
Wibie menggeser selimut yang menutupi tubuhnya. Sudah hampir setengah jam ia meleparkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk, namun matanya tak juga terpejam. Pikirannya tertuju pada satu ingatan yang begitu mengganggunya akhir-akhir ini.
Besok ia akan ke Jakarta, selain kerinduan yang begitu membuncah terhadap Devara, ia juga tak mampu menepis bayangan Rey dalam ingatannya.
"Kenapa ia begitu sombong. Setelah apa yang aku lakukan padanya, tak sekalipun ia menghubungiku," gerutu Wibie dalam hati.
Wibie merubah posisi tubuhnya. Kini ia setengah berbaring di tempat tidur. Kepalanya ia sandarkan pada sisi kepala spring bed dan ditopang oleh bantal di bawah lehernya.
Ia menimang-nimang hp yang diambilnya dari nakas di sebelah tempat tidurnya. Ia membuka WA dan melihat notif dari kontak WA Rey. Di situ tertera (terakhir dilihat 11.00). Wibie semakin menyeringai.
"Apa yang dia kerjakan seharian ini. Kenapa membuka hp saja, dia begitu malas. Sesibuk itu kah hari-harinya?" Wibie terus saja menggerutu.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya ia memutuskan untuk lebih dulu mengirim pesan pada gadis itu.
"Rey," sapanya singkat
Pesan terkirim. Terlihat ceklis kembar, namun belum berwarna biru. Beberapa saat menunggu, orang yang dimaksud tidak juga online. Wibie semakin kesal. Ia melempar HP-nya sembarang saja.
Wibie kembali merubah posisi tubuhnya. Kali ini ia sudah berbaring lagi di kasurnya yang empuk.
"Awas saja jika kau sengaja menghindar dariku,"
Pekiknya dalam hati karena menahan emosi.
Ia tarik kembali selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala. Berharap ia bisa terlepas dari rasa kesalnya dan segera terpejam. Sekarang sudah jam sebelas malam,ia tidak mau kesiangan dan ketinggalan pesawat
Saat matanya sudah mulai terpejam, hp yang ada di kakinya bergetar. Ia mulai membuka matanya, namun tak ingin mengetahui siapa yang menghubunginya.
HP itu berbunyi berkali-kali. Panggilan itu dianggap sesuatu yang urgent, hingga Wibie menggeserkan kakinya dan meraih hp yang tetap menyala.
Rey melakukan panggilan WA. Wibie tersenyum tipis. Hatinya begitu senang karena orang yang ditunggu sejak tadi akhirnya menghubungi juga.
"Ya," sahut Wibie singkat.
__ADS_1
"Maaf pak. Aku baru saja naik ke atas. Seharian membantu Tante di warung. Jadi baru tau juga kalau ada WA dari bapak," jelas Rey begitu hati-hati.
"Oh. Aku kira kau menghindar dariku?" Selidik Wibie.
"Tidak Pak. Aku takut mengganggu kalau mau WA bapak lebih dulu,".
"Alasan. Ingat ya, kau masih berhutang sesuatu padaku. Jangan coba-coba melarikan diri," Wibie mencoba menakut-nakuti gadis itu.
"Tidak pak. Saya cuma takut kalo mau menghubungi bapak?" Tegas Rey lagi.
"Besok aku dateng ke tempatmu. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan" kata Wibie dengan tegas.
"Maaf pak. Apa bapak ingin menagih hutang itu?" Tanya Rey dengan hati-hati.
"Tentu saja. Kau sudah harus memikirkannya. Bagaimana caranya agar tanggung jawab itu kau lunasi," ujar Wibie dengan begitu tegas dan sombongnya.
"Saat ini saya belum mampu membayarnya dengan lunas. Tapi saya akan mencicil hutang-hutang itu. Setiap hari, Tante memberiku uang Rp.100.000. Saya memang menyimpan uang itu untuk membayar pak Wibie," Rey mencoba memberi penjelasan.
"Baiklah. Besok aku akan ke sana. Jangan coba-coba menghindar ya. Aktifkan HP-mu!" perintah Wibie dengan nada yang begitu tegas.
