Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
Semesteran


__ADS_3

Beberapa kali Rey mengucek kedua mata yang mulai tidak bisa diajak kompromi.


Rey juga terlihat memejamkan mata berulang-ulang agar pandangannya kembali segar.


Layar laptop yang ada di depannya tetap menyala. Alunan musik klasik yang begitu merdu menemani kerjanya pagi itu tidak juga mengatasi kantuknya, justru semakin menarik dirinya untuk segera membaringkan tubuhnya.


Secangkir kopi yang dibuatkan oleh suaminya sebagai amunisi, sudah diteguk habis sejak tadi. Namun tugas -tugasnya tak kunjung selesai. Kantuk benar-benar semakin menguasai dirinya.


Wibie menjadi teman dalam bisu sejak pagi tadi. Ia sibuk mengemas pakaian yang sudah dipesan oleh costumernya dengan kedua telinga ditutupi earphone. Beberapa hasil packing yang sudah dikerjakannya menumpuk di dekat pintu.


Ekspresi wajahnya berubah-ubah. Kadang terlihat riang, sendu tapi dalam sekejap berubah melo. Pagi itu ia membantu tugas istrinya yang sedang disibukkan oleh tugas-tugas kuliah menjelang akhir semester.


“Selesai!” teriak Wibie dengan kedua tangan mengepal ke atas dan bawah beberapa kali.


Rey memalingkan wajahnya ke arah suaminya. Dilihatnya satu paket dalam ukuran besar sudah terbungkus rapi dan siap untuk dikirim.


Merasa diperhatikan, Wibie meletakkan gunting yang ada di tangannya dan membereskan perlengkapan lainnya kemudian ia melepas earphone dan menghampiri Rey dengan menyeringai lebar.


“Ngantuk, Ma? Jam segini tidak sehat jika dibawa tidur!" Wibie mencium sebentar kening Rey, lalu berlutut membelai kedua telapak tangan istrinya.


Seketika wajah Rey merona merah jambu karena Alfian yang baru saja datang dan memarkirkan mobilnya di depan toko melihat kejadian itu.


"Kiriman ke Bogor sudah siap, tadi orangnya konfirmasi kapan barang akan dikirim!"


teriak Rey pada Alfian, begitu laki-laki itu sudah melangkah masuk ke toko.


"Iya, Kak. Toko anugrah minta tambahan ukuran M dan XL untuk minggu depan. Yang warna biru," pria itu memberikan informasi pada Rey terkait pesanan dari konsumennya.


Rey segera membuka laporan pemesanan barang dan mencatan pakaian yang diminta oleh toko anugrah dalam file yang ada di laptopnya.


"Berarti saya ke ekspedisi dulu ya, semua barang sudah siap dikirim nih sepertinya," tanya Alfian.


"Sudah, dong. Itu yang packing pak komisaris langsung, loh. Apa ga luar biasa," canda Rey dengan maksud ngeledek suaminya.


Alfian dan Wibie tertawa seketika mendengar ucapan Rey itu.


"Mana ada yang percaya kalo aku ini menjabat sebagai komisaris utama. Ngantor kok cuma pake celana pendek dan kaos oblong doang," seru Wibie sembari menertawakan dirinya sendiri.


"Almarhum Bob Sadino yang memimpin berbagai perusahaan besar juga selalu pakai pakaian yang sama setiap hari, Mas. Sama model dan warnanya. Sekarang kan lagi eranya low profil," sela Alfian.


"La, iya ya. Jadi komisaris kayak aku ini juga bisa di bilang low profil kalau begini," Wibie berusaha melucu lagi. Semua tertawa.


Sebentar saja kantuknya entah ke mana. Alfian kini memindahkan pesanan yang sudah di packing oleh Wibie ke dalam mobil box yang ia parkirkan di depan toko. Setelah semuanya beres, pria itu mohon diri untuk mengantar barang-barang itu ke ekspedisi.


"Jadi gimana sayang, butuh apa nih?" tanya Wibie begitu lembut pada istrinya.


Panggilan yang akhir-akhir ini sering Wibie lontarkan, juga sentuhan-sentuhan kecil yang diberikan, membuat dirinya benar-benar merasa dicintai. Satu sentuhan kecil saja seakan mengandung daya kejut listrik ratusan volt.


"Mau dibuatkan sesuatu lagi?" tanya pria itu lagi.


"Tapi tidak untuk secangkir kopi! Ga boleh lebih dari satu cangkir sehari, itu juga ga boleh setiap hari. Kasian jagoan yang ada di perutmu," jelas Wibie sembari mengelus perut Rey dan memijit-mijit pelan punggung Rey sebentar.


“Tidak, aku tidak lapar dan juga tidak sedang menginginkan sesuatu. Aku hanya tidak mampu menahan kantuk hingga makalah ini tidak keluar-kelar,” sahut Rey dengan jujur sembari menekuk wajahnya.


Bibir Wibie kembali menyunggingkan senyum, “Coba aku lihat.”

__ADS_1


Pandangan Wibie beralih ke layar laptop. Membaca sekilas makalah yang sedang dikerjakan Rey.


“Ini mah gampang” seru Wibie sembari tersenyum. Diseretnya satu kursi lain di depan meja. Kini ia duduk samping istrinya.


“Kamu sedang menganalisis produk dan kebutuhan pasar dalam dunia industri?” tanya Wibie lagi sambil membaca cepat makalah yang sudah dibuat oleh Rey.


“Iya, analisis pasar terhadap produk yang dibutuhkan oleh konsumen gitulah”


“Ok! Aku bantuin, Ya?"


Tanpa menunggu persetujuan dari istrinya, kini jari-jari Wibie sudah mondar-mandir berselancar di atas keyboard.


“Kamu memang hebat, sayang” puji Rey dengan antusias.


