
Setelah Wibie menyampaikan hasil pertemuan dirinya dengan kedua orang tua Rey kemarin malam, kini perasaan Rey menjadi sedikit lega. Urusan perizinan sudah selesai. Selanjutnya ia akan membantu calon suami ya itu untuk mengurus surat-surat ke RT hingga kelurahan.
Rey harus maklum. Sebagai orang lapangan, Wibie pasti akan sangat sulit untuk mengurus semuanya apalagi jarak mengadi alasan yang utama.
Ayah dan ibunya tidak keberatan dengan keputusannya, menikah di Jakarta tanpa pesta perayaan. Itu sudah berika yang wajib disyukuri. Rey tidak boleh rakus apalagi tamak pada Allah. Apa yang ia miliki sekarang ini sudah membahagiakannya.
Memang apa yang sudah menjadi keputusannya itu cukup aneh. Sebagia anak gadis diluaran sana pasti membayangkan sebuah pesta yang megah pada hari pernikahannya.
Mereka akan menunjukkan pada semua keluarga dan handai taulan betapa bahagianya bisa duduk bersanding di pelaminan bersama pria pujaannya.
Rey memang beda. Ia bukan tidak bahagia ketika memutuskan menerima lamaran Wibie. Tapi kondisinya saat ini yang membuatnya harus menyisihkan keinginan itu.
Ia lebih menjaga perasaannya dari omongan dan cibiran orang yang bisa saja melukai hatinya. Untuk itu, ia memutuskan cukup akad nikah saja. Yang penting hubungan mereka segera dihalalkan. Pun jika suaatu saat ia berubah pikiran, ingin mengadakan pesta perayaan juga tak masalah. Ia yakin calon suaminya bisa mewujudkan kemauannya itu.
Malam ini Rey akan menghubungi kakak tertuanya. Ia ingin segala yang berhubungan dengan urusan pernikahannya dapat sesegera mungkin di selesaikan. Kali ini ia akan membicarakannya prihal pelangkah yang sebelumnya sudah sempat disinggung oleh ibu.
"Tuuuttt......tuuuttt.....,"
Panggilan telpon terhubung.
Tak lama panggilan diterima. Terdengar suara Nay di seberang sana.
"Halo, Assalamualaikum, Kak," Rey segera membuka pembicaran.
"Waalaikum salam," jawab Nay ragu. Mungkin karena belum menyimpan no kontak Rey yang baru sehingga ia butuh waktu untuk mengenali suara orang yang menghubunginya.
"Kak, ini Rey. Kakak apa kabar?"
"Oh, kamu Dek. Aku baik-baik saja. Aku senang kamu tenyata sudah dapat pekerjaan dan sebentar lagi akan menikah," sahut Nay. Begitu ia tahu itu adiknya, Ia segera bertanya kabar.
"Terimakasih, Kak,"
“Kak Nay mau pelangkah apa?” tanya Rey pada kakaknya itu.
Pertanyaan itu diterima Nayla. Sederhana, namun cukup membuat hati Nay bagitu tersayat hingga ia tidak bisa sesegera mungkin untuk menjawabnya.
Nayla terdiam sejenak. Ia berusa sebisa mungkin untuk mengatur emosinya. Meski ia sudah menduga, Rey menghubungi untuk menanyakan prihal ini, tak urung ia tetap tidak bisa menahan kesedihannya.
__ADS_1
Rey faham akan kondisi ini. Untuk itu dia memberi waktu pada kakaknya itu. Meskipun cukup lama tidak ada jawaban dari Nay, ia tetap bersabar hingga kakaknya itu siap untuk menjawab. Rey juga tak ingin mengulang pertanyaan itu. Dia yakin, Nay bisa mendengar dengan baik suaranya.
Desah nafas yang begitu berat dari sebrang sana bisa terdengar oleh Rey.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku jika harus mendahulimu," bisik Rey dalam hati
Rey merasa tidak enak. Hal seperti ini pastinya akan sangat sensitif bagi Nay. Didahului menikah, atau dilangkahi oleh adik perempuan seolah-olah menjadi semacam aib tersendiri bagi perempuan sepertinya.
Saat ini usia Nay 23 tahun. Sejak menyelesaikan SMA ia tidak ingin melanjutkan kuliah. Selain karena keterbatasan ekonomi keluar, Nay juga tidak berminat untuk kuliah.
Ayah juga pernah menawarkan kursus yang bisa memberinya keahlian, namun Nay menolaknya. Hari-harinya hanya membantu ibu di rumah.
Nay juga bukan anak yang pandai bergaul, oleh sebab itu hampir tidak pernah terlihat ia pergi keluar rumah bersama teman atau lawan jenisnya. Bisa dikatakan ia anak yang kurang pede dalam pergaulalan.
Kedatangan Wibie kemarin malam sebenarnya cukup membuat Nay sedih. Tiba-tiba Rey yang masih belia sudah akan dilamar oleh orang yang mapan. Sedangkan dirinya belum ada tanda-tanda untuk ke arah sana.
