Bukan Yang Pertama

Bukan Yang Pertama
EP. 35 Sarapan Dulu


__ADS_3

Usai sholat subuh berjamaah, ada yang memilih tidur lagi. Ada juga yang kumpul di ruang tamu, nonton TV, main gadget, buka laptop sembari diskusi tentang program yang akan dijalankan. Berbeda dengan yang lainnya, Rey memilih ke dapur. Membantu Bu Haji menyiapkan sarapan untuk mereka semua.


"Udah, Nak. Di depan saja kumpul sama yang lain. Ibu sudah biasa masak sendiri, kok,"


"Ga apa, Bu. Mereka cuma kumpul-kumpul biasa kok. Jam segini saya biasa di dapur,"


"Rajin sekali. Anak gadis jaman sekarang jarang sekali ada yang mau ke dapur,"


"Sudah biasa, Bu. Dari kecil sudah diajarkan memasak dan bantu-bantu kerjaan ibu,"


"Subhanallah, kamu memang luar biasa Rey!"


"Ibu bisa aja,"


"Masak apa nih, ada ikan segar?" tanya Rey begitu melihat beberapa ikan segar yang sudah dibersihkan ada di baskom.


"Mau dibikin pindang aja. Tau kan masak pindang?" tanya Bu Haji.


"Saya asli Lahat, Bu. Masakannya hampir sama dengan orang sini. Pindang mah makanan kesukaan keluarga saya,"


"Oalaaa.....orang Sumatera juga, toh. Kalau ibu sama bapak malah warga pendatang. Kami datang ke sini karena lulus PNS tahun 1980 dan ditempatkan di sini. Ibu Semarang kalau bapak dari Lampung. Kita berjodoh, ketemu di sini,"


"Sudah lama banget ya, Bu. Jadi sudah mendarah daging dengan tradisi di sini,"


"Iya,"


"Biar saya yang masak pindang. Ibu teruskan goreng pisang," Rey menawarkan bantuan.


"Boleh. Terimakasih,"


Kedua perempuan beda usia itu menyelesaikan tugas mereka di dapur. Saat matahari mulai muncul, kopi dan teh hangat sudah siap. Sebagai temannya ada pisang lilin goreng dan rebusan singkong yang masih panas.


"Kopi dan tehnya sudah siap. Silahkan! Kalo kurang manis tambahi gula se diri. Ibu siapkan di toples ini," Bu haji yang membawa teko berisi kopi dan teh hangat itu mempersilahkan tamu-tamunya untuk minum.


Tak lama, Rey juga keluar dengan satu nampan penuh pisang goreng dan rebusan singkong.


"Ayo dicobain, mumpung masih panas,"


"Wah, aku kira kamu tidur lagi, Rey," Pandu yang langsung mengambil pisang goreng yang masih di tangan Rey.


"Dia bantuin ibu di dapur. Katanya udah biasa kalo abis subuh nguprek di dapur," sahut Bu haji.


"Oh, begitu. Baru tau aku. Ternyata kamu rajin juga, tipe calon istri idaman," sahut Pandu sekenanya.


"He...he.....bisa aja, Nak Pandu ini,"


Alex yang tengah asik dengan laptopnya, pura-pura tidak mendengar percakapan itu. Padahal ia memasang pendengarannya dengan baik agar bisa mendengar apapun yang dibicarakan temannya, apalagi menyangkut Rey.


Rey melihat Alex tidak bergeming dari posisi. Ia mencoba menawarkan minuman pada ketua kelompoknya itu.


"Mau teh apa kopi?" tanya Rey pada Alex.


"Aku ambil sendiri aja.


"Ok,"


Kemudian Rey menuangkan kopi panas untuk pandu karena ia tahu teman satu kelasnya itu suka minum kopi di kantin jika tidak ada dosen.

__ADS_1


"Kopi, kan?"


"Yoi, tau aja," sahut Pandu.


"Iyalah, sudah hafal,"


"Masa?"


"He...he....,"


Saat menuang kopi, secara tidak sengaja Rey melihat Alex yang tengah duduk di sisi meja. Pandangannya buka ke arah pria itu, tapi pada kain sarung yang dikenakannya.


"Eh, ini sarung yang dipake orang semalem. Berarti.....Alex?" Rey segera tahu siapa orang yang mengintipnya di balik hordeng sepanjang malam.


"Kenapa dia begitu," cukup lama Rey mengeryitkan keningnya. Ia berpikir cukup keras untuk mengetahui apa alasan Alex bersikap seperti itu padanya.


Khawatir sikapnya itu bisa terbaca oleh Alex, Rey segera kembali ke dapur dengan alasan kuah pindangnya belum mendidih.


"Abis ngopi kita mancing dulu, nih," ajak Pandu pada Alex.


