
Matahari telah menepi. Sinar jingga telah menampakkan wajahnya dari balik gedung pencakar langit. Langit yang semula berwarna biru kini berubah menjadi magenta.
Sungguh suatu panorama yang begitu indah untuk dinikmati. Bebeapa orang mengabadikan fenomena ini dalam galeri fotonya.
Sudah berkali-kali Wibie melintasi warung bakso Pak Min, warung dimana Rey sepekan ini bermukim. Ia mengendarai fcx merahnya begitu pelan. Sesekali ia terlibat komunikasi dengan gadis kecil yang duduk didepannya.
Gadis yang cantik dengan kedua pipi yang montok, berkulit putih dan rambut lurus sebahu itu terlihat begitu menggemaskan dengan kaca mata hitam yang nyaris menutupi sebagian pipinya.
Sudah menjadi kebiasaan Wibie, jika dia ada di Jakarta, ia akan membawa Devara jalan-jalan menikmati sore hari keliling kota. Kali ini, ia membawa putri kesayangannya itu ke daerah Kemayoran. Sekaligus ia akan menemui Rey sesuai janjinya di telpon kemarin malam.
Setelah beberapa kali melintas, warung begitu ramai pengunjung. Bahkan Wibie tidak bisa melihat keberadaan Rey di tempat itu karena terhalang oleh orang yang sedang menikmati makanannya. Untuk itu, Wibie hanya berputar-putar saja sambil mengamati situasi.
******
Sebuah motor terparkir di depan warung. Memang suatu hal yang biasa jika ada pengunjung melakukan hal ini. Namun kehadiran motor yang langsung tertangkap mata oleh Rey, begitu membuat jantungnya berdengup. Untung saja pengunjung sudah mulai sepi jadi kekhawatirannya ini bisa dia atasi.
Rey segera meneguk air putih yang sejak tadi ada ditangannya sebelum ia tersenyum menyebut kehadiran Wibie di tempat itu.
Belum lagi hilang kegugupannya, ia juga kaget mendapati pak Wibie tidak datang seorang diri. Ia melangkah memasuki warung itu dengan menggandeng mesra gadis kecil yang tidak henti-hentinya berceloteh.
"Aku ga laper, Pa. Kenapa kita ke warung bakso?" tanya anak yang masih mengenakan kaca mata hitamnya.
"Papa mau ketemu temen dulu, ya. Sebentar saja. Abis itu kita pulang," jawab Wibie mencoba menjelaskan pada anak itu.
Anak itu tidak menyahut. Ia segera membantingkan pantatnya yang montok, pada sebuah bangku panjang yang kosong. Wibie mengikutinya dan duduk disamping putrinya
Rey menghampiri mereka dan berusaha tersenyum serenyah mungkin. Ia tak ingin kegelisahannya tertangkap oleh pak Wibie.
"Bapak mau pesan bakso?" tanya Rey begitu sudah ada di depan kedua tamunya itu.
"Tidak. Mungkin teh botol saja buat Devara," jawab Wibie.
"Aku ga mau teh botol, Pa. Jus melon aja," sahut Devara dengan gesitnya. Sementara matanya masih tertuju pada daftar menu yang terpampang di papan besar. Tergantung di atas pintu menuju bagian dapur.
__ADS_1
"Oh, Adek mau jus melon," sahut Rey menimpali.
"Iya, buatkan jus melon dan satu teh botol untukku," Wibie menimpali.
Rey bergegas menuju ke ruang pemesanan minuman yang dijaga oleh Rudi. Pria yang sudah lama membantu tantenya melayani pembeli di warung ini. Setelah menyampaikan pesanan gadis kecil itu, Rey menghampiri tantenya dan membisikkan sesuatu.
Kemudian Rey mengambil teh botol yang ada di kulkas dan memberikan pada Wibie.Rey tidak lekas pergi. Tapi ia duduk di bangku yang ada di depan tamunya itu.
"Sejak tadi aku muter-muter di sini. Tapi karena reme, aku cuma mengamati saja. Untung sekarang sudah sepi. Bisa mampir juga akhirnya" Wibie membuka pembicaraan begitu Rey duduk di depannya.
"Ini anakku. Namanya Devara," ujarnya lagi.
Memperkenalkan putrinya yang saat ini sedang sibuk nonton YouTube pada Rey.
