
Sang dosen mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang, diantara kelompok yang mengacungkan tangan, ia hanya memilih 3 diantaranya.
Kelompok depan, tengah dan belakang. Rey termasuk diantaranya. Ia mewakili kelompok yang duduk di bangku paling belakang.
Bu dosen tersenyum dan memberi apresiasi terhadap antusias mahasiswa mengikuti perkuliahan.
"Saya hanya memilih tiga perwakilan untuk maju ke depan mengingat waktu yang kita miliki sangat terbatas," ujar Bu dosen itu.
"Kita simak penjelasan dari perwakilan kelompok ini, setelah itu kalian bisa memberikan tanggapan sesuai dengan hasil kerja kelompok kalian," sambungnya lagi.
Sembari memberikan arahan, dosen tersebut minta kepada mahasiswa yang duduk di depan untuk menyiapkan tiga kursi ke atas podium.
"Kita mulai sekarang, ya. Mohon kepada perwakilan yang terpilih untuk mengambil tempat duduk yang sudah di sediakan,"
Ketika hendak melangkah ke depan, tatapan Rey terkunci pada satu sosok pria yang mewakili kelompok tengah.
Rey memejamkan matanya dan membukanya kembali setelah terpejam beberapa saat. Mengedip-ngedipkan matanya berulang-ulang untuk memastikan penglihatannya. Namun apa yang dia tangkap tetap tidak berubah.
Rey yakin dengan seyakin-yakinnya jika sosok yang sedang melangkah dengan tenang menuju podium itu adalah suaminya.
Keyakinannya semakin kuat karena baju yang dikenakan pria itu sama persis dengan pakaian yang dikenakan Wibie sore ini.
"Ah....kenapa dia ada di kelas ini?" Rey menggerutu dalam hati.
"Mau apa juga ia menuju ke podium itu?" ujar Rey semakin serba salah.
Kakinya merasa berat untuk melangkah ke depan. Hingga kedua orang yang mewakili kelompoknya sudah duduk di kursi yang tersedia, Rey masih terpaku di samping tempat duduknya semula.
"Kelompok belakang silahkan maju," panggil Bu dosen dan mengarahkan pandangan ke arahnya.
Tidak ada pilihan lain, Rey harus maju ke depan. Dengan langkah yang tegas, Rey segera menuju podium. Duduk di kursi yang tersisa, persis di samping Wibie.
Pandangan Rey tertuju pada Wibie yang lebih dulu menduduki kursi di podium, namun pria itu seolah tidak mengenal Rey meskipun ia mengikuti langkahnya hingga sampai di kursi yang telah disediakan.
Kini, mereka bertiga sudah siap untuk memaparkan hasil diskusi kelompok. Sang dosen juga sudah mengambil posisi di tempat duduknya agar bisa menyimak penjelasan dari masing-masing kelompok.
Karena hanya kelompok tengah yang diwakili oleh kaum Adam, maka Bu dosen memberikan kesempatan pada Wibie untuk memaparkan hasil diskusi kelompok mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu, selamat sore semuanya. Yang terhormat Prof. Marhamah, terimakasih atas kesempatan yang sudah diberikan kepada saya sehingga saya mendapatkan kehormatan untuk bisa mewakili kelompok tengah menyampaikan hasil diskusi kami," Wibie mulai berbicara dan mengucapkan salam kepada semua yang ada di ruang itu.
__ADS_1
"Mohon izin, perkenalkan nama saya Wibie Prasetyo. Saya mohon maaf prof. karena ada sesuatu dan lain hal saya baru bisa ikut kuliah mulai hari ini. Meskipun saya sudah tertinggal dua kali pertemuan, saya akan belajar dengan teman-teman yang hebat di sini," ujarnya lagi, memperkenalkan diri.
Selanjutnya Wibie menjelaskan fungsi baris dan deret dalam ilmu ekonomi serta manfaatnya dalam ilmu ekonomi. Mulai dari penggunaan deret Matematika dalam pengembangan usaha, perhitungan suku bunga, hingga fungsinya dalam pertumbuhan penduduk.
