Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
39 Week


__ADS_3

Impian Rey untuk bisa melahirkan secara normal sudah direncanakannya jauh-jauh hari, seperti menjalankan strategi yang disarankan oleh dokter kandungannya. Salah satunya yaitu dengan induksi alami.


Rey yang ditemani Wibie usai sholat subuh rutin jalan pagi di taman joging dekat rumahnya. Olahraga ringan lainnya seperti naik turun tangga, jongkok berdiri berulang disela-sela aktivitasnya yang masih mengurus perusahaan.


Rey juga masih rutin ikut senam hamil di rumah sakit seminggu tiga kali. Kuliahnya juga masih jalan, Rey sengaja tidak mau cuti. Pasca melahirkan ia akan izin satu bulan saja.


Pagi ini, saat ingin mandi, Rey melihat flek di celana dalamnya. Namun karena ia sering berkonsultasi dengan dokter kandungannya dan juga membaca artikel-artikel di internet, kejadian itu tidak dibawa panik.


Ia meneruskan niatnya untuk membersihkan seluruh tubuhnya agar terlihat press ketika datang ke rumah sakit. Ia masih sempat melulur seluruh tubuhnya kemudian berendam di bathtub agar tubuhnya benar-benar cling saat lahiran.


Rey juga mengenakan masker youthmud glam glow agar wajahnya lebih press. Ia benar-benar menikmati ritual itu agar tubuhnya benar-benar rileks.


Kontrol dua hari yang lalu, kata Bu dokter sudah pembukaan satu. Ia sempet deg-degan, sebentar lagi ia bisa akan menjadi seorang ibu. Sekali dua kali Rey menang merasakan mules, tapi tidak sakit-sakit banget. Malahan masih bisa di bawa jalan-jalan.


Setelah mandi Rey masih menyempatkan membantu Alfian mengemas paket dan merekap pesanan dari costumer. Rey sengaja mengisi waktunya dengan bekerja agar tidak terbawa oleh perasaan yang begitu lama karena menunggu.


Sepanjang hari ini tidak ada perubahan apa-apa. Sekali dua kali terasa mules kemudian hilang tak berasa apa-apa lagi.


Segala perlengkapan lahiran yang akan di bawa ke RS sudah disiapkan Wibie sejak kemarin.


"Kalau tiba-tiba mulesnya makin sering tinggal pergi. Semua sudah aku beresin," ujar Wibie sembari menutup resleting tas yang berisi pakaian itu.


"Terimakasih, karena Mas sudah punya pengalaman sebelumnya, aku terima beres aja," Rey menimpali. Ia memang tidak tau menahu apa saja yang dimasukkan oleh suaminya ke dalam tas itu.


Ia memperhatikan suaminya yang sedang beres-beres sembari foto-foto dan berbaring di kasurnya.


"Udah berasa lagi," tanya Wibie dengan nada khawatir.


"Belum, aku cuma rebahan doang. Males-malesan,"


"Kalau berasa lagi, frekuensi bertambah bilang ya. Kita segera ke rumah sakit,"


"Iya. Sepertinya belum. Masih kayak pagi tadi,"


"Sabar ya, pembukaan belum nambah berarti," sahut Wibie. Kali ini ia sudah berada di sisi istrinya dan mengelus lembut perut buncit Rey.


"Sepertinya abis perawatan maksimal ini, tubuh wangi sekali,"


Rey tidak menjawab, ia hanya tersenyum melihat suaminya yang mendengus-ndengus ke seluruh lekuk tubuh tubuhnya.


"Baguslah, biar bolot yang menempel ditubuhmu karena jarang mandi luruh seketika,"


"Sembarang. Emang kulitku banyak bolotnya apa?" Rajuk Rey.


"Ha...ha....yang merasakan orang yang ada di sekitarmu tau?"


"Masa sih, Mas? Emang kecium ya? Bau asem gitu?" tanya Rey dengan nada khawatir.


Nah kali ini Wibie gantian diam. Dia membiarkan Rey menemukan jawaban atas pertanyaan sendiri. Ia hanya menahan senyum agar Rey semakin jengkel.


Diperlakukan seperti itu, Rey mengambil guling yang ada di sampingnya dan memukuli suaminya dengan benda itu.


"Kalo kecium baunya kenapa diam aja. Boboknya juga masih di kelonin," ujar Rey menahan malu.


"Terpaksa, kalo ga dielus punggungnya nanti ngambek," sahut Wibie bercanda.


"Hem.... terpaksa. Tega sekali bilang begitu," ujar Rey sedih.


Wibie berhasil membuat istrinya kesal. Setelah ia melihat Rey begitu sedih, ia membawa Rey dalam pelukannya dan mengelus-elus rambutnya.


"Tidak. Aku cuma bercanda,"

__ADS_1


*****


Pukul 03.00 WIB, tiba-tiba Rey terbangun. Rasa sakit di area perut bagian bawah membuatnya terjaga dari tidurnya. Yap, kontraksi lagi! Tidak terlalu kuat, tapi cukup membuatnya tidak bisa tidur.


