pelukannya. Kecupan lembut kembali mendarat di kening istrinya itu
"Terimakasih sayang," bisiknya lembut.
Rey tidak menjawab, ia hanya sanggup menganggukkan kepalanya dengan pelan. Seluruh uratnya seakan lumpuh hingga tak ada yang bisa dilakukannya kecuali berbaring tak berdaya.
__ADS_1
Senyumnya mengembang, ia begitu menikmati suatu perjalanannya bersama Wibie hingga ia mencapai puncak kebahagiaan.
Puncak pendakian yang begitu ia takuti, dapat ia taklukkan. Kesabaran dan sentuhan lembut Wibie membuat rasa sakit itu nyaris tidak ia rasakan sama sekali.