Suaranya tegas dan lugas. Bahasanya begitu tertata dan mudah
untuk dipahami, tidak heran jika selama ia berbicara semua mahasiswa menyimak dengan baik. Begitu juga dengan prof Marhamah yang menunjukkan ekspresi kagum pada performanya.
Satu-satunya orang yang dibuat tidak tenang atas kelakuan itu adalah Rey. Ia masih menyimpan pertanyaan besar dalam hatinya,
"Maksudnya apa sih?" bisik Rey dalam hati.
Sementara Pras yang duduk anteng di bangku belakang masih kurang yakin dengan apa yang dilihatnya. Tatapannya tak bergeser pada sosok yang berbicara di depan, namun hatinya juga masih ragu dengan apa yang dilihatnya.
"Jika itu Wibie, suaminya Rey, kenapa mereka seakan tidak saling kenal?"
"Sandiwara apa yang mereka buat?" pikir Pras dalam hati.
Pras memang membaca reaksi Rey yang tiba-tiba kaget ketika melihat pria itu menuju ke depan, setelahnya Rey justru biasa-biasa saja.
"Ah mungkin mirip doang. Lagian mana mungkin suami Rey kuliah di sini?" Pras mencoba menerka- nerka sendiri.
Kuliah matematika ditutup dengan sambutan yang begitu apresiatif dari sang dosen. Wanita itu terlihat begitu puas atas penampilan mereka bertiga yang bisa kompak.
Berkat perwakilan kelompok yang sudah membahas materi itu lebih dalam, mahasiswa yang lain dapat memahami materi dengan mudah. Semua pertanyaan dan permasalahan mereka bisa dijawab dengan baik oleh Wibie dan teman-temannya.
******
Kuliah Matematika Ekonomi selesai. Setelah dosen itu meninggalkan ruangan, Rey yang sudah kembali ke bangkunya bergegas membereskan peralatan tulisnya.
Sekilas Rey masih melihat Wibie diantara kelompok tengah dan ia sedang terlibat pembicaraan dengan teman yang ada di sampingnya.
"Rey, apa dia suamimu?" tanya Pras begitu penasaran.
Ia memandang Wibie yang masih duduk di antara teman-temannya.
"Menang kau tidak mendengar saat ia memperkenalkan diri?" Rey balik bertanya.
"Iya sih," sahut Pras lagi.
__ADS_1
"Apa dia juga kuliah di sini?" tanya Pras lagi.
Rey tidak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kalian pada ga beres nih. Masa sebagai istri kok bisa sampai ga tau kalau suaminya kuliah di sini!"
Rey hanya bisa melotot ke arah Pras. Ia tatap temannya itu hingga tidak berani lagi membahas keberadaan Wibie di kampus ini.
"Iya deh,"
"BTW Jadi nitip absen?" tanya Pras.
"Iya. Tolong ya!" Pinta Rey.
Matanya segera berpaling ke kelompok tengah, namun ia sudah tidak mendapati Wibie di tempat itu.
"Kemana dia?" tanya Rey pada dirinya sendiri.
Rey keluar kelas dikuti oleh Pras yang melangkah di sampingnya. Mereka berjalan menelusuri koridor yang mulai sepi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, saatnya mahasiswa untuk bersiap diri menuju ke ruang aula dan sebagian lagi menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib.
"Terimakasih, ya. Aku pulang dulu," ucap Rey saat diujung koridor.
"Mana suamimu?" tanya Pras lagi.
"Mungkin ia diparkiran," tebak Rey.
"Ok. Hati-hati ya,"
"Jalannya biasa aja, dong," ujar Pras yang masih berdiri di ujung koridor melepaskan kepergian Rey,
"Apaan sih, emang aku jalannya gimana lagi," Rey menengok lagi ke belakang karena Pras meledeknya.
"Makanya jangan kebanyakan sampe lecet semua tuh. Sampe ga bisa jalan,"
"Diem. Ngomong lagi aku lempar nih!" Ujar Rey sedikit kesal.
Pras terkekeh melihat Rey yang tiba-tiba menjadi merah padam karena candaannya.
__ADS_1
Ia tidak melanjutkan candaannya hingga perempuan itu membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah menuju lapangan parkir.