
[ Enam bulan Kemudian ]
Rey membuka kedua matanya, rasanya sangat berat. Mungkin itu efek kurang tidur gara-gara semalam ia harus menyelesaikan slideshow dan mempelajari kembali skripsi yang telah siap untuk di sidangkan. Ada beberapa teori yang harus di fahami lebih dalam agar jika ada pertanyaan dari dosen penguji bisa dijawab dengan baik.
Walau enggan, ia paksakan tubuhnya yang berasa begitu berat itu untuk bangkit dari tempat tidurnya. Perlahan kesadarannya mulai kembali. Kedua matanya menyipit melihat jam dinding yang tergantung di kamarnya.
“Hah! Jam lima kurang lima belas menit !”
"Di mana dia?" Pikirnya lagi. Rey tidak melihat suaminya di tempat tidur juga di kamar itu.
Rasa kantuk seketika menghilang. Padahal ia harus sudah ada di kampus pukul delapan tepat. Sedangkan jam segini baru bangun. Belum menyiapkan sarapan dan yang lainnya.
"Sudah jam segini. Belum bikin sarapan, lagi," Teriak Rey. Ia langsung turun dari tempat tidur , ia nyaris terpeleset gara-gara syaraf motoriknya belum tersadar sepenuhnya.
Bu Fat dan anak-anak dibawa Oma ke Duren Sawit sejak kemarin agar Rey bisa fokus menyiapkan sidang, untuk itu Rey harus turun tangan membuat sarapan untuk sang suami.
Rey bergegas ke kamar mandi karena ia harus sholat lebih dulu. Begitu sampai di kamar mandi, ia baru sadar jika air nya mati. Belum di perbaiki.
"Hah....sial sekali," ujarnya sembari menepuk keningnya sendiri dengan keras.
Rey buru-buru turun, ia langsung menuju ke kamar mandi dan sholat di kamar Devara. Rey juga tidak menemukan Wibie di ruang keluarga dan di sekitarnya, namun ia belum sempat mencari keberadaan orang itu karena buru-buru sholat agar tidak terlambat.
"Mas," teriak Rey setelah ia mencopot mukena.
Tidak ada jawaban, makin penasaran ia segera ke dapur. Dilihatnya meja makan, sudah tersedia sarapan. Nasi goreng dan lauk pauknya juga jus buah naga yang masih ada di gelas blender.
"Rupanya dia sudah bangun lebih dulu," Rey mengembangkan senyumnya.
Rey melongok ke luar juga sepi, namun ketika ia garasi terdengar seseorang mengucapkan salam dari arah pintu gerbang.
"Waalaikum salam," sahut Rey sembari menoleh ke arah sumber suara.
"Sudah bangun?" tanya Wibie begitu Rey menghampirinya dan mencium tangan pria itu.
"Aku kira ke mana?"
"Kan semalem udah bilang, mau sholat subuh berjamaah di masjid karena ada imam besar yang akan memberikan kuliah subuh,"
"Iya, ya. Aku lupa" Rey mengikuti langkah suaminya ke dalam.
"Laptop dan perlengkapan lainnya sudah ada di tas, batrenya juga 100%. Kalau file-nya aku ga tau mana yang mau di bawa, tapi sudah rapi di atas nakas,"
"Orang tidur kok kasur bertebaran dengan kertas dan laptop masih menyala," ujar Wibie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ketiduran, Mas," sahut Rey malu.
"Minta di buatin air jeruk anget ga taunya malah udah molor duluan," protesnya.
__ADS_1
"Iya, maaf ya," Rey mengapit lengan Wibie, mereka menapaki anak tangga menuju ke kamar mereka.
"Mau berangkat jam berapa, sarapan udah siap. Kamu mandi dan beres-beres sono, biar aku yang nyiapin mobil,"
"Iya, ini mau ambil anduk, dulu," sahut Rey.
"Siang ini ada yang mau benerin kran kamar mandi atas, tapi aku sudah bilang Fadlan kok. Kalo kita belum pulang biar dia yang urus,"Jelas Wibie.
"Tuh, tas laptop dan perlengkapannya. Trus yang mau di bawa apa lagi?" Wibie menunjuk pada satu tas yang tergeletak di atas kursi.
"Skripsi dan buku yang itu di bawa semua, takut di tanya sumber referensinya,"
"Ok, masuk semua ya?" tanya Wibie meyakinkan.
"Iya,"
"Terimakasih, Mas,"
"Mau ke mana?" tanya Wibie yang melihat Rey sudah berkalung handuk dan ingin keluar kamar.
