Canting

Canting
Episode 9


__ADS_3

Akhirnya Rudatin bisa menjalankan sekolah sambil bekerja yg keduanya sama sama berhasil dengan memuaskan. Datin lulus SMA dan berkeinginan melanjutkan ke bidang yg sama dengan yg ditempuh Pras, FEB. Dia berhasil lolos seleksi ujian masuk di FEB tersebut dan saat sekarang sedang menjalani ospek. Selama ospek dia mengambil cuti dari pekerjaannya, karena kegiatan ospek cukup menguras tenaga dan waktu.


Datin nebeng di kost temannya di jl Kaliurang dibelakang Gading Mart, karena kegiatannya mulai pagi pagi buta, kalau dia berangkat dari Manding pasti keteter.


Pras adalah mahasiswa tahun ke 3 di FEB saat itu. Pada ospek tahun ini, Pras duduk dikepanitiaan pusat UGM sebagai koordinator acara yg diselenggarakan pusat untuk acara gabungan atau acara umum bersama seluruh fakultas, seperti ceramah atau pembekalan umum dari wakil rektor, pengenalan lingkungan universitas dlsb. Jadi kegiatannya justru banyak di pusat, tidak di FEB sendiri.


Pagi yg terakhir itu Datin tidak sempat sarapan dan semalam Cuma makan roti semir beli di Gading mart sebelum masuk kost temannya, sesudah mandipun dia gak sempat makan langsung tertidur karena capeknya. Dan selepas sholat subuh sudah apel dihalaman samping Balairung. Pagi itu diawali dengan lari keliling kampus. Perut kosong Datin dan mandi kepagian yg bikin dia sedikit pusing dan demam. Fisik Datin biasanya kuat dan cenderung bandel, tapi kali ini mungkin bioritmenya lagi pas dibawah disertai kecapekan, diapun tertinggal jauh dari teman teman nya, dia jatuh pingsan didepan kios-kios RS Sarjito. Situasi pagi itu masih sepi karena belum jam 6.


Tidak jauh dibelakang Datin pingsan, keluar dari mobil seorang laki laki menolong Datin dan dibawa ke IGD RS Sarjito. Dia bicara dengan dokter jaga, seperti menggerutu bahwa panitianya tidak bertanggung jawab kok sampai anggota tercecer tanpa segera ada yg konfirmasi.


Datin di infus dan sudah mulai siuman, dalam kondisi setengah sadar dia manggil: “mas Pras…..mas Pras ya….???” Dia melihat laki laki yg sedang bicara sama perawat, yg kelihatan seperti mirip sekali dengan Prastowo, hanya saja kulitnya sedikit lebih terang dan posturnya agak sedikit lebih tinggi. Karena di IGD saat itu hanya ada laki laki satu, maka diapun nengok ke Datin sambil tersenyum : “ Ah kamu sudah siuman rupanya, namaku Yudistira, kamu tadi pingsan didepan mobil yg kuparkir, lalu kubawa kesini.”


Tidak berapa lama ada 2 orang panitia ospek dari FEB yg masuk ke IGD dan menanyakan anggotanya yg kececer. Mereka melihat Yudistira, orang yg sudah tidak asing lagi bagi mereka, kemudian mereka bilang ke Yudistira: “ Terimakasih mas! Kok bisa pagi pagi sekali mas Yudis sudah sampai disini.”


“ Ah ya….. aku baru ngedrop keponakanku yg lagi ospek juga, di Fak Teknik, dan sekalian nunggu RS ini buka untuk ambil hasil check-up ku, biasa untuk jaga -jaga persyaratan kerja. Bagaimana ini panitia bisa teledor sampai ada yg luput dari pantauan???!” protesnya, “ Untung Canting ini, …eh sorry itu nama ospeknya, cepet siuman. Hahahaha, kelaparan rupanya ya?” kemudian Yudistira lanjut nanya: “ Namanya siapa sih kalau boleh tahu?”


Datin tersipu malu dibilang kelaparan, sambil jawab: “ Nama saya Datin mas. Terimakasih mas untuk pertolongannya.”


“ Kok seperti tidak asing lagi nama ini ya, Datin ya?” Yudistira mengernyitkan keningnya, mendengar namanya. Tiba tiba ada petugas yg menginformasikan ke Yudis kalau kantor administrasi sudah buka, kalau mau ambil hasil check up beliau sudah bisa.


Kemudian Yudistira menyerahkan urusan Datin ke panitia ospek dan diapun pamit.

__ADS_1


“ Cepat sehat ya Canting…eh Datin, lain kali sarapan dulu!” pesannya sambil jalan keluar.


