Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Kondangan


__ADS_3

"Aku pake baju apa, Mas?"


"Pake apa aja boleh. Orang cantik mah bebas,"


"Ih, serius ini,"


"Acaranya di rumah sayang, kamu ga perlu tampil bak menghadiri resepsi di gedung. Apalagi ini hari kerja, tamu undangan juga banyak yang menggunakan seragam dinasnya," jelas Wibie.


"Kenapa kok milih hari kerja ya?" tanya Rey serius.


"Putri Pak Kohar dan suaminya itu kerja di instansi pemerintah, di sekitar sini. Teman-teman sekantor banyak yang tinggal di luar DKI. Jadi kalau mereka memilih resepsi di hari kerja itu pertimbangan agar teman-teman sekantor mereka bisa hadir. Sepertinya sih begitu,"


"Oh," Rey mengangguk-anggukan kepalanya.


Rey yang masih mengenakan mukena, memilih-milih baju yang ada di lemari pakaian Wibie.


Wibie berdiri di belakang Rey, tangan usilnya menelusup di balik mukena, memeriksa bagian tubuh Rey yang tidak mengenakan apapun.


Sejurus kemudian, tangan jahilnya sudah menanggal mukena yang di pakai istrinya. Rey melihat dari kaca, tubuhnya yang polos dari perut hingga ke atas.


"Apaan sih," ujar Rey malu-malu. Ia berusaha menutup bagian dadanya.


"Aku sudah melihatnya, bahkan yang seperti bayi tergolek lemah dak berdaya. Kenapa sekarang malu-malu begitu," tangan Wibie berusaha mengalihkan kedua tangan istrinya yang mendekap erat dadanya.


Rey jadi merah padam dibuat seperti itu oleh suaminya. Ia hanya menunduk malu dan membiarkan Wibie melepaskan bagian bawah mukenanya.


"Ah, sempurna sekali mahluk ciptaan Tuhan ini," bisik Wibie di telinga Rey.


Wibie memeluk tubuh istrinya yang sudah polos melontos itu dari belakang, kini ia mencium lembut leher Rey dengan bibir basahnya.


"Katanya mau kondanga?" Rey berusaha mengalihkan konsentrasi suaminya yang sudah mulai di luar kendali.


"Sebentar saja, semalam kau sudah tidur duluan,"


"Ah, tadi pagi kan sudah dibayar tunai," ujar Rey membela diri.


Wibie tidak menjawab, kini ia membopong tubuh istrinya itu menuju pembaringan meski nafas tersengal-sengal. Entah karena menahan berat atau karena anak panahnya yang sudah siap melesat.


"Lakukan sebahyak yang kau mau," bisik Rey sembari melingkarkan kedua tangannya di leher Wibie dan tersenyum manis pada suaminya.


"Anak manis," balas Wibie dengan senyum mesumnya.


*****


Tiba di tempat resepsi, Wibie dan Rey disambut dengan ramah oleh among tamu. Wibie menggenggam tangan Rey sejak keduanya memarkirkan motor di lapangan yang tidak begitu jauh dari panggung.


"Wah pengantin baru, masih bau-bau bulan madu nih. Rambutnya masih pada basah," ledek salah satu ibu-ibu yang menjaga di tempat meja penerima tamu.


"Bu Har bisa aja," sahut Wibie dengan ramah.


Setelah mengisi buku tamu, memasukkan amplop dalam kotak kedua diantar oleh Bu Har menuju hidangan.


"Makan dulu Mas, pengantinnya lagi sesi foto sama teman-teman kantornya,"

__ADS_1


"Terimakasih, Bu. Kita sepertinya ketinggalan nih?"


"Iya, tamu jauh soalnya," ujar si ibu menyindir Wibie. Keduanya tertawa lepas.


"Bu Har ini istrinya pak Hartoyo, Rey. Mereka sudah membantu usaha kita sejak aku masih kecil,"


"Iya, Pak Har bagian pemotongan kan?,"


"Iya," sahut Wibie dan Bu Har hampir bersamaan.


"Kalau sama Pak Har saya sering ngobrol," sambung Rey lagi.