"Mandi di bawah," sahut Rey heran karena suaminya bertanya seperti itu padahal jelas-jelas ia ingin mandi.
"Copot di sini aja bajunya," pinta Wibie setengah memerintah.
"Ih," sahut Rey setengah curiga.
"Blus," tubuh polos itu terlihat begitu indah karena Rey tidak mengenakan pakaian dalam sama sekali.
"Mas, dingin ih," protes Rey karena suhu AC di kamar itu membuat pori-pori nya membesar.
Wibie memeluk tubuh istrinya untuk memberikan kehangatan. Ia juga mendaratkan ciuman lembut ke ujung kepala wanita yang begitu di cintainya itu.
"Aku mandiin,ya?" Wibie segera mengangkat tubuh Rey yang polos itu dan membawanya ke kamar mandi bawah.
"Katanya mau beresin barang-barang yang mau di bawa," Rey mencubit gemas ujung hidung suaminya.
"Mandi kan sebentar. Ga sampe 15 menit," Wibie memberi alasan disertai seringai nakalnya.
"Hemm," sahut Rey yang sudah faham akan kode itu.
"Hadiah sayang, kan aku sudah cuti buat nemenin kamu hari ini," ujarnya memelas.
"Pamrih?" protes Rey
"Ga, juga. Cuma kalo kamu keberatan juga ga apa," Wibie mulai memasang muka pasrahnya.
Jika sudah melihat suaminya yang memasang muka seperti itu, Rey hanya bisa mengalah. Ia tahu, tugas utamanya istri adalah untuk melayani suami. Jadi tidak ada alasan apapun yang bisa membuatnya menghindar.
__ADS_1
Rey mengelus lembut bibir Wibie dengan telunjuk kanannya sembari memberikan senyum terindahnya untuk sang suami.
"Mandi dulu atau olahraga dulu?" tanya Wibie begitu sudah dapat sinyal positif dari sang istri.
"Terserah Mas saja,"
"Kok pasrah begitu?" goda Wibie
Rey tidak menjawab, tangannya sudah membuka kancing kemeja muslim yang di kenakan suaminya.
Wibie membaringkan Rey di sofa yang ada di ruang keluarga, tempat mereka biasa berkumpul dan nonton TV. Sofa yang selalu dimanfaatkan sebagai variasi favorit kala suasana rumah sepi.
"Kangen main di tempat ini," gumam Wibie yang sudah mulai melakukan penyerangan pada mangsanya.
Pagi itu jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB. Kedua manusia itu bermandikan keringat, tergeletak lemas di sofa tanpa selembar benangpun menutupi tubuh mereka. Meskipun pendingin ruangan tidak menyala, namun sirkulasi udara yang cukup dan pintu yang dibiarkan dalam keadaan terbuka, suhu di ruang itu cukup dingin oleh hembusan angin dari luar.
"Kita sarapan dulu, ya?" bisik Wibie yang masih berusaha mengatur nafasnya.
Rey hanya mengangguk pelan. Ia tidak bergerak sedikitpun dari posisinya yang setengah bersandar di sofa itu.
"Ayo," Wibie membungkukkan tubuhnya , ia ingin mengangkat istrinya kembali. Kali ini ia membawanya ke meja makan.
"Terimakasih ya, sayang," bisik Wibie begitu lembut di telinga istrinya.
"Semoga sidangnya lancar dan bisa mendapatkan nilai yang memuaskan," lanjutnya lagi.
"Aamiin, terimakasih Mas,"
"Aku jalan sendiri," protes Rey begitu Wibie sudah menelusupkan tangannya di bawah pinggul dan punggung istrinya.
"Kamu masih lemas, jangan jalan dulu. He...he....," Goda Wibie. Rey sempat meraih handuknya yang tergeletak di kursi sebelum Wibie membopongnya kembali ala bridal style.
"Ah, kita ini begitu kenanak-kanakkan sekali. Masa sarapan dalam kondisi seperti ini," Rey melihat tubuhnya yang hanya dililit handuk minimalis, sementara Wibie tidak mengenakan apapun.
Wibie hanya tersenyum, ia begitu menikmati sarapannya. Sepertinya ia begitu lapar karena sudah mengeluarkan energi yang begitu besar sepagi ini.
"Bagaimana jika ada yang datang,"
"Pintu gerbangnya kan di tutup," sahut Wibie tenang. Ia tahu Rey hanya menakut-nakuti agar ia segera menutup tubuhnya.
********
Hay semuanya, maafkan ya hanya sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.
Mohon maaf, ya!
Ojo lali!
__ADS_1
VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.