
"Hai, aku Rey dari akutansi," Rey berdiri di samping cewek berambut sebahu yang sudah lebih dulu duduk di ruang rapat dekan fakultas. Pandangan tertuju pada kursi yang belum ditempati namun ada tas yang diletakkan sembarangan di situ.
"Eh, silahkan. Salam kenal, Rey. Aku Risya dari fakultas kedokteran," jawab cewek itu dengan ramah sembari mengambil tasnya yang ia letakkan di bangku sebelah.
"Silahkan," ujar Risya lagi.
"Terimakasih, Bu Dokter,"
"Aamiin, kamu bisa saja. Semoga cepat terwujud, deh"
"Aamiin," Rey ikut mengaminkan.
"Akutansi kelas karyawan!" suara cewek yang ada di sisi Risya segera menimpali pembicaraan Rey.
"Iya, Akutansi kelas karyawan," Rey buru-buru mengoreksi jawaban karena Teta merasa keberatan jika Rey tidak menambah embel-embel kelas karyawan jika menyebut jurusan.
"Oh, sama ajalah. Kita kan dari kampus yang sama. Hak dan kewajiban yang harus kita tuntaskan selama menjadi mahasiswa juga sama," Risya dengan bijak menimpali.
"Beda, Mbak. Kalau reguler kuliahnya setiap hari dan benar-benar cari ilmu. Kalau kelas karyawan jam tatap mukanya lebih sedikit, terus mereka kuliah cuma butuh gelar doang," sahut Teta tak mau kalah.
"Hem....saya kurang faham kalau soal itu. Takut salah bicara. Baiknya bahas yang lain aja, ya" lagi-lagi Risya berusaha menengahi karena ia melihat Rey yang mulai tidak nyaman dengan ucapan Teta. Risya tidak mau pertemuan pertama mereka ini harus dimulai dengan perdebatan yang sebetulnya tidak terlalu penting untuk di bahas.
"Selamat siang, teman-teman,"
Suara dosen yang baru datang cukup membuat semua yang ada di ruang itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Dosen itu menghitung jumlah mahasiswa yang ada di ruangan membuat Rey ikut-ikutan mengedarkan pandangannya ke setiap anak yang akan menjadi teman kelompoknya selama dua Minggu ke depan.
"Ini kok baru 18 orang, masih kurang dua orang lagi. Kemana ya?" Tanya pria itu segera bergumam pada dirinya sendiri.
Rey tersenyum saat pandangan jatuh pada Rafa dan Mely. Ternyata kedua temannya itu sudah datang lebih dulu. Berarti salah satu dari dua anggota yang belum hadir adalah Pandu.
__ADS_1
"Permisi, Pak. Maaf telat. Barusan ada rapat dengan perwakilan BEM," Alex yang baru saja muncul segera menghampiri sang dosen dan mohon izin untuk bergabung.
"Oh, ketua senat ikut kelompok kita,"seru Risya kaget. Pandangannya mengarah pada Rey untuk meyakinkan dugaannya.
"Ketua senat?" tanya Rey bingung.
Rey hanya melihat Pandu dan Alex yang masuk ruang itu hampir berbarengan. Pasti bukan Pandu yang dimaksud Risya karena ia teman satu kelas Rey, berarti Alex yang diperbincangkan teman-temannya itu.
"Kan saya udah bilang, anak kelas karyawan mana mungkin faham lingkungan. Mereka datang sudah petang, pulang udah gelap," Teta semakin sinis begitu mengetahui Rey tidak kenal dengan orang nomer satu di kalangan mahasiswa itu.
"Alex Mahardika itu ketua senat, Rey," Risya mencoba menjelaskan.
Semua mahasiswa kenal dia. Selain beken dan tampan dia juga dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan ramah.
"Parah banget ya, diriku, sampe masalah seperti ini saja aku ga update," Rey berusaha mencairkan suasana dengan sedikit lelucon recehnya.
