Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 10 Panggilan Tidak Terjawab


__ADS_3

Tepat pukul 20.00 WIB, Rey sudah sampai di rumah. Sore ini ia memang tidak ada kuliah, hanya ujian akhir semester untuk dua mata kuliah.


"Sebenernya pengen juga sekali waktu hangout bareng temen, sudah lupa gimana rasanya jalan bareng kawan-kawan," bathin Rey dalam hati.


Sejak kabur dari rumah, bekerja, kuliah kemudian memutuskan untuk menikah, sejak saat itu hari-hari nya hanya disibukkan dengan dapur, kasur, toko, dan kampus.


Meskipun begitu Rey tetap bersyukur, meskipun ia tidak punya waktu untuk dirinya sendiri, ia punya keluarga yang begitu menyayanginya.


"Mama udah pulang?" tanya Devara yang sedang bermain dengan Nathan di ruang keluarga. Sementara Bu Fat tengah membuat susu untuk sang jagoan.


"Iya, nama hari ini cuma ujian. Jadi bisa pulang lebih cepat," sahut Rey sembari meletakkan tas ranselnya di bufet dan duduk di samping Devara.


"Berarti kita bobok bareng di atas, aku mau dibacain dongeng,"


"Boleh, mama mandi dulu ya. Bah asem nih," Rey mencium bahunya sekilas dan menunjukkan ekpresi tidak sedap ke arah anak-anaknya.


Nathan yang melihat itu jadi tertawa, ia melelaskan pashel yang ada di tangannya kemudian berdiri dan berlari ke arah sang mama, duduk di pangkuan Rey.


"Mama acem," anak itu mengikuti apa yang di lakukan Rey. Mencuim bahu dan berpindah ke pipi kemudian memasang wajah yang begitu menggemaskan. Kedua gigi depannya yang menyerupai kelinci semakin membuat anak itu lucu.


"Ah, adek boong. Nih cuim lagi coba?" Rey menyodor-nyodorkan bibir ke arah Nathan, namun anak itu menjauhkan wajahnya agar tidak terkena ciuman namanya.


Rey pura-pura ngambek. Ia memasang muka yang begitu sedih. Membuang muka dan menatap ke sembarang arah.


Nathan yang begitu polos mempercayai begitu saja. Hatinya menjadi luluh, pelan-pelan ia mendekatkan bibirnya ke arah Rey dan mencium mamanya berkali-kali.


"Sayang mama, muachh..," ucapnya begitu lucu.


Rey meraih anak itu dalam pelukan dan menghujani ciuman ke seluruh tubuhnya. Tak elak, Nathan begitu geli dan tertawa terbahak-bahak oleh serangan yang bertubi-tubi dari namanya.


"Ok, boy. Mama mandi dulu. Abis itu kita main lagi,"


"Ok, Ma. Miss U," kecupnya sekali kali. Kali ini begitu dalam dan lama.


Rey mencubit ujung hidung anak itu sebelum menurunkan dari pangkuannya. Tak lupa tangannya yang jahil mengacak-acak rambut Nathan yang tumbuh begitu lebat.


"Ini susunya, adek sama Bu Fat dulu," Bu Fat menghampiri mereka dan memberikan sebotol susu hangat ke arah Nathan.


Begitu susu itu sudah ia pegang, dengan gayanya yang santai ia mengambil posisi berbaring dengan santainya. Mulutnya menyedot susu dengan beringas sementara matanya tertuju ke televisi.


******

__ADS_1


Dari kamar mandi, Rey mendengar suara Wibie dan anak-anak sudah di kamar. Rupanya suaminya itu pulang lebih awal, biasanya jika akhir pekan dia bisa sampai di rumah tengah malam. Apalagi jika hari terakhir sebelum off satu minggu. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum benar-benar menikmati waktu istirahatnya bersama keluarga.


"Mama buruan, Papa udah pulang," teriak Devara diikuti suara ketukan di pintu kamar mandi.


"Iya, baru juga masuk. Sebentar, ya!"


"Kita mau jalan-jalan, Ma. Buruan,"


"Iya, sayang. Sebentar. Mama bilas dulu,"


Wibie yang baru datang di serbu oleh anak-anaknya. Mereka kompak, minta di ajak jalan-jalan keliling Jakarta.


"Kita mau liat lampu di Monas," seru Nathan.