Rey berusaha memejamkan mata, tapi gagal. Setiap kali kontraksi datang, rasa yang tidak nyaman begitu ia rasakan pada bagian perutnya yang paling bawah.


Wibie yang tidur disampingnya menyadari kegelisahan Rey.


"Sakit?"


"Iya, mulai sering," sahut Rey.


"Kita ke rumah sakit sekarang, ya?" Wibie menawarkan pada Rey.


"Nanti aja. Belum terlalu dekat jaraknya,"


Wibie mengelus halus punggung istrinya, sesekali ia memijit bagian pinggang hingga tulang ekor Rey untuk mengurangi rasa sakitnya.


Setelah azan subuh berkumandang, kontraksi menguat. Namun Rey masih santai dan beraktivitas seperti biasanya. Ia masih bisa sholat berjamaah, kemudian mengajak Wibie menikmati udara pagi dengan jalan kaki.


"Aku mau bubur ayam yang di Kemayoran,"


"Itu jauh, kita ga mungkin jalan kaki ke sana?" sahut Wibie.


"Ya udah. Kita pulang. Trus naik motor ke sana,"


"Yakin masih kuat ke sana?" tanya Wibie sedikit khawatir.


"Kuat. Insya Allah," sahut Rey dengan yakin


"Ya udah. Kamu nunggu di sini aja biar aku pulang ambil motor,"


Dari jam 3 hingga jam 6 pagi, kontraksi terus berlangsung dengan interval 5–10 menit. Belum begitu teratur. Kekuatannya juga tidak jauh berbeda. Tidak ada tanda-tanda lahiran seperti lendir darah keluar. Sehingga Rey masih berpikir bahwa prosesnya paling masih lama.


Pagi ini Rey masih bisa menikmati bubur ayam Jakarta bersama Wibie dan Devara. Mereka juga menyempatkan diri mampir ke rumah Tante Rohmah sekedar silaturahmi meskipun tidak lama.


Pukul 9 pagi, Rey minta Wibie untuk bersiap-siap ke rumah sakit karena saya mulai merasa bahwa ini akan jadi persalinan yang sebenarnya.


Wibie membawa tas yang berisi perlengkapan lahiran ke dalam mobil. Ia juga menelpon Oma memberitahu kabar baik ini.


Devara yang mengetahui adek bayinya akan segera lahir juga tak kalah sibuknya. Ia ingin ikut ke rumah sakit. Namun Bu Fat bisa membujuknya, hingga ia mau bersabar akan segera ke rumah sakit setelah adek bayinya lahir.


Sementara Wibie bersiap-siap, Rey masih duduk di meja makan menghabiskan sate padang yang dibelinya pada abang--abang yang lewat di depan tokonya.


Tiba-tiba aku merasakan kontraksi yang begitu menyakitkan, pinggang serasa tertekan. Ia menghentikan makannya. Sate padang yang masih hangat itu tersisa 3 tusuk lagi. Setelah kontraksi reda, Rey bergegas ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Mendadak ada feeling yang sangat kuat untuk ngecek ada atau tidak lendir darah di ******. Rey mengambil tisyu toilet yang ada di sisi kamar mandi dan ternyata benar sudah ada sedikit lendir darah. Setelah melihat tanda itu, otak mulai tidak fokus. Perut semakin tidak karuan. Panik dan khawatir.


Tapi Rey sadar kepanikan hanya akan membawanya pada kondisi yang lebih buruk. Rey mengatur napas untuk menenangkan diri. Kemudian ia keluar dan menghampiri suaminya.


"Kita berangkat sekarang. Udah ada lendir darah,"


“Oke-oke! Eh, udah ngeplek ya? waduh....Kunci mobil dimana lagi?” Wibie menjadi panik saat mendengar ucapan Rey tadi. Ia mondar-mandir mengitari ruang keluarga untuk mencari sesuatu.


“Itu, yang kamu pegang apa?" jawab Rey sembari menahan senyum melihat suaminya yang mendadak panik seperti itu. Mencari-cari kunci mobil yang dipegangnya sendiri.


Mengingat jarak dari rumah sakit tidak begitu jauh, mereka hanya butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai ke sana.


Belum sempat turun dari mobil, mendadak kontraksi yang dirasakan Rey semakin luar biasa. Napasnya mulai tersengal-sengal. Ia mencengkram bahu kiri Wibie dengan keras karena menahan sakit.


Tak lama, kontraksi menghilang lagi. Ia mengatur napas kembali dan membuka HP-nya dan mengecek contraction tracker yang ada di HP ity, ternyata intervalnya sudah 2–3 menit sekali.

__ADS_1


Sesaat kemudian, mereka sudah di ruang dokter. Setelah cek tensi dan sebagainya Rey segera di rujuk ke ruang fartus. Kontraksi terjadi semakin rapat dan semakin sakit.


Rey berbaring pada tempat yang sudah lebih dulu siap. Dokter dan dua perawatan yang ikut bersamanya segera mengambil tindakan. Saat itu juga dilakukan cek pembukaan, ternyata sudah pembukaan 6. Kontraksi yang dirasakan semakin maknyus. Alhamdulillah Rey bisa melewatinya dengan tenang dan bernafas panjang.