Datin tidak habis pikir, katanya didunia ini seseorang itu punya kembaran yg mirip satu sama lain yg jumlahnya tujuh. Yudistira ini banyak miripnya dengan Pras, hanya saja Pras itu lebih kecoklatan, sedangkan Yudistira berkulit terang bersih. Dandanannya lebih bergaya eksekutif muda. Adapun dia sudah mulai bisa mengingat bahwa begitu panitia tadi menyebut nama panggilannya dg nama Yudis, dia langsung ingat mungkin itu pacar Mila, karena kedua panitia tadi juga mengenalnya sebagai seniornya.


Datin memang akhir akhir ini kegiatannya cukup padat. Kalau dihitung Datin efektif tidur hanya 4 jam sehari. Belum makan nya yg tidak teratur. Jadi yg biasanya fisiknya cukup kuat, kali ini capeknya terakumulasi sehingga tumbang juga akhirnya.


Mendengar Datin pingsan, Kamila bergegas ke ruang Kesehatan FEB, karena Datin sepulang dari RS Sarjito ditransit kan dulu disana. Ternyata Yudis baru ingat kalau nama Datin itu akrab ditelinga karena Mila sering cerita kegiatannya bersama Datin. Kemudian dia menelpon Mila.


“ Bagaimana Tin, sudah makan belum? Nih aku bawain nasi kucing lauk ceker.” Kata Mila, membawakan makanan angkringan khas menu mahasiswa.


“ Waduh, terimakasih banget mbak, aku kok jadi bersemangat sekarang.” Jawab Datin, “ aku tadi di IGD dikasi teh maniiiis banget sama roti tawar bakar isi selai lagi, terus mual gak aku habisin. Tapi teh manisnya itu yg bikin tenaga pulih, tapi lapar belum hilang.” Sambung Datin dg menyeringai sambil mulai makan nasi kucing dari Mila.


“ lha emang lo bapaknya?” sahut Mila becanda, persis seperti yg dihawatirkan Pras. Hampir Darto nyeletuk kalau gak diinjak Pras kakinya.


Semua sudah diteriakin untuk apel terakhir mau pembubaran di Balairung, gedung utama UGM. Pras dan Darto sudah bersiap mau jalan duluan, tiba tiba Datin nyeletuk: “ Mbak, tadi itu ternyata tunangannya mbak Mila yg nolong aku ya? Aku baru pertama ketemu, tadi pas siuman aku pikir mas Pras, aku malu, sudah manggilnya kenceng lagi, ternyata keliru.”


“ Uh enak aja! Ya kerenan mas Yudislah dari pada dia.” Seloroh Mila. Pras nyengir sambil balas bercanda: “ Aaaaaa…… Mila pura pura lupa, dia kadang salah fokus, meluk meluk aku kalau boceng motor hayoooo, dikira mas Yudis? Atau pupung ga ada mas Yudis!” Bersamaan dengan itu Yudis masuk mau jemput Mila……….. ” Siapa hayo yg salah peluk? Gawat nih, jangan jangan sengaja ya?” Yudis nimbrung aja. Yudis sudah lulus dan sedang mengurus berkas-berkas yg diperlukan untuk persyaratan kerja antara lain legalisir ijazah dan hasil test kesehatan ke kampus.


“ Tin,……. nah ini baru mas Yudisku, katanya dulu Datin hanya kenal nama, eee….. malah nge-date di IGD, gak enak banget ya.”


Pras kelihatan hawatir dan merasa bersalah, tidak sempat ngurus Datin karena sibuk kepanitiaan di pusat. Dia memaksa Datin untuk mau diantar pulang selesai ospek ini sambil ngurus barang barangnya dari kost temannya. Diperjalanan pulang Pras cerita: “ Tin, kamu sudah tahukan keponakan ibuku yg sekarang tinggal dirumahku? Dia nanti yg mau ngganti mbak Rini, karena mbak Rini nanti sudah gak disitu lagi, mau bantu mas Yudi di kantornya.”

__ADS_1


“ Oh…mbak Rini sudah gak disana lagi dong nanti? Waaa…. semakin jauh dihatiku rumah itu.” Sahut Datin. Tentang keponakan bu Danu, Datin sudah tahu dari ayahnya.


“ Jangan gitu dong Tin, apa aku ga ada artinya buat kamu?” tanya Pras.


“ Aaaah….mas Pras gak usah manja, ngetest nanya yg sudah tahu jawabannya. Basi tahu.” Terus lanjutnya… “ Tapi keponakan bu Danu kan hanya ganti tugas mbak Rini to?, bukan ganti posisiku?”