“Tentunya. Kasih semangat, dong.” Wibie menyodorkan pipi kanannya ke arah Rey.


Cup. Rey mencium pipi kanan suaminya.


“Suamiku tak ada duanya! Yang model begini harus dilestarikan," lagi-lagi Rey berdecak kagum atas hasil kerja suaminya itu.


Wibie semakin bersemangat. Ia menuangkan ide-idenya dalam makalah yang sedang digarapnya di layar laptop.


Wibie kembali menunjuk pipi kanannya. Rey mendaratkan satu ciuman lagi.


“Landasan teori tidak harus banyak yang penting cukup akurat untuk mendukung ide yang akan diungkap,"


Rey memberi satu ciuman lagi di pipi suaminya. Wibie terus mengetik. Entah sudah berapa lembar yang ia ketik, ide itu mengalir begitu saja berdasarkan teori yang sudah diungkapkan oleh Rey pada lembar sebelumnya,"


“Done!"


"Meski aku orang eksak, tapi yang begini ini bisa aku libas. Sudah kenyang makan asam garam di dunia usaha,"


"Ok, aku save dulu. Satu cuiman terakhir untuk malaikatmu hari ini,"


Tak ada sahutan. Wibie menoleh ke sampingnya, ia melihat istrinya sudah terlelap bersandar pada kursi yang ia duduki.


"Ah, dia tertidur juga," seru Wibie sembari tersenyum melihat kelakuan istrinya itu.


****


Pukul lima sore, Rey sudah keluar dari kampusnya. Hari ini tidak ada perkuliahan karena sedang berlangsung ujian semester.


Berhubung hanya ada satu jadwal ujian, Rey bisa lebih cepat pulang. Untuk itu Wibie memutuskan menunggu istrinya itu menyelesaikan ujiannya.


Kali ini ia tidak berniat untuk iseng, ia menunggu Rey di mushola. Ia harus banyak-banyak berdoa untuk istrinya. Meski sudah hamil tua, namun ia tidak mau cuti dan tetap menjalankan aktifitasnya.


Dengan langkahnya yang riang, Rey menuju ke suaminya yang sudah kembali ke mobilnya. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.


"Alhamdulillah, aku bisa menjawab semua pertanyaan dengan mudah. Kamu memang anak yang pintar sayang, bisa bantuin mama melakukan apapun, bisik Rey pada anaknya sembari mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit.


Kaca mobil yang membatasi pandangan Wibie terbuka. Rey melihat suaminya yang sedang membaca sesuatu dari smartphone yang dipegangnya.


“Aku kira masih di mushola?”


“Baru aja masuk nih, udah selesai? Kok cepet banget?,” balas Wibie yang tampak terlihat kaget mendapati Rey sudah ada di sisi mobilnya.

__ADS_1


"Aku lagi browsing rumah makan yang menyediakan burung dara goreng," ujar Wibie sembari memperlihatkan HP dan memberi isyarat agar Rey segera masuk ke mobil.


Dahi Rey terlihat berkerut sebelum melangkah, memutar ke depan dan duduk di samping suaminya.


"Kayak lagi ngidam aja," seloroh Rey.


"Mungkin. Tiba-tiba aku pengen makan burung dara goreng. Padahal seumur-umur belum pernah nyobain,"


"Emang bisa? Yang hamil istrinya kok yang ngidam suaminya?" protes Rey.


"Banyak yang begini ini. Abis mamanya begitu sibuk kuliah dan kerja sampe lupa ngidam,"


"Eh, mana ada orang ngidam direncanakan. Ngaco, ih," protes Rey lagi.


"Ya mungkin karena ikatan bathin anak laki-laki dan papanya, jadi yang ngidam bukan mamanya,"


Wibie tertawa, ia melajukan kendaraannya setelah memberi uang tip kepada petugas parkir yang sudah membantunya keluar dari kampus nan megah itu menuju jalan yang mulai padat.


Diperhatikannya sebentar Rey yang duduk disampingnya.


"Dari tadi kulihat kau begitu senang. Ada apa?"


"Soalnya gampang. Aku bisa menyelesaikan sebelum waktunya," ujar Rey bangga.


"Bukan soalnya yang gampang, tapi kamu memang cerdas, sayang," puji Wibie yang menambah wajah istrinya semakin merona.


“Kita mau ke mana? Ke restoran burung dara goreng?"


"Iya," sahut Wibie.


"Pulang aja, yuk. Aku gerah sekali. Udah ga sabar pengen kena air dan ganti baju," rengek Rey.


"Lagian ini kan macet, mau sampe kapan kita sampai ke tempatnya?" Rengeknya lagi.


"Restoran ada di sebrang situ. Tinggal belok sebentar kok,"


"Tapi kan? Aku sudah gerah banget," Rey menyeka keningnya dan sebentar-sebentar menggaruk tubuhnya.


"Ac-nya di full in ya?" tawar Wibie lagi.


"Aku maunya pulang aja. Burungnya dipesan aja!"


"Ya, sudah! Demi nyonya besar kita langsung cuz nih," Wibie akhirnya mengalah.


"Maaf ya, Pa. Aku pesenin online aja ya?"


"Ga usah, aku pengen makan di tempat. Nanti setelah magrib kita ke sini lagi,"


"Iya deh. Tar aku temenin. Papa ganteng jangan ngambek dong,"


Rey segera menggeser tubuhnya. Satu kecupan melesat di pipi kiri suaminya yang sudah memasang muka cemberut.Wibie lagi-lagi hanya tersenyum.


Wibie menuruti apa kemauan istrinya, seperti kerbau dicocok hidung.


Mobil yang dikendarai nya tidak jadi berbelok, kini lurus menembus padatnya lalu lintas menuju ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2