Canting

Canting
Episode 14


__ADS_3

Hari pertama, bertepatan hari Minggu, Pras dan Datin tiba di Jepang, mereka memakai pesawat JAL yg mendarat di Narita Airport sekitar jam 16.40 waktu setempat. Dengan proses immigrasi dan pengambilan bagasi kira kira mereka kelar dan keluar ke public hall sekitar jam 18.15 dan disana ada counter penyambutan delegasi dimana Pras harus lapor dan mendapat penjelasan dan pendampingan sampai ke Hotel tempat seminar.


Hotel Kario Sasazuka Terrace, tempat Pras workshop, ada di Shibuya City dekat stasion kereta Yoyogi Uehara.


Sesudah check in, mereka langsung beberes, mandi , kemudian makan. Tadi sementara Pras lapor ke counter penyambutan delegasi, Datin sempat nyari makanan di bandara. Dia beli paket chicken katsu carry sama nasi, karena yg lainnya belum jelas halal tidaknya. Pras bilang karena nanti tiba di hotel pasti sudah malam dan capek shg dia nyuruh Datin beli makanan. Yg dapat jatah voucher makan malam hanya Pras, shg Datin nyari untuk diri sendiri, yg sebenarnya mereka juga masih kenyang dari makanan yg dikasi di pesawat. Selain itu sebenarnya Datin sudah bawa beberapa bungkus indomie cup yg dia umpetin di kopor, takut didamprat Pras kalau ketahuan seperti saat dia bawa souvenir tempo hari. Untuk jaga jaga di hari pertama saat belum tahu orientasi.


Senin pagi sesudah sarapan, Pras bergegas ke ruang meeting di lantai 3, sementara Datin sedang bersiap siap karena jam 9 nanti mau dijemput mr Kaburagi untuk ke boutique nya yg di Sinjuku. Rencananya akan naik kereta metro, sekalian Datin menghafal route routenya. Datin sudah pamit sama Pras untuk pergi seharian.


Tepat jam 9 pagi, mr Kaburagi sudah di Lobby Hotel dan sebelum sampai ke receptionist Datin sudah menyambutnya. Kaburagi mengusulkan, sebaiknya mereka jalan kaki ke Shibuya Station dulu untuk berfoto dengan patung Hachico si anjing legendaris yg ada didepan stasion Shibuya tsb. Baru sesudahnya mereka naik bis ke Shinjuku yg sebenarnya enak dengan berjalan kaki saja meskipun agak jauh, tapi kalau punya waktu sambil menikmati kesibukan pusat kota, hanya anginnya agak keras saat musim gugur ini.


Datin sudah melakukan boutique tour yg merupakan salah satu deretan bangunan toko disekitar cabang jalan Shinjuku-dori Ave yg dekat dengan outlet produk-produk branded. Bangunan tersebut terdiri 3 lantai. Lantai satu untuk display bahan bahan dan baju batik dan kain etnik nusantara lainnya yg dengan kwalitas casual, lantai dua untuk haute couture atau high end batik fashion, baik dress, blouse, skirt, shirt atau bahannya, dan lantai 3, untuk privat office dan pantry. Lantai 3 ini luasannya hanya sepertiga lantai lainnya, tapi lebih banyak outdoornya untuk taman dan teras duduk. Sebagian besar koleksi barunya adalah kiriman Datin. Bahan dari katun super maupun yg dari silk, selain yg berupa songket Padang, Sumba dan Ulos.


Datin sesak nafas melihat harga yg tertera ditiap baju dan bahan di Batik Parlour tsb. Sepertinya sudah tidak kejangkau untuk orang Indonesia seandainya Batik tsb bukan dari Indonesia dan beli di negeri sendiri.


Untuk penataannya Datin sudah speechless saking takjubnya, sangat mewah, karena layout dan penataannya dikerjakan oleh boutique interior designer yg ternama di Jepang. Disini justru Datin lah yg belajar dan mencermati dengan teliti setiap alur penataannya. Di fotonya semua sudut dengan tustel kecil yg dia bawa. Penataan Batik Nusantara meskipun sudah bagus dan terbaik di Yogya, tapi masih jauh dari penataan Batik Parlour ini. Mungkin tandingannya adalah dengan boutique-boutique di Jakarta.