Pras menghentikan motornya kepinggir, dia menoleh kebelakang ingin melihat ekspresi Datin yg sudah mulai berani nyindir-nyindir. Pras melempar senyuman dan pandangan menggoda ke Datin, dan Datin menyembunyikan mukanya ke punggung Pras. Tangan Datin ditarik Pras, dipelukkan kepinggangnya dan dia pegangin terus sambil menjalankan motornya kembali. Sesampai dirumah Datin, Pras sempatkan ngobrol sama kedua orang tua Datin sebentar, sebelum pulang.


Di tahun ke 3 Datin kuliah, posisi pekerjaannya di boutique Batik Nusantara menjadi semakin mantap. Karena dedikasi dan kinerjanya yg bagus, bosnya menempatkan dia menjadi supervisor dan merangkap bagian purchasing, yg berhubungan dengan pemasok ataupun pengusaha kecil dibawahnya. Karena Datin menguasai selera customernya baik yg domestik maupun yg manca negara, maka dia ikut memberikan masukan untuk pemilihan corak atau motif yg lagi inn yg dijual di Batik Nusantara tersebut. Batik Nusantara memang boutique batik besar dengan banyak cabang di Jawa, yg dibangun dengan modal besar.


Sementara Pras sudah setahun sebagai staf pengajar di FEB tsb, dan sekarang sedang dalam persiapan meneruskan S2 nya di Inggris, yaitu di London School of Economy & Political Science di London, atau LSE inggris. Dalam persiapan mau ke luar negri, Datin ikut menemani Pras belanja mempersiapkan yg akan dibawa. Pras selalu melibatkan Darto, sahabatnya, untuk membantu packing di rumah Pras, karena tidak mungkin Datin yg melakukannya. Sementara Darto baru saja menyelesaikan sarjananya, sebagai Sarjana Teknik Mesin.


Selama Pras studi di Inggris, banyak peristiwa yg dialami Datin di Yogyakarta ini. Peristiwa baik dan buruk silih berganti. Datin dengan tekun mencurahkan waktunya untuk belajar dan bekerja. Datin selalu menikmati kesibukannya, yg dia jalankan dengan ikhlas, sehingga waktu dirasa berlalu dengan cepat.


Pada bulan Desember 1997, bulan bahagia pernikahan Kamila dengan Yudistira. Pernikahan digelar di Hotel Hyatt Yogya. Datin menginap dirumah Kamila di Palagan sejak 3 hari sebelum acara, menemani Kamila. Datin secara all-out membantu serangkaian acara pendahuluan dirumah Palagan sebelum acara ijab dan resepsi di Hyat itu sendiri. Rencana Kamila akan membantu usaha suaminya yg meneruskan usaha tambak udang dan lobster milik orang tua Yudistira. Orang tua Yudistira adalah pengusaha besar dan sukses dg lokasi tambaknya ada di Surabaya, Semarang dan Makasar. Mereka mengeksport hasil tambaknya ke beberapa Negara Asia, dan yg terbesar adalah ke Jepang. Adapun kantor pusatnya di Semarang.


Namun, keadaan tidaklah selalu berjalan mulus sesuai harapan. Kurang lebih 7 bulan sejak Pras studi ke Inggris, tepatnya pada sekitar bulan februari 1998, Indonesia atau lebih tepatnya Asia terjadi krisis moneter, yg sebenarnya sudah dimulai dari Thailand sejak pertengahan 1997. Krisis moneter di Indonesia mengalami puncaknya pada Juni 1998 dan menjadi krisis ekonomi dengan nilai tukar uang menjadi merosot jauh dan suku bunga menjadi tidak masuk akal, mencapai 60%/tahun. Hal ini sangat berpengaruh pada perusahaan tempat Datin bekerja, dimana Batik Nusantara ini sebagian besar modalnya adalah dari pinjaman Luar Negri, yg berupa dollar. Pada saat jatuh tempo pembayaran hutangnya, nilai dollar sudah tidak terkendali lagi. Sehingga perusahaan tersebut menjadi setengah sekarat, serta melakukan pengetatan seperti kebanyakan perusahaan lainnya pada masa itu. Waktu kerja karyawan digilir menjadi 2 minggu masuk dan 2 minggu dirumahkan. Tentunya diikuti pemotongan gaji yg cukup signifikan.


Sementara usaha yg masih kelihatan menggeliat adalah dari sektor UMKM atau pengusaha kecil yg tidak berusan dengan pinjaman modal asing.


Kegiatan orang tua Datin tidak terlalu mengalami tekanan. Dan cukup kalau sekedar untuk membiayai makan dan hidup sederhana seperti biasanya dulu, dengan sedikit bantuan dari Datin.

__ADS_1


__ADS_2