Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
KOKAS 2


__ADS_3

Devara begitu asik bermain. Ia mencoba segala jenis permainan yang ada di area Chipmunks Playland satu persatu. Devara tidak bermain sendiri, ia segera membaur dengan anak-anak lainnya yang sudah lebih dulu ada di arena tersebut.


Sesekali terlihat, Devara terlibat pembicaraan yang begitu akrab dengan teman bermainnya. Seperti orang dewasa yang sudah cukup lama saling mengenal. Sepertinya mereka sedang mengatur strategi bermain atau bisa juga membuat kesepakatan, bergilir dalam mencoba permainan yang sama-sama disukai.


Ia begitu asik dengan dunianya hingga lupa akan keberadaan Wibie dan Rey yang menunggu dengan setia di kafe, di pojok bangunan. Mereka berdua duduk degan santai sembari menikmati kopi yang terhidang di atas meja.


Tak ada hal serius yang dibahas. Selain seputar urusan pekerjaan dan tentang Devara yang akan tinggal bersama Wibie dalam kurun waktu yang cukup lama karena sang Oma akan bepergian.


Rey melihat Devara melambaikan tangan ke arahnya. Suatu kode agar Rey segera mendekatinya. Karena penasaran dan ingin melihat arena itu lebih dekat, Rey menghampirinya.


Rupanya ada beberapa permainan yang ingin ia lakukan bersama Rey. Dengan senang hati Rey melakukannya. Devara memang anak yang lucu, Rey begitu senang jika anak ini sedikit merepotkannya. Justru prilaku itu dianggap sebagai suatu bentuk kemanjaan anak-anak untuk mendapatkan perhatian dari orang yang mereka sayangi. Rey senang, semakin hari Devara semakin akrab dengannya.


"Seru kak,"


"Iya," jawab Rey tak kalah semangatnya ketika Devara mencoba trampolin.


Tubuh anak itu terlempar diudara beberapa saat, kemudian mendarat dengan kedua kakinya yang kokoh dalam posisi tetap berdiri. Devara ingin ada Rey di sisinya karena ia begitu takut jika terkilir dan jatuh ke ubin. Begitu alasan yang begitu polos yang dikemukakannya.


Tak lama kemudian, ia beralih pada sebuah alat peluncur. Saat berada di atas peluncuran dengan ketinggian kira-kira 7 meter itu, Devara berteriak memanggil papanya.


Wibie yang sejak tadi tidak melepaskan pandangannya dari arah mereka segera menghampiri putrinya ketika tangan mungil itu melambai ke arahnya dan memanggilnya.


"Papa tunggu di bawah, ya! Kak, Rey juga. Aku mau meluncur. Tangkap aku," perintahnya dengan mimik yang lucu dan siap melepas tubuhnya gembul ke arus yang curam itu.


Seketika Wibie dan Rey mengambil posisi bersebelahan, siap menunggu Devara dengan kedua tangannya. Mereka merapatkan tubuhnya agar tangan-tangan itu bisa dengan sempurna menunggu jatuhnya tubuh Devara.

__ADS_1


Tubuh Devara yang montok itu ditanggap oleh Rey dan Wibie. Mereka bertiga melepaskan tawa ketika anak kecil itu merangkul keduanya. Mencium Wibie dan Rey secara bergantian.


Sungguh suatu momen yang belum pernah dialami oleh anak kecil itu. Ia berasa bermain dengan orang tua lengkapnya. Biasanya ia datang kemari bersama papa. Sesekali juga ditemani Omanya. Namun kedua orang itu hanya mengamati Devara bermain dari jauh. Duduk dan menikmati minuman di kafe itu.


Wibie mengambil ponsel dari saku celananya. Ia mengabadikan momen itu dengan merekamnya. Rekaman yang berhasil ia abadikan dalam waktu beberapa detik itu tersimpan dalam galerinya. Sesat ia melihat hasil rekaman itu dan dan tersenyum. Entah kenapa, kali ini ia juga begitu senang.