"Kakak juga, udah lama ga liat Monas,"


"Iya, sebentar. Mama lagi mandi,"


Suara mereka terhenti begitu mendengar panggilan telpon dari Hp Rey yang diletakkan di atas Nakas. Panggilan itu tidak hanya sekali, cukup mengundang perhatian Wibie.


Dengan tetap menggendong Nathan, ia menuju sumber suara.


"Siapa, Ya? Kita liat dulu siapa yang telpon Mama. Mungkin Eyang, nih," Wibie bicara seolah-olah Nathan begitu ingin tahu si penelpon.


"Ada telpon, Ma. Sepertinya penting banget. Ada 6 panggilan tidak terjawab," Wibie memberi tahu Rey ketika istrinya sudah keluar dari kamar mandi.


"Siapa?"


"Pak Gun. Yang aku liat terakhir,"


"Oh, itu dosen yang mau order baju. Yang aku ceritakan kemaren," sahut Rey menjelaskan.


"Coba telpon balik, siapa tau penting," Wibie memberi saran.


"Bentar, palingan dia nelpon lagi,"


"Ih, ga sopan sama dosennya sendiri," Wibie menimpali dengan maksud bercanda.


"Tadi itu sudah ngobrol banyak, deh. Ada apa lagi?" Rey merasa kurang nyaman karena ia memang paling males terima telpon dari siapapun.


"Tambah orderan kali?"

__ADS_1


"Eh, iya. Bisa jadi begitu?" sahut Rey begitu semangat. Ia segera mengambil telpon dan langsung melakukan panggilan.


"Hem..giliran orderan aja. Ngegas," ledek Wibie.


"Ma, ayo. Buruan!"


"Iya, kita tinggal berangkat kok. Mas ga makan dulu?" tanya Rey. Sambil melakukan panggilan mengamati suaminya yang masih mengenakan seragam kerja dan terlihat terlalu capek. Tapi demi Memenuhi permintaan anak-anaknya ia mengabaikan itu semua.


"Nanti aja, tadi udah minta dibuati susu coklat plus kebab sama Bu Fat. Buat ngemil di jalan," Rey mengacungkan jempol tanda setuju, ia masih menunggu jawaban dari seberang.


"Kita tunggu di mobil, ya?" Tanpa menunggu persetujuan, Wibie dan kedua anaknya meninggal kamar.


"Nada sibuk lagi, tar ajalah ditelpon lagi," akhirnya Rey menyerah. Dimasukkan hp itu ke dalam sakunya dan menyusul langkah suami dan anak-anak.


"Aku aja yang nyetir, biar Mas bisa istirahat," Rey membuja pintu mobil dan langsung duduk di belakang kemudi.


Wibie yang sudah siap dengan bekal pengganjal perutnya dan tetap menggendong Nathan segera ambil posisi di kursi penumpang. Begitu juga Devara, ia ikut duduk bersama Papa dan adiknya.


"Waduh, ini mah kayak sopir beneran jadinya. Ok tuan dan nona kecil mau di antar ke mana?" canda Rey yang sudah menyalakan mesin mobilnya.


"Ancol, Monas, Mang. Ha...ha....," jawab Devara sangat puas diiringi tawa yang begitu geli.


"Sopir angkot, kali?" Rey mencibirkan bibirnya sembari memandang ke arah spion untuk melihat ekpresi anaknya.


Devara hanya menjulurkan lidahnya, sedangkan Wibie dan Nathan hanya tersenyum.


"Let's go. Jangan lupa doa bepergian," Rey mengingat Devara begitu mobilnya sudah bergerak meninggalkan garasi rumahnya.


Bu Fat yang sudah menunggu di depan gerbang siap-siap menutup pintu dan melambaikan tangan ke arah majikannya itu.


"Ga usah di kunci, Bu. Mobil Mas Wibie masih di luar,"


"Iya, Mbak. Di slotin aja kok,"


Jalanan masih lumayan padat meskipun jam sudah menunjukkan pukul 8.20 WIB. Rey mengemudikan mobilnya dengan santai sembari mendengarkan siaran radio ibu kota. Ocehan anak-anaknya terus berlanjut, berbagai pertanyaan diajukan pada Papanya. Rey sesekali ikut menimpali obrolan mereka.


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR

__ADS_1


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊


__ADS_2