__ADS_1


Pas makan siang dengan bangganya Kaburagi mengajak Datin ke rumah makan yg menyediakan masakan Nusantara di Shinjuku juga. Dia bilang : “ Datin San, here in Shinjuku, you can find Nasi Rendang like yours in Indonesia. Do not worry halal food huh!” mereka keluar makan siang ke resto tidak jauh dari stasion Shinjuku. Dan mereka makan rendang seperti yg dibanggakan Kaburagi. Datin saat memakan sesuap sudah terkejut. Bingung rasanya ambyar kesana kemari, saat sudah beberapa suap dia mulai bisa merasakannya bahwa rendang Jepang itu seperti nasi pecel rasanya. Mahal sudah pasti, tapi rasanya manis asin, nano-nano.


“ Ah,…. unbelievable I can find Nasi Padang at the corner of the planet. Thank you Kaburagi san.” Kata Datin sambil tersenyum dan meneruskan bilang: “ By the way I wanna try to eat Japanesse street food, cause I am in Japan now. I just wanna have a look……hahaha, can you recommend where can I find halal street food in Japan?” Datin mencari street food karena mencari murah. Dia gak berani masuk masuk resto sendiri tanpa Pras. Meskipun Datin bawa sangu uang tabungannya sendiri yg lumayan banyak juga.


“ Ah….ya ya ya….of cource you have to try japanesse food. Tonight I will accompany you to Tempura resto at Ginza” Sahut Kaburagi, tapi Datin buru buru bilang: “ oh… no no I mean I wanna go by myself tomorrow. As I told you before, tomorrow I just wanna go around, try to take a bus or metro train, maybe to by some souvenirs, just small things. In order to be accustomed with public transportation here, and I’ll use this metro map you gave me this morning to guide me.”


“ Hahahahaha…….ok ok, good, If you get lost, just call me okay?.... by the way, if you wanna buy such a souvenirs and maybe electronics or others, there is a duty free shop in Akhiabara, named Eisan DFS. That is the best among many DFS in Akhiabara. And ……if you’ve finished shopping there, across the road there is a Ten-Dong canteen with spesific black curtain. You can eat rice with fried big prawn and they will give you free miso soup. Halal street food, wright?”


“ Ah…that’s very kind of you. That is a worthy information. Thanks.” Jawab Datin. Dan Kaburagi menandai peta metro Datin dengan ballpoint merah untuk rute yg harus ditempuh dari stasion Yoyogi Uehara, dan nomer keretanya.


“ Datin san …….here is mr Aaron Smith, mr Aaron….here is Datin san.” Kaburagi mengenalkan keduanya saat tamunya sudah tiba di boutique.


Datin dengan Aaron Smith sudah ngobrol banyak dan sudah saling tukar kartu nama lengkap dengan email address dan no hp. Aaron akan menjadwalkan waktu yg tepat pada saat kondisi sudah mulai membaik untuk menindak lanjuti.


Saat sore hari Datin diantar pulang ke Hotel oleh Kaburagi dengan mobilnya. Mereka sudah janjian kalau besok Rabu sore setelah Pras selesai seminar Kaburagi akan menjemput mereka untuk pindah ke apartemen Kaburagi di Shinjuku dan sekalian makan malam di Tempura Kondo di Ginza.

__ADS_1


Sekitar jam 20.10 Pras masuk ke kamar, dia melihat istrinya sedang fokus menulis sesuatu di meja kerja yg ada di kamar itu, sambil melihat bekas cup indomie yg sdh habis isinya. Pras menyapanya: “ Konbanwa mrs Prastowo…………duh kasihan bener nyonyahku kok cuma makan Indomie, beli dimana? Diluar, diseberang hotel ini kan ada kios Yoshinoya tuh, kenapa gak beli disana? Kemarin kan sdh aku tunjukin.”


Sambil menutup buku catatannya Datin berdiri kemudian memeluk Pras dan mencium pipi suaminya : “Ah sudahlah, aku kan bawa beberapa indomie cup, siapa yg mau habisin nanti? Mau mandi dulu apa cuci muka saja ? mas Pras gak ada acara lagi kan? Kalau mau ngluyur besok saja ya. Nanti sambil istirahat aku mau cerita seharian aku ngapain saja. Itu sudah aku siapin baju tidurnya. Ok?”