Melihat putri kesayangannya bisa bermain sepuasnya ditemani Rey dan ia juga bisa melihat Rey yang kian hari semakin akrab dengan anaknya. Tidak lupa, ia juga mengambil foto Selfi bertiga sebagai kenang-kenangan.


"Dhuzur sudah mau abis, kita gantian sholat, ya" Wibie setengah berbisik pada Rey yang masih ada di sampingnya.


"Titip Devara sebentar ya," ujarnya lagi. Rey tidak menjawab apapun karena Webie segera beranjak dari tempat itu. Meninggalkan dia dan Devara yang masih ada di area seluncur.


*****


Devara akhirnya menyerah. Ia melambaikan tangan karena kelelahan. Anak itu duduk di salah satu balon yang besar dan menunggu papanya menghampiri. Ia minta di gendong keluar dari area bermainnya.


"Mau pulang atau makan dulu di sini?" Pak Wibie menawarkan pilihan pada Devara yang meletakkan dagunya di bahu papanya.


"Pulang aja," jawabnya singkat.


"Aku capek," tambahnya lagi.


"Ok" Tanpa menunggu lagi, pak Wibie mengayunkan langkahnya menuju pintu keluar.


Dengan gesitnya Rey menyusul mereka, sebelumnya ia telah membeli satu botol air mineral untuk Devara. Ia mengulurkan air minum itu ketika sudah berhasil mensejajari langkah pak Wibie.

__ADS_1


"Minum dulu, ya" Rey mengulurkan botol yang sudah ia buka tutupnya terlebih dulu.


Pak Wibie berhenti sesaat. Devara meneguk air putih itu hingga 3/4 bagiannya. Menyerahkan botol itu kembali pada Rey diikuti dengan sendawa. Mendengar itu, ketiganya tertawa seketika dan melanjutkan langkahnya menuju tangga eksalator.


"Air segini aja kok dihargai sepuluh ribu. Mahal sekali....," gerutu Rey dalam hati.


"Diluar bisa dapet dua botol plus gorenga dua biji," tambahnya lagi. Akhirnya ia tersenyum sendiri. Ia menyadari betapa perhitungan sekali dirinya.


Masa harga kaki lima kok disamakan dengan harga jual di mall.


Rey sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia baru sadar, betapa mahalnya gaya hidup di Jakarta.


Tiba di area parkir, disana ada bazar kuliner yang dikerumuni pengunjung. Mereka yang sudah lelah mengelilingi mall untuk berbelanja, dimanjakan dengan hamparan kuliner yang beraneka ragam yang ujung ke ujung.


Ada ratusan stand makanan berdiri di area seluas 3000 meter persegi di lahan parkiran outdoor itu. Mulai dari makanan tradisional hingga modern, dari cemilan ringan hingga makanan berat. Termasuk minuman dengan berbagai kemasan hingga diracik di tempat tersedia lengkap di bazar bertema unik ini.


Wibie melirik ke arah Rey, memberi sinyal persetujuan. Rey mengangkat bahunya. Terserah saja mau ke mana setelah ini. Karena Devara tidak menolak, akhirnya mereka sepakat untuk berburu kuliner yang terhampar di depan mereka.


Pilihan mereka jatuh pada stand soto Madura. Devara turun dari gendongan papanya dan duduk di sebuah bangku panjang yang sudah dijaga oleh Rey agar tidak ditempati oleh pengunjung yang akan menikmati makanannya.


"Makan dulu, biar tenaganya balik lagi," seru pak Wibie yang melihat Devara masih bermalas-malasan.


Anak itu meletakkan kepalanya di meja yang ada di depannya. Rey yang membawa kantong belanjaan Devara juga segera mengambil posisi duduk begitu minuman yang dipesan mereka lebih dulu sampai.


Jus alpukat untuk Devara, lemon hangat untuk pak Wibie dan lemontea untuk Rey sendiri. Sejurus kemudian tiga mangkuk soto berikut nasi putih yang disajikan dalam piring terhidang di meja.

__ADS_1


Mereka bertiga menghabiskan hidangan itu tanpa ada yang bersuara. Sesekali Rey membantu Devara dengan menyuapi anak itu agar makanannya lebih cepat habis.


__ADS_2