"Dimana?" tanya Alex tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Pandu.


"Di kali. Tempat kita mandi kemaren. Aku liat banyak orang mancing di hulu,"


"Alatnya?"


"Ada kok, punya bapak ada beberapa di belakang. Bisa di pake," sahut Bu Haji.


"Nah, bener kan banyak ikannya ya?" Ujar Pandu lagi.


"Masih ada waktu sebelum kita ke tambak," ujar Pandu lagi.


"Kalo mau ke tambak agak siangan. Jam 9 lah. Pagi-pagi orangnya belum ada," sahut Bu Haji.


"Nah itu dia, kita bisa mancing dulu kalau begitu,"


"Bapak mana, Bu? Dari pagi ga kelihatan'" tanya Alex


"Nemuin yang punya motor. Biar pagi ini bisa langsung dipake,"


"Oh, jauh dari sini?"


"Ga juga. Sekitar setengah jam dari sini,"


"Mudah-mudahan mereka mau ya, Bu?" harap Pandu.


"Mau kok, makanya disamperin. Deal harga Rp. 50.000/motor sehari. Pemiliknya satu orang, ia punya beberapa unit motor yang sengaja di sewakan untuk ojek,"


"Oh, Alhamdulillah kalau begitu,"


"Udah biar bapak yang urus. Minum dulu biar perutnya anget. Kalo yang biasa sarapan nasi tunggu sebentar, Rey lagi masak pindang buat kalian,"


"Wah,enak banget itu,"


"Iya, Rey yang masak. Ibu mau siap-siap dulu. Soalnya jam 7 sudah harus absen,"


"Silahkan, Bu. Maaf sudah merepotkan,"

__ADS_1


"Ga repot, seneng kalian bisa di sini. Pokoknya dibawa enak aja. Kalau ibu belum pulang, makan siang langsung ke dapur ya, tetangga sebelah yang masakin,"


"Iya, Bu. Terimakasih banget,"


Perempuan itu segera meninggalkan ruang tamu, menyiapkan diri untuk berangkat kerja. Sebagai guru SD di dusun itu, ia termasuk guru yang senior. Hampir semua pemuda di dusun ini menjadi muridnya ketika di sekolah dasar. Sedangkan suaminya bekerja di kantor lurah. Mereka termasuk orang yang di segani di kampung ini.


"Bangunin Dion, jam segini kok nyambung tidur aja," seru Alex.


"Ga tidur orangnya. Aku liat dia sibuk chating sama seseorang, kok,"


"Lah, kirain masuk kamar nerusin tidur," sahut Alex.


Bener saja dugaan Pandu, cukup sekali panggil saja, Dion sudah menampakkan dirinya di ruang itu.


"Anak-anak ceweknya juga nih. Ngapain di kamar cekikikan ga karuan," komentar Pandu.


"Palingan juga ngomongin cowok atau main sosmed. Apalagi kalo ga urusan dua itu," sahut Dion


"Lah, yang baru keluar tau aja. Berasa cewek ya?" Canda Pandu.


"Enak aja,"


"Pan dikau juga abis chating. Senyum-senyum sendiri kayak orang ga waras,"


"Biasalah, kayak ga pernah ngalamin aja,"


"Ga. Belum pernah pacaran," sahut Pandu.


"Kasian. Ga laku atau terlalu milih?"


"Entahlah. Bisa jadi keduanya,"


"Ha...ha......parah. Inget usia, telat kawin rugi loh,"


"Baru 26, woles. Belanda masih jauh,"


"Aku liat anak kelas karyawan sudah cukup umur semua, kecuali yang satu itu," ujar Dion sembari memonyongkan mulutnya ke arah dapur.


"Rey paling muda di kelas. Paling cerdas lagi. Dia mah anak kesayangan kita, otaknya bisa diandalkan untuk yang sudah lama meninggalkan bangku sekolah seperti kita,"


"Pantes, keliatan seumuran dengan kita-kita. Udah punya pacar belum?" tanya Dion lagi.


"Ga tau, hari-harinya cuma deket sama Pras. Tetangga sekaligus sahabatnya. Kawan sekelas kita juga,"


Percakapan Dion dan Pras mengenai Rey ditangkap dengan baik oleh Alex. Dia mencerna setiap informasi yang dikeluarkan oleh Pandu. Hatinya sedikit lega ketika mengetahui hanya Pras pria yang dekat dengan Rey selama ini.


*******


Happy reading all! Author tidak bosan-bosan minta dukungannya. Mohon untuk tinggalkan


✓ LIKE


✓ KOMENTAR


✓ VOTE -nya ya🙏🙏🙏


Apresiasi dari kalian semua membuat saya semakin bersemangat untuk update. terimakasih 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2