Ibu pernah menjodohkan Nay dengan anak kenalan ibu beberapa bulan yang lalu. Pria lajang yang membuka usaha pencucian motor. Namun pria itu bukan tipe pria yang serius dalam menjalin hubungan. Setelah dikenalkan pada Nay ia tidak pernah memberi kepastian hubungan mereka, menolak juga tidak. Parahnya lagi, ia juga tidak pernah berkunjung ke rumah sekedar silaturahmi.
"Terserah kamu saja?” jawab Nay asal-asalan setelah ia terdiam cukup lama.
“Nanti aku tanya ibu aja.” jawab Nay. Suaranya makin pelan dan terdengar seperti menahan tangis.
Tak lama, terdengar suara Nay teriak. Memanggil Ibu agar mendekat. Rey bisa mendengar itu dengan jelas karena Nay tidak menjauhkan Hp dari mulutnya.
Ibu ikut nimbrung, mendengar percakapan kedua anak gadisnya itu. Tak lama Nay menyerahkan hp itu pada ibunya dan Meninggalkan mereka berdua melanjutkan pembicaraan itu.
“Rey, bagaimana jika kau beri kakakmu kalung berikut liontinnya.” kata ibu sebagai penyambung lidah Nay.
Lalu, ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan.
“Ya, itu jika kamu tidak keberatan. Itung-itung sebagai kenangan adik pada kakaknya.” tambah ibu lagi.
Kini justru Rey diam untuk beberapa saat. Ia memutar kedua bola matanya keatas sembari menghitung sesuatu.
"Berapa uang yang ia butuhkan untuk menyediakan pelangkah itu," bisiknya.
"Seumur hidup, ia belum pernah mengenakan benda itu. Kedua orang tuanya belum pernah membelikan perhiasan emas kecuali anting-anting yang menempel di kedua telinganya. Itu juga sudah lama, entah saat ia usia berapa tahun ibu memasangkan benda itu di kupingnya.
__ADS_1
"Jika kalung yang dimaksud itu seukuran yang dipakai ibu, berapa gram ya beratnya? Kira-kira harganya berapa" tanya Rey. Masih pada dirinya sendiri.
"Rey," panggil ibu.
"Iya, Bu," sahut Rey.
"Gimana? Kamu keberatan? Jangan peritungan lah sama kakakmu. Kau lebih beruntung darinya. Kau bisa kuliah, kerja enak, dapet calon suami yang mapan lagi. Masa segitu aja masih mikir-mikir lagi," desak ibu.
"Iya Bu. Rey tidak keberatan kok jika itu yang Kak Nay inginkan. Rey akan usahakan. Kira-kira untuk kalung dan lionginya berapa gram ya, Bu?," tanya Rey
"Sekitar 10 gram. Tapi ingat ya, emas 24 karat. Jangan mas muda," tegas ibu lagi.
"Iya, Bu. Nanti akan Rey sediakan,"
"Terimakasih sudah baik pada kakakmu. Kau memang anak yang bsik, Rey," puji ibu.
*******
Tadi pagi ibu sudah membicarakan hal ini pada Nay. Anak itu hanya bilang, “Aku gak pa-pa, bu. Gak masalah koq.”
Namun ibu menangkap mukanya yang begitu murung, terlihat sembab. Sepertinya anak itu tidak bisa tidur semalaman suntuk.
Entahlah, di luar ia berusaha tegar, tapi di dalam hatinya siapa yang tahu. I a terlihat sedih sepang hari. Bukan sedih karena Rey akan menikah dan melangkahinya, tapi sedih atau tepatnya takut dengan omongan orang di luar.
“Aku tidak mau dikasihani. Jika mereka tahu, mereka akan merasa kasihan padanya," itu yang Nay pikirkan dalam hati.
“Aku harus kuat. Gak masalah kan? Banyak anak gadis seusiaku yang belum menikah, bakhan tetangganya juga begitu meski umurnya sudah 30 tahunan.” hibur Nay lagi.
Urusan pelangkah ia tak ambil peduli. Apapun yang diberikan oleh adiknya, ia akan menerimanya. Tapi ibu justru mempermasalahkan kepasrahan Nay.
"Mana bisa kau bilang terserah. Calon suami Rey itu kerja di tambang, belum lagi ia punya usaha konveksi di Jakarta. Kau minta apapun tidak masalah baginya,"
"Rey juga sekarang sudah bekerja. Ia sudah punya duit sendiri. Selama ini kita belum pernah menikmati hasilnya. Mintalah apa yang kau inginkan. Mereka pasti memenuhinya," Nasehat ibu.
Namun Nay tak segera memutuskan apa yang diinginkan. Akhirnya ibu sendiri yang menentukan pelangkah yang harus disiapkan Rey untuk kakak perempuannya.
Nay tersenyum miris, “Gak ada yang tahu kan apa yang sebenarnya aku rasakan? Gak ada yang tahu. Tapi, semua sok tahu," ujarnya pada diri sendiri. Ia makin sebel dengan ibunya dan situasi yang menyebabkan dia seperti ini
__ADS_1