
Datin keliling pavilion dan booth booth negara lain. Dia terpaku di stand Turki yg menggelar karpet Sutra klasik yg harganya ratusan juta rupiah kalau di kurs. Saat pameran ada diskon 25%. Datin berhenti dan mengamati, kalau mau beli si mampu saja, tapi Bimo masih kecil, rumah yg sering dia tempati juga yg di pegupon burung - apartemen the Mansion @ Kemang yg tidak terlalu luas. Pastilah karpet keren ini akan nampak kusam dipasang dirumahnya yg penuh mainan Bimo ini. Lain halnya kalau rumahnya segede rumah Mila atau Yudis yg seperti Istana Merdeka. Dia minta kartu nama saja, kalau suatu saat ingin ngambil tinggal kirim email dan nunjuk katalog yg mana, nanti dikirim.
Ada kira kira satu jam Datin keliling. Dia puas banget dengan penataan yg di pavilion Indonesia.
Kemudian hpnya bergetar, : “Tin dimana sih kamu, kok cepet banget ilang? Ini aku mau diskusi sama interior designernya.” Kata Yudis.
“ Siap den mas bei, aku tadi lama disitu perasaan gak ada yg nyari. Sudah sempat ngatur punya CH segala lho, baru keliling sebentar sudah dikenthongi!” keluh Datin.
“ Ya maaf, cepet balik ya.” Perintah Yudis.
Sesudah kembali di pavilion lagi dia dikenalkan sama staf interiornya, sarjana interior design ex Jerman, anak Indonesia etnis Cina sekitar usia 24-25 tahunan.
“ Selamat sore ibu, saya Robby, bagaimana kiranya ada masukan? atasan saya baru nanti agak sorean hadir sekarang lagi istirahat sebentar di hotel, karena dari semalam sampai habis makan siang tadi baru sempat balik ke hotel.” Kata Robby.
“ Kalau menurut saya sih sudah excelent ya, bener, bagus banget malah. Tapi sedikit usul kalau masih mungkin, saya kan baru memasang bed cover yg cukup menyedot perhatian itu, bagaimana kalau disempurnakan lightingnya, memakai schimmer lamp dengan warna senada diambil dari salah satu warna bunga bed covernya?
“ I think so ibu, saya tadi juga sudah berfikir mau stressing di lightingnya supaya glamournya bed cover ini muncul.” Kata Robby. “ Coba saya telp pak Dipto kalau bisa bawa sekalian lampu warna violet blue yg kita punya.” Kata Robby.
Yudis mengikuti terus diskusi ini karena dia berkepentingan nahwa pavilion Indonesia bisa mencapai penampilan yg prima saat kepanitiaan ini dipimpinnya, dan ingin mendapatkan kesuksesan dalam arti banyak transaksi yg nyangkut.
Memang benar yg dirumorkan orang orang Kadin itu bahwa Minati ini selalu ada didekat Yudis, dan selalu melayani apa yg dibutuhkan Yudis. Memudahkan urusannya. Susan heran sampai nanya ke Datin: “ Is she pak Yudis candidate bu? it is going so fast.”
“ Bukan,…. kolega dekat saja aku rasa. Ya memang style nya begitu, lulusan UCLA gitu loh.” Jawab Datin
“ Ibu juga ex Harvard loh, kok beda style ya…hahahaha?” tanya Susan.
“ Ya bedalah, aku kan Harvard Manding-Bantul, bagaimana toh bu Susan itu…….hahahaha.” Jawab Datin sambil geli sendiri.
Suasana orang kerja di Segur Hall semakin sibuk, karena jam 22.00 harus sudah stop dan akan digeneral cleaning karena pembukaan akan dilakukan besok pagi jam 10.00.
“ Bu Susan, tas besar kita isi ponco dimana ya bu, jangan-jangan ikut dimasukkan tong perlengkapan. Kita nanti kalau pulang bisa masuk angin, anginnya kenceng banget klo musim gugur itu. Rasanya pingin pulang jalan kaki sambil menikmati eiffel diwaktu malam. Maklum wong ndeso baru sekali ke Paris.” Kata Datin.
“ Ada bu, tak taruk dibawah bed yg dipakai majang bed cover itu. Wah hari ini kita sampai malam bu, jalan kakinya besok saja hari ke 2 santai. Hari ke 3, terakhir kan ada business meeting bagi para buyer yg tertarik. Mudah mudahan banyak yg tertarik, kalau banyak kita juga sampai malam lagi. Sayang malam sesudahnya kita sudah pulang, anak anak itu yg ada kesempatan bisa jalan jalan.” Kata Susan.