"Ayo. Silahkan dinikmati sajiannya. Saya tinggal dulu ke depan ya,"


"Iya, Bu. Terimakasih,"


Rey dan Wibie segera mengambil piring dan mengisinya dengan hamparan menu yang tersaji di meja prasmanan itu.


"Aku lapar, Rey. Tapi aku tidak terlalu rakus kan?" Wibie merasa malu karena piring yang ada di tangannya cukup penuh dengan nasi beserta sayur dan lauk pauknya.


"Tidak, cuma lebih mirip dengan orang yang tidak ketemu makanan selama sebulan,"


"Ah, jahat sekali kau pada suamimu ini. Kau sudah menguras habis tenagaku, tidak diberi makan, kini malah di pojokan dengan ucapan menjengkelkan itu," Wibie berlagak memegang muka kesal.


"Ih, siapa yang suruh ga boleh keluar kamar. Aku juga laper, tau," sahut Rey dengan muka tak kalah memelas.


"Oh, maaf aku ya. Ok, sehabis ini kita makan yang banyak biar tenagamu pulih kembali," Wibie dengan mimik perhatian segera menenangkan istrinya.


"Trus, kerja lagi,"


"Kata ustad saya, sekali jima pahalanya setara dengan membunuh seribu Yahudi. Nah, sudah 5 tahun ga turun ke Medan perang sayang, tuh Yahudinya sudah pada bangkotan, beranak cucu lagi," Wibie mencoba memberi alasan.


"Jima apaan?" tanya Rey dengan polosnya.


"Itu ... tu, kalo buyung dan Upik ketemuan,"


"Ih, Mas omongan ga jauh-jauh dari situ,"


"Sesuatu yang halal dan nikmat itu memang bikin nagih sayang,"


Obrolan mereka terhenti, Bu Har datang menghampiri mereka dan duduk di bangku plastik yang ada di depan Wibie dan Rey.


"Kalau ada hajatan begini, masaknya gotong royong. Namanya juga di kampung," Bu Har membuka pembicaraan.


"Enak kok Bu masakan. Nih makanan saya tidak bersisa," sahut Wibie buru-buru menimpali.


"Syukurlah kalau enak, yang dihidangkan itu semua hasil gotong royong ibu-ibu di sini,"


"Sama Bu, di kampung saya juga begitu. Kalau ada hajatan ibu-ibunya yang masak. Gotong royong gitulah, catering belum familiar," ujar Rey menimpali.


Bu Har memandang serius ke arah Rey, sepertinya dia sedang menganalisa sesuatu.


"Aku melihat kalian dari jauh, rasanya ikut bahagia. Kalian pasangan yang cocok," ujar Bu Har lagi.

__ADS_1


"Terimakasih, Bu," sahut Rey dan Wibie berbarengan.


"Tapi maaf ya, Nak. Sewaktu acara di rumahmu kemarin, Ibu sempat ngobrol sama Ibunya Rey. Wajah ibumu begitu murung, makanya ibu ajak ngobrol. Dia cerita kalau kamu sebenarnya sudah punya calon suami yang mapan dan kaya raya di kampung dan sudah akan menikah dalam waktu dekat,"


Seketika itu wajah Rey berubah. Ada perasaan yang ga enak tiba- tiba muncul di otaknya


"Ibu cerita apa lagi?" tanya Rey serius.


"Dia bilang karena Wibie melarikanmu, semua berantakan," ujar Bu Har dengan wajah yang menatap serius pada Rey.


"Maafkan ibu, ya. Ibu cukup terganggu dengan ucapan ibumu. Jadi kepikiran terus, apa iya Nak Wibie yang segitu baik bisa melakukan hal itu? Ibu lihat kalian saling mencintai,"


"Maaf Bu, semua tidak benar. Mungkin ibu saya salah faham. Jika ibu bilang saya kabur dari rumah karena mau dinikahkan itu benar, tapi bukan pak Wibie yang melarikan saya. Saya pergi sendiri, menyusul adik Ayah saya yang di Kemayoran. Saat saya cari kerja, kebetulan di terima sebagai asistennya," Rey berusa meyakinkan Bu Har agar ia bisa mengetahui hal yang sebenarnya.


