Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP.59 Kita Mudik


__ADS_3

"Sebenarnya sih lebih enak kalau kita bawa mobil, Mas. Kalau mau jalan-jalan di kampung kan ada kendaraan. Kalo berempat naik motor ke mana-mana sudah. Apalagi kakak sudah gede," Rey memberi masukan pada suaminya ketika mereka diskusi rencana pulang kampung.


"Iya, tapi 18 jam di jalan bisa bikin anak-anak bete. Kalau naik pesawat kan hanya butuh waktu sekitar 3-4 jam doang. Aku sudah pesan tiket, sayang kalo dibatalin?" sahut Wibie.


"Kalau yang jadi masalah cuma kendaraan saat kita di sana, itu gampang kok," lanjutnya lagi.


"Di sana ga ada yang rentalin mobil, Mas. Kalau lebaran kendaraan dipake buat keluarga. Mereka juga mau silaturahmi sana keluarga dan rekreasi juga. Mumpung kumpul,"


"Kita bawa mobil aja. Nyetirnya bisa gantian. Kita bisa nginep dulu di hotel kalo memang capek," lanjut Rey lagi.


"Aku sudah punya rencana, sayang. Udahlah, pokoknya kita naik pesawat aja. Dari rumah kita bisa pake tadi, dari Linggau nanti ada yang jemput kok,"


"Rencana apa?" tanya Rey makin penasaran. Apalagi melihat ekpresi suaminya yang senyum-senyum penuh arti.


"Ayah sekarang udah sehat. Doni juga sudah bisa punya SIM. Aku mau beli mobil untuk keluarga di Lahat,"


Rey cukup kaget dengan rencana suaminya itu. Memang benar apa yang dibilang oleh Wibie, ayahnya sudah mengalami banyak perubahan. Sekarang sudah bisa jalan dengan baik walaupun tidak bisa secepat dulu. Doni juga sudah kelas sebelas, usianya sudah mau 17 tahun. Sebentar lagi sudah bisa bikin SIM. Namun apa perlu Wibie memberi mereka mobil?


"Kalau hanya untuk keperluan kita rasanya terlalu berlebihan, Mas. Kita di sana tidak lebih 10 hari. Bagaimana perawatan mobil itu ke depannya,"


"Biar ayah yang urus. Pokoknya kita beli untuk keluarga di sana. Perkara mau dipake buat apa terserah saja,"


"Memang mau beli mobil apa?" tanya Rey menyelidik.


"Kalau di sana kan orang lebih suka kijang atau Honda. Jadi aku sudah pesan Inova,"


"Apa ga terlalu berlebihan, Mas"


"Enggak, sayang. Aku sudah bilang dari dulu. Keluargamu, kekuargaku juga. Kita sudah hidup enak di sini, mau ke mana-mana bisa bareng sama keluarga. Jadi sudah waktunya Ayah dan ibu ikut menikmati hasil kerja anaknya. Mereka bisa pergi kemanapun bareng-bareng,"


Rey hanya diam. Ia bingung mengartikan perasaannya saat ini, antara bahagia atau keberatan. Meskipun ibu sudah banyak berubah, namun sifat matre yang melekat pada dirinya susah untuk dihilangkan.


Rey tau jika selama ini ibu juga kerap minta tambahan uang dari suaminya secara diam-diam meskipun mereka tidak pernah absen memberi uang bulanan. Alasannya ada-ada saja. Padahal uang bulanan yang dikirim Rey sangat lebih jika untuk kebutuhan makan dan berobat ayamnya.


Dari status WA sang ibu yang kerap memposting dirinya sedang kumpul dengan teman-teman arisan, bisa di lihat jika jiwa konsumtif dan suka pamer sang ibu masih mendarah daging di tubuhnya. Koleksi tas dan jam tangan ibu, juga baju-baju yang dipakai ibu untuk sosialita pasti menguras uang belanja dan usaha laundry.


Rey khawatir jika mobil yang diberikan Wibie untuk keluarganya itu akan semakin membuat ibunya sombong dan gaya hidupnya lebih meningkat. Bisa jadi mobil itu akan di bawa wara-wiri ke arisan sebagai ajang pamer karena ibu juga bisa nyetir.


"Sudah, jangan berpikir yang macem-macem. Jika kita sudah memberi sesuatu, ikhlaskan," Wibie seolah bisa membaca isi kepala istrinya. Ia segera membuyarkan lamunan Rey.


"Terserah aja, deh. Kan sudah di pesan. Mau apa lagi," ujar Rey akhirnya memilih pasrah.

__ADS_1


"Maaf jika aku tidak minta pendapatmu. Tadinya ingin kasih kejutan," buru-buru Wibie minta maaf pada istrinya melihat mimik Rey yang mendadak berubah.


"Aku senang ketika kau memutuskan ingin pulang kampung setelah empat tahun lebih meninggalkan rumah. Ayah dan ibu pasti sangat senang kita pulang dan aku ingin memberikan surprise buat mereka," lanjut Wibie begitu hati-hati. Ia ingin meyakinkan istrinya atas keputusan yang telah diambilnya.


