
Pras begitu panik, sejak pukul 02.00 WIB Dziha sudah mengalami kontraksi. Beberapa kali ia sudah menghubungi dokter Kintan untuk mengetahui sejauh mana kondisi istrinya.
"Tenang Pak, jika saya simpulkan dari penjelasan anda, ibu Dhiza baru pembukaan 3. Tenang, ya. Jangan di bawa panik," nasehat sang Dokter. Ia merasa terganggu karena baru saja terlelap sudah dibangunkan oleh panggilan telpon yang berulang-ulang.
"Hem......," Gumamnya halus. Ia kembali menarik selimutnya dan melanjutkan tidur. Butuh beberapa jam kedepan untuk memulihkan tenaganya setelah melakukan dua operasi dalam sehari ini.
Tidak puas dengan jawaban sang dokter, belum lagi erangan Dhiza yang menahan sakit membuat Pras semakin panik.
Langkah terakhir yang bisa ia perbuat, membangunkan Oma. Ia butuh bantuan mama Wibie untuk menenangkan Dhiza.
"Apa boleh buat, aku memang harus minta bantuan Oma. Ah.... jam segini pasti dia sedang nyenyak-nyenyaknya.
"Maaf, ya Oma. Aku harus menganggu istirahatmu," bisik Pras dalam hati.
"Sebentar ya sayang, aku mau ke Oma dulu. Dia pasti bisa membantumu menahan rasa sakit ini,' Pras menghampiri Dhiza yang sedang menungging di tempat tidur.
Ia mengeluh perutnya begitu mules, punggungnya teramat sakit, posisi itulah yang menurutnya sedikit membuatnya nyaman.
"Buruan, Mas. Aku sudah ga tahan," desah Dhiza yang menahan tangis.
Pras tidak tega melihat keadaan istrinya itu, tanpa pikir panjang ia segera keluar dan menuju ke rumah samping. Kediaman Oma.
"Tok...tok....," Suara ketukan Pras cukup keras. Ia sengaja lewat samping karena harus melalui pintu pagar dan keluar lebih dulu jika lewat depan. Belum lagi harus memanggil Oma lewat pintu gerbang, sangat mustahil teriakan akan terdengar dari dalam. Yang ada ia akan diamankan boleh petugas ronda karena sudah membuat kebisingan di tengah malam.
Tak ada sahutan, tanda- tanda jika sang empunya rumah mendengar panggilannya pun belum terlihat. Pras tidak putus asa, ia kembali mengucapkan salam, memanggil Oma, hingga bilang jika dirinya sedang butuh bantuan.
"Sabar ya sayang, Oma belum bangun nih," Pras menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia mondar mandir di depan pintu menunggu adanya harapan.
"Assalamualaikum. Oma ini Pras, maaf Oma. Tolong buka pintunya," teriaknya nyaris putus asa.
Tetap tidak ada tanggapan. Merasa usahanya tidak membuahkan hasil, Pras kembali ke rumahnya. Kali ini ia mengambil Hp dan melakukan panggilan.
"Tuutt.....Tutt....," suara panggil masuk. Hp yang dituju aktif namun belum diangkat.
Pras melakukan panggilan lagi, dan lagi hingga panggilan ke lima telpon itu diangkat oleh pemiliknya.
"Assalamualaikum, ada apa Pras?" terdengar suara dari seberang. Nadanya cukup panik.
__ADS_1
"Maaf, Rey. Aku ganggu Wibie tengah malam begini. Orangnya tidur, ya?"
"Iya, he..he....dia baru tidur sejam yang lalu karena nemenin Oma ke rumah saudara,"
"Ah, Oma ada di situ ya? Pantesan aku panggil berkali-kali tak ada jawaban,"
"Iya, sore tadi ada arisan di Pejaten. Mas Wibie yang nganter ke sana karena mobil Oma lagi servis besar. Apa apa Pras? Kenapa kamu begitu panik?"
"Dhiza, Rey. Dhiza kesakitan," suara Pras begitu sedih. Tangisnya nyaris pecah.
"Tenang. Ceritakan pelan-pelan, ya. Ada apa ini?" tanya Rey berusaha tetap tenang.