Kemudian saat Robby betulin lighting, disampingnya ada sosok laki-laki tinggi dan wajahnya mirip dengan artis Indonesia yg sering disebut Ijong atu Jonathan F, tinggi putih bersih memakai jeans hitam dan kaos hitam lengan panjang yg digulung sebatas siku. Dia sedang diskusi dengan Robby. Kemudian Yudis nyamperin Datin: “ Tin itu Dipto, bosnya Robby. Yuk tak kenalin.”
“ Tin, ini mas Pradipto, dia Arsitek ex Jerman dan kerja di konsultan Jerman juga, langganan kita kalau ada pameran atau even even di Eropa, tapi beliau juga sudah mulai merintis bertiga dengan teman2nya yg orang Singapore, buka konsultan di Singapore, yg sering kita tunjuk kalau ada pameran atau even di Asia. Di konsultan Jerman ini dia menghabiskan kontrak saja sampai akhir tahun 2006.” Yudis mengenalkan Dipto
__ADS_1
Datin mengangguk, salaman sama Dipto dan mengenalkan diri, “ Saya Datin dari Canting House Grup.”katanya.
“ Datin ini aslinya Yogya mas, katanya mas Dipto dulu pernah tinggal di yogya juga kan?.”sambung Yudis
“ Kalau saya Yogya keringetan, atau tepatnya Selatan Yogya, Manding-Bantul.” Jawab Datin.
“ Ah bisa aja kamu Tin, hahahaha…..” kata Yudis.
“ Nanti dulu……saya kok jadi curiga, nama Datin, tinggal di Manding, jangan-jangan dulu sekolah di SMP N I Bantul, kalau benar anda adalah Sri Rudatin, saya bener bener gak bisa ngenalimu lagi sekarang.” Kata Dipto.
“ Ya bener, saya Sri Rudatin ex SMP N I Bantul, lho kok anda kenal? Jangan-jangan anda Buntas…..Buntas Pradipto ya?” kata Datin kaget banget.
Buntas mengangguk sambil membentangkan tangannya dan nanya: “ Boleh aku peluk kamu Tin? Long time no see!”
Datin mengangguk dan memeluk Buntas tanpa bisa bicara apapun saking takjubnya, dirantau orang begini bisa ketemu teman masa kecilnya.
“ You look so beautyful and charming Datin, berapa anakmu sekarang? Dan apa suamimu ikut juga kesini?” tanya Buntas.
Datin menggeleng, “ Anakku satu, laki-laki, dia segalanya bagiku.” Kata Datin
“ Oh, suamiku……. kamu sudah kenal, tapi beliau sudah meninggal oktober tahun 2004 karena CA, dia mas Pras, kamu kenal kan, Prastowo.” Datin menjelaskan.
“ inalillahi wa innaillaihi roji’un, oh mas Pras, ya tentu saja aku tidak bisa lupa sama dia.” Jawab Buntas sambil tersenyum penuh makna. Datin pun tersenyum juga. Senyuman yg hanya mereka berdua yg tahu artinya.
Yudis sama Minati melihat mereka berdua seperti sapi ompong, bengong, ternyata mereka berdua adalah sahabat lama. Yudis menjadi kepo curius ingin tahu lebih jauh tentang kedekatan mereka berdua, apalagi saat mereka berdua sama-sama tersenyum penuh arti.
“ Oh ternyata kalian berdua sudah saling kenal baik dulu ya. Wa rupanya sudah lama tidak berkabar.” Kata Yudis.
“ Iya pak Yudis, Datin adalah teman lama saya, dulu dia paling cantik di sekolah, dan pinter pula, dan sekarang saya speechless, siapa coba yg bilang Datin yg seperti ini tidak Cantik? Cantik banget, dan sangat elegant, sampai saya tidak bisa mengenalinya lagi, tapi yg tidak berobah adalah tatapan matanya yg cerdas.” Puji Buntas tulus.
“ Sudah…sudah…bajuku bisa robek karena badanku menggembung ini! Aku gak bawa baju ganti banyak kesini ini! ….. Lha anakmu berapa dan keluargamu tinggal dimana?” tanya Datin
“ That is along story, saya belum menikah. Kalau diceritakan bisa subuh ketemu subuh. Kapan kapan kita bisa ketemu lagi untuk ngobrol santai. Sekarang lagi dikejar-kejar hantu, jam 10 harus kelar, mau dicleaning.” Kata Buntas
“ Ah ya yg muji jangan kamu terus dong, aku juga menyimpan pujian untuk kamu. You look so great.” puji Datin yg melihat Buntas sekarang kelihatan keren, handsome dan success.
“ Pak, bu itu lightingnya sudah jadi, memang kelihatan glamour sekali. Bed covernya seperti punya nyawa, hidup.” Robby melaporkan.
__ADS_1
Memang tidak berlebihan yg dikatakan Robby tadi, bahkan sebelum pameran dibuka saja para peserta dari negara lain pada silih berganti mampir ke pavilion Indonesia.
