Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Mama Muda


__ADS_3

Pagi ini, Rey dan Wibie menjemput Devara di sekolahnya. Keduanya berangkat menggunakan motor karena jika membawa mobil akan direpotkan dengan parkir dan lalu lintas kendaraan lain.


Sekolah Devara menang berada di kompleks perumahan, namun akses menuju ke sana lebih mudah jika menggunakan motor.


Wibie mengentikan kendaraan kira-kira 100 meter dari pintu gerbang. Mobil dan motor orang tua murid yang lebih dulu datang untuk menjemput anaknya sudah memenuhi lapangan parkir dan pinggiran jalan.


"Kamu tunggu di sini saja, Mas. Biar aku yang masuk?" ujar Rey .


"Ga apa sendirian?" tanya Wibie dengan wajah meyakinkan.


"Iya. Di kelas B kan?"


"Iya. Dari pintu gerbang belok kanan lurus,"


"Ok,"


Rey meninggalkan Wibie menuju arah yang telah disebutkan oleh suaminya itu. Sepuluh menit lagi anak play grup akan pulang, wali murid banyak yang menunggu anaknya keluar dari ruangan. Sebagian duduk di depan pintu gerbang dan di sekitar lapangan parkir. Ada juga yang tetap di atas kendaraannya.


Rey mendekati satpam yang berdiri tegap di pintu gerbang. Pria berkulit hitam itu tersenyum ramah dan menanyakannya keperluan Rey.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?


"Saya mau bayar SPP dan mengambil sisa seragam yang belum lengkap. Katanya saya diminta untuk menemui Bu Rosa," ujar Rey sembari memperlihatkan satu kertas yang ia pegang.


"Oh. Silahkan, Mbak. Dari sini lurus saja. Dipertigaan belok kiri. Disitu ada ruang yang bercat hijau. Itu ruang Bu Rosa," Satpam sekolah itu menjelaskan.


"Terimakasih, pak"


"Sama-sama, Mbak,"


Rey berjalan menelusuri lapangan yang yang dikelilingi aneka macam bunga. Ayunan langkahnya begitu pelan sembari mengamati sisi-sisi bangunan yang megah itu.


Tiba di ruang Bu Rosa, Rey melihat ada beberapa orang tua siswa yang lebih dulu di sana. Mereka menunggu di bangku yang tersedia, tepat di depan ruang itu.


Rey tersenyum ramah pada ibu-ibu yang sedang duduk dan tampak sedang menunggu sesuatu.


"Permisi. Apa ini ruang Bu Rosa?" tanya Rey pada ibu yang tersenyum padanya.


"Iya, Mbak. Duduk saja dulu. Semua lagi ngantri ini,"


"Iya, Bu. Terimakasih,"


Rey mengedarkan pandangannya sesaat, dipojok ruangan ada bangku yang masih kosong. Rey duduk dengan tenang dan membuka HP-nya.


"Aku sudah di ruang Bu Rosa. Masih ngantri,"


[ Pesan dikirim ke Wibie ]

__ADS_1


"Masih lama ga, takut keburu bel, Devara nanti malah ikut mobil jemputan," jawab Wibie.


"WA sopirnya aja dulu. Biar Devara nunggu di kelas sebentar. Masih ada sekitar 6 orang lagi nih,"


"Siap Bu bos," balas Wibie.


Emoticon senyum pun dikirim Rey ke suaminya.


*****


Saat bel pulang terdengar, masih ada satu orang yang antri menunggu layanan bendahara yayasan. Diluar sudah mulai riuh suara anak-anak yang meninggalkan kelasnya. Rey dengan sabar menunggu gilirannya.


"Mudah-mudahan Devara mau nunggu di kelas," bisiknya dalam hati.


Rey segera beranjak dari tempat duduknya ketika ibu muda yang ada di depan kasir sudah menyelesaikan transaksi. Kini tiba gilirannya untuk menyelesaikan tujuannya ke sini.


"Atas nama Devara, kelas B," Rey menyodorkan satu lembar kertas ke arah wanita yang ada di ruang itu.


"Pembayaran bulan ini ya, Bu," Bu Rosa menegaskan.


"Iya. Satu stel seragam olahraga belum diterima," ujar Rey.


"Ok," wanita itu segera menginfut pembayaran SPP tersebut di komputer yang ada di depannya. Tak lama ia menyodorkan kartu berwarna merah ke arah Rey.


"Ini kartu bukti pembayaran SPP. Harap dibawa jika bayaran ya, Bu," ujarnya menjelaskan.