"Perutnya mules. Pinggangnya sakit. Aku melihat dia begitu menahan sakit. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali nungging di kasur dan menangis,"
"Ya Allah, Pras. Istrimu sudah mau lahiran. Sebentar lagi kau akan menjadi bapak," pekik Rey begitu gembira.
"Tapi ia begitu kesakitan, Rey. Aku tidak tega membiarkan dia seperti itu sedangkan aku sendiri tidak tau apa yang bisa aku lakukan agar rasa sakitnya berkurang,"
"Iya Pras. Sabar ya. Ajak Dhiza untuk berdiri, berjalan mondar mandir, atur nafas," Rey memberikan pertolongan pertama sesuai dengan apa yang ia lakukan ketika akan melahirkan Nathan waktu itu.
"Aku siap-siap dulu ya. Bentar lagi aku ke sana,"
"Sementara lakukan apa yang aku katakan tadi, insya Allah sakitnya akan berkurang. Aku tutup dulu ya, aku dan Mas Wibie segera ke sana,"
Tanpa menunggu jawaban dari Pras, Rey segera mematikan Hp dan meninggalkan kamarnya. Ia berlari menuju ke kamar Devara, karena malam ini Wibie tidur dengan putrinya. Sejak kemarin anak itu ingin tidur berdua saja dengan papanya setelah hampir dua minggu tidak bertemu muka.
"Mas, bangun," Rey menepuk lembut bahu Wibie yang tengah tidur begitu pulas. Sebetulnya ia tidak tega membangunkan suaminya itu, selain ia baru pulang terus mengantar Oma arisan, pasti ia lelah sekali. Hingga beberapa kali Rey menepuk-nepuk pundaknya ia tidak bergeming sedikitpun.
"Kau pasti lelah sekali. Tidak biasanya sesulit ini membangunkanmu," ujar Rey prihatin. Ia memandang suaminya yang amat manis dalam posisi yang begitu erat mendekap Devara.
"Mas," kali ini Rey mengarahkan mulutnya ke arah telinga Wibie agar suaranya terdengar oleh suaminya tanpa harus membangunkan anaknya.
"He...," Wibie menggerakkan tubuhnya. Namun tak ada tanda-tanda ia akan bangun.
"Mas, bangun," panggil Rey.
Wibie membalikkan tubuhnya, ia melihat istrinya yang tengah duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
"Kenapa? Aku ngantuk banget, sayang. Pagi aja, ya?" sahutnya masih dengan mata setengah terpejam.
"Apaan, sih. Emang mau ngapain? Iiih....," Rey mencubit gemas pinggang suaminya karena suaminya mengira ia membangunkan hanya untuk ngajak olahraga.
"Kenapa?" tanya Wibie lagi. Kali ini matanya sudah terbuka matanya dengan sempurna karena cubitan yang cukup keras dari Rey.
"Pras telpon, tuh. Minta kita ke sana sekarang. Dhiza kesakitan,"
"Paling juga mau lahiran," sahut Wibie dengan entengnya. Ia kembali memiringkan tubuhnya dan hendak melanjutkan tidurnya.
"Mas, jangan gitu ih. Aku sudah janji kalo kita mau ke sana,"
Dengan malas Wibie mengangkat tubuhnya, kini ia sudah duduk di samping istrinya.
"Terus kalo kita sudah di sana mau ngapain?" tanya Wibie serius.
Rey hanya tersenyum. Apa yang dikatakan suaminya memang benar. Tapi ia sudah telanjur janji sama Pras jika akan segera ke sana.
"Udah, kita tengok sebentar. Kasian dia begitu panik,"
"Ya udah. Ayo," Wibie segera bangkit dan mengikuti kemauan istrinya.
"Ganti bajunya dulu. Aku mau pamit sama Oma dulu,"
"Iya,"
"Jangan lupa, pake daleman. Ntar lupa lagi," Rey mengingatkan Wibie karena akhir-akhir ini sudah menjadi kebiasaan suaminya jika tidur melepas CD dan hanya mengenakan boxer dan kaos oblong.
"Iya," sahut Wibie lagi yang sudah menaiki anak tangga. Menuju ke kamar atas untuk ganti baju.
Happy reading all, tetep saja Author tidak bosan-bosan minta dukungan. Mohon untuk tinggalkan
✓ LIKE
✓ KOMENTAR
✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏
__ADS_1
Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