"Baiklah," Wibie menimpali. Kemudian ia langsung menutup sambungan telpon itu sebelum Rey melakukannya.
Hal itu sengaja ia lakukan agar Rey tidak mempunyai pandangan bahwa ia begitu ingin lama-lama bicara dengannya.
Wibie begitu bahagia. Ia bisa memainkan perasaan gadis itu. Kekesalannya selama sepekan ini terbayar lunas. Dari nada suaranya, terdengar jika Rey begitu takut ia akan meminta uangnya kembali.
"He...he....Aku bisa membuatnya tidak bisa melupakanku,"
Wibie meletakkan kembali hp itu di atas nakas. Ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Kali ini tidak ada hal apapun yang membuatnya tak bisa terpejam. Begitu ia memejamkan matanya, ia langsung terlelap. Semyum kemenangan mengembangkan di bibirnya
*****
Wibie tidak menyadari. Apa yang dilakukannya justru sangat melukai hati Rey. Gadis itu masih duduk tersipu di kasur lantai yang menjadi alas tidurnya. Hp pemberian pak Wibie masih ada di tangannya.
__ADS_1
Rey memejamkan kedua matanya. Menarik nafas dengan dalam. Ia tak ingin terisak, tantenya tidak boleh tahu jika ia sedang menangis
Air bening keluar dari ujung matanya. Pipinya tiba-tiba menjadi basah. Rey mengusap pipinya dengan kedua telapak tangannya.
"Ya Allah,"
" Jika waktu itu bisa diulang. Aku ingin kembali ke rumah dan mengikuti kemauan ibu. Aku di sini menjadi beban Tante. Pak Wibie juga mulai menagih hutang-hutangnya. Entah berapa jumlah yang harus aku lunasi. Pak Wibie tidak pernah menyebutkan nominalnya. Aku sendiri belum mendapatkan pekerjaan. Jika hasil yang kuperoleh sekarang habis untuk membayar hutang, bagaimana aku bisa kuliah?" tiba-tiba Rey menyesali apa yang sudah ia lakukan.
"Ya, Allah. Maafkan hambamu ini,"
"Ayah... Ibu.... maafkan Rey," pekiknya lagi.
Rey semakin terisak. Ia begitu menyesali keputusannya itu. Kini bukan hanya dirinya yang menderita, orang lain pun ikut susah karena ulahnya.
"Aku begitu egois. Aku sudah membuat banyak orang menjadi susah karena ambisiku," sesalnya lagi.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Ya Allah, bantu hambamu. Sekali ini,"
Hening.... Isak tangisnya yang tertahan itu makin hilang, bahkan tidak terdengar oleh telinganya sendiri.
Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Rey bangkit dari duduknya. Ia letakkan hp itu di samping bantalnya. Kemudian ia berdiri dan menatap wajahnya di depan cermin yang tergantung di ruangan itu
Wajahnya terlihat begitu lelah. Setiap hari ia harus membantu tantenya. Bagun jam empat pagi, baru bisa tidur jam sebelas malam. Wajar saya jika wajahnya semakin tirus akibat kelelahan. Rey hanya bisa menarik nafas. Semua sudah terjadi. Apapun yang akan ia hadapi, itu sudah menjadi resiko yang harus ia tanggung sendiri.
"Aku tidak boleh cengeng. Kamu harus kuat, Rey!" Rey mencoba memberi semangat pada dirinya sendiri.
"Jika ini sebuah awal yang harus aku lalui untuk mencapai tujuanku, aku harus kuat melaluinya,"
"Jangan cengeng," Rey memberi semangat pada dirinya sendiri. Ia menepuk dadanya beberapa kali. Rey tidak bisa memberi semangat lada dirinya sendiri agar ia bisa melalui semua ini dengan sabar dan tegar.
Diusapnya kembali wajah itu dengan kedua tangannya. Rey berusaha tersenyum agar hatinya bisa sedikit terhibur.
__ADS_1
Kemudian ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil air wudhu.
"Sholat dan memohon bantuan pada- Nya, mungkin bisa membuat hariku tenang," pikirnya lagi.