"Maafkan ibu saya, mungkin karena ia belum bisa menerima fakta jika saya kabur dan menggagalkan rencananya makanya dia mengalahkan pak Wibie atas semua ini,"


"Tidak apa, Nak. Ibumu hanya cerita padaku. Ibu harap, tidak ada yang tau prihal ini termasuk Ibu besar. Jadi selama acara ibu lebih banyak duduk di samping ibumu,"


"Terimakasih, Bu. Sudah begitu baik pada ibuku," sahut Wibie


"Kami banyak berhutang pada keluarga Nak Wibie. Sejak ikut kerja di konveksi, hidup kami lebih layak dan bisa menyekolahkan anak-anak hingga perguruan tinggi. Almarhum bapakmu begitu loyal dan pengertian pada pegawainya. Makanya semua yang bekerja di situ pada betah bahkan sudah menjadi seperti keluarga,"


Wibie tersenyum tipis, ia mengingat kembali almarhum ayahnya yang sudah membangun usaha konveksi mulai dari nol saat ia masih kecil.


"Rey, ibumu hanya khawatir karena ia belum kenal baik dengan Nak Wibie. Jangan marah padanya ya! Dan ibu juga minta maaf jika membicarakan ini pada kalian,"


"Iya Bu. Rey faham. Maafkan ibu saya ya,"


"Ayok dilanjutkan makannya, ibu mau ke depan lagi,"


Bu Har meninggalkan mereka berdua karena ada rombongan tamu yang datang. Sepertinya rekan sejawat mempelai karena mereka mengenakan seragam kanyornya.


"Kita pamit, yuk. Biar tamu yang datang bisa duduk," ajak Wibie


Wibie cukup beralasan mengajak istrinya buru-buru meninggalkan tempat itu. Selain karena tenda yang digunakan untuk tamu undangan ada di gang sempit, jumlah kursi yang ada di situ juga tidak begitu banyak.


Meski tamu yang datang silih berganti, yang lebih dulu datang dan sudah makan harus pengertian agar tamu yang baru bisa kebagian tempat duduk.


Wibie menggandeng tangan Rey menuju pelaminan. Dari jauh mereka sudah di sambut senyum manis Pak Kohar.


"Terimakasih Nak Wibie, beruntung sekali acaranya berbarengan dengan jadwal off Nak Wibie dan masih waktunya bulan madu. Jadi Nak Wibie bisa menghadiri resepsi sederhana anak kami," ujar laki-laki yang berusia sekitar 50 tahun itu sembari menjabat erat tangan Wibie.


"Bapak bisa aja, acaranya mewah kok, undangannya sejak tadi silih berganti yang datang,"


Mereka tertawa lepas, kemudian bergeser ke kedua mempelai.


Wibie juga memberi selamat pada keduanya dan kemudian foto bareng dengan mempelai dan keluarganya. Rey yang masih di sisi suaminya mengikuti apa yang dilakukan Wibie hingga mereka turun dan pamit dari acara resepsi itu.


" Wilayah ini dihuni oleh penduduk pendatang. Hampir semua KK di di menggantungkan kehidupannya dari usaha konveksi"


"Pak Kohar dan keluarga Bu Har diantara. Mereka sudah bekerja di konveksi kita sejak mulai usaha itu dirintis oleh almarhum ayah," Wibie menjelaskan hubungan keluarganya dan orang-orang yang ditemuinya tadi. Keduanya kini sudah berada di sisi motornya kembali.


Tak lama, mereka meninggalkan tepat itu dengan laju kendaraan yang begitu pelan. Jalanannya begitu sempit hanya bisa dilalui motor. itupun akan menjadi masalah jika berpapasan dengan kendaraan lain, salah satunya harus berhenti agar arus lintasan bisa lancar.

__ADS_1


Rey duduk rapat di belakang Wibie, sesekali ia tersenyum dan menegur penduduk setempat yang menyapa mereka.


__ADS_2