Sebelum mereka pulang ke hotel, mereka makan malam dulu direstaurant dilantai yg sama. Buntas masih sangat takjub atas pertemuan tadi.
“ Angin apa yg membawa kita bisa ketemu lagi disini ya Tin?” kata Buntas sambil memandangi Datin dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Buntas duduk satu meja makan dengan Datin dan yg lainnya, mereka ngobrol sambil menunggu makanan mereka dihidangkan.
Datin merasa bahagia sekali hari itu, tidak tahu mengapa dia menjadi bertambah semangat dalam acara ini.
“ Tas kamu itu arsitek, yg mengkhususkan ke pekerjaan Interior atau bagaimana sebenarnya?” tanya Datin.
“ Kebetulan Konsultan dimana aku bekerja ini terkenal dengan lighting designnya yg sukses. Jadi proyek exhibition menjadi benyak yg mesan kita begitu. Tapi sebenarnya devisi saya itu khusus bangunan gedung, seperti bikin stadion, apartemen dan gedung gedunglah pokoknya. Tapi konsultan dimana aku bekerja saat ini itu juga ada devisi bangunan basahnya, seperti Dam, Bendung dan bangunan basah atau air lainnya, dan devisi Jalan rayanya. Sedangkan exhibition itu pelengkapnya, tiap devisi punya.
“ Ooo….kalau bikin rumah ndeso bisa gak ya?” canda Datin meskipun dia tahu bahwa hal tsb lingkupnya terlalu kecil. Dan biasanya ada biro sendiri khusus design n build perumahan.
“ Rumah ndeso itu malah unik. Kalau gedung heritage itu malah mahal feenya lho! Tapi kalau rumah ratu penunggu desa Manding itu khusus proyek dengan hati.” Balas Buntas bercanda.
Kata kata Buntas tsb agak sumbang ditelinga Yudis. Yudis sendiri memahami bahwa dirinya ada rasa sedikit cemburu ke Buntas yg begitu akrab dengan Datin. Namun pembawaan Yudis yg cool dan dewasa rasa cemburu itu bisa terbungkus rapi tidak nampak sama sekali.Yudis melihat bahwa sebentar sebentar Buntas memandang Datin dengan pandangan takjub, sebenarnya karena Buntas masih tidak percaya bahwa yg dilihatnya itu Datin teman masa lalunya.
Sesudah makan mereka pulang dengan jalan kaki menuju hotelnya. Buntas tidak satu hotel dengan Datin namun sejalan.
“ Bu Susan, mobil biar mengantar anak-anak ke Art Hotel saja karena mereka bawaannya banyak. Kita akhirnya kesampaian bisa jalan kaki.” Kata Datin.
“ Iya bu, toh gak sampai 15 menit, tapi kan kita sekalian menikmati Eiffel diwaktu malam kan bu?” sahut Susan.
Yudis bersama tim eksekutifnya ber empat salah satunya Minati dan 2 orang laki-laki, Datin berdua Susan dan Buntas sendiri. Masih jam 22.00 saat sampai di Eiffel, mereka ngobrol asyiek dipelatarannya.
Mereka berfoto dengan background menara Eiffel yg terpancung karena lensanya tidak bisa menangkap sampai keujung menara. Background menara tsb jelas tertangkap karena menaranya dilengkapi lampu yg mempertajam garis menara tsb. Tanpa sengaja posisi Datin berada ditengah antara Buntas dan Yudis.
Dan lebih kurang pada jam 00.00 Datin sudah sampai kamarnya.
“ Bu, hayoooo jujur……dulu pak Dipto itu pacar ibu ya???” tanya Susan.
“ Dibilang apa ya, saat itu kan masih bocah beyes, ya cinta bedeslah, hehehehe….cinta monyet. Lha saat pisah sekolah, kita masing-masing terus lupa.” Jawab Datin.
“ Pak Dipto memang keren bu!” kata Susan sambil mengacungkan ibu jarinya…..” Tapi bu,…..aku terus terang kasihan banget melihat Minati itu lho, kok gak sayang sama dirinya sendiri. Kadang kadang pak Yudis menghindar dengan halus tapi dia masih nempel aja. Sampai aku kasian pak Yudis lho. Maybe he doesn’t want to be treated like that, at least didepan kita-kita ya, gak tahu kalau dibelakang kita ya, laki-laki gitu loh?” kata Susan yg membuat hati Datin sedikit ciut. Mungkin hanya malaikat yg gak punya nafsu yg bisa kuat menghadapi Minati.
“ Iya juga ya, apalagi duh cantik dan sexynya itu wanita. Berani gitu lo busananya.” Datin mulai prihatin. Apakah Yudis akan terperangkap dengannya, karena seperti batu yg ditetesi air, lama kelamaan juga akan cekung.
__ADS_1