"Iya," sahut Rey masih dalam posisi berdiri. Menunggu di balik bilik kasir.


"Ibu, mohon diterima, " Bu Rosa menyodorkan plastik bening yang berisi baju ke arahnya.


Setelah menerima bungkusan itu, Rey segera pamit dan buru-buru meninggalkan ruang itu. Kini langkahnya tergopoh-gopoh menuju ke kelas Devara.


Tiba di kelas Devara, Rey mendapati anak itu sedang duduk di bangkunya. Selain dia, masih ada sekitar 5 anak lagi yang belum di jemput orang tuanya.


Rey mengetuk pintu dengan pelan, guru yang masih membereskan perlengkapan tulisnya segera menengok ke arah Rey dan mengembangkan senyumnya.


"Permisi, mau jemput Devara, Bu," Rey melangkah mendekati meja Bu guru dan mengulurkan tangannya.


"Iya Bu. Tadi sopirnya juga bilang kalau hari ini Devara di jemput orang tuanya,"


"Mamanya Devara, ya?" tanya Bu guru yang masih muda itu lagi.


"Iya," sahut Rey singkat.


"Miss Winda, asisten kelas B," wanita itu memperkenalkan dirinya pada Rey.


Devara yang sudah menyandang tasnya segera menghampiri Rey dan bergelayut di tangan Rey.

__ADS_1


"Papa mana?" tanya anak itu.


"Nunggu di luar,"


"Ayo pulang. Buruan," ajak Devara tidak sabar.


Rey segera pamit dengan Miss Winda. Ketika Rey mebalikkan tubuhnya, dipintu masuk sudah berdiri Dhiza.


Miss Winda menundukkan sedikit tubuhnya dan memberi salam pada Dhiza


"Siang, Bu Ketua,"


"Siang," sahut Dhiza dengan datar


"Masih ada yang belum dijemput?" tanya Dhiza pada Miss Winda setelah ia melihat masih ada beberapa anak di kelas itu. Ia mengabaikan Rey yang berdiri di sebelahnya.


"Iya, Bu. Mobil jemputan pak Gus lagi OTW. Devara hari ini di pulang sama mamanya," jelas Mis Winda


"Mama?" sahut Dhiza dengan nada kurang senang.


"Oh, iya ya. Mama muda. Dia ibu sambung Devara Miss," Dhiza seolah memberi penegasan pada Miss Winda tentang status Rey bagi Devara.


Miss Winda hanya menyeringai, ia merasa pimpinannya itu tidak suka atas kehadiran Rey di ruang itu.


Rey yang mendapati perlakuan itu tidak segera terpancing emosinya. Dengan santai ia mengulurkan tangannya ke arah Dhiza.


"Apa kabar, senang ketemu anda lagi. Saya baru tau kalau ibu ternyata pimpinan sekolah ini," ujar Rey dengan senyum yang seramah mungkin.


Dhiza menyambut uluran tangan itu dan segera menariknya kembali.


"Maaf, Bu. Saya pamit dulu. Papanya Devara sudah nungguin sejak tadi," Rey pamit lagi. Kali ini ia khususkan pada Ibu ketua.


Dhiza tau, Rey sengaja menyebutkan alasannya itu agar dia tau kalau Wibie juga ada di sekolah ini. Ia segera membuang muka, namun Rey sempat menangkap raut wajahnya yang sempat memerah.


Rey segera beranjak dari ruang itu setelah ia kembali menundukkan kepalanya ke arah Kiss Widya yang masih memandang lekat ke arahnya.


"Sialan, kenapa Dhiza bersikap seperti itu padaku," ujar Rey sedikit kesal atas kejadian barusan.


Rey juga semakin jengkel, kenapa Wibie tidak pernah cerita jika Dhiza menjabat sebagai ketua yayasan di sekolah anaknya.


Rey semakin penasaran dengan hubungan mereka di masa lalu. Kali ini Rey semakin yakin bahwa Dhiza bukan hanya sekedar tetangga dekat dan juga teman sekolah suaminya.


"Ada sesuatu yang disembunyikan Mas Wibie padaku," keluh Rey dalam hati.


Dengan langkah santai Rey meninggalkan kelas B. Devara yang berjalan di sisinya masih memegang tangannya dengan erat. Gadis itu berjalan dengan semangat, sesekali ia meloncat kecil dan bernyanyi lirih.


Devara begitu senang, batu kali ini Rey menjemputnya di sekolah setelah ia sah menjadi istri Wibie, mama muda untuk Devara.

__ADS_1


__ADS_2