"Iya, Mas. Terimakasih kau sudah begitu perhatian sama keluargaku,"


"Justru aku yang harus berterima kasih pada ayah dan ibu, berkat mereka aku bisa punya istri yang begitu hebat sepertimu,"


"Gombal," Rey mencibirkan bibirnya.


"Serius! Kau tumbuh menjadi wanita yang kuat dan tegar. Meski usiamu yang masih terbilang muda, kau bisa belajar dari pengalaman. Lihat sekarang! Kau bisa meraih cita-citamu hanya dengan sekali menyelam. Bisa lulus kuliah tepat waktu, punya usaha sendiri, dan bonusnya suami yang tampan dan anak-anak yang lucu,"


"Dih, ujung-ujungnya muji diri sendiri,"


"Kalo aku ga tampan mana mungkin belum kenal sudah minta di bawa kabur. Ayo jujur, kau sebenarnya sudah tertarik padaku sejak pertama ketemu kan?"


"Ih...kenapa bahas itu lagi. Bosen," Rey mencubit perut sang suaminya yang mulai menyungkit masa lalu.


"Ha..ha.....merah mukanya. Malu ya?" Goda Wibie.


"Udah ah. Malesin banget bahas gituan mulu,"


"Terus, deh...." Rey sudah merapatkan jempol dan telunjuk, memberi kode pada Wibie bahwa dia akan mencubitnya lagi jika terus membahas masa lalu.


"Iya.. iya. Ayok kita turun. Bentar lagi buka puasa. Kita siap-siap dulu. Tuh anak-anak sudah mangil," ujar Wibie yang langsung mengelak ketika Rey sudah pasang kuda-kuda mau mencubitnya. Ia segera beranjak dari tempat tidur dan meninggalkan kamar. Rey mengikuti langkahnya dari belakang.


"Jadi kapan kita berangkat?" tanya Rey penasaran.


"Lusa, sesuai tiket yang sudah di pesan. Besok aku sudah mulai cuti, kok,"


"Kita belum packing dan belanja buat oleh-oleh, loh,"


"Malam ini, abis tarawih kita packing. Besok kita belanja buat oleh-oleh. Emang mau beli apa?" tanya Wibie.


"Biasalah. Baju lebaran buat Ayah, ibu, kak Nay dan Doni. Sama kue buat tamu,"


"Kita ke kokas aja, ya. Biar ga panas,"


"Terserah, aku ikut aja,"


Mereka yang sudah di ruang tamu mendapati Devara dan Nathan yang baru saja selesai les ngaji. Wibie sengaja mengundang guru ngaji private untuk anaknya agar mereka bisa belajar membaca Alquran dengan baik sejak dini. Bukan karena Wibie dan Rey tidak bisa melakukannya, tapi keduanya sibuk dengan pekerjaan dan urusan usahanya.

__ADS_1


"Mas, saya pamit dulu. Anak-anak sudah selesai belajar," pamit Ustadzah Wati pada Wibie yang rumahnya hanya berjarak sekitar 200 meter dari sini.


"Iya, mbak,"


" Jangan lupa yang di tas hijau di bawa," sahut Rey. Setiap guru ngaji anaknya pulang, Rey selalu menyiapkan makanan untuk buka dan sahur ustazah Wati yang tinggal bersama anak laki-lakinya karena suaminya sudah lama meninggalkan mereka, sejak usia anaknya masih tiga tahun. Wanita itu membiayai hidupnya dari mengajar ngaji dan mengajar PAUD di dekat rumahnya.


"Iya, terimakasih. Selalu merepotkan,"


"Sekalian, kita masak banyak kok," sahut Wibie.


"Terimakasih, Mas" sahut wanita paru baya itu.


"Sama-sama, Mbak. Besok terakhir belajar, Ya. Lusa kita mau pulang kampung,"


"Asek, kita mau mudik ya, Pa. Naik pesawat," tanya Devara begitu senang.


"Iya, kita lebaran di rumah Kakek,"


"Asek," sahut Nathan tak kalah senangnya.


"Senengnya yang mau mudik, nih. Kalo naik pesawat ga bisa ngerasain naik kapal dong," sahut ustadzah Wati.


"Iya, kalau naik mobil lama. Butuh waktu 18 jam paling cepat,"


"Waduh, jauh sekali. Pasti adek ganteng kecapean di jalan,"


"Itu dia, makanya kita pilih naik pesawat aja, lebih cepat,"


" Iya, Mas. Seneng banget ya....Oh, ya. Saya pamit dulu ya, udah mau beduk," Ustazah Wati segera berpamitan karena sudah mendekati waktu berbuka.


"Iya, Mbak," Rey mengantarkan Ustazah Wati hingga pintu gerbang. Wanita itu hanya jalan kaki ke rumahnya karena jaraknya cukup dekat.


******


Hay semuanya, maafkan diriku yang tidak sanggup update lebih dari satu bab, minggu-minggu ini ada tugas negara yang harus diselesaikan dan butuh konsentrasi penuh. Demi kesetiaanku pada kalian semua, aku sempat-sempatin nulis walau cuma satu Chapter agar target untuk menyelesaikan novel ini di bulan Juni dapat terealisasi.


Mohon maaf, ya!


Ojo lali!


VOTE, like, dan spam komentar dari kalian tetap jadi semangat untukku.

__ADS_1


__ADS_2