Dalam situasi begini, justru ia tidak menghendaki Wibie ada disampingnya. Ia meminta suaminya untuk jauh-jauh dari tempatnya berbaring. Jika Wibie ada disitu khawatir tubuhnya akan sobek-sobek karena cengkarmannya.


“Ya udah , aku ambil tas dulu di mobil ya,"


“Oke.” jawab Rey singkat. Ia cukup kepayahan untuk sekedar menyahuti ucapan suaminya itu. Sungguh kontraksi yang kurasakan kali ini teramat sangat kuat. Selain jedanya semakin singkat, kontruksi juga semakin gila-gilaan.


Wibie Meninggalkan ruang itu. Tak lama Bu dokter juga ikut Meninggalkan ruang itu. Kini hanya ada Rey dan dua perawat yang terlihat tengah mempersiapkan sesuatu.


"Ya Allah, ga..tahaaan...," teriak Rey dalam hati. Akhirnya ia mengikuti kata hatinya untuk ngeden dikit-dikit.


Ia makin curiga pembukaannya sudah bertambah namun sang suster masih terlihat tenang malah ia meminta Rey untuk menahan diri. Jangan ngeden dulu.


Rey berusaha untuk tenang, menahan diri untuk tidak teriak-teriak atau mengeluh. Ia tetap istighfar dan mengatur nafas dengan tenang. Pengetahuan hypnobirtthing yang dipelajari dari internet sangat bermanfaat sekali bagi dirinya saat ini.


"Duh, dokternya mana?," Seru Rey dalam hati. Rasa pengen ngeden sudah makin tidak tertahan. Tapi tetap saja Rey diminta untuk sebentar miring dan sebentar telentang.


Tak lama Bu dokter dateng. Tanpa bla...bla....ia mendekati Rey dan memintanya telentang. Pasang posisi buat lahiran dan langsung disuruh ngeden.


"Tuh kan, fellingku benar. Pasti sudah pembukaan lengkap. Tanpa diperiksa lagi langsung disuruh bereaksi.


Rey sedikit kaget, tiba-tiba ada semacam cairan yang keluar dari kemaluannya. Ternyata itu adalah ketuban yang baru saja dipecahkan.


"Oh....begini rasanya," bisik Rey dalam hati.


Meskipun Rey sempat salah saat diintruksikan untuk mengeden, namun proses lahirannya terbilang lancar. Tidak lebih dari lima kali ngeden, tau-tau kepala bayi sudah keluar dari jalannya yang terbuka lebar.


Rey nyaris tidak merasakan sesuatu saking begitu totalnya ngeden saat kontraksi yang terakhir.


"Stop," teriak Bu dokter seketika itu juga.


Instead banget. Rey merasa begitu lega. Rasanya plong banget pas udah lahiran.


Ia juga tidak menyadari kapan Wibie berada diruang itu kembali, Rey baru sadar ketika bayinya nangis dengan kencengnya sebelum tali pusarnya dipotong dan diadzankan oleh suaminya.


"Alhamdulillah... Alhamdulillah. Ga nyangka. Rasanya enak banget, sampe ga berasa saat ari-ari dan plasenta dikeluarin," bisik Rey sembari meneteskan air matanya.


Berikut nya, langsung IMD. Debay yang unyu-unyu itu ditengkurapkan di dada sang ibu, kulitnya yang begitu lembut, berwarna merah muda bisa Rey rasakan kehangatannya.


Matanya masih terlihat bengkak-bengkak itu terasa bergerak-gerak diatas tubuhnya. Putra pertamanya itu langsung merangkak di atas dada Rey nyari kendinya.


Wibie yang telah duduk di samping Rey tak henti-hentinya menatap istrinya dan mengelus lembut rambutnya. Air matanya sudah mengembang sejak tadi menahan haru.


"Terimakasih sayang, kau begitu hebat. Anak kita lahir dengan selamat," bisiknya begitu lembut di telinga Rey.


Rey hanya mampu membalas ucapan suaminya itu dengan senyum dan pandangan yang tulus. Wibie begitu bersyukur, ketakutannya selama ini tidak terbukti.


Rey melahirkan anak pertamanya di usia 20 tahun secara normal dan untuk ukuran anak pertama, termasuk lancar. Ia bisa melewati persalinan dengan sabar dan tidak menyusahkan orang lain.


Rey benar-benar seorang perempuan yang kuat dan tangguh. Seorang petualangan yang hebat, perempuan muda yang bisa memperjuangkan mimpi-mimpinya menjadi kenyataan.


*Reyna Anggra, dia istriku yang masih terbilang belia. Namun usia tidak menjadikan manja. Ia begitu sempurna dimataku, baik sebagai istri maupun sebagai ibu dari anak-anakku meski ia juga tengah menjalani dirinya yang lain sebagai mahasiswa dan pembisnis muda.


 


**S E L E S A I***


 

__ADS_1


__ADS_2