Sambil senyum nakal, Pras mulai menggoda istrinya lagi: “Lho emang masih sempat pakai baju tidur Tin?”


“ Mbuh….sakuarepmu!” jawab Datin sambil ketawa. “ Ih…. ini aku serius, banyak yg terjadi sehari tadi. Masa depan mas! Aku melihat ada sesuatu yg harus ditindak lanjuti, dan perlu masukanmu yg briliant itu.” Lanjut Datin tidak bisa menyembunyikan semangatnya, excited-nya.


“ Nah kan……..aku bilang apa, nyonyaku itu tidak romantis. Tapi workaholic. Ngeri aku tidur sama monster. Seharian work shop, pulang mau istirahat malah disambut seminar ronde ke 2…..hiks!” rajuk Pras, meskipun sambil ketawa, tapi Datin seperti disentil, diperingatkan akan tugas utamanya. Menyadari kesalahannya dia kemudian memeluk Pras sambil minta maaf. Kemudian dia pindahkan baju tidur Pras ke kamar mandi untuk dipakai ganti sesudah mandi, dan saat Pras mandi dia membereskan bawaan Pras, membuang ke tempat sampah bekas cup indomie, membereskan tempat tidur dan melipat bed covernya, kemudian dia membalurkan sedikit parfum ke leher dan pergelangan tangannya. Kemudian malam pun diisi dengan ngobrol ringan dan berakhir romantis seperti keinginan Pras, atau keinginan mereka berdua tepatnya.


Hari ke dua, seperti biasa saat Pras sudah ke ruang rapat, Datin mempersiapkan diri mau jalan jalan. Karena jalanan di pusat-pusat kegiatan di Tokyo itu padat, maka dia memakai kostum yg menyesuaikan. Celana panjang, pulover anti angin, sepatu cats, ransel kecil dan tas pinggang untuk naruk paspor, card dan uang. Dengan peta metro ditangannya dia mulai explore transportasi dg starting point dari stasion Yoyogi Uehara, mengikuti saran Kaburagi dan sedikit tanya sana sini, sukseslah trip Sri Rudatin. Pengalamannya kalau mau nanya harus milih anak muda yg sekolahan, atau orang eksekutif sekalian. Kalau nanya ibu ibu yg sederhana, kebanyakan mereka menghindar terkesan sombong, padahal mereka malu karena tidak bisa berbahasa Inggris. Untung Datin juga bawa kamus inggris-jepang praktis keluaran Berlitz, jadi kalau pingin apa apa tinggal nunjukin conversationnya dan ditambahkan nama benda yg diinginkan.


Datin seneng banget nemu makanan yg nendang di perut serta nyaman di mulut dan indera perasa. Nasi jepang yg pulen, goreng tempura udang jumbo dan miso soup. Tidak seperti kemarin rendang rasa pecel kalau ditelan bikin otak ambyar, CPU nya bingung menyimpulkannya karena ekspektasi dengan kenyataan jauh berbeda. Merasa cocok dia pesan satu untuk dibawa pulang, sekalian untuk makan malam nanti, dari pada indomie lagi, bisa budeg nanti kalau kebanyakan. Pras kan sudah makan malam di seminar. Datin memang orangnya smart dan mandiri. Jadi tidak menemui kesulitan yg berarti untuk tour dia hari itu.


Pras bingung darimana Datin bisa beli barang lucu lucu untuk oleh-oleh ini. Pras juga kebagian sedikit nasi Ten-Dong nya karena Datin makannya nunggu Pras datang sekalian mau pamer. “ Lha ini kok nemu makanan huenak Tin, meskipun sudah dingin ya tetep mak nyus.” Puji Pras.

__ADS_1


Seminar hari ketiga atau terakhir ini berlangsung setengah hari sampai makan siang saja terus penutupan. Souvenir dari Indonesia sudah disiapkan Datin, hanya cukup untuk para pemrasaran dan moderator serta kolega satu grup nya Pras saja. Dan ada satu yg khusus Datin siapkan untuk Kaburagi dan istrinya, berupa satu stel kembaran hem dan cardigan batik, yg akan dia serahkan saat makan malam nanti.


__ADS_2