"Hay, Devara. Kamu cantik banget," Rey mencoba membuka komunikasi dengan anak itu. Namun usahanya itu tidak ditanggapi. Anak itu tidak berpaling dari gadgetnya.
Tak lama Tante datang dan membawa jus melon pesanan Wibie. Rey minta tantenya duduk bergabung dengan mereka.
"Tante, ini pak Wibie. Kami ketemu saat perjalanan ke sini," Rey memperkenalkan Wibie pada tantenya.
"Kami satu bis saat Rey berangkat menuju ke sini. Karena Rey belum pernah ke Jakarta, ia cukup bawel bertanya hingga ia sempat cerita ingin cari pekerjaan di Jakarta," ujar Wibie menjelaskan.
Rey diam saja. Ia membiarkan Wibie dengan alasannya sendiri.
"Saya ke sini mau konfirmasi lagi, Tante. Apakah Rey masih berniat mencari pekerjaan?"
Tante ... tidak segera menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke arah keponakannya itu.
"Maksudnya begini Tante. Saya pernah minta dicarikan pekerjaan pada pak Wibie," sahut Rey berusaha memperjelas ucapan Pak Wibie yang terakhir.
Wibie tersenyum tipis. "Anak ini cukup cerdas juga rupanya. Ia bisa mengikuti skenario yang aku buat," bisik Wibie dalam hati. Ia menunggu reaksi Tante sembari meneguk teh botol yang ada di depannya.
"Apa ada pekerjaan yang pantas untuk, Rey? Jujur saja, Tante tidak melarang jika Rey mau menerima pekerjaan itu. Yang penting ia cocok dan bisa menghidupi dirinya," Tante berusa bicara sekenanya. Karena ia memang tidak faham tentang mencari pekerjaan.
__ADS_1
Setamat SMA ia menikah jadi tidak pernah mengalami melamar pekerjaan ke mana-mana.
"Saya punya usaha konveksi di daerah penggilingan. Jika Rey mau, dia bisa bekerja untuk saya. Kebetulan asisten yang membantu saya mengundurkan diri karena akan menikah di kampungnya,"
Rey cukup kaget atas penjelasannya Wibie. Namun ia menangkap mimik yang biasa saja dari wajah tantenya.
"Jika Tante tidak percaya. Saya tinggalkan fotokopi KTP dan kartu nama saya. Tante bisa mengeceknya kapanpun," ujarnya lagi.
Sesaat ia mengeluarkan dompet yang tersimpan di saku celananya. Ia mengeluarkan selembar kertas kecil dan kartu nama. Kedua benda itu diulurkannya ke arah Tante.
"Saya sih terserah, Rey saja. Jika ia mau, saya tidak bisa melarang,"
Sekarang, semua mata tertuju pada Rey. Tante dan Wibie menunggu keputusan. Rey diam beberapa saat. Ia mencari jawaban dari tatapan Wibie yang tepat di hadapannya.
Sorot mata pria itu seolah mempunyai kekuatan supra, sehingga Rey merasa damai dan begitu nyaman berlama-lama menikmati keteduhan yang terpancar dari bola mata itu.
"Ehem," Wibie mengagetkan Rey yang tidak berkedip melihatnya.
Rey begitu malu, apalagi Tante nya masih ada di situ dan melihat kelakuannya.
"Baik, Pak. Saya terima pekerjaan itu. Kapan saya mulai bekerja?" Tanyanya dengan sedikit gugup karena malu.
"Sekarang. Aku tunggu. Segeralah berkemas,"
Jawaban Wibie membuat kaget Tante dan keponakan itu. Serempak mereka bilang
"Sekarang?" Ulang mereka untuk meyakinkan diri.
"Iya. Kita hanya punya waktu tiga hari. Sebelum asisten saya pulang kampung, Rey bisa belajar dari dia. Apa saja yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya!"
"Kau tidak perlu khawatir soal tempat tinggal. Kau bisa tinggal tanpa biaya apapun di tokoku," jelas Wibie lagi
Rey hanya mengangguk. Sekali lagi ia memandang wajah tantenya untuk meminta persetujuan. Perempuan itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala tanda setuju.
__ADS_1
Rey segera meninggalkan mereka dan mengemasi barang-barangnya yang ada di lantai dua. Sementara tantenya dan Wibie ikut melihat tayangan YouTube yang ditonton oleh Devara. Sesekali terdengar mereka tertawa bersama.