Risya menepuk pundak Rey dan tersenyum simpul, dia tahu anak kelas karyawan biasanya memang tidak terlalu mengikuti aktifitas mahasiswa reguler karena mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Di kampus juga dateng ikut kuliah terus pulang.
Rafa, segera berdiri memperkenalkan dirinya. Ia cukup berdiri dan sedikit menggeser posisi tubuhnya ke arah kiri. Mereka yang duduk setengah melingkar membentuk dua barisan itu dapat melihat dengan jelas, satu persatu mahasiswa yang memperkenalkan diri.
"Perkenalkan. Nama saya Rafa Suryadi. Saya dari fakultas akutansi kelas karyawan. Jika dilihat dari penampilan, saya menang lebih matang dari teman-teman di sini. Usia saya 30 karena saya memilih untuk bekerja lebih dulu baru kepikiran kuliah. Terimakasih," ujarnya singkat dan jelas.
Tiba giliran Rey memperkenalkan diri "Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatu, selamat siang teman-teman semuanya. Perkenalkan nama saya Reyna Anggra, biasa dipanggil Rey. Sama seperti Pandu, Rafa, dan Mely,saya juga berasal dari SI Akuntansi kelas karyawan. Mohon kerjasamanya, karena waktu tatap muka di kelas begitu terbatas mungkin ilmu yang kami dapat masih sangat jauh dari kata memadai untuk di terapkan di lapangan. Sekali lagi, mohon kerjasamanya dan bimbingan kalian semua,"
Dengan begitu rendah hati Rey memperkenalkan diri tak henti-hentinya ia menunduk kepala menangkup kedua tangannya di depan dada.
"Tidak harus seperti itu, teman. Kita di sini semuanya belajar. Anak reguler belum tentu lebih unggul dari kelas karyawan. Semangat, kita saling mengingatkan dan melengkapi," Risya buru-buru memberikan tanggapan atas ucapan Rey. Ia faham, arah pembicaraan jadi seperti ini karena sebelumnya Teta sangat merendah gadis ini.
"Iya, saya faham kok," Rey mengedipkan mata kirinya ke arah Risya dan teman barunya itu cukup pandai untuk menanggapi maksudnya.
"Baiklah, tinggal satu orang lagi nih yang harus memperkenalkan diri. Meskipun yang ada di sini sudah kenal siapa dia, namun demi asas keadilan dan kebersamaan ada baiknya ketua senat kita juga ikut bicara," ujar Pak Hendra.
__ADS_1
Alex segera berdiri, tidak lupa ia memberi hormat pada semua temannya dan juga Pak Hendra sebagai dosen pembimbingnya.
"Hay semuanya. Perkenalkan saya Alex Mahardika dari Akutansi. Senang bisa bertemu kalian semua di sini dan saya harap kalian semua juga senang berkerja sama denganku untuk 10 hari ke depan di Belitung,"
"Huh.... pastilah itu. Ga usah ditanya," sambar Teta tanpa menunggu Alex menyelesaikan perkenalannya.
"Terimakasih, Kak," Alex menunduk dan memberi hormat pada Teta.
"Eh, sembarang aja panggil Kakak. Emang aku lebih tua dari kamu, apa?"
Grrrrr...... Semua yang ada di ruang itu tertawa lepas mendengar protes Teta yang tidak terima di panggil Kakak oleh Alex.
"Ok, kalau begitu aku panggil Nona,"
"Heh.....nyebelin banget sih, Lo," protesnya lagi. Masih dengan nada yang tidak suka.
"Ok..ok....untuk perkenalan cukup dulu. Kalian masih punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lainnya," Pak Hendra berusaha menengahi.
"Sekarang waktunya untuk pilihan ketua. Bagaimanapun juga kita butuh seseorang yang bisa bertanggung jawab terhadap kelompok ini,"
****
Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊
__ADS_1